Tuesday, November 5, 2013

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 6

Yuhuuuu.... Part 6 udah muncul. hehe.. llammaaa banget nggak posting. ternyata rencana tamatin nih cerita dibulan Oktober nggak keturutan, sebab pulsa modem habis. hehe... yaudah, nih.. baca yaa.. Happpy Reading :)

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 6
Pagi ini aku diajak mas Joni berlari-lari untuk olah raga di taman kompleks rumahku. Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan Dedi dan Romi yang sedang berolah raga juga, Dedi menyapaku “Haii, Rina. Tumben pagi-pagi olah raga disini kamu?”, “hai Dedi, Romi. Iya nih, biar nggak gemuk. By the way, kamu kok bisa ada disini, sih? Rumahmu kan di kompleks sebelah?” tanyaku, “mmm.. biar nggak bosen, Rin. hehe” jawab Dedi. “eehheemm” mas Joni berdehem, “”Eh.. ada Kak Joni. Apa kabar, nih?” kata Romi, “Baik, kok. Ehem. baik” mas Joni memberi isyarat Romi untuk berlalu duluan. “Eh, mas Jon. Mau kemana?” tanyaku yang tak ingin ditinggal Mas Joni, “dek, aku dan Romi ada kepentingan, nih. Kami duluan, ya. Pulangnya jangan siang-siang, lho” jawab Mas Joni sembari berlalu mendahului kami. Mas Joni dan Romi menghilang di perempatan 3 Blok dari rumahku. Aku dan Dedi berlari kecil dengan suasana yang canggung dan sangat hening. 

  “ehem” suara Dedi memecah keheningan,
  “apa?” jawabku, “eehhmmm. Kamu liburan kemana, Rin?”,
  “aku?? Dirumah aja. Nggak ada tempat yang ingin ku kunjung, Ded”,
  “lho.. kok bisa? Kenapa nggak refreshing aja? Kan sambil menenangkan hati. Ya, nggak?”
  “dipikir-pikir, iya sihh.. tapi kan kita udah refreshing bareng kelas. Lagi pula 5 hari lagi kita udah   
    masuk sekolah”, “ooww” jawabnya dengan singkat. Suasana menjadi hening kembali.

ketika kami berada didepan pintu taman kompleks, Dedi mengajakku untuk istirahat sejenak. Akupun mengiyakan ajakannya, kami duduk dikursi dekat dengan kolam ikan.
  “Eh, Rin. Aku boleh tanya, nggak?” Dedi memulai pembicaraan kami,
  “boleh, dong. Kenapa enggak? Tanya aja!” jawabku santai sambil memperhatikan pancuran air di
    tengah kolam yang terlihat segar,
  “maaf,Rin. Bukannya aku lancang. Eee... eee... emangnya kamu cinta banget ke Tiar?” tanya Dedi
    yang terlihat ada keraguan diwajahnya, “apa??” aku langsung mengalihkan perhatianku ke Dedi,
  “iyaa.. kamu, Rin. Kamu cinta sama Tiar, kan?” tanyanya untuk kedua kalinya,
  “buat apa kamu tanya-tanya itu? Emang ada urusannya sama kamu? Nggak, kan?” aku malah bertanya balik ke Dedi
  “yaa... maaf, Rin. Tapi kamu tadi ngebolehin aku tanya, sekarang aku minta kamu jawab jujur”,
aku terdiam sejenak sambil menatap tajam ke arah bola mata Dedi, aku melihat ada ketulusan di
matanya, sama seperti waktu dia bilang sayang kepadaku,
  “kamu mau aku menjawabnya?”, Dedi mengangguk, aku menjawab sembari menatap langit,
  “Cinta terbesarku hanya untuk Allah semata, yang kedua Nabi Muhammad SAW, lalu keluarga”,
  “lalu Tiar?”, Dedi bertanya lagi
  “emmhhh... Tiar. Dia hanya permata kecil yang sinarnya jatuh dihatiku. Lambat laun, sinar itu pasti
    pudar, dan hilang. Mungkin ini bisa disebut cinta pertama” jawabku,

percakapan kami berlangsung cukup lama, Dedi adalah satu-satunya teman laki-laki yang tau perasaanku ke Tiar. “eehhh.. aku jadi curhat, nih. Sorry, ya”, “nggak papa kali, Rin” sahut Dedi. Tak terasa jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 07.30. Aku dan Dedi segera pulang. Ia mampir kerumahku, karena Romi ada dirumah bersama Mas Joni.

Setelah sampai dirumah, “Ayo, Ded. Masuk dulu. Kali aja Romi ada di taman belakang” ajakku, “eemh. Iya deh”. Kami menuju taman belakang. Disana ada Mas Joni, Romi, dan Aba yang tertawa terpingkal-pingkal di pinggir kolam renang. Entah apa yang dibicarakan mereka, aku tak ingin mengganggu karena sepertinya mereka sedang asik. Aku menyuruh Dedi bergabung dengan mereka, Akupun membantu Umi didapur untuk menyiapkan wejangan kepada tamu kami. Setelah itu, aku membersihkan diri. Dan lagi-lagi aku teringat Tiar.

 Aku terdiam dan duduk didepan cermin. “Rinaa... Rin.. temenmu mau balik, tuh. Cepat turun, gih” panggil Mas Joni yang berdiri dipintu kamarku dan memperhatikanku bercermin. “oke, Mas” aku segera memasang kerudungku dan menuju teman-teman. “Rinaa.. kami pulang dulu, ya! Aku betah dirumahmu, Rin. hehe” Kata Romi cengingisan, “emm. iya, Rin. Boleh dong, kalo kami sering kesini” ujar Dedi. “ehh.. ehh.. ijin aja ke Abah” jawabku, “Abahmu udah ngijinin, kok”, sahut Romi. “aaa.. eemmm... ii. Iya, deh” jawabku dengan ragu. Karena aku jarang menerima tamu laki-laki, malah nggak pernah. Merekapun pulang kerumah masing-masing dengan berlari-lari kecil.

2 hari sebelum aku masuk sekolah, aku mendapatkan informasi dikelas mana aku akan belajar 1 tahun kedepan. Tapi kelas XII ini kami nggak akan setahun penuh. Ternyata aku sekelas dengan Dedi, Dela dan Fitri, teman sekelas yang lumayan akrab denganku.  Aku melihat Umi didapur sedang sibuk menata meja makan untuk makan siang, aku menghampiri beliau, “Assalamualaikum, Umi. Sibuk, nih” sapaku sambil mengambil semangkuk sup yang siap disajikan di meja makan. 
  “walaikumsalam, sini dek. Bantuin Umi”,
  “oke, Umii. Mi, Rina mau tanyak”,
  “iya?” jawab Umi yang sedang terfokus dengan buah jeruk dan semangka yang beliau tata
  “boleh nggak, kalau Rina.... Rinaa... Pa.. pa.. Pacaran?” tanyaku dengan ragu
  “Dek.. fokus belajar aja” jawab Umi dengan singkat
  “tapi Mi, teman-teman Rina pada pacaran, tuh. Masak Rina gak boleh?” bujukku dengan polosnya
  “Pacaran itu sangat merugikan, loh! Kalo belajar, nggak fokus karena mikirin pacar, terus nanti
    pasti bakalan sakit hati alias Broken Heart. Satu lagi, pacaran itu Dosa! Karena mendekati Zinah”
  “oowh.. tapi, Umi...”, “ssuuuttt... Umi udah kasih saran terbaik, lhoh yaa..” kata Umi dengan penuh wibawa. Akupun melanjutkan membantu Umi dengan mulut tertutup, tidak banyak bicara lagi. Aku mencerna apa yang dikatakan Umi padaku. Tersirat sedikit rasa sebal, sih. Tapi pasti Umi ebih berpengalaman dari aku. Akupun berusaha menjadikan ucapan Umi sebagai pegangan hidup.

Hari dimana aku harus memulai pelajaranpun sudah datang. Aku duduk dengan Dela. Dedi duduk dibelakangku. Liburan kenaikan kelas itu membuatku semakin dekat dengan Dedi. Aku, Dedi, dan Dela menjadi 3 serangkai yang sering bersama. Belajar bersama, ngobrol, makan ke kantin, sampai-sampai bepergianpun kami selalu bersama. Rumah kami tidak terlau jauh, hanya bersebelahan kompleks saja. Dela dan Dedi satu kompleks. Kalau berjalan dari rumahku kerumah Dela, hanya butuh waktu 10 menit. Aku sangat klop berteman dengan Dedi dan Dela. Aku curhatnya juga pada mereka. Mereka terbuka padaku, tidak seperti Tini yang menutup dirinya meskipun dia sangat baik padaku.

Aku tahu bahwa Tiar dan Tini memiliki hubungan yang khusus. Aku tidak terlalu menggubris mereka. Tapi satu kejadian yang membuatku sangat patah hati. Seminggu setelah kami masuk dari liburan, aku melihat dan mendengarkan Tiar dan Tini berpegangan tangan. “Tiar, I Love You” ucap Tini. Tiar menjawab “I Love You too”. Saat itu aku berada disamping mereka. Dan aku tahu bahwa Tiar sadar aku ada disamping mereka meskipun tidak terlalu dekat. Tiar mengucapkan kata itu sambil melihat kearahku, tapi tetap berpegangan tangan dengan Tini. Dan aku tak kuat melihat tatapan Tiar saat itu. Betapa bodohnya aku, aku hanya terdiam membisu melihat kemesrahan mereka. Lalu ada Dedi yang menepuk pundakku dari belakang. Aku membalikkan badanku, Dedi melihat mataku berkaca-kaca. Rasanya aku ingin berteriak, agar dunia tau bahwa hatiku sangat saaakiiiit. 

Aku menuju kekamar mandi dan meninggalkan Dedi disana. Seperti biasa, ketika aku berjalan menuju toilet, aku mimisan deras sekali. Aku tak kuat berjalan cepat, sehingga Dedi mampu menyusulku. Dan alhasil, ia melihat hidung dan tanganku penuh darah. “yaampun, Rin... kenapa lagi kamu?? Cepat bersihkan!” kata Dedi. Dedi menungguku sangat lama didepan pintu toilet. Akhirnya aku keluar juga. Ia melihat metaku sembab, dan masih ada sisa darah yang belum ku bersihkan. “Dedi, aku ingin menenangkan diri” ujarku, “iya. Ayo kita ke kelas dulu” jawabnya. Sesampainya di kelas, “Dedi, Dela. Aku hari ini ingin sendiri. Jadi kalian nggak usah dulu kerumahku” kataku. Mereka mengiyakan ucapanku dan hanya bisa melihat iba diriku.

Dirumah, sikapku berbeda sekali dengan biasanya. Aku datang dengan hanya mengucap salam dan langsung masuk kamar. Biasanya aku menyapa semua orang rumah. Umi melihatku dengan penuh tanda tanya. Aku segera membersihkan diri dan Sholat. Setelah itu, aku meminta ijin kepada Aba dan Umi untuk meminjam sepeda motor Aba yang lumayan tinggi bagiku. Aku segera menancap gas menuju bukit di ujung desa modern ini. Aku menyendiri disana. Menangis sekencang-kencangnya, menjerit, melampiaskan semua sakit hatiku. Aku sangat frustasi, melebihi saat aku dihujat oleh Tini, sahabatku sendiri. Aku cukup lama berdiam diri disana. Aku tidak membawa hape saat itu. Sehingga  keluarga dirumah khawatir tentang keadaanku dan keberadaanku. Mas Joni mencariku kemana-mana, dengan mengajak Dedi. Karena Dedilah yang sering menjadi teman keseharianku. Sudah hampir 4 jam aku duduk sendiri di bukit itu. Angin kencang dan hujan deras menghantam tubuh kurusku. Akhirnya Mas Joni dan Dedi menemukanku. Mas Joni memarahiku habis-habisan, aku terdiam dan kemudian aku menangis sekencang-kencangnya dipelukan Mas Joni. Lalu kami pulang dengan tubuh yang basah kuyub. Ternyata Dela juga menungguku dirumah. Sesampainya dirumah, aku melihat pintu rumahku bergerak-gerak. Juga semua yang kulihat terlihat berputar. Jebrukk! Aku pingsan.

To be Continue...

No comments:

Post a Comment