Yuhuuuu.... Part 6 udah muncul. hehe.. llammaaa banget nggak posting. ternyata rencana tamatin nih cerita dibulan Oktober nggak keturutan, sebab pulsa modem habis. hehe... yaudah, nih.. baca yaa.. Happpy Reading :)
Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 6
Pagi ini aku
diajak mas Joni berlari-lari untuk olah raga di taman kompleks rumahku.
Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan Dedi dan Romi yang sedang berolah raga
juga, Dedi menyapaku “Haii, Rina. Tumben pagi-pagi olah raga disini kamu?”,
“hai Dedi, Romi. Iya nih, biar nggak gemuk. By the way, kamu kok bisa ada
disini, sih? Rumahmu kan di kompleks sebelah?” tanyaku, “mmm.. biar nggak
bosen, Rin. hehe” jawab Dedi. “eehheemm” mas Joni berdehem, “”Eh.. ada Kak
Joni. Apa kabar, nih?” kata Romi, “Baik, kok. Ehem. baik” mas Joni memberi
isyarat Romi untuk berlalu duluan. “Eh, mas Jon. Mau kemana?” tanyaku yang tak
ingin ditinggal Mas Joni, “dek, aku dan Romi ada kepentingan, nih. Kami duluan,
ya. Pulangnya jangan siang-siang, lho” jawab Mas Joni sembari berlalu mendahului
kami. Mas Joni dan Romi menghilang di perempatan 3 Blok dari rumahku. Aku dan
Dedi berlari kecil dengan suasana yang canggung dan sangat hening.
“ehem” suara Dedi memecah keheningan,
“apa?” jawabku, “eehhmmm. Kamu liburan kemana, Rin?”,
“aku?? Dirumah aja. Nggak ada tempat yang ingin ku kunjung, Ded”,
“lho.. kok bisa? Kenapa nggak refreshing aja? Kan sambil menenangkan hati. Ya, nggak?”
“dipikir-pikir, iya sihh.. tapi kan kita udah refreshing bareng kelas. Lagi pula 5 hari lagi kita udah
masuk sekolah”, “ooww” jawabnya dengan singkat. Suasana menjadi hening kembali.
ketika kami berada didepan pintu taman kompleks, Dedi mengajakku untuk istirahat sejenak. Akupun mengiyakan ajakannya, kami duduk dikursi dekat dengan kolam ikan.
“Eh, Rin. Aku boleh tanya, nggak?” Dedi memulai pembicaraan kami,
“boleh, dong. Kenapa enggak? Tanya aja!” jawabku santai sambil memperhatikan pancuran air di
tengah kolam yang terlihat segar,
“maaf,Rin. Bukannya aku lancang. Eee... eee... emangnya kamu cinta banget ke Tiar?” tanya Dedi
yang terlihat ada keraguan diwajahnya, “apa??” aku langsung mengalihkan perhatianku ke Dedi,
“iyaa.. kamu, Rin. Kamu cinta sama Tiar, kan?” tanyanya untuk kedua kalinya,
“buat apa kamu tanya-tanya itu? Emang ada urusannya sama kamu? Nggak, kan?” aku malah bertanya balik ke Dedi
“yaa... maaf, Rin. Tapi kamu tadi ngebolehin aku tanya, sekarang aku minta kamu jawab jujur”,
aku terdiam sejenak sambil menatap tajam ke arah bola mata Dedi, aku melihat ada ketulusan di
matanya, sama seperti waktu dia bilang sayang kepadaku,
“kamu mau aku menjawabnya?”, Dedi mengangguk, aku menjawab sembari menatap langit,
“Cinta terbesarku hanya untuk Allah semata, yang kedua Nabi Muhammad SAW, lalu keluarga”,
“lalu Tiar?”, Dedi bertanya lagi
“emmhhh... Tiar. Dia hanya permata kecil yang sinarnya jatuh dihatiku. Lambat laun, sinar itu pasti
pudar, dan hilang. Mungkin ini bisa disebut cinta pertama” jawabku,
percakapan kami berlangsung cukup lama, Dedi adalah satu-satunya teman laki-laki yang tau perasaanku ke Tiar. “eehhh.. aku jadi curhat, nih. Sorry, ya”, “nggak papa kali, Rin” sahut Dedi. Tak terasa jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 07.30. Aku dan Dedi segera pulang. Ia mampir kerumahku, karena Romi ada dirumah bersama Mas Joni.
Setelah sampai
dirumah, “Ayo, Ded. Masuk dulu. Kali aja Romi ada di taman belakang” ajakku,
“eemh. Iya deh”. Kami menuju taman belakang. Disana ada Mas Joni, Romi, dan Aba
yang tertawa terpingkal-pingkal di pinggir kolam renang. Entah apa yang
dibicarakan mereka, aku tak ingin mengganggu karena sepertinya mereka sedang
asik. Aku menyuruh Dedi bergabung dengan mereka, Akupun membantu Umi didapur
untuk menyiapkan wejangan kepada tamu kami. Setelah itu, aku membersihkan diri.
Dan lagi-lagi aku teringat Tiar.
Aku terdiam dan duduk didepan cermin.
“Rinaa... Rin.. temenmu mau balik, tuh. Cepat turun, gih” panggil Mas Joni yang
berdiri dipintu kamarku dan memperhatikanku bercermin. “oke, Mas” aku segera
memasang kerudungku dan menuju teman-teman. “Rinaa.. kami pulang dulu, ya! Aku
betah dirumahmu, Rin. hehe” Kata Romi cengingisan, “emm. iya, Rin. Boleh dong,
kalo kami sering kesini” ujar Dedi. “ehh.. ehh.. ijin aja ke Abah” jawabku,
“Abahmu udah ngijinin, kok”, sahut Romi. “aaa.. eemmm... ii. Iya, deh” jawabku
dengan ragu. Karena aku jarang menerima tamu laki-laki, malah nggak pernah.
Merekapun pulang kerumah masing-masing dengan berlari-lari kecil.
2 hari sebelum
aku masuk sekolah, aku mendapatkan informasi dikelas mana aku akan belajar 1
tahun kedepan. Tapi kelas XII ini kami nggak akan setahun penuh. Ternyata aku
sekelas dengan Dedi, Dela dan Fitri, teman sekelas yang lumayan akrab
denganku. Aku melihat Umi didapur sedang
sibuk menata meja makan untuk makan siang, aku menghampiri beliau, “Assalamualaikum,
Umi. Sibuk, nih” sapaku sambil mengambil semangkuk sup yang siap disajikan di
meja makan.
“walaikumsalam, sini dek. Bantuin Umi”,
“oke, Umii. Mi, Rina mau tanyak”,
“iya?” jawab Umi yang sedang terfokus dengan buah jeruk dan semangka yang beliau tata
“boleh nggak, kalau Rina.... Rinaa... Pa.. pa.. Pacaran?” tanyaku dengan ragu
“Dek.. fokus belajar aja” jawab Umi dengan singkat
“tapi Mi, teman-teman Rina pada pacaran, tuh. Masak Rina gak boleh?” bujukku dengan polosnya
“Pacaran itu sangat merugikan, loh! Kalo belajar, nggak fokus karena mikirin pacar, terus nanti
pasti bakalan sakit hati alias Broken Heart. Satu lagi, pacaran itu Dosa! Karena mendekati Zinah”
“oowh.. tapi, Umi...”, “ssuuuttt... Umi udah kasih saran terbaik, lhoh yaa..” kata Umi dengan penuh wibawa. Akupun melanjutkan membantu Umi dengan mulut tertutup, tidak banyak bicara lagi. Aku mencerna apa yang dikatakan Umi padaku. Tersirat sedikit rasa sebal, sih. Tapi pasti Umi ebih berpengalaman dari aku. Akupun berusaha menjadikan ucapan Umi sebagai pegangan hidup.
“walaikumsalam, sini dek. Bantuin Umi”,
“oke, Umii. Mi, Rina mau tanyak”,
“iya?” jawab Umi yang sedang terfokus dengan buah jeruk dan semangka yang beliau tata
“boleh nggak, kalau Rina.... Rinaa... Pa.. pa.. Pacaran?” tanyaku dengan ragu
“Dek.. fokus belajar aja” jawab Umi dengan singkat
“tapi Mi, teman-teman Rina pada pacaran, tuh. Masak Rina gak boleh?” bujukku dengan polosnya
“Pacaran itu sangat merugikan, loh! Kalo belajar, nggak fokus karena mikirin pacar, terus nanti
pasti bakalan sakit hati alias Broken Heart. Satu lagi, pacaran itu Dosa! Karena mendekati Zinah”
“oowh.. tapi, Umi...”, “ssuuuttt... Umi udah kasih saran terbaik, lhoh yaa..” kata Umi dengan penuh wibawa. Akupun melanjutkan membantu Umi dengan mulut tertutup, tidak banyak bicara lagi. Aku mencerna apa yang dikatakan Umi padaku. Tersirat sedikit rasa sebal, sih. Tapi pasti Umi ebih berpengalaman dari aku. Akupun berusaha menjadikan ucapan Umi sebagai pegangan hidup.
Hari dimana aku
harus memulai pelajaranpun sudah datang. Aku duduk dengan Dela. Dedi duduk
dibelakangku. Liburan kenaikan kelas itu membuatku semakin dekat dengan Dedi.
Aku, Dedi, dan Dela menjadi 3 serangkai yang sering bersama. Belajar bersama,
ngobrol, makan ke kantin, sampai-sampai bepergianpun kami selalu bersama. Rumah
kami tidak terlau jauh, hanya bersebelahan kompleks saja. Dela dan Dedi satu
kompleks. Kalau berjalan dari rumahku kerumah Dela, hanya butuh waktu 10 menit.
Aku sangat klop berteman dengan Dedi dan Dela. Aku curhatnya juga pada mereka.
Mereka terbuka padaku, tidak seperti Tini yang menutup dirinya meskipun dia
sangat baik padaku.
Aku tahu bahwa
Tiar dan Tini memiliki hubungan yang khusus. Aku tidak terlalu menggubris
mereka. Tapi satu kejadian yang membuatku sangat patah hati. Seminggu setelah
kami masuk dari liburan, aku melihat dan mendengarkan Tiar dan Tini berpegangan
tangan. “Tiar, I Love You” ucap Tini. Tiar menjawab “I Love You too”. Saat itu
aku berada disamping mereka. Dan aku tahu bahwa Tiar sadar aku ada disamping
mereka meskipun tidak terlalu dekat. Tiar mengucapkan kata itu sambil melihat
kearahku, tapi tetap berpegangan tangan dengan Tini. Dan aku tak kuat melihat
tatapan Tiar saat itu. Betapa bodohnya aku, aku hanya terdiam membisu melihat
kemesrahan mereka. Lalu ada Dedi yang menepuk pundakku dari belakang. Aku
membalikkan badanku, Dedi melihat mataku berkaca-kaca. Rasanya aku ingin
berteriak, agar dunia tau bahwa hatiku sangat saaakiiiit.
Aku menuju kekamar
mandi dan meninggalkan Dedi disana. Seperti biasa, ketika aku berjalan menuju
toilet, aku mimisan deras sekali. Aku tak kuat berjalan cepat, sehingga Dedi
mampu menyusulku. Dan alhasil, ia melihat hidung dan tanganku penuh darah.
“yaampun, Rin... kenapa lagi kamu?? Cepat bersihkan!” kata Dedi. Dedi
menungguku sangat lama didepan pintu toilet. Akhirnya aku keluar juga. Ia
melihat metaku sembab, dan masih ada sisa darah yang belum ku bersihkan. “Dedi,
aku ingin menenangkan diri” ujarku, “iya. Ayo kita ke kelas dulu” jawabnya.
Sesampainya di kelas, “Dedi, Dela. Aku hari ini ingin sendiri. Jadi kalian
nggak usah dulu kerumahku” kataku. Mereka mengiyakan ucapanku dan hanya bisa
melihat iba diriku.
Dirumah, sikapku berbeda sekali dengan
biasanya. Aku datang dengan hanya mengucap salam dan langsung masuk kamar.
Biasanya aku menyapa semua orang rumah. Umi melihatku dengan penuh tanda tanya.
Aku segera membersihkan diri dan Sholat. Setelah itu, aku meminta ijin kepada
Aba dan Umi untuk meminjam sepeda motor Aba yang lumayan tinggi bagiku. Aku
segera menancap gas menuju bukit di ujung desa modern ini. Aku menyendiri
disana. Menangis sekencang-kencangnya, menjerit, melampiaskan semua sakit
hatiku. Aku sangat frustasi, melebihi saat aku dihujat oleh Tini, sahabatku
sendiri. Aku cukup lama berdiam diri disana. Aku tidak membawa hape saat itu.
Sehingga keluarga dirumah khawatir
tentang keadaanku dan keberadaanku. Mas Joni mencariku kemana-mana, dengan
mengajak Dedi. Karena Dedilah yang sering menjadi teman keseharianku. Sudah
hampir 4 jam aku duduk sendiri di bukit itu. Angin kencang dan hujan deras
menghantam tubuh kurusku. Akhirnya Mas Joni dan Dedi menemukanku. Mas Joni
memarahiku habis-habisan, aku terdiam dan kemudian aku menangis sekencang-kencangnya
dipelukan Mas Joni. Lalu kami pulang dengan tubuh yang basah kuyub. Ternyata
Dela juga menungguku dirumah. Sesampainya dirumah, aku melihat pintu rumahku
bergerak-gerak. Juga semua yang kulihat terlihat berputar. Jebrukk! Aku
pingsan.
No comments:
Post a Comment