Lanjutan nya,
nih. Dari Cinta Untuk Cinta Part 4, guys. Happy reading.
Dari Cinta Untuk Cinta Part 4
‘Apakah aku
orang jahat? Kenapa aku jahat sekali? Teman yang sangat baik kau hancurkan
hatinya? Lalu apakah aku salah? Aku tak tahu. Apa yang harus aku lakukan’
batinku. Aku sangat frustasi saat itu. Aku sangat mengenal Tini, aku sangat
menyayanginya. Saat itu juga, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat.
Harus kuhentikan tangisku. ‘Aku RINA. Aku Rina yang tangguh. Ayo semangat
Rina... Semangaaat..’ batinku. Aku segera berdiri menantang badai. Aku yakin
aku kuat. Aku berlari dengan kepala yang sangat sakit ini menuju toilet. Kusapa
teman-teman yang aku lewati, kutebar senyum. Akhirnya sampai juga aku di
Toilet. Kubersihkan airmataku yang tersisa. Tapi, mataku sembab. Aku terus
berkaca menatap wajah kusamku. Tiba-tiba aku melihat darah mengalir dihidungku.
Oh tidak... aku mimisan. Kututup pintu Toilet rapat-rapat. Aku berusaha
menghentikan darah itu. ‘waahh.. terjadi lagi’ batinku. Waktu masih kecil, aku
sering mimisan jika lelah. Tapi ketika aku kelas V SD, darah itu berhenti
mengalir. Dan saat ini, aku merasakannya kembali. Darahnya berhenti dan segera
kubersihkan. Aku yakin darahnya sudah berhenti mengalir dan sudah bersih.
Aku keluar
Toilet. Aku tunjukkan bahwa aku baik-baik saja kepada semua orang disekitarku.
Aku kembali berjalan-jalan ditepi pantai dan menyusul teman-teman yang asik
berfoto. ‘Tliiliiitt’ hapeku berbunyi. Aku melihat ada pesan dari Tini yang
isinya, “Rina.. Tiar. Tiar milikku.
Ingat!!”. Aku tak menghiraukan pesan itu meskipun menyayat hati.
Kulanjutkan bermain dengan teman-teman. Disana ada Dedi dan teman-teman
lainnya. Kurasa Sunset itu tidak seindah yang aku bayangkan. Aku gembira sekali
melihat canda tawa teman-teman, juga Tini. Andai Tini berkata sejak dulu, tak
mungkin Sunset menjadi suram bagiku.
Haripun sudah
larut. Aku dan teman-teman beserta guru pendamping kami menginap di Wisma dekat
pantai. Aku dan teman-teman melaksanakan Shalat Maghrib berjama’ah. Damai
sekali rasanya hati ini. Tiba-tiba aku ingat barang-barang yang dipesan
keluargaku. Kebetulan dimalam hari toko-toko buka semua dan sangat indah
dilihat dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Aku pergi bersama Indah, Fika
dan Dedi. Kebetulan mereka juga ingin berbelanja. Tapi aku tidak melihat Tini,
dimana dia? Terpintas sejenak kerinduanku saat bersama dengan Tini. Aku
berkeliling tempat wisata itu. Senang rasanya, meskipun ada yang kurang, Tini.
Seperti biasa, kami mengambil gambar alias berfoto ria. Kehancuran yang kurasakan seakan-akan menghilang begitu saja. Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah kulupakan. Dan ternyata sudah cukup lama kami berkeliling, bulan pun semakin terlihat jelas diatas kami. Ternyata sudah jam 21.30. Kami harus segera pulang. Jika tidak, guru pendamping pasti akan mengomel. Untung saja semua pesanan keluarga sudah terpenuhi. Kami pun segera kembali ke wisma. Aku, Indah dan Fika berpisah dengan Dedi ketika pas didepan wisma. Ya iyalah.. Wisma kami kan berbeda. Kebetulan Aku, Fika dan Indah sekamar, dan juga 3 teman kami yang lain. Tini menolak untuk satu kamar denganku.
Seperti biasa, kami mengambil gambar alias berfoto ria. Kehancuran yang kurasakan seakan-akan menghilang begitu saja. Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah kulupakan. Dan ternyata sudah cukup lama kami berkeliling, bulan pun semakin terlihat jelas diatas kami. Ternyata sudah jam 21.30. Kami harus segera pulang. Jika tidak, guru pendamping pasti akan mengomel. Untung saja semua pesanan keluarga sudah terpenuhi. Kami pun segera kembali ke wisma. Aku, Indah dan Fika berpisah dengan Dedi ketika pas didepan wisma. Ya iyalah.. Wisma kami kan berbeda. Kebetulan Aku, Fika dan Indah sekamar, dan juga 3 teman kami yang lain. Tini menolak untuk satu kamar denganku.
Wah.. mungkin
teman-teman sangat lelah karena berjalan-jalan keliling tempat ini, merekapun
tertidur. Tinggal aku yang belum tidur. Kurasakan mata ini enggan tertutup,
mungkin karena aku terlalu memikirkan
Tini. Untuk mengurangi kejenuhan, aku sengaja keluar untuk menikmati udara
malam yang dingin ditepi pantai. Aku duduk ditepi pantai, terdengar suara ombak
yang memecah keheningan malam itu. Kulihat bintang-bintang bertaburan menyebar
diseluruh langit yang gelap dan terlihat sangat indah. Disana aku menyimpan
sejuta rasa pedih yang ingin ku tuangkan saat itu juga. Entah apapun yang aku
rasakan malam itu, rasanya aku menjadi orang yang paling menderita didunia.
Saat itu aku tak ingin mengeluarkan airmataku.
Tiba-tiba aku
melihat seorang laki-laki yang duduk disampingku begitu saja, tanpa menyapa.
Awalnya aku takut untuk melihatnya, tapi karena penasaran aku terpaksa
melihatnya. Dari samping hanya terlihat siluetnya saja, karena memang malam itu
sangat gelap. Diapun menoleh kearahku dan berkata, “Hai Rin. Ngapain kamu
malem-malem gini ga didalam kamar?”, aku kenal suara itu, ternyata dia Dedi.
“Ohhhh, Dedi. Bikin kaget aja kamu. Iya nih. Susah mau tidur!”, “emmh. Ati-ati
ketahuan guru lho. Bisa-bisa dihukum kamunya. Cepet pulang ke Wisma, gih!”,
Dedi menyuruhku kembali. “iiii... sapa elo, Ded?? Nggak ah. Aku pengen disini
aja sampe ngantuk”. “yaudah aku temenin” sahutnya dengan tenang. “kamu sendiri,
kenapa nggak tidur?” tanyaku, “aku?? Males aja mau tidur”jawabnya, “ooo..” akupun
menjawab dengan singkat dan suasanapun menjadi hening. Aku terus menatapi
langit gelap yang bertaburan bintang sembari mendengar ombak yang menabrak batu
karang yang amat kokoh. “Rin, aku tau masalah kamu!” kata Dedi, “masalah? Yang
mana? Aku fine-fine aja tuh. Ga ada masalah! Sok tau deh kamu” aku menjawab
dengan santainya dan bersikap easy going,
aku berfikir keras ‘apakah yang dimaksud Dedi itu masalahku dengan Tini?’.
“udah deh, Rin. Kamu gak usah bo’ong. Aku denger apa yang diomongin Tini ke kamu!
andaikan aku nggak taupun, matamu tidak bisa menyembunyikan luka yang kamu
rasakan, Rin. Disini dan sekarang, kamu bisa cerita semua. Kamu bisa percayakan
semua sama aku” Tiba-tiba suara Dedi menjadi lebih tegas dan seperti penuh
ketulusan.
Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku tidak tahan mendengar semua ucapan Dedi. Ingin sekali aku menjerit sekeras-kerasnya. Aku berucap “aku tau Ded, hidup ini memang penuh suka dan duka. Apalagi mengenai cinta. Tapi... kamu lihat sekarang, kan? Aku baik-baik aja”. “halaahhh.. cukup. Hentikan senyum tipuanmu itu. Aku nggak kuat liat temanku kayak gini! Suer” kata Dedi dengan nada yang agak tinggi, aku heran dengan dedi. Padahal kita baru aja bisa akrab kayak gini. Tapi aku cukup tersentuh dengan perhatiannya padaku. “kok malah kamu yang marah si?? padahal aku yang merasakan ini! Bukan kamu! Aku yang luka, aku yang sakit, aku yang hancur. Baru kali ini aku merasakan cinta ini, baru kali ini juga aku dibenci sahabatku sendiri! Bukan kamu!! Inget Ded, aku... aku!!!” tiba-tiba saja aku marah, dan air mataku pecah. Dedi tak menjawab dan hanya terdiam. “Gapapa, Rin. Nangis aja. Aku pengen liat kamu nangis. Selama aku kenal kamu, aku gak pernah liat kamu nangis” katanya.
Aku berusaha menghentikan tangisku, Dedi berkata lagi “Rin. Cinta memang begitu rumit. Begitu juga aku. Aku baru saja mengenal apa itu artinya cinta. Terkadang kita harus berkorban, juga harus berani mengorbankan. Tapi sepertinya aku harus menyembunyikan cintaku, seperti kamu menyembunyikan lukamu, Rin. Aku ingin belajar dari kamu. Bagaimana cara menyembunyikannya? Meskipun sangat menyakitkan” Dedi berucap panjang lebar dan meskipunaku tak ingin mengerti arah pembicaraannya. “Sok tau banget kamu, Ded.. dapet darimana tuh kalimat? oke deh.. aku akan menjadi gurumu. Aku masuk wisma ya. Dingin..” tangiskupun terhenti dan segera meninggalkan Dedi. Setelah aku sudah dikejauhan, Dedi memanggilku “Rin. Please be Okay. Smile. Good Night”, akupun hanya bisa melambaikan tanganku dan berlalu.
Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku tidak tahan mendengar semua ucapan Dedi. Ingin sekali aku menjerit sekeras-kerasnya. Aku berucap “aku tau Ded, hidup ini memang penuh suka dan duka. Apalagi mengenai cinta. Tapi... kamu lihat sekarang, kan? Aku baik-baik aja”. “halaahhh.. cukup. Hentikan senyum tipuanmu itu. Aku nggak kuat liat temanku kayak gini! Suer” kata Dedi dengan nada yang agak tinggi, aku heran dengan dedi. Padahal kita baru aja bisa akrab kayak gini. Tapi aku cukup tersentuh dengan perhatiannya padaku. “kok malah kamu yang marah si?? padahal aku yang merasakan ini! Bukan kamu! Aku yang luka, aku yang sakit, aku yang hancur. Baru kali ini aku merasakan cinta ini, baru kali ini juga aku dibenci sahabatku sendiri! Bukan kamu!! Inget Ded, aku... aku!!!” tiba-tiba saja aku marah, dan air mataku pecah. Dedi tak menjawab dan hanya terdiam. “Gapapa, Rin. Nangis aja. Aku pengen liat kamu nangis. Selama aku kenal kamu, aku gak pernah liat kamu nangis” katanya.
Aku berusaha menghentikan tangisku, Dedi berkata lagi “Rin. Cinta memang begitu rumit. Begitu juga aku. Aku baru saja mengenal apa itu artinya cinta. Terkadang kita harus berkorban, juga harus berani mengorbankan. Tapi sepertinya aku harus menyembunyikan cintaku, seperti kamu menyembunyikan lukamu, Rin. Aku ingin belajar dari kamu. Bagaimana cara menyembunyikannya? Meskipun sangat menyakitkan” Dedi berucap panjang lebar dan meskipunaku tak ingin mengerti arah pembicaraannya. “Sok tau banget kamu, Ded.. dapet darimana tuh kalimat? oke deh.. aku akan menjadi gurumu. Aku masuk wisma ya. Dingin..” tangiskupun terhenti dan segera meninggalkan Dedi. Setelah aku sudah dikejauhan, Dedi memanggilku “Rin. Please be Okay. Smile. Good Night”, akupun hanya bisa melambaikan tanganku dan berlalu.
“Kring...kring...”
alarm Hape si Indah bunyinya kenceng banget. Aku jadi kaget dan berlonjak dari
kasur. “Ihhh... Indah kamu iseng banget siii...” kata Fika yang baru saja
terbangun dari tidurnya. Indah dan Fika saling melempar bantal dan guling. Aku
dan teman-teman lainnya
berusaha melerai mereka. “Fika! Indah! Lucu banget kalian ini... kayak anak
kecil aja” kata Intan dengan santai, Intan memang orangnya santai dan terlihat
sangat cuek. Tetapi sebenarnya dia orangnya sangat penyayang dan peduli. Fika
dan Indah pun berhenti melemparkan bantal dan guling. “Udah temen-temen?? Udah?
Kalo udah, ayo kita siap-siap Sholat Subuh berjamaah, lalu lari pagi deh..
gimana?” usulku. “Ayuukk..” kata teman-teman sekamarku serempak.
Setelah Sholat
kamipun berlari-lari pagi. Ada aku, Fika, Indah, Intan, Mega dan Fitri. Kami
berlari-lari kecil mengelilingi jalanan didekat pantai. Sekaligus menanti datangnya
matahari alias Sunrise. Karena pagi
ini adalah pagi terakhr kami di tempat seindah ini. Di jembatan tepat diatas
muara yang deltanya terlihat sangat indah berwarna hijau kemerahan, kami
berdiri menanti sunrise. Entah apa yang akan terjadi sunrise pagi ini. Semoga
tidak terjadi seperti sunset kemarin. Kami mengenakan celana training dan kaos
santai panjang, dan seperti seharusnya kami berkerudung. Sambil menanti
sunrise, kami melakukan senam santai. Dipimpin oleh mega yang memang atlet
bulutangkis. Tak lama kemudian, sunrise pun muncul. Matahari seperti tersenyum
dan menatap kami dengan sentuhan sinar lembut tepat pada muka kami. Setelah 30 menit lamanya kami menikmati
cahaya pagi yang sangat segar, aku dan teman-teman harus pulang ke wisma untuk
sarapan.
Ternyata diperjalanan pulang aku bertemu dengan Tiar yang sedang berlari-lari kecil sendirian, “Ehh... Rinaa...” Tiar memanggilku. Aku yang sedang asik berlari dengan teman-teman akhrinya berhenti. “Rinaa... kami duluan deh ya. Laper nih” kata Fitri yang diikuti anggukan oleh teman-teman yang lain. “emmm... tunggu jangan ditinggal!” sahutku. “ahh.. pasti lama, duluan ya. dadaah” mereka meninggalkanku berdua dengan Tiar. “Ada apa sih?”, “eemm.. tadi malem kamu sama Dedi......” kata Tiar dan langsung ku potong, “What? Aku sama Dedi? Ohh... nggak. Cuma curhat aja. Dedi seru juga diajak curhat” sahutku yang tak ingin pertanyaan Tiar berlanjut. “ooh.. jarang-jarang seseorang yang bernama Rina curhat sama laki-laki.. hayooo..” Tiar mencoba bergurau denganku, “ah. Nggak deh. Aku duluan ya. Itu temen-temen belum terlalu jauh” balasku yang teringat kata-kata Tini yang sangat menusuk hati. Aku mencoba untuk menjaga hati seorang sahabat, Tini. Akupun berlalu dari Tiar dan menyusul teman-teman.
Ternyata diperjalanan pulang aku bertemu dengan Tiar yang sedang berlari-lari kecil sendirian, “Ehh... Rinaa...” Tiar memanggilku. Aku yang sedang asik berlari dengan teman-teman akhrinya berhenti. “Rinaa... kami duluan deh ya. Laper nih” kata Fitri yang diikuti anggukan oleh teman-teman yang lain. “emmm... tunggu jangan ditinggal!” sahutku. “ahh.. pasti lama, duluan ya. dadaah” mereka meninggalkanku berdua dengan Tiar. “Ada apa sih?”, “eemm.. tadi malem kamu sama Dedi......” kata Tiar dan langsung ku potong, “What? Aku sama Dedi? Ohh... nggak. Cuma curhat aja. Dedi seru juga diajak curhat” sahutku yang tak ingin pertanyaan Tiar berlanjut. “ooh.. jarang-jarang seseorang yang bernama Rina curhat sama laki-laki.. hayooo..” Tiar mencoba bergurau denganku, “ah. Nggak deh. Aku duluan ya. Itu temen-temen belum terlalu jauh” balasku yang teringat kata-kata Tini yang sangat menusuk hati. Aku mencoba untuk menjaga hati seorang sahabat, Tini. Akupun berlalu dari Tiar dan menyusul teman-teman.
,,,To Be Continue...
Wkwkwkwk.... gimana tuh, udah sampe
part 4, critanya jadi kayak gini...
nggak bosan-bosanny, aq minta banget kritik en sarannya ya. Secara aku adalah seorang penulis pemula. Belajar belajar gitu deh. Hehe...
Nantikan Part selajutnya...
nggak bosan-bosanny, aq minta banget kritik en sarannya ya. Secara aku adalah seorang penulis pemula. Belajar belajar gitu deh. Hehe...
Nantikan Part selajutnya...
No comments:
Post a Comment