Sunday, October 27, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 4

Lanjutan nya, nih. Dari Cinta Untuk Cinta Part 4, guys. Happy reading.

Dari Cinta Untuk Cinta Part 4
‘Apakah aku orang jahat? Kenapa aku jahat sekali? Teman yang sangat baik kau hancurkan hatinya? Lalu apakah aku salah? Aku tak tahu. Apa yang harus aku lakukan’ batinku. Aku sangat frustasi saat itu. Aku sangat mengenal Tini, aku sangat menyayanginya. Saat itu juga, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Harus kuhentikan tangisku. ‘Aku RINA. Aku Rina yang tangguh. Ayo semangat Rina... Semangaaat..’ batinku. Aku segera berdiri menantang badai. Aku yakin aku kuat. Aku berlari dengan kepala yang sangat sakit ini menuju toilet. Kusapa teman-teman yang aku lewati, kutebar senyum. Akhirnya sampai juga aku di Toilet. Kubersihkan airmataku yang tersisa. Tapi, mataku sembab. Aku terus berkaca menatap wajah kusamku. Tiba-tiba aku melihat darah mengalir dihidungku. Oh tidak... aku mimisan. Kututup pintu Toilet rapat-rapat. Aku berusaha menghentikan darah itu. ‘waahh.. terjadi lagi’ batinku. Waktu masih kecil, aku sering mimisan jika lelah. Tapi ketika aku kelas V SD, darah itu berhenti mengalir. Dan saat ini, aku merasakannya kembali. Darahnya berhenti dan segera kubersihkan. Aku yakin darahnya sudah berhenti mengalir dan sudah bersih.

Aku keluar Toilet. Aku tunjukkan bahwa aku baik-baik saja kepada semua orang disekitarku. Aku kembali berjalan-jalan ditepi pantai dan menyusul teman-teman yang asik berfoto. ‘Tliiliiitt’ hapeku berbunyi. Aku melihat ada pesan dari Tini yang isinya, “Rina.. Tiar. Tiar milikku. Ingat!!”. Aku tak menghiraukan pesan itu meskipun menyayat hati. Kulanjutkan bermain dengan teman-teman. Disana ada Dedi dan teman-teman lainnya. Kurasa Sunset itu tidak seindah yang aku bayangkan. Aku gembira sekali melihat canda tawa teman-teman, juga Tini. Andai Tini berkata sejak dulu, tak mungkin Sunset menjadi suram bagiku.

Haripun sudah larut. Aku dan teman-teman beserta guru pendamping kami menginap di Wisma dekat pantai. Aku dan teman-teman melaksanakan Shalat Maghrib berjama’ah. Damai sekali rasanya hati ini. Tiba-tiba aku ingat barang-barang yang dipesan keluargaku. Kebetulan dimalam hari toko-toko buka semua dan sangat indah dilihat dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Aku pergi bersama Indah, Fika dan Dedi. Kebetulan mereka juga ingin berbelanja. Tapi aku tidak melihat Tini, dimana dia? Terpintas sejenak kerinduanku saat bersama dengan Tini. Aku berkeliling tempat wisata itu. Senang rasanya, meskipun ada yang kurang, Tini.

Seperti biasa, kami mengambil gambar alias berfoto ria. Kehancuran yang kurasakan seakan-akan menghilang begitu saja. Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah kulupakan. Dan ternyata sudah cukup lama kami berkeliling, bulan pun semakin terlihat jelas diatas kami. Ternyata sudah jam 21.30. Kami harus segera pulang. Jika tidak, guru pendamping pasti akan mengomel. Untung saja semua pesanan keluarga sudah terpenuhi. Kami pun segera kembali ke wisma. Aku, Indah dan Fika berpisah dengan Dedi ketika pas didepan wisma. Ya iyalah.. Wisma kami kan berbeda. Kebetulan Aku, Fika dan Indah sekamar, dan juga 3 teman kami yang lain. Tini menolak untuk satu kamar denganku.

Wah.. mungkin teman-teman sangat lelah karena berjalan-jalan keliling tempat ini, merekapun tertidur. Tinggal aku yang belum tidur. Kurasakan mata ini enggan tertutup, mungkin   karena aku terlalu memikirkan Tini. Untuk mengurangi kejenuhan, aku sengaja keluar untuk menikmati udara malam yang dingin ditepi pantai. Aku duduk ditepi pantai, terdengar suara ombak yang memecah keheningan malam itu. Kulihat bintang-bintang bertaburan menyebar diseluruh langit yang gelap dan terlihat sangat indah. Disana aku menyimpan sejuta rasa pedih yang ingin ku tuangkan saat itu juga. Entah apapun yang aku rasakan malam itu, rasanya aku menjadi orang yang paling menderita didunia. Saat itu aku tak ingin mengeluarkan airmataku.

Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki yang duduk disampingku begitu saja, tanpa menyapa. Awalnya aku takut untuk melihatnya, tapi karena penasaran aku terpaksa melihatnya. Dari samping hanya terlihat siluetnya saja, karena memang malam itu sangat gelap. Diapun menoleh kearahku dan berkata, “Hai Rin. Ngapain kamu malem-malem gini ga didalam kamar?”, aku kenal suara itu, ternyata dia Dedi. “Ohhhh, Dedi. Bikin kaget aja kamu. Iya nih. Susah mau tidur!”, “emmh. Ati-ati ketahuan guru lho. Bisa-bisa dihukum kamunya. Cepet pulang ke Wisma, gih!”, Dedi menyuruhku kembali. “iiii... sapa elo, Ded?? Nggak ah. Aku pengen disini aja sampe ngantuk”. “yaudah aku temenin” sahutnya dengan tenang. “kamu sendiri, kenapa nggak tidur?” tanyaku, “aku?? Males aja mau tidur”jawabnya, “ooo..” akupun menjawab dengan singkat dan suasanapun menjadi hening. Aku terus menatapi langit gelap yang bertaburan bintang sembari mendengar ombak yang menabrak batu karang yang amat kokoh. “Rin, aku tau masalah kamu!” kata Dedi, “masalah? Yang mana? Aku fine-fine aja tuh. Ga ada masalah! Sok tau deh kamu” aku menjawab dengan santainya dan bersikap easy going, aku berfikir keras ‘apakah yang dimaksud Dedi itu masalahku dengan Tini?’. “udah deh, Rin. Kamu gak usah bo’ong. Aku denger apa yang diomongin Tini ke kamu! andaikan aku nggak taupun, matamu tidak bisa menyembunyikan luka yang kamu rasakan, Rin. Disini dan sekarang, kamu bisa cerita semua. Kamu bisa percayakan semua sama aku” Tiba-tiba suara Dedi menjadi lebih tegas dan seperti penuh ketulusan.

 Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku tidak tahan mendengar semua ucapan Dedi. Ingin sekali aku menjerit sekeras-kerasnya. Aku berucap “aku tau Ded, hidup ini memang penuh suka dan duka. Apalagi mengenai cinta. Tapi... kamu lihat sekarang, kan? Aku baik-baik aja”. “halaahhh.. cukup. Hentikan senyum tipuanmu itu. Aku nggak kuat liat temanku kayak gini! Suer” kata Dedi dengan nada yang agak tinggi, aku heran dengan dedi. Padahal kita baru aja bisa akrab kayak gini. Tapi aku cukup tersentuh dengan perhatiannya padaku. “kok malah kamu yang marah si?? padahal aku yang merasakan ini! Bukan kamu! Aku yang luka, aku yang sakit, aku yang hancur. Baru kali ini aku merasakan cinta ini, baru kali ini juga aku dibenci sahabatku sendiri! Bukan kamu!! Inget Ded, aku... aku!!!” tiba-tiba saja aku marah, dan air mataku pecah. Dedi tak menjawab dan hanya terdiam. “Gapapa, Rin. Nangis aja. Aku pengen liat kamu nangis. Selama aku kenal kamu, aku gak pernah liat kamu nangis” katanya.

Aku berusaha menghentikan tangisku, Dedi berkata lagi “Rin. Cinta memang begitu rumit. Begitu juga aku. Aku baru saja mengenal apa itu artinya cinta. Terkadang kita harus berkorban, juga harus berani mengorbankan. Tapi sepertinya aku harus menyembunyikan cintaku, seperti kamu menyembunyikan lukamu, Rin. Aku ingin belajar dari kamu. Bagaimana cara menyembunyikannya? Meskipun sangat menyakitkan” Dedi berucap panjang lebar dan meskipunaku tak ingin mengerti arah pembicaraannya. “Sok tau banget kamu, Ded.. dapet darimana tuh kalimat? oke deh.. aku akan menjadi gurumu. Aku masuk wisma ya. Dingin..” tangiskupun terhenti dan segera meninggalkan Dedi. Setelah aku sudah dikejauhan, Dedi memanggilku “Rin. Please be Okay. Smile. Good Night”, akupun hanya bisa melambaikan tanganku dan berlalu.

“Kring...kring...” alarm Hape si Indah bunyinya kenceng banget. Aku jadi kaget dan berlonjak dari kasur. “Ihhh... Indah kamu iseng banget siii...” kata Fika yang baru saja terbangun dari tidurnya. Indah dan Fika saling melempar bantal dan guling. Aku dan teman-teman lainnya berusaha melerai mereka. “Fika! Indah! Lucu banget kalian ini... kayak anak kecil aja” kata Intan dengan santai, Intan memang orangnya santai dan terlihat sangat cuek. Tetapi sebenarnya dia orangnya sangat penyayang dan peduli. Fika dan Indah pun berhenti melemparkan bantal dan guling. “Udah temen-temen?? Udah? Kalo udah, ayo kita siap-siap Sholat Subuh berjamaah, lalu lari pagi deh.. gimana?” usulku. “Ayuukk..” kata teman-teman sekamarku serempak.

Setelah Sholat kamipun berlari-lari pagi. Ada aku, Fika, Indah, Intan, Mega dan Fitri. Kami berlari-lari kecil mengelilingi jalanan didekat pantai. Sekaligus menanti datangnya matahari alias Sunrise. Karena pagi ini adalah pagi terakhr kami di tempat seindah ini. Di jembatan tepat diatas muara yang deltanya terlihat sangat indah berwarna hijau kemerahan, kami berdiri menanti sunrise. Entah apa yang akan terjadi sunrise pagi ini. Semoga tidak terjadi seperti sunset kemarin. Kami mengenakan celana training dan kaos santai panjang, dan seperti seharusnya kami berkerudung. Sambil menanti sunrise, kami melakukan senam santai. Dipimpin oleh mega yang memang atlet bulutangkis. Tak lama kemudian, sunrise pun muncul. Matahari seperti tersenyum dan menatap kami dengan sentuhan sinar lembut tepat pada muka  kami. Setelah 30 menit lamanya kami menikmati cahaya pagi yang sangat segar, aku dan teman-teman harus pulang ke wisma untuk sarapan.

Ternyata diperjalanan pulang aku bertemu dengan Tiar yang sedang berlari-lari kecil sendirian, “Ehh... Rinaa...” Tiar memanggilku. Aku yang sedang asik berlari dengan teman-teman akhrinya berhenti. “Rinaa... kami duluan deh ya. Laper nih” kata Fitri yang diikuti anggukan oleh teman-teman yang lain. “emmm... tunggu jangan ditinggal!” sahutku. “ahh.. pasti lama, duluan ya. dadaah” mereka meninggalkanku berdua dengan Tiar. “Ada apa sih?”, “eemm.. tadi malem kamu sama Dedi......” kata Tiar dan langsung ku potong, “What? Aku sama Dedi? Ohh... nggak. Cuma curhat aja. Dedi seru juga diajak curhat” sahutku yang tak ingin pertanyaan Tiar berlanjut. “ooh.. jarang-jarang seseorang yang bernama Rina curhat sama laki-laki.. hayooo..” Tiar mencoba bergurau denganku, “ah. Nggak deh. Aku duluan ya. Itu temen-temen belum terlalu jauh” balasku yang teringat kata-kata Tini yang sangat menusuk hati. Aku mencoba untuk menjaga hati seorang sahabat, Tini. Akupun berlalu dari Tiar dan menyusul teman-teman.


,,,To Be Continue...



Wkwkwkwk.... gimana tuh, udah sampe part 4, critanya jadi kayak gini...
nggak bosan-bosanny, aq minta banget kritik en sarannya ya. Secara aku adalah seorang penulis pemula. Belajar belajar gitu deh. Hehe...
Nantikan Part selajutnya...

No comments:

Post a Comment