Sampai
Kapanpun
“Arin..
bangun sayang, udah pagi lho. Ntar telat lagi.”
“uuooohh… iya bunda!”
Jawab Arin sembari menguap dan mengucek kedua matanya yang penuh kotoran dengan
tangan kecilnya. Idihhh…
Karinda Fajanggara alias Arin adalah seorang bocah manis
dan lucu yang baru duduk di kelas 1 SD. Hari ini adalah hari pertamanya masuk
sekolah. Setelah ia siap untuk berangkat sekolah, barulah Ayah mengantar Arin
dan kakaknya berangkat sekolah.
“Bunda,
berangkat. Assalamualaikum” adik berkakak itu berpamitan pada bunda.
Arin tinggal di desa yang sangat indah, penuh dengan
bunga dan kupu-kupu, apalagi disana ada taman bunga, uhh… pasti indah.
Kupu-kupu dan bungan Anggrek jadi sesuatu yang ia senangi. Bersama keluarga
tercinta, Arin tinggal di desa indah itu.
Ayah adalah seorang yang berbadan kekar dan tampan,
sangat dermawan dan bijaksana. Beliau bekerja sebagai notulis disebuah
perusahaan di kota dekat desa. Bunda adalah sosok wanita yang anggun dan penuh
wibawa. Fian, seorang kakak yang penuh kasih sayang. Arin biasa memanggilnya
‘Aka’, maklum, sudah kebiasaan dari kecil. Keluarga ini sangat harmonis, selalu
ceria, dan juga penuh kebersamaan. Waw… amazing.
Sesampainya disekolah…
“Aka, ini sekolah
Arin?”
“bukan, ini sekolah
Aka juga, enak aja sekolahmu.” Goda Fian, Ayah hanya tersenyum bangga melihat keakraban kedua putra putrinya.
“ayah, kami berangkat
ya.” Kebahagiaan terlihat pada senyum adik berkakak, ketika mencium tangan sang
ayah. Ayahpun segera menginjak gas mobil dan meluncur ke kantor tempat ayah bekerja.
Arin diantar sang kakak yang sudah kelas 5 SD menuju
ruang kelas barunya. Dengan mata berkaca-kaca, ia melihat ruang kelas yang
indah, penuh warna. Sepertinya, ia akan betah diruangan ini. Ia melihat
beberapa anak baru yang nanti akan menjadi temannya, merengek minta ditemenin
mamahnya. Ada juga yang udah nangis ditinggal ibunya. Ada pula yang duduk manis
di bangku pilihan masing-masing, seakan-akan siap untuk menerima pelajaran dari
guru baru mereka.
“Adek, Aka masuk kelas
dulu ya? Awas, lhoh. Jangan nakal” ucap Fian sembari meninggalkan adiknya. Arin
hanya menggangguk.
Perlahan, Arin melangkahkan kakinya menuju bangku
yang sepertinya belum ada penghuninya, yang hendak ia duduki. Setelah ia duduk,
terdengar bunyi ‘kreekk… kreretek..’. pantas saja tidak ada yang hendak duduk
dibangku itu, jelas-jelas sudah reyot. Hahaha. Ia pindah duduk ke bangku depan
papan tulis, ‘Nyaman juga’, batin Arin. Ia sudah dalam posisi yang pas,
tinggallah ia mencari teman sambil melirik,menoleh kesana kemari melihat ekspresi
raut wajah gembira siswa yang tenang didalam kelas. Sedangkan diluar kelas
terdengar suara tangis dan rengek teman-teman barunya yang tak ingin ditinggal
orang tuanya.
Tiba-tiba, ditengah pencarian teman baru, terlihat
sosok gadis cilik yang sangat cantik jelita, dengan senyumannya yang menambah
pesona dalam diri sicantik itu, menghampiri Arin sembari berucap,
“Haii..
kamu duduk disini? Aku juga dari tadi duduk disini, Cuma kebelet tadi. Hehehe.”
“Iya..
aku kira ndak ada yang duduk disini, kita duduk berdua, ya?”
“Oke”
jawab sigadis cantik. Ternyata dia anak yang koplak , lho.
“O,ya.
Namamu siapa? Aku Arin, nama panjangku Aaaarriiiiinnn. Hehe”
“Wahh.. ternyata kamu
koplak juga, ya. Tambah seru,nih. Aku Syaifa Libera, tapi mamahku panggil aku
Aik. Kita bisa jadi duo koplak, nih??”
Mereka berbincang-bincang dengan akrabnya, seakan
akan mereka sudah kenal jauh-jauh hari.
diselingi gelak tawa, karena kekoplakan mereka berdua.
Sampai rumah, Arin bercerita panjang lebar tentang
awal dari pertemuannya dengan Aik, dengan wajah gembira. Suasana rumah bagai
dihuni oleh beribu orang, ramai sekali. Padahal Cuma 5 orang. Ya… begitulah
keluarga Arin jika dikumpulkan dalam satu ruangan, apalagi saat Arin yang masih
lugu itu bercerita dengan polosnya, seisi rumah terasa ramai karena tertawa
bersama. Arin selalu menceritakan apa yang telah ia alami kepada keluarganya,
sehingga tiada kata sibuk bagi salah satu keluarga itu untuk berkumpul setiap
harinya. Sungguh indah keluarga itu.
Makin hari, Pertemanan Arin dan Aik makin kental
saja.
Suatu hari, Arin mengusili Aik dengan memanggil
temannya itu dengan nama ‘Ibeh’, nama itu berasal dari kata ‘Syaifa lIBEra’.
Aikpun tak mau kalah, ia memanggil Arin dengan nama ‘Ara’ dari kata ‘Karinda
FajanggARA’. Lucu sekali (tapi, gak juga seh). Saking seringnya mereka saling
memanggil nama yang ngelantur itu, mereka jadi tak nyaman jika panggil nama
asli. Jadi, nama ngelantur yang mereka ciptakan itu menjadi nama panggilan
sehari-hari. Mereka terkenal koplak dikelasnya, bila ada waktu senggang, mereka
pasti melucu. Sehingga, seisi ruangan kelas jadi tertawa, suasanapun ramai.
Hahaha =D.
Ditengah keramaian kelas terjadi, ibu guru datang
memecahkan keramaian itu. Tiba waktunya pelajaran menulis dimulai. Bu guru
meminta semua murid di ruangan itu menulis huruf A, entah huruf capital (A)
ataupun huruf biasa (a).
“Ibeh,
ini tulisanku, bagus kan? Ini huruf ‘A’.”
“Bukan,
ra. Iniloh yang betul, ‘α’.” mereka saling menunjukkan tulisan masing-masing
“lhah,
itukan huruf ‘o’, Cuma ada buntutnya. Kayak kecebong ajah. Haha” ledek Arin
“Nggak. Punyaku itu
huruf ‘a’, punyamu itu huruf ‘H’, yang reyot kayak bangku pertamamu dulu.”
Balas Ibeh tak mau kalah.
“bukan, punyaku yang
betul”
“enggak, punyaku”
Perang mulut terjadi pada duo koplak di ruangan itu.
Mereka saling mempertahankan kebenaran tulisan masing-masing. Walah… walah..
jelas-jelas kedua huruf itu, huruf ‘a’. sungguh sungguh aneh bin lucu. Ibu guru
jadi gerah melihat dua muridnya berdebat tentang sesuatu yang tak perlu
didebatkan lagi, akhirnya ibu guru memisahkan tempat duduk mereka, agar tak ada
perang mulut lagi. Tapi, yang namanya anak-anak, sejauh apapun selisih jarak
diantara mereka, tetap saja mereka berkomunikasi. Meskipun tak perang mulut,
mereka saling lirik-melirik satu sama lain.
Tapi, mana ada sih, orang yang mau dipisahkan sama
sahabatnya sendiri. Ya.. meskipun mereka belum tahu apa itu sahabat, kita bisa
anggap mereka sahabat. Betul, nggak?..
akhirnya, keesokan harinya, Arin dan Ibeh yang biasa dipanggil duo
koplak oleh teman-temannya, kembali menempati duduk masing-masing seperti
semula. Keakraban mereka pun kembali seperti semula. Seakan-akan tak pernah
terjadi perdebatan hebat diantara Arin dan Ibeh.
Sungguh, duo koplak adalah pasangan yang cocok.
Sifat mereka unik, berbeda pula, sehingga Mereka dapat saling melengkapi satu
sama lain. Andai saja ada sahabat seperti duo koplak di dunia ini, terasa indah
dunia. Apalagi duo koplak adalah kita. Jika setiap orang bisa saling
melengkapi, tak pernah ada perselisihan yang memakan waktu lama, sungguh, tak
bisa dibayangkan, betapa damai dan tentram dunia ini (wahh… menghayal).
Setelah Satu Tahun…
Ujian kenaikan kelas pertama bagi duo koplak dan
teman-teman yang lainnya sudah terlaksana. Meskipun Arin tidak masuk ranking 10
besar, nilainya sudah lumayan bagi siswa pemula. Berbeda dengan Arin, Ibeh
mendapat ranking 6. Ibeh lumayan pintar, lho. Kalau ada pelajaran yang tidak
Arin ketahui, ia tak malu-malu meminta penjelasan kepada temannya, Ibeh.
Tapi, ditengah keakraban dan kebersamaan mereka, ada
satu hal yang tidak dapat mereka hindari, dan sulit pula mereka terima dalam hati. Ibeh harus
pulang ke kampung halamannya, nun jauh di kota sebrang sana. Dikarenakan masa
kontrak kerja ayahnya telah berakhir, sehingga harus kembali bekerja didaerah
semula. Merka berdua terpaksa berpisah. Padahal baru satu tahun merka bersama,
merka juga belum mengerti apa itu sahabat. Mereka hanya tahu hubungan mereka
hanyalah sebagai teman baik. Sebelum Ibeh benar-benar akan pergi, ia sempat
berkata pada Arin,
“Ara,
aku pulang dulu, ya.. opahku pasti kangen sama aku.”
“oke..
Baik-baik disana,ya”
Tanpa sadar, air mata mengalir menghujani perpisahan
merka berdua. Keluarlah satu ucapan terakhir dari Ibeh, sembari memeluk erat
tubuh mungil Arin.
“Ara,
gak usah khawatir. Suatu saat aku pasti datang menemuimu. Aku janji”
Ara tak dapat berkata-kata karena isak tangisnya
semakin menjadi-jadi. Ia hanya bias mengangguk pelan dan memberikan senyum
terakhir untuk Ibeh. Pertemuan mereka berakhir saat ayah Ibeh datang
menjemputnya dengan kendaraan Mobil. Ara menangis tersengal-sengal ditengah
teriknya matahari, yang tertutup awan mendung
dihalaman sekolah, daun pun jatuh berguguran. Alam menjadi saksi bisu
dan seakan-akan turut merasakan kesedihannya. Fian menyaksikan kesedihan Adik
tercintanya. Ia mendatangi Arin yang tengah berdiri mematung melihat kepulangan
sang teman sambil menangis.
“Adek,
ayuk pulang. Udah siang. Bunda nyariin, lho.” Ajak Fian, sembari menghibur
adiknya.
Adik berkakak itupun pulang ke rumah idaman mereka,
dijemput oleh sang ayah. Terlihat bunda sedang duduk santai dihalaman rumah
yang rindang. Bunda kaget, putrinya pulang dengan mata sembab.
“Kakak,
adiknya diusilin, ya?” ucap Bunda menyalahkan Fian
“Enggak,
Bunda. Arin ditinggal sama temannya. Teman baiknya, bun.”
Arin hanya mengangguk pelan. Keluarga itu kembali
berkumpul dan mendengarkan cerita sikecil. Ayah, Bunda, dan Fian baru kali ini
mendengar cerita sedih Arin. Mereka jadi tak tega melihatnya.
Dikelas 2, Arin belajar disekolah tanpa teman
seperti Ibeh. Tapi, Arin punya banyak teman disana. Iapun sering bercanda gurau
dengan teman-teman. Duo koplak yang dulu kompak merubah suasana kelas yang
semula hening menjadi ramai, kini tak ada lagi, tinggal Arin semata, bukan duo
koplak lagi.
Arin tak merasa kesepian ditinggal Ibeh. Ia ditemani
janji Ibeh yang akan menemuinya suatu saat nanti, entah kapan itu terjadi. Ia
terus menunggu sang teman segera menemuinya. Ia menunggu suara yang
memanggilnya ‘Ara’, dengan nada yang khas pula. Dengan adanya kebersamaan
dikelas itu, Arin tidak sendirian.
Kini Arin sudah kelas tiga SD, Fian kelas 1 SMP.
Meskipun adik berkakak itu tak satu sekolah lagi, bukan masalah bagi Arin.
Karena disekitar Arin ada banyak teman yang bersamanya, meskipun tak sesempurna
Ibeh.
Arin sangat bahagia bersama teman-temannya. Banyak
hal yang mereka lalui bersama. Bermain, bercanda gurau, dihukum guru, mereka
selalu bersama. Sampai-sampai, tes pelajaranpun mereka selalu bekerja sama.
Hehe, maklum, lah.. anak kecil.
Dua tahun Arin
bermain tanpa Ibeh. Ia tetap menunggu Ibeh datang menemuinya. Menunggu
sosok yang sangat ia nanti-nanti. Arin sungguh sosok orang yang setia. Menunggu
sampai kapanpun. Sifat Arin ini patut kita banggakan. Betul, tidak??
Suatu hari, ia bermain bersama teman-temannya. Tiba
tiba, seorang teman memanggilnya,
“Arinn….
Ada yang nyari, tuh. Di Lobbi depan. Cepat, gih”
“Ha??
Siapa, ya? Temen-temen, aku berhenti dulu, ya?? Dadah”
Arin segera meluncur ke Lobbi depan, mencari seorang
yang mencarinya dengan keringat yang membasahi bajunya. Ia berputar-putar,
membolak-balikkan badan tak ada orang asing yang ada di Lobbi sekolah. Sekali
lagi ia membalikkan badan, dan siapa yang terlihat Arin? Seorang gadis cantik
yang kemudian berkata dengan mata yang berkaca-kaca, “Ara..”. Arin tak percaya
itu Ibeh, teman yang dinantinya slama ini. Spontan, mereka saling berpelukan,
melepas suatu kerinduan yang slama ini menyelimuti hati mereka.
“Ara..
aku datang, aku datang untuk mu, menemuimu, Ara!” bisik Ibeh
“Iya,
Beh.. aku tau kamu akan datang untuk menemuiku.”
Ibeh datang bersama sang Ayah, karena sekolahnya
libur selama 3 hari. Ayah Ibeh dan Ibeh datang untuk menjenguk Nenek Ibeh yang
rumahnya tak terlalu jauh dari rumah Arin. Akhirnya, mereka menyempatkan diri
untuk menemui Arin.
Ayah Ibeh meminta Izin kepada sekolah untuk
membiarkan Arin pulang lebih awal dari teman-teman yang lain, karena Ibeh hanya
1 hari disini, selagi Ibeh dan Arin bermain bersama, Ayah Ibeh pulang kerumah
neneknya. Ibeh dan Arin bermain di taman bunga desa, saling berbagi cerita,
rahasia, dan pengalaman mereka ketika mereka tak saling bersama dulu.
Nampaknya, didesa sebrang sana, Ibeh banyak belajar
tentang persahabatan. Ia juga baru menyadari hubungan mereka bukan hanya teman
baik, melainkan sahabat.
“Ara,
kamu tau nggak? Kita itu sahabat, lhoh.”
“O,ya?
Apaan itu, beh?”
“sahabat itu, teman
baik yang selalu bersama dalam suka dan duka, saling berbagi dan melengkapi
tidak menghiraukan kekurangan dan kelebihan,menjadikan kekurangan sebagai
kelebihan, kelebihan sebagai hal yang sangat luar biasa.”
“Berarti,… kamu
sahabatku, dong?”
“iyalah, kan aku udah
bilang tadi.. kamu tetep aja,ya.. hehe!”
Perbincangan mereka berlangsung seru, sesekali
diselingi gelak tawa. Mereka juga menyempatkan untuk foto bersama, sebagai
kenang-kenangan. Hari itu, menjadi hari yang paling indah bagi mereka.
Saking asyiknya bersama, tak terasa hari mulai
senja. Ayah Ibeh menjemput putrinya dan mengantarkan Arin pulang kerumahnya.
Dengan terpaksa, Arin harus merelakan Ibeh pergi ke dua kalinya, pulang ke kota
sebrang. Tanpa ada sepatah katapun, Ibeh pulang. lambaian tangan dan setetes airmata kini
mewarnai perpisahan mereka berdua.
Arin sangat senang hari ini, karna ia bertemu dengan
Ibeh. Ia bercerita kepada Ayah, Bunda, dan Fian. Keluarga merasa senang melihat
putri kecil mereka senang. Ia tak merasakan kesedihan dihari itu. Ia segera
meluncur kekamar tidurnya, siap untuk bermimpi indah. Sambil melihat beberapa
foto Arin dan Ibeh ketika di taman. Akhirnya, Arin terlelap dengan foto-foto
bercecer di kamarnya.
Keesokan harinya, Arin bangun dengan wajah ceria, ia
melihat kamarnya bercecer foto Arin dan Ibeh. Tiba-tiba, wajahnya berubah
murung. Ia khawatir, jika ia tak bertemu Ibeh lagi nantinya, karena ketika Ibeh
pergi, Ibeh tak mengatakan sepatah katapun padanya.
Makin hari, Arin makin merasakan kesepian tanpa
Ibeh, tanpa janji Ibeh yang dulu menemaninya. Kini, Arin jadi sering menyendiri
di kamar, melihat foto mereka, sering pergi ke taman bunga untuk mengingat
kembali kenangan terakhir mereka. Tapi ia tidak menunjukkan kesedihannya pada orang
disekitarnya.
Dari tahun ke tahun, Begitulah kehidupan hambar Arin
tanpa sahabatnya. Hanya Fian yang mengerti hatinya, meskipun Arin tak
menunjukkan kesedihannya. Fian juga selalu
menjadi teman dikesendirian Arin.
5 tahun kemudian….
Nampaknya selain Fian, Ayah dan Bunda Arin
mengetahui hatinya. Satu bulan lagi, Arin harus masuk sekolah yang tingkatnya
lebih tinggi lagi, SMP. Agar kegiatan belajar Arin tidak terganggu oleh hati
dan pikirannya yang rindu akan Sahabatnya, Ayah dan Bunda sepakat mengandalkan
psikiater untuk memfokuskan hati dan pikiran Arin pada pelajaran.
Beberapa hari kemudian, seorang berkerudung
mendatangi Arin yang sedang termenung di tempat Favoritnya, taman bunga didesa.
Ternyata seorang yang Nampak elegan itu adalah Psikiater, ia duduk disamping
Arin dan berkata,
“Assalamualaikum,
dengan Adik Arin?”
“Walaikumsalam,
ya!” jawaban Arin terlihat angkuh.
“emm..
udah kenal mbak, belum? (Arin hanya menggeleng) mbak teman curhat Arin
sekarang.”
Arin
kaget, “Ha? Oh, yang dipanggil Ayah sama Bunda Arin, itu? Ya ya ya!”
Awalnya, sikap Arin terhadap psikiater muda itu
sangat angkuh. Tapi, saking seringnya Arin ditemani psikiater diwaktu
kosongnya, Arin mulai bisa berinteraksi dengan baik, bahkan sekarang menjadi
teman akrab. Meskipun psikiater muda itu tak datang setiap hari, tetap ada
komunikasi diantara mereka melalui jejaring social dan pesan singkat. Jadi,
Arin dan Mbak psikiater bisa saling terhubung satu sama lain. Jika gejolak
rindu Arin pada Ibeh mulai terasa, tak segan-segan Arin menghubungi psikiater
itu untuk menghiburnya dengan nasihat-nasihat yang sangat penting bagi
kehidupan Arin kedepannya.
Sekitar 2 bulan berlalu,
Ia mulai membalut auratnya dengan Khimar, ingin
semakin dekat dengan Allah SWT. Kegiatan belajarnya disekolah barunya mulai
membaik. Ia juga mengikuti beberapa ekstrakurikuler keagamaan. Bahkan, Arin
bisa menghibur teman-temannya dengan sifat koplaknya. Ia memiliki banyak teman
disekolah yang menyayanginya dan ia sayangi. Tapi, ia masih menutup hatinya
untuk bersahabat dengan orang lain. Masih tersisa kisahnya bersama Ibeh yang
membuatnya tak bisa melupakan Ibeh.
Sekarang, Arin bisa tertawa didepan teman-teman
SMPnya yang sudah 2 tahun bersama. Ia sudah menginjak kelas 8, ia juga memiliki
banyak teman disana. Bersama teman-teman, arin bisa menjalani hidupnya dengan
normal. Tapi tak ada kakak yang selalu bersedia mendengar cerita Arin, Fian
sekarang sudah kelas XII SMA.
Ia sibuk belajar
untuk persiapan beberapa Try Out dan UNAS. Tapi, bukan masalah buat Arin,
karena ia mempunyai buku diary yang berisi kisah hidupnya tanpa ibeh. Ia
berjanji jika bertemu Ibeh, ia akan menyerahkan buku diarynya pada Ibeh. Tapi,
dalam hati Arin mustahil bisa bertemu dengan Ibeh. Meskipun ia telah mencarinya
melalui banyak media (Facebook, Info dari teman-teman, dll), tak ada hasil yang
diinginkan Arin.
Akhirnya Arin mempunyai ide lagi, mungkin inilah
satu-satunya cara untuk bertemu dengan Ibeh. Arin meminta temannya untuk
mengantarnya ke rumah Om Ibeh yang menjadi tempat singgah Ibeh dulu letaknya berada
tak terlalu jauh dari rumah Arin. Sesaat,
ia dan temannya telah sampai dirumah yang dituju. Tapi, sungguh miris sekali,
salah satu tetangganya memberitahukan bahwa keluarga itu telah berpindah
tempat, 3 hari yang lalu. Tanpa meninggalkan apapun, nomor telpon, alamat rumah yang baru, dan
semacamnya. Kini, rumah itu menjadi kosong. Ia meminta Izin kepada tetangga
agar diperbolehkan masuk ke rumah kosong itu. Suasana Rumah itu tak berubah
sama sekali, tetap seperti dulu ketika ia bermain bersama Ibeh dirumah itu. Ia
duduk terpaku di tengah ruangan itu, mengingat kenangannya bersama Ibeh. Ia
melihat disudut rumah, terdapat segulung karpet yang kemudian ia dekati. Ia
menemukan selembar foto yang sudah usang, gambarnya tak tampak jelas. Setelah
ia mengamati foto usang itu, ternyata foto itu adalah foto duo koplak ketika
berada ditaman bunga saat pertemuan terakhir. Tercucurlah air mata Arin yang
sudah tak kuat ia bendung. Arin pulang sambil membawa foto usang itu sebagai
kenangan terakhir. Ia sungguh sangat menyesal, kenapa 3 hari lalu ia tak datang
kesini untuk mencari informasi, padahal terpikir jelas bahwa ia ingin kesini.
Mungkin ini memang scenario Allah yang ditujukan untuk Arin, yang tega
memisahkan Arin dan Ibeh.
Setelah sampai dirumah, Ayah dan Bunda menyambutnya.
Mereka melihat mata Arin yang sembab, dan membiarkan Arin Sholat. Disela-sela sujudnya,
tertetes air mata lambang kerinduan Arin kepada sahabatnya, Ibeh. Dalam setiap doanya,
ia berharap agar Allah mempertemukan Arin dan Ibeh kembali. Semua takdir hanya
ditangan Allah SWT, Arin hanya bisa mengikuti Skenario Allah dengan Ikhlas dan
tulus.
Tiga tahun sudah Arin belajar di jenjang SMP, dengan
hasil yang sangat memuaskan. Kini saatnya ia menginjak ke jenjang yang lebih
tinggi lagi, jenjang SMA. Di jenjang
inilah Arin dapat meningkatkan kualitas belajarnya, dan dapat mengatur emosi,
karena ia sudah dewasa dan mampu memilah maupun memilih hal yang baik.
Angan-angannya tentang Ibeh, menjadi semangat hidupnya untuk terus maju. Tetapi, karena sibuknya kegiatan sekolah dan
rumah, ia tak ingat lagi bagaimana wajah Ibeh, sulit sekali untuk dibanyangkan.
Nama asli Ibehpun ia telah lupa. Hanya Ibeh dan kenangan indah mereka yang
selalu ia ingat.
Suatu hari, ia meminta izin kepada orang tuanya
untuk mencari informasi tentang Ibeh di kota seberang, karena ia merasa sudah
mampu menjaga diri. Tentu saja ayah dan bunda tidak mengizinkan. Siapa coba,
yang melepas putrinya sendirian didunia luar yang belum ia kenal, jauh pula.
Andai Fian bisa menemani Arin, kemungkinan besar ayah dan bunda mengizinkan,
tapi Fian masih menempuh masa kuliahnya. Jadi, Arin hanya bisa pasrah.
Sempat terbesit suatu pikiran dihati Arin. Sudah
bertahun-tahun ia menunggu Ibeh, ingin memeluknya. Sebab, mungkin saja Ibeh ada
di dekatnya. Tapi apa boleh buat jika Arin sudah lupa wajah Ibeh, sehingga ia
tak mengenalinya. Arin sudah lelah. Tiap hari pikiran tentang Ibeh selalu datang
dan berputar-putar dipikirannya. Ia menyerah dan tak mau memikirkannya lagi.
Sejak itu, ia sering bertanya-tanya dalam hatinya, “untuk
apa aku slalu dan selalu mikiran dia? Dia belum tentu mikirin aku. Untuk apa
aku nangis demi dia? Dia juga belum tentu nangis buat aku. Untuk apa aku stress
cari info tentang dia? Dia ga mungkin nyari aku. Untuk apa..?? untuk apa..??
untuk apa??” ia berkeputusan, Air mata yang keluar deras saat itu adalah air
mata terakhir untuk Ibeh. pikiran Arin ini sangat bertentangan dengan hati
terdalamnya. Sehingga sering terjadi perdebatan
batin yang membuat Arin sering stress.
Sejak keputusan itu datang menghantui pikiran Arin,
ia sering mengeluh sakit kepala tak ketulungan. Meskipun bagaimanapun
keadaannya, ia harus tetap terlihat ceria didepan teman-teman yang
menyayanginya. Tapi, ia tetap tak bisa menyembunyikan wajah pucatnya dibalik
senyumannya. Lama kelamaan, sakit itu menjalar ke bagian pernapasan Arin.
Menarik satu nafaspun rasanya sakit di bagian dada. Mirisnya, Ia tak ingin
Ayah, Bunda dan Fian tau keadaannya. Sehingga, sering sekali ia mengeluarkan
darah segar dari hidungnya.
Pernah suatu hari, ketika ia mengikuti pelatihan
yang mengharuskan Para peserta bermalam disekolah. Ia harus menghadapi tes
mental, berdiri didepan panitia pelatihan yang tak lain adalah kakak kelasnya
sendiri. Beberapa sentakan yang dilontarkan panitia pada Arin, Ia menjadi
bulan-bulanan kemarahan panitia untuk pelatihan. Pada saat itu, sakit itu
kambuh, yang melebihi sakit dihari-hari biasanya. Mengalirlah darah segar dari
hidungnya, tapi ia tetap bertahan dalam posisi itu dengan menyembunyikan
hidungnya dibalik tangan Arin. Saking derasnya aliran darah itu, sampai-sampai
keluar dari sela-sela tangan Arin. Panitia menghentikan sentakan-sentakan kasar
itu. Tiba-tiba Arin tak sadarkan diri. Panitia mengangkutnya ke ruang UKS,
dengan darah yang membasahi lantai ubin. Sebenarnya, ia tak ingin pelatihan ini
berakhir sia-sia untuknya. Tapi, apa daya jika sudah begini.
Sudah 2 jam Arin terbaring di ranjang UKS, untung
saja darah itu tak mengalir lagi. Ayah dan Bunda segera menyusul putrinya yang
lemah seperti ini. Mereka kaget melihat putrinya terbaring lemah dengan sisa
darah. Karena, selama ini Arin tak pernah sama sekali pingsan, apalagi sampai
mimisan. Arin tak kunjung siuman, takut terjadi yang tidak diinginkan, Ayah dan
Bunda membawanya ke Rumah
Sakit terdekat, yang dokternya menjadi dokter pribadi keluarga Arin sebelum
Arin lahir.
Dokter
terkaget melihat kondisi Arin yang seperti ini. Setelah ia melakukan
beberapa pemeriksaan, dokter berkata tak ada gangguan apapun yang ada pada
Kepala Arin. Ia hanya mengalami tekanan batin. Tetapi, Ada keganjalan pada
paru-paru Arin. Tak lama kemudian, ia terbangun dari pingsannya. Ayah, Bunda
dan Arin kembali kerumah. Mereka sengaja tak mengabarkan berita ini pada Fian,
khawatir akan mengganggu kuliahnya.
Untuk mengantisipasi tekanan batin yang sedang
dialami Arin, Ayah dan Bunda sengaja memanggil Psikiater yang pernah menangani
Arin dulu. Memang, kini Arin sudah dewasa. Tapi sangat sulit bagi Arin
melupakan masa kecilnya itu, yang membuatnya bersikap kekanak-anakan, seolah
olah tak bisa menjadi dewasa.
Mbak Psikiater itu menenangkan fikiran Arin yang sudah
diselimuti keraguan atas Ibeh. Ternyata, nasihat psikiater itu diterima secara
positif oleh Arin. Ya… meskipun ia masih saja bertingkah layaknya anak kecil
ketika mengingat Ibeh. Psikiater muda itu juga memberikan motivasi dan
keyakinan bahwa Arin harus bisa bangkit, jangan mudah hanyut dalam suatu
masalah. Toh yang rugi juga diri sendiri. Ia belum bisa mengubah pandangan
tentang Ibeh yang terlanjur menguasai hati dan pikiran Arin. Tapi, lambat laun
ia pasti akan kembali seperti semula. Menjadi Arin yang selalu sehat, ceria, menjadi
penghibur teman-temannya. Mereka merindukan sosok Arin yang seperti dulu.
Tiga tahun sudah, Arin belajar di SMA, kini saatnya
ia harus melangkah menuju hidup yang lebih mandiri, dan harus lebih berpikir
secara luas. Ia kuliah di kota yang jauh dari rumah, jauh dari Ayah, Bunda dan
Fian. Ia memilih Jurusan Matematika, karena ia sangat gemar dibidang itu, dan
berbagai piala ia dapat ketika mengikuti Olimpiade. Ia tinggal disuatu Asrama
putri. Disanalah ia baru
menempuh hidupnya tanpa Ayah dan Bunda dan juga Fian yang selalu membimbing dan
mendampinginya. Kini Fian bekerja disuatu perusahaan besar. Ia juga akan
mewarisi yayasan Ayahnya.
Hasil belajar Arin selama 12 tahun sungguh tidak
sia-sia. Orang tuanya sangat bangga karena kedua anaknya tidak mengecewakan
mereka. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang mengingatkannya dengan Ibeh, ia
mengira bahwa itu Ibeh, ternyata bukan. Wahh.. Arin salah orang tuh. Kini,
gadis itu menjadi teman balajarnya dikampus, di Asrama pula.
Ketika Arin menjalani OSPEK dikampusnya, rasa sakit
didadanya datang kembali dan membuat kegiatannya tidak maksimal. Untuk bernapas, sungguh
berat rasanya. Seperti yang dialaminya ketika pelatihan di SMA, darah segar
mengalir deras dari hidungnya, seakan-akan tak mau berhenti. Tubuhnya kaku, dan
tak dapat digerakkan. Terjatuhlah Arin di tengah teman-temannya yang sedang
menjalani OSPEK, Arin pingsan. Segera Orang tua Arin mengetahui dari pihak
kampus, segera pula mereka datang jauh dari rumahnya dan membawa putrinya yang
tak sehat itu ke RSU ternama dikota itu.
Ayah menemui dokter dan meminta keterangan hasil
pemeriksaan, ternyata Arin terserang penyakit Radang Paru-paru. Rupanya inilah
yang selama ini menyebabkan Arin sulit bernapas dan mimisan. Tanpa diketahui,
penyakit itu menyerang hampir
seluruh
paru-paru Arin dibagian Kanan. Jika tidak segera diantisipasi, sel kanker bisa
tumbuh dalam paru-parunya.
Radang itu membuat dada Arin sakit bukan main.
Pernapasan Arin harus dibantu dengan alat medis. Ia sudah tak kuat menahan sakit
itu, disertai sesekali sakit pada kepalanya yang turut menambah derita Arin.
Hingga suatu hari, ia harus mengalami kehidupan
antara hidup dan mati, yaitu masa kritisnya. Ia tertidur dengan lelap, tanpa
membuka mata sedetik pun. Keluarga menjadi sedih dan gelisah. Fian juga
menemani Adik tersayangnya dan izin pada tempat kuliahnya.
Arin bermimpi dalam tidur panjangnya. Ia berada
disebuah tempat yang indahnya luar biasa, bunga-bunga yang bermekaran, langit
yang cerah melebihi cerahnya sinar mata Arin. Kemudian Arin dipersilahkan masuk
disebuah mobil Limousine mewah berlapis perak. Ternyata ia dibawa ke sebuah
istana indah, melebihi indahnya ista/na
di film-film kerajaan. Didalamnya, ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang
ternyata namanya adalah Aik, tapi ia tak mengenal siapa itu Aik. Mereka tinggal
bersama didalam istana indah itu.
Istana mewah itu berisi barang-barang mewah dan
indah, itu semua adalah barang yang selama ini diinginkannya. Disertai para
pembantu dan pengawal yang semuanya berwajah cerah, berpakaian putih bersih,
menutup semua Aurat mereka. Mereka juga sangat ramah dan baik hati pada Arin
dan Aik.
Arin dan Aik selalu bermain bersama didalamnya,
berbagi cerita bersama seolah-olah mereka tak dewasa. Mereka sangat bahagia
hidup ditempat mewah itu. Arin tak merasakan rasa sakit pada dadanya, nyeri
dihidungnya karena sering mimisan, sakit kepala. Pokoknya, ia sangat betah
tinggal ditempat itu, ia tak mau kembali didunia yang penuh rasa sakit itu.
Suatu hari dalam mimpi Arin, ditengah masa kritisnya,
terdapat banyak sekali mobil Limousine mewah yang dulu membawa Arin ke istana
itu. Berjajar dengan rapi. Yang ingin menjemput dan mengajak pulang Arin dan
Aik ke keluarganya. Arin tiba-tiba merasakan rindu pada keluarganya, tapi ia
juga tak ingin meninggalkan dunia penuh keindahan itu, layaknya surga. Dengan
dan tanpa pikir
panjang, Arin menolak kembali kepada keluarga. Kedua mobilpun bergantian pergi
meninggalkan istana. Tapi, ketika mobil terakhir akan pergi, Arin menahannya.
Ternyata ia berubah pikiran. Ia sangat rindu kepada keluarga dan teman-temannya
didunia yang menyakitkan itu. Sedangkan Aik masih ingin lebih lama tinggal
disurga itu.
Dalam perjalanan pulang, Arin mendengar suara isak
tangis dan itupun tidak satu. Ia mendengar suara lirih Bunda. Ia membuka mata dari tidur
panjangnya, dan kembali pada dunia dimana ia tinggal bersama orang-orang yang
menyayanginya. Arin bisa dikatakan berhasil melewati masa kritisnya itu selama
10 hari penuh. Ia membuka mata sembari tersenyum dibalik Oksigen yang menutupi
hidung dan mulutnya, seakan-akan tak merasakan sakit dalam hidupnya. Senyum dan
tatapan Arin sangat teduh. Segeralah
seluruh orang-orang yang menyayanginya mengucapkan syukur kepada Allah SWT.
Tangis bahagiapun meramaikan ruangan
Rumah Sakit itu.
Arin menatap
sekeliling ruang dimana ia telah melewati masa kritisnya, dan mimpi indah yang
panjang itu. Ia merasakan rindu yang mendalam pada Ibeh. Ia takut, ia tak bisa
bersua lagi dengan sohib ciliknya. Ia ingin bersama Ibeh saat ini. Ia merasa bahwa
hidupnya tak lama lagi dengan paru-paru yang telah ditumbuhi sel kanker. Diatas
ranjangnya, ia meneteskan air mata
dibantu beberapa alat medis yang melekat di tubuhnya, yang membuat Arin sulit untuk
bergerak. Tubuhnya kini kurus. Sangat kurus.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang mengetuk
pintu di kamar rawat Arin. Ternyata seorang dibalik pintu itu adalah laki-laki setengah
baya. Ia masuk seraya bertanya,
“
Apakah betul ini keluarga Arin?”
“
ia benar” spontan Fian menjawab penuh curiga
“
Apakah kamu Arin, Nak?” Tanya bapak itu sambil mendekati Arin
“
ia benar” lagi-lagi Fian menjawab untuk mewakilkan Adiknya yang masih terbujur
lemas
Lelaki setengah baya itu langsung menangis terisak.
Arin dan keluarga merasa bingung pada lelaki itu. Tiba-tiba saja Bapak itu
ingin menceritakan sesuatu di dalam ruangan itu.
Ternyata tanpa terduga, lelaki setengah baya itu
adalah Ayah Aik. Aik yang ternyata Ibeh. “Aik, kecelakaan lalu lintas 2 minggu yang
lalu. Dan sekarang ia mengalami koma, di Rumah sakit dekat sini” ujarnya.
Sebelumnya, Aik juga mendaftar dikampus yang sama dengan Arin. Tapi ia tak
ingin kuliah dikampus itu. Dan ternyata, kota dimana Arin kuliah adalah kota
kelahiran Ibeh. Ayah Ibeh mngetahui Arin dari buku Diary Ibeh, dan kemudian
beliau mencari Arin tanpa lelah. Dan Alhamdulillah setelah 7 hari mencari,
akhirnya bertemu juga.
Setelah mendengar semua cerita dari Ayah Ibeh, Arin
menangis diatas ranjangnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa, dengan tubuh yang lemas,
masih sulit untuk berbicara. Ayah
Ibeh meninggalkan nomor telpon untuk dihubungi.
Setelah beberapa hari di Rumah Sakit, Arin merasa
lebih sehat, tapi Dokter belum memperkenankan Arin pulang kerumah. Padahal Arin
ingin sekali menjenguk Ibeh dengan keadaan sehat. Terpaksa, dengan keadaan yang
belum sehat betul, ia meminta izin kepada Ayah dan Bunda untuk menjenguk Ibeh
di Rumah Sakit lain. Ayah dan Bunda mengizinkan, tapi ia harus memakai kursi
roda dan ditemani Fian.
Arin pergi menjenguk Ibeh dengan kursi roda, infus
yang masih menusuk ditangannya dan
tubuh yang masih lemah lunglai. Fian mendorong kursi roda Arin tanpa lelah
sambil diselingi gurauan.
Tepat sampai dimana Ibeh berbaring dengan Alat medis yang lengkap dan balutan
perban di kaki, tangan, dan kepala akibat kecelakaan. Arin terduduk kaku di
kursi rodanya, menahan air mata rindu dan sesal. Ternyata benar sekali, wajah
ini yang menemani Arin di Istana indah itu. Ia ingin memeluk sohibnya. ia tak
menduga sebelumnya akan bertemu dengan Ibeh dengan keadaan seperti ini. Tapi
apa daya, ia hanya bisa melihat Ibeh dengan luka-luka disekujur tubuhnya.
Setelah Arin melihat Ibeh di Rumah Sakit itu, ia
berpikir untuk tinggal seruangan dengan Ibeh. Ia meminta pada keluarganya. Ayah
sih iya-iya aja, tapi Bunda adalah seorang yang penuh pertimbangan. Tak
henti-hentinya ia merengek pada Bunda. Ia sangat rindu pada Ibeh. Akhirnya, tak
tega melihat sang putri yang merengek dengan keadaan lemas, Bunda mengiyakan
permintaan Arin.
Kini Arin seruangan dengan Ibeh di Rumah Sakit yang
Ibeh tempati. Dua keluarga berkumpul diruangan itu, seperti menjadi satu
keluarga. Tiap Arin akan tidur, ia berdoa ia berdoa dapat membuka matanya lagi
untuk dapat melihat Ibeh tersenyum, tertawa bersamanya. Saat Ibeh tidur, Arin
menatapnya dengan penuh harap, ia dapat saling becengkrama dengan Ibeh dengan
keadaan sehat. Dalam hati ia selalu bertanya, ‘Ibeh, kamu ngapian di Istana itu
ya?’
Sudah 3 minggu Ibeh tak kunjung bangun dari komanya,
namun Arin akan tetap menunggu Ibeh sadar kembali. Malam itu, Ibeh bangun dari
komanya. Saat
itu Arin dan semua Keluarga sedang tertidur. Ibeh tak dapat mengucapkan satu
katapun, karena sekuruh tubuhnya telah kaku. Sehingga, Ibeh kesepian pada malam
pertama ia membuka mata. Arin terjaga setelah 2 jam Ibeh sendirian kesepian. Arin
melihat mata Ibeh berkedip. Tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya, ia bangun dari
ranjangnya dan berusaha berjalan mendekati Ibeh. Ia terkejut, Ibeh benar-benar
membuka mata, “Ibeehh” Suara Arin membangunkan semua keluarga yang berjaga pada
malam itu. Arin menangis terharu dan senang karena ia dapat saling memandang
dengan Ibeh yang selama 12 tahun tak berjumpa. Tapi, Ibeh belum pulih betul. Ia
harus melatih tubuhnya untuk bergerak, untuk berbicara.
Ibeh berkata pada Arin,
“ka..ka..
kamu siapa?”
“Aku…
Aku… Ara. Ingat aku kan? Karinda Fajanggara” ujarnya sembari menangis
“kamu..
aku kangenn…”
“aku juga sangat
merindukanmu, Ibeh. Aku masih menyimpan foto kecil kita dulu.” Arin menunjukkan
beberapa foto usangnya dangan Ibeh.
Mereka saling berpelukan. Melepaskan beribu-ribu
rasa rindu.
Kini Arin sudah bisa berjalan kembali, ia pun
diperkenankan pulang ke rumah oleh dokter. Tapi, rasa sakit akibat kanker di
paru-paru Arin masih saja menemani hari-harinya. Ibeh masih duduk di kursi roda dengan beberapa balutan
perban disekujur tubuhnya. Arin mengajak sohibnya untuk bernapas lega di ruang
terbuka, Taman Rumah Sakit. Seperti dulu, mereka selalu bercerita tentang hal
apa saja yang menarik.
Setelah sehari penuh mereka bermain-main ditaman,
Ibeh merasa lelah dan ingin berbaring untuk istirahat dikamar inapnya.
“Ara,
aku mau tidur dulu, ya. Cuapek poll.. hehe. Emmm.. simpan baik-baik diaryku
ini, ya” Ibeh memberikan
Diarynya pada Arin.
“ha?
Untuk apa, beh?”
“ya… pokoknya simpen
aja, dehh. O,ya. Udah ngantuk banget, nih. Aku tidur dulu, ya..
Wass…salam..mualaikum.”
Ibeh mengucapkan salam dengan terpatah-patah, dan
menutup matanya. Ia tertidur dengan senyumannya yang amat manis kepada Arin.
Beberapa saat kemudian, Arin merasakan suhu yang sangat dingin pada tubuh
sohibnya. ia berkata dengan polosnya kepada Ayah Ibeh, “Om, badan Ibeh dingin
sekali.” Dengan segera Ayah Ibeh mendekati putrinya, kemudian memanggil dokter.
Arin hanya terduduk kaku di samping Ibeh. Kemudian dokter datang, memeriksa
Ibeh. Tak ditemukan Detak jantung dan denyut nadi. “Innalillahi Wa Innailaihi
Rojiun” kata dokter setelah memriksa seluruh tubuh Ibeh.
“Apa?
Dokter, bilang sama Arin apa maksudnya?” paksa Arin sembari menahan tangisnya
“Aik
sudah tiada, nak.”
Tanpa berkata-kata, Arin menangis seolah tak
mempercayai bahwa sahabatnya telah meninggalkannya lagi, untuk selamanya. Ia
memeluk
tubuh dingin Sahabat yang sangat ia cintai dan sayangi. Ayah Arin dan Ayah Ibeh
berusaha memisahkan keduanya dengan isak tangis pula. Arin terduduk lemas
dengan isak tangisnya yang tiada henti.
Ibeh segera disholatkan dan dikebumikan dipemakaman
keluarganya. Arin tetap saja menangis tiada henti ketika mengiring Sohibnya
untuk yang terakhir kalinya. Sampai para peziarah pulang, Ibeh tetap terduduk
di samping makam Ibeh. Keluarga menunggunya dipos penjaga makam. Alam turut
berduka atas perginya Ibeh. Arin duduk dengan sisa tangisannya, diatapi awan
mendung yang siap meluncurkan Air dari langit. Suara gemerintik air hujan
terdengar dari kejauhan. Fian segera mengajak Adik tercintanya untuk pulang
kerumah. Hari itu, adalah hari perpisahan dan pertemuan terakhir Arin dengan
Ibeh.
Kini, Arin bisa kuliah lagi tanpa beban dalam
pikiran. Senyum Ibeh sebelum meninggalkan dunia, menjadi semangatnya untuk
tetap hidup dan mencapai cita-citanya sebagai guru Matematika. Meskipun Kanker
itu tetap bersarang diparu-parunya, semangatnya tak ingin ia sia-siakan.
Sampai kapanpun
Sobat,
Jika aku dapat memutar
waktu
Akan kuhabiskan waktuku
Untuk bersamammu
Takkan kusia-siakan
waktuku
Sobat,
Aku akan menyusulmu
Tunggu aku di akhirat
sana
Berbahagialah disana
Dengan penyakit ini
Aku akan menyusulmu
Dengan semangat darimu
Akan kucapai cita-citaku
Terimakasih Sobat
Kau buat bahagia hidup
ini
Kau gores kenangan kita
Pada hati kecil ini
Dengan bayanganmu
Ku tahu kau pasti tahu
Betapa diriku
mencintaimu
Betapa diriku
menyayangimu
Karena Allah
Dengan sepenuh hati ini
Keindahanmu,
Keteguhanmu,
Kelembutanmu,
Dan segalanya tentang
dirimu
Akan kusimpan dalam
hatiku
Ya Allah, Tuhan maha Esa
lagi Maha Kuasa
Pertemukanlah kami
kembali
Kebahagiaan kami
Kebersamaan kami
Satukan kami kembali
Di alam yang sama nanti
Sobat,
Waktu begitu liar untuk
diburu
Waktu begitu gesit untuk
dicari
Waktu begitu pintar
bersembunyi
Waktu begitu cepat
berlalu
Namun,
Takkan pupus harapanku
Takkan terhapus cintaku
Takkan berlalu kenangan
kita
Oleh waktu
Aku akan selalu
mengenangmu
Mengingatmu
Menyayangimu
Mencintaimu
Sampai kapanpun
Puisi
tersebut ditulis Arin di buku Diarynya. Kemudian ia kirim puisi itu ke Fakultas
Karya dan Sastra Indonesia di Kampusnya. Ternyata, puisi itu diterima dengan
baik disana. Kini, puisi itu sangat fenomenal di kalangan Kampus.
~ T A M A T ~