Monday, October 28, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 5

Waa... sekarang lagi musim hujan, ya.. dalam suasana gini, aku lagi demen-demennya nulis-nulis. Hehe.. #Ehh, malah curcol. Yaudah, nih aku kasih satu  lanjutan dari cinta untuk cinta part 5. Wuuuhh... ternyata udah part 5 yak.. hehee... sebenernya pinginnya baca-baca, si.. berhubung nggak ada yang mau dibaca, kecuali numpang nimbrung di blog-blog sebelah, mending nulis deh. Dan semoga dengan adanya cerbung yang kali ini aku akuin singkat banget, readers bisa tenang di musim hujan yang angnnya lumayan kenceng ini. Oke. Singkat kata, Happy Reading, guys. =)

Dari Cinta Untuk Cinta Part 5

Sesampainya di wisma, kau dan teman-teman membersihkan diri dan segera menuju ke resto untuk breakfast. Disana sudah ada Tini dan Tiar yang duduk berdampingan, aku menghiraukan mereka. Tapi apakah mereka tau aku sakit, hatiku sakit. Bukan karena Tini sudah bersama Tiar, tapi karena seorang teman baik alias sahabat, aku sakiiiiiitttt. Aku berusaha tersenyum dan menunjukkan kegembiraanku seperti biasa kepada teman-teman, kami mulai makan. Aku merasa diperhatikan oleh Tiar, kenapa begitu? Karena Tiar selalu didalam pikiranku. Dan ternyata memang benar Tiar sedang memperhatikanku makan. Aku teruskan makan pagi itu tanpa menghiraukan Tiar.

Pagi ini kami haru pulang ke rumah masing-masing. Aku packing semua barangku dan titipan Mas Joni dan Mbak Dilma, jangan sampai ada yang ketinggalan. Beres.. semua siap dibawa pulang. Aku keluarkan koperku dan ku etakkan berjajar dengan koper teman-teman lainnya untuk dibawa ke Bus. “ayoo teman-teman, kita berfoto bersama-sama. Yang sudah packing, cepat keluar. Kami tunggu di pantai” Dedi memberi pengumuman pada kami. Aku dan teman-teman lainnya siap meluncur ke pantai, “Teman-teman... tungguin aku” kata Intan yang belum selesai dengan barangnya. “oke.. cepat ya” sahutku, “yuup. Udah selesai. Yuk berangkat” kata Intan.

Kamipun bergegas menuju pantai dan berfoto-foto sebagai kenang-kenangan. Aku berdiri dan berpose, disampingku ada Dedi dan Fika. Biasanya aku dan Tini selalu berfoto bersanding, sekarang dia jauh. Jauuuhhhh sekali. Seperti tak pernah kenal saja. Setelah itu kami harus langsung menuju Bus, ‘jangan sampai aku duduk dengan Dedi lagi. plisss’ batinku, tapi aku melihat Tini berjalan sendiri dan kupanggil dia “Tini”, Tini menoleh kearahku dan langkah kakinya semakin cepat.

Dia seperti menghindariku, aku menarik tangannya dan berkata “Tini. Apa kamu mau terus begini? Aku gak akan ngerebut Tiar dari kamu, Tin! Aku nggak boleh dan nggak mau pacaran! Aku mau kita kayak dulu lagi! Aku nggak kuat sama keadaan ini. Plisss.. jangan buat aku ngerasa bersalah kayak gini!” aku berbicara panjang lebar dan tanpa kusadari aku meneteskan air mata. “Aku udah nggak butuh kamu!” kata Tini dengan sikap dan ekspresi yang judes, diapun langsung pergi meninggalkanku. Aku sadar saat itu hanya sendiri, teman-teman sudah berada di Bus. Aku sempatkan pergi ke toilet untuk mengahapus air mataku. Kata terakhir yang diucap Tini sangat menghancurkanku ‘aku tak butuh kamu? Apa itu? Haa?’ batinku. Akupun segera berlari menuju Bus.

Sial, aku harus duduk dengan Dedi lagi ditempat yang sama. Ga ada lagi tempat kosong, terpaksa aku harus duduk disamping Dedi. Tapi aku ingin duduk didekat jendela, “Ded. Kamu pindah dong.. aku disitu, kamu disini” kataku sambil menunjuk ke tempat duduk Dedi. “nggak deh. Sama aja Rani” ujarnya, “tapi aku mau disitu”aku merengek. “Iya, oke” katanya. Perjalanan panjangpun kami tempuh. Aku hanya terdiam menghadap jendela menatap indahnya pemandangan diluar sana. Tiba-tiba aku meneteskan air mata, seluruh pikiran menumpuk disaat itu. Plek, kepala Dedi mendarat di pundakku. ‘iihhh.. nih anak nyusahin aja’ batinku, tapi aku nggak tega ngebangunin Dedi yang sudah terlelap, aku tau dia pasti lelah. ku biarkan dia bersandar dipundakku. Tak lama kemudian, akupun tertidur juga.

“Rin.. Rina. Bangun dong.. Rin” aku mendengar bisikan Dedi yang membangunkanku, ‘Astaghfirullah, aku mimisan’ batinku. “ehh.. jangan  bersandar. Tegakkan badanmu” kata Dedi yang pasti tau menangani mimisan. “heem” ujarku. Dedi menyodorkan tisu ke hidungku tapi aku tak mau, “biar aku saja”. Aku mengusap darah yang sudah mengalir di daguku, kututup hidungku untuk mencegah darah keluar lebih banyak. Dedi memperhatikanku dengan khawatir. Setelah kututup hidungku, aku berkata pada Dedi “udah Ded. Nggak papa kok. Nggak perlu khawatir, aku udah terbiasa kayak gini. Makasih ya udah bangunin aku”, Dedi mengangguk. Sepertinya teman-teman lain terganggu dengan obrolan kami berdua, Mega yang duduk didepanku berbalik badan “heiii.. jangan ram... Astaga Rina! Kamu mimisan?” Mega yang berniat menegur kami langsung kaget melihat hidungku ditutup Tisu. “ssstt. Jangan rame” kataku dengan telunjuk didepan bibir. Saat itu suasana Bus menjadi ramai. Guru pendamping menghampiriku untuk menanyakan keadaanku. Aku melihat Tini sedang mengkhawatirkanku, aku tau dia masih sayang kepadaku dan mengkhawatirkan keadaanku. Tapi.... sudahlah.

Waahh... ternyata kurang beberapa kilometer lagi sampai di kota asal, aku menghubingi mas Joni untuk segera menjemputku. “Rin, aku mau ngomong sesuatu ke kamu” Tiba-tiba Dedi berkata, “iya.. ngomong aja” kataku sambil mengutak-atik hapeku. “kamu sebaiknya periksa kesehatan, deh. Aku khawatir. Udah 2 kali aku melihat kamu mimisan. Ya?” kata Dedi yang ternyata melihatku mimisan di toilet, “emm.. udah.. aku baik-baik aja. Emang dari kecil aku sering mimisan, kok. Waa... udah sampai, nih. Aku turun dulu, ya” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. “Rin, dengerin aku sekali lagi. Aku ss...ss..ssayang kamu” kata Dedi dengan tatapan tulusnya. “eemmm... oke. Oke. Aku tau. Kita kan teman, ya nggak? Harus saling menyayangi, dong. Udah yaa.. ayuk turun. Tuh mas Joni udah nunggu” aku berlagak sok polos. “ya benar.. kita teman” kata Dedi dengan nada yang agak lirih, “Ciyeee... ciyee... si Dedi sama si Rina, chuy, chiyeee” tiba-tiba Romi muncul dari balik kursi dan mengagetan kami. “aahhh.. Romi kebiasaan deh!” kataku sebal. Kamipun pulang kerumah masing-masing. Aku melihat Dedi dan melambaikan tangannya, juga Tiar disamping Dedi dengan tatapan yang selalu membuatku terpesona.

Akhirnya sampai juga aku dirumah, tepat pukul 15.15. Ternyata Mbak Dilma sudah kembali ke kampusnya, sedih sii, tapi sudahlah. Toh mbak Dilma pasti pulang. “Assalamualaikum... Umi.. Aba... kangen nih” kataku sambil cipika cipiki pada Umi dan Aba, “aku dekkk” kata mas Joni yang juga minta dicium olehku, “iya siniii” akupun mencium pipi kak Joni yang berminyak itu. Setelah memberikan semua pesanan dan oleh-oleh kepada keluarga, aku ijin pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan istirahat. ‘Haahh.. leganya sudah sampek rumah. Lebih baik disini, rumah kita sendiri’ batinku ketika masuk kamarku yang serba biru itu membuat hatiku damai. Setelah aku mandi dan sholat Ashar, aku langsung merebahkan diri dan terlelap. Aku terbangun ba’da Maghrib, dan langsung melaksanakan Sholat. Aku terus memikirkan apa yang telah terjadi ketika refreshing bersama teman-teman kelas VIII itu.

Liburanku kini menjadi sangat membosakan, karena aku tidak ada rencana untuk refreshing. Malas banget rasanya. Tiap pagi aku bersih-bersih kamar, nyetrika baju, dan berolah raga kecil di taman belakang. Mengitari kolam renang. Setelah itu sarapan, menikmati pagi di Gazebo. Siangnya liat TV, tidur, membaca. Malamnya menikmati suasana malam dan melihat bintang yang bertaburan di Gazebo taman belakang. Begitulah kegiatanku sehari-hari selama liburan 2 minggu lamanya. Hapeku juga sangat sepi, tidak ada yang menghubungi.

Di hari liburanku yang cukup lama ini, aku tak bisa berhenti memikirkan Tiar. Di fikiranku selalu ada Tiar, Tiar, Tiar dan Tiar. Semakin aku berusaha untuk melupakannya, semakin muncul bayangan wajah dengan tatapan khasnya. Namun, Di siang bolong ketika aku bersantai di Gazebo bersama mas Joni, Tiar mengirim pesan padaku, Tiar : Assalamualaikum, Rina. Apa kabar?
                Aku : Walaikumsalam, baik.
                Tiar : Liburan kemana nih?
                Aku : Di rumah
                Tiar : oooh... oke deh. Semoga liburanmu menyenangkan, =)
lalu aku tak membalas pesannya, sebenarnya aku tak ingin bersikap dingin seperti ini kepada Tiar. Karena aku sangat menyayangi lelaki itu. Setiap hari Tiar mengirim pesan padaku, tapi aku tak membalasnya. Aku menjadi sangat kesepian dirumah, tapi untung deh ada mas Joni yang setia menemani hariku. Liburanku jadi nggak sepi sepi amat, deh.. Thanks, Mas Joni.

To Be Continue....
Kayaknya cerita ini nggak kelar-kelar, deh. Tapi jangan bosen, ya. Hehe.. pinginnya, sih bulan ini mau ngelarin cerpen ini. En, makasi udah mau ngebaca cerpen tulisanku. =)


Sunday, October 27, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 4

Lanjutan nya, nih. Dari Cinta Untuk Cinta Part 4, guys. Happy reading.

Dari Cinta Untuk Cinta Part 4
‘Apakah aku orang jahat? Kenapa aku jahat sekali? Teman yang sangat baik kau hancurkan hatinya? Lalu apakah aku salah? Aku tak tahu. Apa yang harus aku lakukan’ batinku. Aku sangat frustasi saat itu. Aku sangat mengenal Tini, aku sangat menyayanginya. Saat itu juga, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Harus kuhentikan tangisku. ‘Aku RINA. Aku Rina yang tangguh. Ayo semangat Rina... Semangaaat..’ batinku. Aku segera berdiri menantang badai. Aku yakin aku kuat. Aku berlari dengan kepala yang sangat sakit ini menuju toilet. Kusapa teman-teman yang aku lewati, kutebar senyum. Akhirnya sampai juga aku di Toilet. Kubersihkan airmataku yang tersisa. Tapi, mataku sembab. Aku terus berkaca menatap wajah kusamku. Tiba-tiba aku melihat darah mengalir dihidungku. Oh tidak... aku mimisan. Kututup pintu Toilet rapat-rapat. Aku berusaha menghentikan darah itu. ‘waahh.. terjadi lagi’ batinku. Waktu masih kecil, aku sering mimisan jika lelah. Tapi ketika aku kelas V SD, darah itu berhenti mengalir. Dan saat ini, aku merasakannya kembali. Darahnya berhenti dan segera kubersihkan. Aku yakin darahnya sudah berhenti mengalir dan sudah bersih.

Aku keluar Toilet. Aku tunjukkan bahwa aku baik-baik saja kepada semua orang disekitarku. Aku kembali berjalan-jalan ditepi pantai dan menyusul teman-teman yang asik berfoto. ‘Tliiliiitt’ hapeku berbunyi. Aku melihat ada pesan dari Tini yang isinya, “Rina.. Tiar. Tiar milikku. Ingat!!”. Aku tak menghiraukan pesan itu meskipun menyayat hati. Kulanjutkan bermain dengan teman-teman. Disana ada Dedi dan teman-teman lainnya. Kurasa Sunset itu tidak seindah yang aku bayangkan. Aku gembira sekali melihat canda tawa teman-teman, juga Tini. Andai Tini berkata sejak dulu, tak mungkin Sunset menjadi suram bagiku.

Haripun sudah larut. Aku dan teman-teman beserta guru pendamping kami menginap di Wisma dekat pantai. Aku dan teman-teman melaksanakan Shalat Maghrib berjama’ah. Damai sekali rasanya hati ini. Tiba-tiba aku ingat barang-barang yang dipesan keluargaku. Kebetulan dimalam hari toko-toko buka semua dan sangat indah dilihat dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Aku pergi bersama Indah, Fika dan Dedi. Kebetulan mereka juga ingin berbelanja. Tapi aku tidak melihat Tini, dimana dia? Terpintas sejenak kerinduanku saat bersama dengan Tini. Aku berkeliling tempat wisata itu. Senang rasanya, meskipun ada yang kurang, Tini.

Seperti biasa, kami mengambil gambar alias berfoto ria. Kehancuran yang kurasakan seakan-akan menghilang begitu saja. Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah kulupakan. Dan ternyata sudah cukup lama kami berkeliling, bulan pun semakin terlihat jelas diatas kami. Ternyata sudah jam 21.30. Kami harus segera pulang. Jika tidak, guru pendamping pasti akan mengomel. Untung saja semua pesanan keluarga sudah terpenuhi. Kami pun segera kembali ke wisma. Aku, Indah dan Fika berpisah dengan Dedi ketika pas didepan wisma. Ya iyalah.. Wisma kami kan berbeda. Kebetulan Aku, Fika dan Indah sekamar, dan juga 3 teman kami yang lain. Tini menolak untuk satu kamar denganku.

Wah.. mungkin teman-teman sangat lelah karena berjalan-jalan keliling tempat ini, merekapun tertidur. Tinggal aku yang belum tidur. Kurasakan mata ini enggan tertutup, mungkin   karena aku terlalu memikirkan Tini. Untuk mengurangi kejenuhan, aku sengaja keluar untuk menikmati udara malam yang dingin ditepi pantai. Aku duduk ditepi pantai, terdengar suara ombak yang memecah keheningan malam itu. Kulihat bintang-bintang bertaburan menyebar diseluruh langit yang gelap dan terlihat sangat indah. Disana aku menyimpan sejuta rasa pedih yang ingin ku tuangkan saat itu juga. Entah apapun yang aku rasakan malam itu, rasanya aku menjadi orang yang paling menderita didunia. Saat itu aku tak ingin mengeluarkan airmataku.

Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki yang duduk disampingku begitu saja, tanpa menyapa. Awalnya aku takut untuk melihatnya, tapi karena penasaran aku terpaksa melihatnya. Dari samping hanya terlihat siluetnya saja, karena memang malam itu sangat gelap. Diapun menoleh kearahku dan berkata, “Hai Rin. Ngapain kamu malem-malem gini ga didalam kamar?”, aku kenal suara itu, ternyata dia Dedi. “Ohhhh, Dedi. Bikin kaget aja kamu. Iya nih. Susah mau tidur!”, “emmh. Ati-ati ketahuan guru lho. Bisa-bisa dihukum kamunya. Cepet pulang ke Wisma, gih!”, Dedi menyuruhku kembali. “iiii... sapa elo, Ded?? Nggak ah. Aku pengen disini aja sampe ngantuk”. “yaudah aku temenin” sahutnya dengan tenang. “kamu sendiri, kenapa nggak tidur?” tanyaku, “aku?? Males aja mau tidur”jawabnya, “ooo..” akupun menjawab dengan singkat dan suasanapun menjadi hening. Aku terus menatapi langit gelap yang bertaburan bintang sembari mendengar ombak yang menabrak batu karang yang amat kokoh. “Rin, aku tau masalah kamu!” kata Dedi, “masalah? Yang mana? Aku fine-fine aja tuh. Ga ada masalah! Sok tau deh kamu” aku menjawab dengan santainya dan bersikap easy going, aku berfikir keras ‘apakah yang dimaksud Dedi itu masalahku dengan Tini?’. “udah deh, Rin. Kamu gak usah bo’ong. Aku denger apa yang diomongin Tini ke kamu! andaikan aku nggak taupun, matamu tidak bisa menyembunyikan luka yang kamu rasakan, Rin. Disini dan sekarang, kamu bisa cerita semua. Kamu bisa percayakan semua sama aku” Tiba-tiba suara Dedi menjadi lebih tegas dan seperti penuh ketulusan.

 Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku tidak tahan mendengar semua ucapan Dedi. Ingin sekali aku menjerit sekeras-kerasnya. Aku berucap “aku tau Ded, hidup ini memang penuh suka dan duka. Apalagi mengenai cinta. Tapi... kamu lihat sekarang, kan? Aku baik-baik aja”. “halaahhh.. cukup. Hentikan senyum tipuanmu itu. Aku nggak kuat liat temanku kayak gini! Suer” kata Dedi dengan nada yang agak tinggi, aku heran dengan dedi. Padahal kita baru aja bisa akrab kayak gini. Tapi aku cukup tersentuh dengan perhatiannya padaku. “kok malah kamu yang marah si?? padahal aku yang merasakan ini! Bukan kamu! Aku yang luka, aku yang sakit, aku yang hancur. Baru kali ini aku merasakan cinta ini, baru kali ini juga aku dibenci sahabatku sendiri! Bukan kamu!! Inget Ded, aku... aku!!!” tiba-tiba saja aku marah, dan air mataku pecah. Dedi tak menjawab dan hanya terdiam. “Gapapa, Rin. Nangis aja. Aku pengen liat kamu nangis. Selama aku kenal kamu, aku gak pernah liat kamu nangis” katanya.

Aku berusaha menghentikan tangisku, Dedi berkata lagi “Rin. Cinta memang begitu rumit. Begitu juga aku. Aku baru saja mengenal apa itu artinya cinta. Terkadang kita harus berkorban, juga harus berani mengorbankan. Tapi sepertinya aku harus menyembunyikan cintaku, seperti kamu menyembunyikan lukamu, Rin. Aku ingin belajar dari kamu. Bagaimana cara menyembunyikannya? Meskipun sangat menyakitkan” Dedi berucap panjang lebar dan meskipunaku tak ingin mengerti arah pembicaraannya. “Sok tau banget kamu, Ded.. dapet darimana tuh kalimat? oke deh.. aku akan menjadi gurumu. Aku masuk wisma ya. Dingin..” tangiskupun terhenti dan segera meninggalkan Dedi. Setelah aku sudah dikejauhan, Dedi memanggilku “Rin. Please be Okay. Smile. Good Night”, akupun hanya bisa melambaikan tanganku dan berlalu.

“Kring...kring...” alarm Hape si Indah bunyinya kenceng banget. Aku jadi kaget dan berlonjak dari kasur. “Ihhh... Indah kamu iseng banget siii...” kata Fika yang baru saja terbangun dari tidurnya. Indah dan Fika saling melempar bantal dan guling. Aku dan teman-teman lainnya berusaha melerai mereka. “Fika! Indah! Lucu banget kalian ini... kayak anak kecil aja” kata Intan dengan santai, Intan memang orangnya santai dan terlihat sangat cuek. Tetapi sebenarnya dia orangnya sangat penyayang dan peduli. Fika dan Indah pun berhenti melemparkan bantal dan guling. “Udah temen-temen?? Udah? Kalo udah, ayo kita siap-siap Sholat Subuh berjamaah, lalu lari pagi deh.. gimana?” usulku. “Ayuukk..” kata teman-teman sekamarku serempak.

Setelah Sholat kamipun berlari-lari pagi. Ada aku, Fika, Indah, Intan, Mega dan Fitri. Kami berlari-lari kecil mengelilingi jalanan didekat pantai. Sekaligus menanti datangnya matahari alias Sunrise. Karena pagi ini adalah pagi terakhr kami di tempat seindah ini. Di jembatan tepat diatas muara yang deltanya terlihat sangat indah berwarna hijau kemerahan, kami berdiri menanti sunrise. Entah apa yang akan terjadi sunrise pagi ini. Semoga tidak terjadi seperti sunset kemarin. Kami mengenakan celana training dan kaos santai panjang, dan seperti seharusnya kami berkerudung. Sambil menanti sunrise, kami melakukan senam santai. Dipimpin oleh mega yang memang atlet bulutangkis. Tak lama kemudian, sunrise pun muncul. Matahari seperti tersenyum dan menatap kami dengan sentuhan sinar lembut tepat pada muka  kami. Setelah 30 menit lamanya kami menikmati cahaya pagi yang sangat segar, aku dan teman-teman harus pulang ke wisma untuk sarapan.

Ternyata diperjalanan pulang aku bertemu dengan Tiar yang sedang berlari-lari kecil sendirian, “Ehh... Rinaa...” Tiar memanggilku. Aku yang sedang asik berlari dengan teman-teman akhrinya berhenti. “Rinaa... kami duluan deh ya. Laper nih” kata Fitri yang diikuti anggukan oleh teman-teman yang lain. “emmm... tunggu jangan ditinggal!” sahutku. “ahh.. pasti lama, duluan ya. dadaah” mereka meninggalkanku berdua dengan Tiar. “Ada apa sih?”, “eemm.. tadi malem kamu sama Dedi......” kata Tiar dan langsung ku potong, “What? Aku sama Dedi? Ohh... nggak. Cuma curhat aja. Dedi seru juga diajak curhat” sahutku yang tak ingin pertanyaan Tiar berlanjut. “ooh.. jarang-jarang seseorang yang bernama Rina curhat sama laki-laki.. hayooo..” Tiar mencoba bergurau denganku, “ah. Nggak deh. Aku duluan ya. Itu temen-temen belum terlalu jauh” balasku yang teringat kata-kata Tini yang sangat menusuk hati. Aku mencoba untuk menjaga hati seorang sahabat, Tini. Akupun berlalu dari Tiar dan menyusul teman-teman.


,,,To Be Continue...



Wkwkwkwk.... gimana tuh, udah sampe part 4, critanya jadi kayak gini...
nggak bosan-bosanny, aq minta banget kritik en sarannya ya. Secara aku adalah seorang penulis pemula. Belajar belajar gitu deh. Hehe...
Nantikan Part selajutnya...

Saturday, October 26, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 3

Langsung aja baca ni cerita, yakk...
Dari Cinta Untuk Cinta Part 3
Dirumah, aku disambut dengan suguhan Mie Ayam Solo kesukaan keluargaku. Ternyata Mas Joni juga meraih nilai tertinggi dikelasnya. Sungguh Indah hari ini. Kamipun memakan Mie Ayam itu dengan lahapnya. Setelah kenyang, seperti biasa, aku, mas Joni dan mbak Dilma bersantai di Gazebo taman belakang yang cukup luas dan sejuk. Pohon palem yang berdiri kokoh membelah awan menambah suasana yang damai. Disanalah kami sering bercanda tawa. teman-temanku sering kuajak ketempat itu ketika belajar kelompok. Tempat itu seperti surga bagi kami. Aku dan kedua saudaraku becengkrama dengan riangnya, dan saling berbagi cerita. Ketika giliranku untuk bercerita, aku bingung mau cerita apa, selain tentang rasa itu, ya nilai raportku itu. Tapi kedua kakakku sudah tau itu. Setelah berpikir panjang, Aku akan memanfaat momen ini untuk bercerita tentang rasa itu. Akhirnya aku ceritakan panjang lebar dari A sampai Z, karena aku tau mereka pasti sudah merasakannya. eh... mas Joni malah menertawaiku dan mengacak-acak rambutku. Dirumah, aku jarang berkerudung. Hehe. Tapi, apakah anda tau bagaimana respon mbak Dilma? Beliau memelukku, membelaku didepan mas Joni. Aahhhh... so sweat banget kan? Aku tak tau kenapa mbak Dilma jadi seperti ini. Aku merasakan air matanya menetes dipundakku. Mas Joni juga bingung apa yang terjadi. Tiba-tiba mbak Dilma berkata dengan suara lirih, “Dek.. kamu sudah dewasa ya”. Gubrak!! Aku dan mas Joni tertawa terpingkal-pingkal. “Ya iyalah, mbakk.. orang ni anak udah bisa buang ingus sendiri. Hahaha”, kata mas Joni sembari mendorong lenganku. Meskipun aku ingin tertawa, aku membela mbak Dilma. Karena aku tau airmata mbakku itu tanda sayangnya padaku. “dek, kamu jangan menirukan masmu ini, ya. Cakep-cakep kok o’on. hahaha” kata mbak Dilma.

Akupun tertawa geli melihat ekspresi mas Joni yang pipinya dicubit sama mbakku. Mbak Dilma lanjut bercerita,”Dek Rin, masa-masa inilah yang bisa menyesatkanmu atau mungkin bisa membuatmu sadar tentang kehidupan. Mbak juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan kok, bahkan sampai saat ini bayangan lelaki itu tak hilang dari pikiran mbak. Tapi kamu harus berpegang teguh dengan aturan Agama yang pasti akan menyelamatkan hidupmu. Dan ingat, suatu saat nanti kamu akan mengalami masa-masa yang sulit untuk memilih. Ini berlaku juga buat kamu Joni.”. wahhh aku baru tau wajah mbak Dilma ketika mengingat pujaan hatinya. Aku bangga dengan mbakku itu, dia adalah perempuan yang sederhana tapi berkharisma tinggi. Berpegang teguh pada agama islamnya. Ahhh... aku jadi ingin seperti mbak Dilma, bagaimana rasanya ya?? Pasti selalu disayang Allah. Sedangkan mas Joni hanya peringisan nggak jelas. Itulah saat-saat yang kutunggu-tunggu, berkumpul dengan saudara-saudaraku tercinta. Dan membiarkan Aba dan Umi saling berbagi kasih. Terkadang, saat kami asyik bersenda gurau, Umi membawakan camilan untuk kami. Abapun tak ingin kalah dan membawakan buku untuk kami. Aku bersyukur berada ditengah-tengah keluarga yang indah ini. =)

                Ketika liburan kenaikan kelas, Umi bercerita kepadaku bahwa Aku, Tini, Tiar dan teman-teman sekelas lainnya tidak sekelas lagi, hanya beberapa orang saja. Sedih sekali rasanya. Tapi ada waktu lagi, dimana kami bisa berkumpul bersama seperti saat kami masih duduk di satu kelas, Rekreasi Tahunan Sekolah. Dedi selaku ketua kelas memang berniat mendaftrakan kelas kami untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Dedi memang orang yang memiliki rasa kekeluargaan yang sangat tinggi, dan yang paling aku kagumi dari dia adalah sikap kepemimpinannya yang tegas, bijaksana dan berwibawa. Tapi aku tak terlalu akrab dengannya karena memang dia adalah pribadi yang serius, sedangkan aku orang yang heboh dan gila.

                Wah wah... ternyata hari yang ditunggu-tunggu sudah menanti. sehari lagi kami berangkat ke sebuah kota yang penuh dengan tempat wisata. Jaraknya dari kota kami sekitar 95 Km. Sebelum datangnya hari esok, aku membuat daftar oleh-oleh yang diinginkan keluargaku. Mas Joni memintaku membeli Jam Tangan, Mbak Dilma titip kerudung, Umi titip Buku. Berbeda dengan Aba, aba hanya titip keselamatanku. Aku kagum kepada sosok Aba yang begitu perfect. Mmm... seertinya aku akan pulang dengan banyak barang nih...
From : Tiar
Number : 08155167****

Malem Rini, gimana kabar nh?? Gimana liburannya??
Besok kamu ikut rekreasi ngg? Ayo ikut, aku ikut juga lohh..
Udah 4 hari ita ngg ktemu nih, kangen lho. hehe
                Malam harinya, aku berkumpul dengan keluarga, saat itu juga Hand Phoneku berbunyi. Ternyata ada pesan dari Tiar. Aku kaget liat pesan itu, ternyata dari Tiar, nggak biasanya Tiar ngirim pesan kayak gini. Tapi... kenapa ya... kenapa aku merasakan jantungku berdegup kencang seperti ini. Dan aku merasa senang, kaget, bingung, pokoknya semua rasa jadi satu. Aneh sekali. Oh.. mungkin apakah ini rasa yang pernah dijelaskan Mbak Dilma padaku? Mungkin iya. Aku harus berhati-hati. Ku balas pesan dari Tiar,
To : Tiar
Number : 08155167****

Eh, ini Tiar? (Gak yakin).
Kabarku baik, liburanku menyenangkan, pasti ikut dong.

Iih.. kangen? Aku nggak tuh.
 
Aku membalasnya dengan antusias. Saking serunya saling mengirim pesan, aku ingin pindah dari ruang tengah ke kamarku. “hayooo.. ngapain itu mau sendirian ke kamar. Sms-an lagi. Ada yang gak beres, nih” goda Mas Joni. “Dek Rin, ati-ati lhoo, ya. Inget kata mbak..” kata mbak Dilma seakan-akan mengerti maksudku berpindah. Umi dan Aba terlihat kebingungan melihat ketiga buah hatinya berbicara seperti itu. Aku pun mengangguk dan segera menuju kamar. Aku langsung merebahkan diri di kasur empukku. Tak lama kemudian aku terlelap, dan meninggalkan pesan Tiar.

“Kring..kring..kriiiiing...” tepat jam 03.30, jam wekerku berbunyi dengan kerasnya dan membangunkanku dari mimpiku. Aku langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyiapkan segala peralatan untuk kubawa rekreasi bersama teman sekelasku. Umi dan mbak Dilma sudah berdiri di dapur. “Dek, jangan lupa sholat lhoo”, kata mbakku. “Oke, mbak.” Jawabku. Semua sudah selesai kusiapkan, tinggal berangkat saja. Aaahhh.... aku jadi tak sabar ingin bertemu dengan teman-teman sekelasku. Aku akan diantar Mas Joni. Sebelum berangkat, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku dan mbak Dilma, “Maasss... ayo cepet. Takut ditinggal bus nih!” panggilku, “iyaaa Rinn.. ihhh.. cerewet banget jadi orang” kata mas Joni.
Aku dibonceng mas Joni dengan sepeda motornya yang tinggi. Aku kesulitan menaikinya. Ditengah jalan, teman-teman mengirim pesan padaku. Tini, Tiar, bahkan Dedi juga. Mereka menyuruhku agar cepat. Karena Busnya sudah siap berangkat. “Mas Jooniii, aku ditinggal Bus nih. Huhu.. ni temen-temen pada sms, ms.. ayo cepetan!”, “halahh.. gak mungkin ditinggal, Rin.. eh, nanti kasih tau anaknya ya.. siapa namanya tuh, tiwar, tiwar, gitu??” Gurau mas Joni. “ah.. Tiar kali mas. Udah deh, cepetan!”. Akhirnya sampe juga. Waa.. bisnya udah jalan, broo.. berpamitan pada mas Joni, eh.. malah dijitak kepalaku, awas ya. Dedi muncul dari pintu dan berusaha menghentikan Busnya, “pak.. pak Sopir. Berhenti sebentar pak. Ada yang ketinggalan.”. akhirnya aku naik ke Bus. Wahh.. ternyata kursinya sudah penuh. Tinggal satu kursi yang diduduki Dedi. Dengan berat hati aku duduk disamping Dedi. Tak lama kemudian, Busnya jalan. Aku melambaikan tangan ke mas Joni. Kami Berangkat....

                Ditengah perjalanan, aku dan Dedi asik ngobrol. Kami bicara panjang lebar, seperti teman akrab saja. Padahal aku dan Dedi jarang ngobrol seperti ini, bahkan hampir tidak pernah. “Eh, Rina, gimana sih rasanya jadi juara kelas??” tanyanya. “mmm.. pastilah seneng banget dong.. bersyukur banget Allah SWT kasih kelebihan seperti ini”,”harus, dong..kalo ga bersyukur, entar rezkinya dicabut, lho!” vonisnya. “eh. Dedi, gitu ya kamu.. emang kamu yang nurunin rejeki?” kataku dengan nada canda. “iii.. ya nggak lah, Rin.. bisa aja kan?.. haha” kata Dedi sambil mendorong jidatku dengan telunjuknya sampai-sampai aku hampir jatuh dari kursi. Tapi kurasakan ada tangan yang menahanku agar tidak jatuh. Dan ternyata itu Tiar, duduk di samping belakang dari kursiku dan Dedi. Tiar ternyata duduk bersama Tini. “Eh, Dedi.. jangan sembarangan ngedorong anak orang, dong”, kata Tiar. “lhoo.. Tiar, kita kan Cuma bercanda”, timpal Dedi, “Ya... tapi nanti kalau anak orang jatuh trus luka gimana?” kata Tiar dengan nada agak sedikit kesal. “eh, kamu kok care banget ke Rina Sih??” Tiba-tiba Tini muncul. Aku yang merasa jadi obat nyamuk langsung menengahi mereka, “aaahh.. udah. Udah. Tiar, orang kita Cuma bercanda, kok. Kamu juga Dedi. Usil. Tini, ada apa denganmu?”. Lalu merekapun berhenti berbicara dan kembali ke kursi semula. Ku lihat wajah Tini yang agak gugup setelah aku bertanya, dan sepertinya Tini tidak bisa menjawab pertanyaanku. Diapun kembali bersanding dengan Tiar.

Aku sih agak sebal pada Tini, aku kan sudah cerita kalo aku tuh ada sedikit perasaan ke Tiar. ‘Jahat banget si Tini, tega banget dia menyakiti teman sendiri. Aku gak nyangka Tini kayak gitu. Sabar Rina.. Sabar...’ batinku, sambil melamun. “Dooorr” sentak Dedi, akupun terkejut dan tak sengaja telapak tanganku memukul hidung mancungnya, maklumlah gerak reflek. Jadilah Dedi merintih kesakitan. Akupun hanya bisa minta maaf, dan berlagak agak ‘sok care’ gitu. Dan berlanjutlah Bus menjadi ramai. “ciyee... Rina Ciyee... diapain tuh si Dedinya, ciyeee” ledek Romi si Raja iseng. Jadilah teman-teman didalam Bus ramai karena sorakan Romi diikuti teman-teman yang lain.

                3 jam kemudian sampailah kami ditempat tujuan. Sebuah pantai yang berisi penuh dengan wahana seru di ujung kota yang udaranya amat sangat sejuk. Akupun menikmati momen berkumpul bersama seperti ini, yang mungkin tak akan ada lagi di hari depannya bersama mereka, karena kita sudah kelas IX yang harus mengintensifkan pelajaran sekolah dan kita tidak sekelas lagi. Lalu kita bersepakat untuk menjajal wahana Rumah Hantu Jepang. ‘Ya Allah.. kenapa harus wahana ini. Aku kan paling takut sama yang kayak gini’, batinku. Aku bersanding dengan Tini. Kami semua berteriak-teriak histeris di dalam wahana itu. Tapi ditengah jalan aku merasa kakiku tersandung-sandung dan menyulitkanku untuk berjalan, ternyata tali sepatuku copot. Aku meminta Tini untuk menungguku memperbaiki Tali sepatuku. Tapi tahukah apa yang terjadi broo, aku ditinggal Tini. Aduhhh takut banget akunya. Sendirian lagi, aku berusaha mengejar rombongan teman-teman. Tapi cahaya disana sangat redup, jadi tak mudah bagiku untuk berlari. Akupun berjalan, tiba-tba ada boneka Vampir muncul didepanku. Secara spontan aku berteriak keras dan tidak bisa bergerak, menangis di tempat pula.
Aku melihat didalam redupnya cahaya ada seorang yang datang menghampiriku. Dia memegang lengan bajuku dan menarikku. Aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tapi sepertinya aku kenal suara itu, seperti suara Tiar. Kami berjalan pelan, tanpa pikir panjang aku mendekapkan mukaku dipunggung laki-laki yang ku kira Tiar itu. Aku takuuuutt sekali. “halaahh.. Rin.. udah deh, gak usah takut. Vampirnya lucu kalii”, katanya. Tak salah lagi pasti itu suara Tiar. Aku tak menjawab dan tetap mendekapkan kepalaku. Dia meletakkan lengannya ke bahuku dan akupun ada disampingnya saat itu. Aku tetap menutup mataku dengan tangan. “Rinaa.... tuh liat Vampirnya lucuuu banget. Imut-imut kayak kamu” ledeknya. “eehhhh... enak aja aku dibilang mirip vampir! Kamu kali, yang adiknya vampir!” balasku. “lhaa...  berarti kamu sekarang jalan sama vampir dong”. “ahhhhh... Tiar, deh.. gak usah gitu kok. Males deh!” aku membuang muka dari Tiar, dan tiba-tiba disampingku kebetulan ada Vampir juga. Aduuhhh... terpaksa aku balikkan muka lagi dan memegang erat lengan Tiar yang ada di bahuku. ‘Ya Allah. Maafkan aku berjalan berdua dengan seorang Lelaki’ batinku. Dan akhirnya aku  keluar juga dari Rumah menyeramkan itu. Ternyata teman-teman mencariku dan Tiar, lhooo. “Maaf ya teman-teman... hehe” ucapku.
                Setelah dari Rumah Hantu Jepang, kami menjajal semua wahana yang ada di sana. Jet Coaster, Bioskop 4D, naik Perahu, dan banyak hal lainnya. Tanpa terasa, hari sudah menjelang Sore. Aku dan teman-teman dibebaskan untuk keliling. Aku memutuskan untuk menikmati Sunset bersama Tini dipinggir pantai yang sangat sejuk. Ditengah suasana yang indah itu, Tini berbicara sesuatu. Kurasa ia ingin Curhat, 
“Rina,kamu adalah teman terbaikku selama dikelas VIII. Aku senang dan bangga sekali menjadi temanmu. Tapi ada satu hal yang belum pernah kamu tau. Hati sakit. Saaakiiitt banget. Memang ini salahku karena aku gak pernah cerita sama kamu. Dan aku rasa saat inilah yang tepat agar kamu tau. Aku Rin, akuuu... Aku sayaaaanng banget sama Tiar. Aku selalu memendam rasa ini. Hatiku selalu sakit ketika kamu bersama Tiar. Memang dia bukan cinta pertamaku, tapi kamu harus tau bahwa Tiar adalah orang yang merubah dunia gelapku menjadi terang. Dan aku memohon padamu, Rin. Tolooong banget... jaga hatiku. Menjauhlah dari Tiar. Aku tak ingin melihatmu berdua dengannya. Sebenarnya aku sangat membencimu, Rin. Kamu jahat banget. Apakah kamu nggak tau apa isyarat tingkahku. Bodoh kamu, Rin. Dan tolong, jauhi Tiar. Terimakasih untuk semua sakit yang kamu berikan padaku.”. Tini berkata dengan meneteskan air matanya. Nada suaranya, tema pembicaraannya sangat menusuk jantungku. Dia tak memberikan kesempatanku untuk berbicara sedikitpun. Selepas ia berbicara panjang lebar, ia langsung pergi begitu saja.
Suasana sunset yang harusnya menjadi momen indah, malah menjadi momen yang sangat menyakitkan bagiku. Pertama kalinya aku dihujat seorang teman baik didepanku. Bayangkan, broo.. bagaimana perasaan anda, jika anda menjadi saya. Akupun duduk mematung di pantai itu, sendirian, menyaksikan sunset dengan perasaan yang sangat hancur. Sejak saat itulah hidupku menjadi penuh kesedihan.


Thursday, October 17, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 2

Akhirnya muncul juga cerbung Dari Cinta Untuk Cinta Part 2. maaf lama ya reader, soalnya banyak banget inspirasi yang aku cari. jangan lupa kritik n saran d kota komentnya ya... matur nuwun.. hapy reading.. :)

Dari Cinta Untuk Cinta Part 2

                 Sejak saat itu, Hubungan Aku dan Tiar kembali membaik, kamipun akrab kembali seperti pertama kenal dulu. Aku menceritakan semua hal menggembirakan ini kepada Tini, Ia juga sepertinya ikut senang. Tini juga bercerita kepadaku, bahwa dia menyukai seseorang, dia bercerita penuh keraguan padaku. Entah kenapa, nada-nada yang dikeluarkan ketika Tini bercerita, seolah menyindir diriku. “Tin, kalau aku punya salah, aku minta maaf ya” ucapku seusai dia bercerita. “oh, it’s oke”, ujarnya.
                Sesampainya aku dirumah, eh ternyata mbak Dilma pulang. “Mbaakk...” tanpa menaruh tas terlebih dahulu, aku segera meloncat ke arah mbak Dilma dan memeluknya. “ihhh.. Rina, ganti baju dulu sana. Bau kecut, lho” kata Mbakku yang cantik itu. “oke, mbak. Tapi, mas Joni belum pulang? ” tanyaku. Mbakku menjawab dengan penuh keanggunan, “kayaknya sih belum, dek. Kenapa?”, “emm.. nggakpapa”, aku segera menuju ke kamar untuk menaruh semua barangku dan ganti baju. Setelah semua barang tertata rapi, aku menuju kamar mbak Dilma yang berwarna serba ungu dengan aroma bunga Lavender. Dalam kamar mbakku, aku merasa berada ditengah-tengah taman bunga lavender, yang harumnya dapat memperlancar peredaran darah. Jadi semangat deh. Aku merebahkan tubuhku diranjang empuk mbakku. Sesaat pintu terbuka dengan sendirinya.”mbak.. mbak..” aku memanggil mbak Dilma dengan nada ketakutan. Lututku lemas, tak dapat bergerak karena ketakutan. Aku segera menyembunyikan kepalaku di balik bantal. Bulu kudukku berdiri semua. Aku memanggil nama mbak Dilma semakin kencang, dan ada yang menyentuh kakiku. Sontak aku teriak sekencang-kencangnya dan menendangi semua yang ada di kakiku. “aw..aw.. Rina, kenceng banget nendangnya. Sakit tau!” kata Mas Joni yang ternyata sengaja menakut-nakutiku. Aku memang orangnya penakut sama yang gitu-gituan. Aku langsung beranjak dari ranjang, “aaaahhhh.. Mas Joni... Umiii... mas Joni ini lho, miii!” aku mengadu kepada Umi sambil memukuli punggung kekar mas Joni. Aku dan Mas Joni bertengkar habis-habisan dan mebuat kamar mbak Dilma berntakan. Seketika itu mbak Dilma datang ke kamar dan menjewer telingaku dan Mas Joni. Tugas baru, nih. Beres-beres kamar mbak Dilma bareng mas Joni yang super nyebelin. Niatnya sih mau curhat sama mbak Dilma, eh.. ujung-ujungnya malah jadi pembokat mendadak. Ini semua gara-gara mas Joni. Usai itu, aku langsung membersihkan diri dan segera meluncur ke kamarku yang penuh dengan warna Biru. Tak lama kemudian... aku terlelap.
                Ternyata hari yang membuatku nervous datang juga. Hari dimana aku tampil di Pertunjukan Musik Sekolah sebagai pengisi acara. Guru pembimbing memintaku untuk tampil solo dengan Gitar dan Harmonikaku, “Rina keren. Dia berjilbab tapi multitalent”, kata guru pembimbing musikku kepada guru yang lainnya. Aku jadi tidak enak hati kepada teman-teman di kelas musik yang lain. Tapi, bagaimana bisa aku menolaknya? Sedangkan Guru-guru yang lain semakin menyudutkanku untuk tampil solo di panggung besar itu. Akhirnya kuterima saja dengan terpaksa. Kurang satu penampilan lagi dari peserta, aku akan tampil. Dag dig dug serrr, jantungku berdetak kencang. Karena baru kali ini aku tampil solo dipanggung besar. Pasti akan diperhatikan banyak mata. “dan penampilan selanjutnya, akan dibawakan oleh murid multitalent kita, Rina” sang pembawa acara memanggilku, diiringi tepuk tangan meriah dari murid lainnya. Ah.. aku jadi malu. Aku mulai naik panggung, dan sepertinya aku nervous. Aku mamulai penampilanku dengan salam kepada para penonton yang tidak lain adalah teman-temanku sendiri. Terlihat Tiar dan Tini berdiri bersama di depan sendiri. Aku tersenyum pada mereka, dan mulai memetik gitar kecilku. Kunyanyikan lagu bertemakan persahabatan. Kulihat sekelilingku, kutatapi mata teman-temanku, dan aku jadi tidak nervous lagi. Bertambahlah semangatku. Terlihat Tini bersemangat untuk membuatku tampil baik. Sedangkan Tiar, dia tersenyum kepadaku dengan mata sayunya. Entah kenapa tatapan tiar yang seperti itu membuat hatiku senang tapi juga cemas. Aku jadi bingung.  Dan usailah penampilanku. Aku turun dari panggung menuju belakang panggung, Tiar mendekatiku dan berkata dengan tatapan yang sama, “Rina, kamu hebat”. Aku mengucapkan terimakasih dengan sikap sebiasa mungkin agar ia tak tau betapa hatiku gembira melihat tatapan itu.Kini saatnya Tiar menunjukkan aksinya diatas panggung sebagai Bassist plus Vokalis dalam Bandnya. Sebelum dia bernyanyi, “lagu ini kupersembahkan kepada seseorang tercinta”, katanya. Tini langsung teriak histeris seakan-akan kata dari Tiar adalah untuknya. Aku sih sedikit illfeel sama Tini, karena baru kali ini dia bertingkah seperti ini, didepan cowok pula. Langsung ku senggol lengan Tini, “hush.. Tin, ingaat.. banyak orang niii..”. “Itu Tiar, Rin.. Tiar.. Keren bangettt”, sahutnya. Langsung kutunjukkan ekspresi bingung dengan salah satu alis naik, ‘iii.. ada apa sama ni anak?’ batinku. Sesaat aku mendengar Tiar bernyanyi, aku terpaku, terdiam dan membisu. Rasanya hatiku sejuk banget. Aku merasakan perubahan ekspresi wajahku, dari yang sebelumnya bingung, menjadi senang. Mungkin karena Tiar melantunkan lagunya dengan lirih, apalagi suaranya haluuuus banget, meskipun tehniknya masih minim. Tapi aku suka, sukaaa banget. Tapi satu yang berbeda dari Tiar. Dia menatapku dengan tatapan yang sama. Seharusnya dia menatap semua penonton. Aaahhh... kalau begini akupun jadi bingung, muncullah rasa penasaranku.
                Minggu berganti minggu, hari berganti hari, dan menit bergati menit. Ujian kenaikan kelaspun hampir berlalu, dan diakhir-akhir waktu bersama kelas VIII itu, aku merasakan tatapan itu semakin sering ku lihat. Tatapan mata Tiar yang sangat membuatku mempesona. Aku selalu menangkap tatapan itu. Dan saat itulah muncul rasa yang berbeda yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berharap bukan rasa yang aku duga, karena aku tau dari nasihat mbak Dilma, rasa itu akan menyiksaku. Dan aku curhat ke orang yang paling aku percaya disekolah, Tini. Jawabannya sangat singkat, membuatku banyak bertanya padanya.
                Saat yang ditunggu-tunggu pun kini datang, pengumuman hasil ujian kenaikan kelas. Umi datang untuk mengambil raportku. ‘ya Allah.. semoga nilaiku memuaskan dan tidak mengecewakan Umi dan Aba’, batinku. Sambil menunggu pengumuman hasil ujian kenaikan kelas dan dikelas mana aku nanti, aku bermain-main keliling sekolah bersama Tini dan teman-teman. Seperti biasa, aku dan teman-teman bercanda tawa, untuk mengenang kebersamaan kami. Karena kami tak tau, apakah kami bisa bersama lagi seperti ini, apakah kita bisa bersama dan bercanda tawa ketika ujian Nasional mengejar pikiran kami. So, have fun aja. Ditengah tawa kami, tiba tiba Dela, salah satu teman sekelasku, datang dengan ekspresi wajah yang sangat gembira. “Guys, tau gak? Kita naik kelas semua!! Daaannn.. aku dapat ranking 2, Guys!!! Aaaaaa....”, katanya sambil menghamburkan kabar gembira pada kami. Kita langsung berpelukan satu sama lain. Tiba-tiba Tini menyahut, “waaahhh senang sekali dapet ranking 2. Trus..trus.. yang dapet rankng 1 dan 3 siapai?”. Kami semua penasaran, dan dijawabnya, “emmmm... yang ranking 1.... Rinaa... terus, yang Ranking 3, Tiar..”. aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa bersyukur dalam hati. “Rinaaa... kamu ranking satuuu!!”,”iya.. hebat banget kamu, Rin..”,”waahh.. Rina.. selamat yaaa”, kata teman-temanku saling bersahutan. Aku memeluk mereka erat-erat. Lalu aku bertanya kepada mereka, “makasii teman-teman.... eh, kalian gak ingin tau nilai raport kalian?”, ternyata pertanyaanku membuat mereka penasaran. Teman-teman mengiyakan pertanyaanku dan segera berhamburan menuju kelas. Aku gembira melihat kegembiraan mereka, akupun meneteskan airmata bahagia. Dan tak sadar, ternyata teman-teman sudah jauh didepanku. Akupun segera menyusul mereka. Tapi tiba-tiba, “Rinaa!!” terdengar suara yang tak asing lagi bagiku, suara Tiar. Aku berhenti sejenak untuk menghapus air mataku, Tiarpun datang menghampiriku. “whahaha... nangis dia!”, kata Tiar mengejekku. “biar wes.... yang penting aku seneeeenggggg”, aku menunjukkan ekspresi wajah senang ku. “jhieehh, yang lagi ranking satu.. selamat ya.”, Ucap Tiar. “iya, makasih.. o, ya. Kamu kan Ranking 3, selamat juga, Tiar!”. Kami berdua senang sekali mengenai hasil yang memuaskan ini. Kamipun berjalan menuju kelas bersama-sama. Terlihat Umi berdiri didepan kelas seperti sedang mencariku, aku langsung berlari menuju Umi, “Umiiiii!!”, panggilku. Umi memelukku dengan senangnya. Aku dan Umi pulang diantar Sopirnya Aba. Menurut cerita Umi, kelas kami meraih nilai rata-rata tertinggi. Hatiku sangat senang, dan teman-teman juga pasti senang. Tiada hentinya aku bersyukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah...





sori pendek banget crbung kali ini ya.. hehe
okeh, nanttikan cerbung Dari Cinta Untuk Cinta Part 3 yaa...
jangan bosen-bosen baca tulisanku, ya.. tenkiuu sanget. =)

Monday, October 14, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 1

Assalamualaikum.. kayaknya lumayan lama aku nggak ngepost. lagi nyari inspirasi nih. Ada cerbung, nih. ni kisah ke dua yang aku buat. aku disini masih pemula, so kalo ada kritik n saran buat aku, monggo dipersilahkan. matur nuwuunn... :)


Dari Cinta Untuk Cinta
Part 1



Hai.. Kenalin, namaku Rina. Aku dikelilingi orang-orang yang sangat sayang padaku, begitu juga aku yang sangat menyayangi mereka. Tapi aku belum tau pasti seseorang yang sangat aku sayangi sayang juga kepadaku. Aku tinggal disebuah desa dengan model yang cukup modern yang lengkap dengan fasilitasnya. Keluargaku sangat sayang juga kepadaku. Tapi aku paling ga suka kalau udah dibanding-bandingin sama kakak tertuaku, mbak Dilma. Aku anak terkhir dari 3 bersaudara. Kakak keduaku, mas Joni yang paliiing cakep. Mas Joni ini yang selalu menjadi teman curhatku ketika aku sedang merasa kasmaran. Dan mbak Dilma selalu memberiku nasihat yang sangat bermanfaat bagiku mengenai ilmu Falsafah dalam hidup. Aku sangat sayang mereka. Untuk menghilangkan beban di pundakku ini, Aku ingin berbagi cerita mengharukan plus Seru mengenai perjalanan hidupku yang penuh dengan misteri cinta dan berliku-liku. Simak baik-baik ya....

Awal aku mengenal cinta, disaat aku duduk di kelas VIII SMP. Karena pada saat itu pula aku tumbuh menjadi seorang remaja yang polos. Dengan penampilan khas dariku, berkerudung dan baju yang selalu kegedean, semua orang bisa mengenali diriku dengan mudah. Termasuk dia, yang selalu mengenaliku meskipun aku didalam mimpinya aku menjadi seorang cowboy. Hehe... Aku duduk dengan seorang anak yang selalu berhati-hati dengan penampilannya, ia tak mau terlihat jelek dimata orang. Dia adalah Tini yang juga menjadi teman dekat sekaligus teman curhatku saat itu. Aku selalu berbagi dengannya, tapi Tini tak selalu berbagi denganku. Tapi Tini tetap baik kok. Aku suka..

Di kelas VIII itu, aku aktif di berbagai kegiatan disekolah, meskipun badanku kurus seperti orang tak bertenaga, tapi percayalah aku orang yang sangat suka dengan kesibukan. Aku ikut serta dalam kegiatan PMR, OSIS, REMUSH, Pencak Silat, dan Musik. Banyak sekali kan?? Andai saja ini bisa masuk dalam rekor muri, aku pasti akan kaya... banyak uang... minta ini, minta itu, semua ada... waaahhh... (Maaf kebanyakan ngayal). Tapi semua kegiatan itu tidak mudah ku awali. Tubuh ini perlu adaptasi terhadap semua kegiatan itu yang cukup menguras tenaga. Pada awalnya aku hanya ingin menjajal satu persatu, santai dan nyaman sekali. Setelah semua kegiatan bertumpuk menjadi satu, habislah tubuh ini. Sering mimisan dan sangat lemah. Dia semakin peduli denganku.

Dia yang sering kusebut adalah Tiar. Seorang laki-laki yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Dia polos, tidak banyak bicara, dan perilakunya sopan. Awal aku mengenal Tiar, ketika aku kelas VIII. Karena dia tidak begitu populer dan suka menyendiri. Seminggu setelah aku duduk di kelas VIII, aku sedang menyapu dikelas. Di kursi paling belakang ada seorang murid yang sama sekali tidak kukenal, tapi aku tau nama yang membuat aku penasaran. Spontan akupun langsung bertanya “Anak yang namanya Tiar itu kamu?”. Deg. Hatikupun berguncang bagai diterjang badai di dalam sepinya lautan, aku langsung balik badan dan membatin ‘bodoo..bodoo banget siii. Ngapain tanya-tanya segala’. Dan terdengar suara yang lirih, “iya. Aku Tiar. Emangnya kenapa”. Dengan berusaha menunjukkan wajah yang tampak biasa aku menjawab anak itu, “emm.. enggak. Gak apa apa kok.” Akupun langsung melanjutkan kegiatan menyapuku, tapi suara itu terdengar lagi, “eh, kamu yang namanya Rina itu kan?”. Sontak aku terkaget, kenapa dia bisa tau namaku. Aku menjawab “iya” dan langsung cepat cepat meninggalkan dia, menyapu lantai dengan tergesa-gesa, sampai-sampai lantainya seperti tak tersapu, masih kotor. Hehe...
lalu aku bercerita pada Tini dengan gaya khasku, tak bisa diam seperti lalat. Tini tertawa puas melihat wajah ku yang terlihat malu, dan bertanya padaku “ah, masak kamu ndak pernah tau Tiar, siih? Dia kan ikut Musik.”,”ha? Benarkah? Sumprit aku ndak tau dia. Atau, aku pernah melihatnya tapi tak ku hiraukan? Haduh.. sudahlah.” Jawabku. Aku bergegas melanjutkan kegiatanku.

Dirumah aku bercerita kepada mas Joni yang duduk dikelas XI SMA. Masku hanya memperhatikan diriku tanpa ekspresi, sehingga menghilangkan ketampanan diwajahnya. Tak tahan melihat kejelekan wajah Mas Joni, langsung ku balas dengan wajah terjelekku. Eh.. mas Joni malah membuang mukanya dariku dan meletakkan telapak tangannya dengan hetakan yang keras tepat di mukaku. Tertancaplah jejak tangan mas Joni yang memerah di mukaku. Itulah kami, selalu akur dan tidak pernah bertengkar (ingat! Kebalikannya. =D). Sayangnya mbak Dilma lagi kuliah. Jadi tak bisa hadir ditengah-tengah kami. Jika ada, pasti rumah ini semakin ramai dan kamarku semakin berantakan.

Hari demi hari, aku dan Tiar pun semakin akrab seperti aku berteman akrab dengan temanku yang lainnya. Pernah suatu hari, 2 bulan sebelum kenaikan kelas, aku mendokumentasikan kegiatan teman-temanku dikelas. Waktu itu jam pelajaran sedang kosong. Ku shooting semua kegiatan mereka yang aneh-aneh dan lucu dan unik dan waw dengan hape jadulku. Aku berkeliling dari sudut kelas yang satu ke sudut kelas yang lainnya. Terlihat Tiar sedang asyik mainin hapenya, senyum-senyum sendiri. Kuhampiri dan ku-shooting dia, ketika itu wajah Tiar terlihat lucu sekali, spontan aku tertawa sekeras-kerasnya karena baru kali ini aku melihat wajah anehnya itu. Tapi kejadian yang sangat aku tidak suka, di merampas hapeku dan tak kusangka dia menghapus hasil shootingku yang berdurasi 16 menit 8 detik. Bayangkan bro, sudah capek-capek aku berdiri memegang hape selama 16 menit 8 detik, sampai-sampai tanganku lelah, seorang pendiam seperti Tiar bertingkah seperti orang yang tak punya tata krama dengan menghapus hasil karya orang lain. Langsung tanpa jeda, tekanan darahku naik drastis, Amarahku melunjak menjebolkan pagar kesabaran dalam diriku, kumaki-maki dia tanpa ampun. Dan apa jawabannya?? “oww, Sori, ya!” hanya begitu bro.

Sumpah seribu sumpah aku sebel banget dan tak terasa air mataku menetes deras seperti air terjun ketika hujan deras turun dari langit ke tujuh. Langsung aku berlari menuju toilet putri disekolahku. Saking sebelnya, aku berlari dan tak memperhatikan jalanan. Dan hal yang paling memalukanku, aku terjatuh karena tersandung batu. Semua mata tertuju padaku. Tapi apa yang kulakukan, aku menangis ditempat, menangis sekeras-kerasnya. oh, tidak. Jika diingat-ingat jadi malu sendiri. Hehe. Dan sejak kejadian itu, hubungan pertemanan kami putus tus tus. So, kuhiraukan saja dia. Tapi, si Tiar selalu saja menggangguku. Itulah kenapa aku jadi tak suka sama Tiar. Diam-diam menghanyutkan. Hiiii..

Tapi saudara-saudara, saat hubungan kami tak baik, dan tak menyapa satu sama lain, rasa yang aneh muncul dalam hatiku. Aku semakin tak tau apa yang kurasakan saat itu. Rasanya aku ingin nangis terus, tanpa sebab. Dan aku terus memikirkan perilaku Tiar padaku. Kok bisa, dia seperti itu. Tak habis pikir aku. Tega sekali dia. ‘Semoga kedepannya aku tak pernah bertemu dengan orang seperti dia’, Batinku. Disekolah aku mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja ditengah rasa anehku itu. Aku bercanda bersama teman-teman dikelas. Kami akrab sekali, seperti keluarga. Tingkahku kalau sudah ngumpul bareng temen-temen sekelas jadi seperti lalat, menclok kesana kemari. Saat itu aku merasa ada yang memperhatikanku. Ekor mataku melihat seseorang sedang memperhatikanku. Spontan langsung aku melihat kearah orang yang kurasa sedang memperhatikan diriku yang sedang tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman. Dan ternyata broo, itu adalah Tiar. Dan dugaanku tak salah, dia memperhatikan tingkahku sambil senyum-senyum gak jelas gitu. Iiiii... Illfeel banget.

Dirumah, aku berdiam diri didalam kamar, mencari jawaban dari peraasan yang sedang kurasa saat itu. Aku berfikir sekeras-kerasnya, sampai akhrinyaa... “doorr” ah, Mas Joni mengagetkanku dan membuyarkan pikiranku. “Dek Rin, ngelamun nih yee.. ngapain dek?” tanya Masku. “aah.. tau deh Mas, Mas Joni nyebelin iihhh. Hampir aja jantungku copot. Uuh” dengan manjanya kau menjawab pertayaan Mas Joni, dan wajah yang selalu tak kuhilangkan ketika Masku mengerjaiku. Bibir manyun, jidat dan alis berkerut, hidung menghadap ke bawah (lhaa, kalau menghadap ke atas gimana kalau hujan?). “Ciyeeh.. pake ngambek lagi. Kayak... kayak... kayak marmut. Hahaha” Mas Joni tertawa puas dihadapanku. Nah.. kebetulan ada Mas Joni, kali aja mas Joni ngerti aku. Batinku. “eh.. Mas Joni” panggilku dengan wajah yang agak serius. “ya” Masku langsung menghentikan tawanya. Tapi saat itu aku masih pikir-pikir dulu. Gimana kalau Mas Joni sampai tau? Mau ditaruh mana mukaku, broo. So, aku mengurungkan niatku untuk telling story ke Mas Joni, “ehhh... Mas, Ajari aku Matematika dong” Kualihkan niatku. Kebetulan Mas Joni ini jagonya Matematika, akhirnya aku dan Masku belajar matematika bersama-sama. Tapi, pikiranku sedang tidak ada di Matematika, pikiranku lagi keliling mencari jawaban tentang rasa itu ke Tiar.



Pagi-pagi sekali aku bangun untuk menyiapkan Gitar dan Harmonika untuk kegiatan musik nanti pulang sekolah. Sebenarnya aku malas sekali untuk masuk di kelas musik nanti, pasti ketemu Tiar. Tapi, berhubung sebulan lagi ada pertunjukan musik di sekolah, aku memaksakan diri untuk masuk nanti. Sampai disekolah, langsung aku menuju ruang Musik untuk menaruh alat-alat musikku. Anda tau saudara-saudara, ternyata ada Tiar di sana yang juga menaruh Alat musiknya.‘uuuuhhh.. kenapa musti ada Tiar, si’, batinku. Selalu kuawali dengan salam setiap masuk ruangan. Ada aku dan Tiar saja, Aku salam dan menunjukkan wajah BETEku. “Walaikumsalam. Eh ada Rini. Jadi, nanti kamu masuk kelas musik?”, Tanya Tiar. Aku tau dia bertanya begitu, karena aku jarang masuk kelas musik. Akupun menjawab dengan wajah yang judes, “Yaiyalaah”. Aku berniat untuk pergi meninggalkan ruang musik itu. Tepat dua langkah kakiku akan membawaku keluar ruang, Tiar memanggilku,“Rini”. Aku menoleh sebentar, dan langsung melanjutkan langkahku. Tapi Tiar memanggilku kemudian berkata dengan nada penuh tanya, “Rini. Sikap kamu kok gini banget sih? Kayak bukan kamu aja. Kalau aku ada salah aku minta maaf deh”. Tiba-tiba aku nangis, dan kuhentikan langkahku. Ketika aku berbalik badan, ternyata Tiar ada tepat di depanku. Sehingga terlihat jelas tetesan airmata kristalku,”aahh.. namaku Rina, bukan Rini!” ucapku. “kamu nangis?” tanya Tiar seolah tak menghiraukan apa yang aku katakan. “Rin, apa perbuatanku waktu itu membuatmu sakit hati?” Tiar yang tingginya lebih 12 cm dari tinggiku, membungkukkan badannya dan memdekatkan wajahnya ke wajahku. “Sorry, Rin. Aku emang Bego’ banget. Tapi coba kamu bayangkan deh. Dalam video itu, wajahku sangat jelek. Kamu aja ketawanya sampe keluar airmata gitu, apalagi tikus? Haha”, Tiar mencoba menenangkan hatiku. Dalam hati aku ingin tertawa, tapi aku kan habis nangis. Masak mau ketawa? Aduuhh. So, akupun hanya tersenyum kecil dan menundukkan kepalaku. Tiar semakin membungkuk, aku menjauh dari wajahnya, “Nahh.. gitu dong. Senyum dikit. Tambah manis, kan?”. “Apaan sih!”, timpalku. “So, kamu maafin aku nih?”.”emm.. maafin gak ya?” sambil kuusap air mataku. “aaa.. iya dong.. Harus dong..” Tiar menjawab dengan manjanya. “iihh,.. letoy deh. Iya iya, ku maafin. Tapi awas aja sampe nyebelin lagi!” ancamku. “wahh, urusan itu, mah.. tenang aja. Mm, ayo ke kelas bareng. Tapi, cuci muka dulu, gih. Masak pagi-pagi udah nangis. Malu-maluin. hehe”. “eehh.. Tiar mulai deh. Yaudah kamu tunggu didepan toilet ya”.”yoi bos!”. Aku berjalan menuju toilet untuk menghapus sisa airmata di wajahku. Aku berkaca di toilet. Sambil senyum-senyum sendiri. Dan kurasa aku tau perasaan aneh dalam hatiku, yaitu rasa sayang. Rasa sayang pada Tiar yang selama ini kucari-cari. Rasa yang belum pernah kuberikan kepada orang lain sebelumnya.


hehe, nih cerita masih awal, loh ya.. maka dari itu, jangan sampe ketinggalan untuk "Dari Cinta Untuk Cinta Part 2"....