Monday, November 21, 2016

Sepenggal ceritaku, keinginanku untuk separuh agamaku

Saat ini.. saat dimana orang-orang seumuranku sudah banyak yang berpikir tentang kelengkapan ibadah kepada Nya, kehalalan cinta. Namun tak sedikit juga di usia ini orang yang berpikir tentang kematangan dunia, berlomba-lomba memperbanyak harta dan dikenal agar dunia.

Aku sendiri berada diambang keduanya. Kematangan dunia, tentu saja aku menginginkannya, dengan salah satu tujuan agar bisa lebih khusyuk beribadah kepada Yang Maha Pencipta, dengan sedekah kepada saudara seiman dan juga siapapun yang membutuhkan, sedekah dari hasil jerih payahku sendiri. Dari kematangan dunia juga, harapanku aku bisa memberikan keinginan besar bapak dan ibuk untuk bisa mengisi masa tua mereka dengan mengasuh anak-anak sekolah, kuliah, ataupun kerja disebuah rumah kos, itu salah satu keinginan ibu ku. Tapi itu sebatas materi. Semua itu sebatas harapan-harapan dunia, yang dimana aku Cuma hidup 1,5 jam didalamnya. Hanya istirahat sejenak dari perjalanan panjangku menuju alam yang benar-benar nyata nantinya, Alam Akhirat.

Jujur, aku takut, cemas, khawatir. Bagaimana nasibku di akhirat nanti. Bagaimana nasib kedua orang tuaku, kedua saudara kandungku, nasib sahabat-sahabatku, dan nasib umat muslim nantinya. Akankah aku bisa berkumpul kembali di Surga Allah dengan mereka yang menyayangiku dan aku sayangi? Sedih jika pertanyaan yang menjadi cita-citaku itu jika dibandingkan dengan usahaku yang sangat minim ini untuk menempuh syarat-syarat menjadi penghuni surga nanti. Dengan tekad yang kurang bulat, jiwa yang masih ogah-ogahan, usaha yang jauh dari kata maksimal karena sering bahkan selalu bermalas-malasan.
Ya Allah… Ya Allah.. Ya Allah..
Aku selalu meminta kepadaMu, bantu aku agar aku tak jauh dari Mu. Bagaimana ini? bagaimana??
Dalam segala hal, kejadian, dan dalam segala keadaan, aku tak ingin melupakan Mu walaupun Sekejap mata, aku tak ingin jauh dari Mu walaupun sejengkal tangan, dan aku sama sekali tak berharap utnuk pergi dari Mu walau selangkah. Ya Allah… inilah keinginan hamba Mu yang hina ini, hamba yang penuuuh dengan dosa ini, hamba yang tiada bandingannya dengan Mu walaupun dibanding dengan sebutir debu yang Kau ciptakan. Ya Allah… hamba mohon dengan segenap hati, jangan biarkan hamba jauh, jangan biarkan hamba malas, jangan biarkan hamba tergoda dan terlena dengan indahnya kilauan dunia didepan mata, sedangkan surgaMu jauh lebih berkilau, sangat sangat berkilau sampai aku tak sanggup membayangkan betapa bahagianya hamba jika hamba berada disana meskipun hanya dipinggir pintu surgaMu saja.

Dan aku tak pernah bisa membayangkan betapa panasnya api neraka yang dengan sekejap mata dapat mendidihkan otak nabi Muhammad SAW sedangkan yang terkena api hanya jari jempol kaki Beliau saja. Ya Allah…. Audzubillahimindzaalik.. Ya Allah Ya Rabbi Ya Ilahi… jauhkanlah hamba, bapak ibu hamba, kedua saudara hamba, sahabat-sahabat hamba, dan seluruh umat muslim dari Neraka Mu, bahkan dari Bau siksa Neraka, Ya Rabb…
Astaghfirullah Hal ‘adziim..

Memikirkan itu semua, dan aku yang tak pernah bisa berhenti memikirkan itu semua, aku jadi malu untuk sudah berpikir tentang kehalalan cinta, penyempurna agama. Entah mengapa aku menjadi malu, malu yang tak bisa terelakkan. Dengan diri yang masih jaaauuuh dari kata sempurna, jauh dari kebaikan-kebaikan yang mereka pikir tentangku selama ini. bukan berarti dengan diriku ~yang berjilbab panjang, yang mungkin pendiam sesaat, yang mungkin berbicara seadanya atau bahkan tak bisa mengutarakan pendapat, yang hanya mampu menjawab “iyaa, ooh, he’em” jika diajak bicara~, adalah seorang yang memiliki kebaikan lebih dari kekurangan. Salah besaaarr. 

Hasil gambar untuk aku malu
sebuah malu yang tak berujung
Aku.. seorang manusia yang tak tau apa-apa, bahkan tak tau malu untuk berkata atau berpikir aku lebih baik dari orang lain, aku adalah manusia yang hampir setiap perkataan dan tindakan penuh dengan salah dan dosa, yang sulit untuk menghindari dari manyakiti hati orang lain, yang masih belum genap dan belum lengkap mengerti tentang agama. Namun yang hanya kutau adalah jika hati nuraniku yang berkata aku salah dan ketika aku benar.
Jadi aku harap, antum semua tidak berpikir aku orang yang lebih baik dari antum. Bukan. Kita sama, sama belajar, sama-sama mencari jalan, sama-sama mencari cara mengejar impian. Yang berbeda hanya satu, impian dan cita-cita kita, masing-masing impian kita berbeda, itu saja.
Kembali lagi tentang penyempurna agama, Menikah.
Melihat dari segi manapun, dari sisi apapun, bahkan bidang apapun, menikah itu indah. Aku, dengan usia 20tahunan, sudah mudah tergiur dengan iming-iming menikah. Kenapa begitu? Karena aku ingin ada seseorang yang megingatkanku lebih sering untuk selalu mendekat kepada-Nya, ingin memiliki seseorang yang benar-benar dipilih oleh-Nya untuk menjadi pendamping dunia dan akhiratku, dan ayah yang baik, mapan, cerdas, dan tentunya sholeh untuk anak-anakku kelak. Aku ingin melahirkan anak-anak yang sholeh-sholehah, yang berdiri di garis depan untuk membela Agama suci Ini, dan mempertahankan bahkan megembangkan hakikat islam di Negara ini, anak dari seorang lelaki sholeh.
Tapiii…
Kembali lagi, apakah aku sudah masuk kualifikasi untuk bisa mendapatkan pendamping yang sempurna seperti itu? karena aku selalu ingat janji Allah kepada kami, umat muslim, umat Rasulullah Muhammad SAW, disalah satu penggalan ayat Kitab suci Al-Quran, QS. An-Nur ayat 26, bahwa “…laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik…” begitu juga sebaliknya. Sebab itulah mengapa alasan aku malu untuk meminta pendamping yang sempurna. Sungguh aku malu di hadapan Allah, dan aku malu dengan diriku sendiri.. aku malu… astaghfirullah hal’adziim…
Ditengah-tengah harapan dalam doa untuk bisa memiliki pendamping hidup pilihan Allah yang sempurna, aku berusaha untuk menjadi seorang wanita yang pantas untuk dipasangakan dengan seorang yang sempurna seperti harapanku. Tapiiii… lagi lagi aku malu, karena usahaku yang tak seberapa ini disaksikan oleh Allah SWT, usahaku yang tidak sebanding dengan harapanku.. Ya Allah…. Ampunilah hambaMu yang tak tau diri ini… Ya Allah…
Usahaku, yang hanya bisa pasrah dengan ketentuan Allah, dan menjaga diri dari segala kemaksiatan, hanya sebatas itu usahaku.. Aku.. M A L U…

Entah bagaimanapun aku memikirkan tentang menikah, semua pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan terjawab kembali berujung pada diriku sendiri, pada usahaku sendiri…
Tapi, Ya Allah… tiada salaah hamba berdo’a meminta kepadaMU, sosok yang benar-benar Engkau pilihkan untuk hambaMu yang Hina ini, untuk bisa melengkapi dan menyempurnakan separuh Agama ini.. Ya Allah.. kabulkanlaah sepenggal doa hambaMu ini…
Jangan biarkan hamba terpengaruh dan terlena dengan cepatnya detak jantung yang terpicu karena orang-orang yang belum halal untuk hamba Ya Allah.. kabulkanlah Ya Allah.. Kabulkanlah…

Aamiin Allahumma Aamiin…

Friday, June 17, 2016

Be Honest

Sebenarnya aku lumayan lelah menjadi fajrin.
Sebenarnya aku bingung dengan diriku sendiri.

Hanya saja aku terlalu sering berdiri didepan teman2 sebagai si pembawa sial, aku merasa diriku sperti itu pada saat2 tertentu.

Saat2 itu, Aq berdiri dg perkataan maaf yg tiada henti, dan penjelasan yg mungkin bisa diterima sebagian teman2, mungkin juga tidak.

Selepas aku berdiri didepan mreka, lalu aku duduk dan terdiam, sampai merunduk. Ditengah tindakanku kadang aku meneteskan percikan air mata yang tak terlihat oleh mereka.

Lalu aku paksakan menghadap ke depan, dgn senyuman yang ku paksakan keluar dari sudut bibirku.

Disaat iu aku ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan kpd teman2.
Ingiiiiiiinnn sekali mreka tau apa yg terjadi dg jantungku yg berdegup kencang, dg otakku yg tak berhenti memutar memori suram dn berpikir keras, dg hatiku yg tak rela kalau aku diam sperti ini.

Tapi tubuhku merespon berbeda. Mulutmu hanya terdiam dan hanya bisa mengatakn "maaf" bila ada yg bertanya dn menghujat.
Mataku hanya bisa menatap sedih pada org yg tak mengerti diriku.
Dan hatiku hanya bisa menuruti apa yg tubuhku kerjakan.

"Sabar nggeh Fa, InsyaAllah mereka paham keadaanmu" itu yg nurani terdalam dihatiku katakan..

Aku manut saja.. Selalu sabar dan sabar..

Ndak papa, semua harus terjadi seperti ini..
Ndak papa.. Hanya bersabar sja sudh cukup memuaskan..

Wednesday, May 25, 2016

Coretan malam

Assalamualaikum..
Malam ini aku ingin mengutarakan curahan hatiku. Sperti biasanya.
Kebetulan malam ini aku lagi nganggur shift malam di slah satu Rumah Sakit d Malang.

Mm.. Mau ngomong apa yaa..
Masalah apa yaa..

Nggak tau d eh, pokoknya ane mau ngomong2 ajaa, meskipun haje nggk papa yaa..

Sebelum mulai, ane mempersilahkan pembaca kalau mau undur diri dari post ini, sebelum mulai merasa sebal atau bosan karena tulisan ini emang gaje..

Yakk.. Saya persilahkan..

.
.
.
.
.
.

Terimakasih telah bersedia membaca..

Tapi sekali lagi jangan menyesal . hehee

Banyak nih, teman2 yg tanya2 ke ane tentang hukum pacaran dalam Islam, trus metode2 yg baik gimana tapi tetep ada komunikasi, gimana caranya..

Ayah.. Ane kan bingung mau jawab gimana, kalau pertanyaannya kayak gitu.
Jadi, sebenernya temen2 itu sudah tau mana yg baik dn mana yg tidak. Bener gak??
Kira2, kalau pacaran baik apa nggak?
Dari segi psikososial? Ekonomi? Segi apapun deh.. Lebih banyak mudhorotnya kan??  Naah.. Apalagi dalam segi agama Islam..

Coba deh, muhasabah diri, atau sebutan ngetrendnya itu instrospeksi diri.
Tanya ke dalam hatimu dengan sungguh2. Jika kamu melakukan hal yg tidak baik, pasti ada sesuatu yg mengganjal didalam hatimu. Nuranimu tau apa yg baik dn apa yg tidk. Karena pada dasarnya nurani manusia itu diciptakan berdasarkan fitrah-Nya..

Meskipun, ketika pacaran ada yg ngerasa seneng, bahagia, semua terasa lebih mudah.. Itu kalauuu dalam hubungan pacaran itu nggak ada masalah.
Coba deh, kalau tengkar dikiiiiit aja, apa iya semua terasa seperti sebelumnya?
Ane yakiin banget, pasti ngerasa dunia ini nggak adil, yang nyalahin cowok didunia sama ajalaaahh, cewek didunia semua matree' lahh.. Semua terasa sulit, lebih sulit daripada belum ketemu si doi.
Hayoo ngakuuuu. 

Emang, sih.. Kalau udah terlanjur mulai itu suuuliiiit banget buat menghentikan... Tapi ane bicara serius nih, hidayah itu ada didepan mata, tinggal beranjak sedikit ke depan, dirimu akan menemukannya.
Yang ngebuat sulit itu ya dirimu sendiri yang menciptakan seribu alasan agar supaya kau tetap bertahan disitu, tidak ada pergerakan.
Dan yg perlu diwaspadai nih, kalo ente nggak segera bergerak maju mengambil hidayah itu, resiko tinggi banget buat dirimu unuk terjatuh broo.
Paham maksud ane kan ya??

Naah... Jadii.. Saran ane nih, cobalah mulai sedikit demi sedikit untuk meraih hidayah yang dekat itu didepanmu. Kau hanya butuh komitmen untuk membangun prinsip yang kuat broh, nggak sulit kok.
Sama kayak ente mau berkomitmen buat si doi dulu, tapi bedanya ini komitmen bukan buat si doi, tp buat kamu dan pastinya niat lillahita'ala broh. Ingat !! Innamal a'malu binniat.. Semua bergantung dari niat, broh.

Mudah kan??
Ayoo kite smua nih sama2 belajar.
Ane juga lagi belajar kok. Beneran, suwerrr.. Cuma mau bagi tips ringan. Hihii

Mari tegakkan #IndonesiaTanpaPacaran
Hamasah 💪💪💪💪

Monday, May 9, 2016

My First Book

Assalamualaikum..

Hai nawak2 sekalian, ayas mau berbagi sesuatu yg Urab nihh..
Jangan tercengang dan jangan terdiam. Hehe.
(Maap yee, bahasaku jadi ikut2an ank Malang, gara2 udh 2 th di Malang nih. Hehe)

Jadi.. Pertama2, ane mau bersyukur dlu kepada sang Pencipta Alam Dunia dn Akhirat bserta seluruh isinya. Alhandulillahhirobbil'alamiin..

Akhirnya, salah satu mimpi2ku tercapai, yaitu membuat sebuah buku..
Bukuku yg berjudul "we are tuyul-tuyul kece" ini akan segera terbit..

Terimakasih kepada Abah, Umik, Mbak dn Adekku yg selalu mendukungku untuk membuat karya2 baru..
Alhamdulillah, bersyukur luar biasa, ane dititipkan kepada keluarga yang sangat istimewa ini oleh Allah SWT.

Ane sebagai seorang penulis pemula yg tidak terlalu paham mengenai kaidah2 penulisan buku, hanya memiliki tekad yg bulat dn prinsip yg "InsyaAllah" teguh untuk tidak goyah agar bisa menyelesaikan 1 buku ini..

Jujur sejujur2nya, dalam masa penulisan buku ini, tantangan yang terbesar adalah -MALAS-. Sehingga waktu pembuatan satu buku ini berlangsung selama 3 tahunan. Hehe..
Ya itu masalahnya... M A L A S

Dan sampai saat inipun ane sangat sulit untuk menghindari dan menolak datangnya rasa malas ini..

Hohoo..
Semiga dalam pembuatan buku selanjutnya tidak banyak mengulur-ulur waktu..
Doakan ya nawak2..

Yang mau pesen, boleh komen di Postingan ane ini.. Hehe..

Sukran katsiro atas perhatiannya ya nawak2..

Uhibbukum Fillah.. Muah 💜

Wednesday, March 23, 2016

Dont show it

Assalamualaikum.
Alhamdulillah.
Hampir 1 tahun berlalu, eke yakin situ bisa mengendalikan apa yg harus kau kendalikan kepada seorang sperti ekeh ini.

Meski eke masih bisa melihat beratnya hatimu ketika memaksakan diri untuk tidak mengungkapkannya padaku, untuk now. Sabar ya sob.. Semua pasti berlalu.

Dari kejadian ini, eke semakin yakin bahwa ekeh ini sudah dewasa. Buktinya, hal sperti ini bisa terselesaikan dengan sendirinya, padahal diriku tak berbuat banyak. Hanya menahan diri untuk tidak katut sma perasaan situ.
Coba kalau dulu, gampaaang banget yg namanya suka sama lawan jenis. Dilirik dikit👉suka, di bantuin dikit👉suka, haah.. Pokoknya dikit2 bisa suka sma org. Hyaahh.. Begitulah ekeh dulu.
Tapi ya gitu.. Bisanya cuman mendeeem aja. Tapi, Alhamdulillah banget sama pilihan eke dulu, yg nggak mau ngungkapin dn nggak mau nerima hati. Hihi. Ini looh yg namanya "Prinsip".

Biarpun ente ngode2 pake sgala cara tentang perasaan situ, sorry nggak ngaruh banget buat gue. Tapi ya ada rasa empati sedikit lah. Huhu.
Sebenernya situ ndak usah repot2 mempersiapkan dg sgala cra buat ngungkapin perasaan loe ke gue. Gue udah tau perasaan loe gimana. Ekeh hargain perasaan yg situ punya. Karena gue juga pernah ngerasain.. Hehe.
Tapi ya mau gimana lagi dong, gue ya gue. Nggak bisa dipaksa buat ngelakuin sesuatu yg bisa ngeruntuhin prinsip gue yang udh gue bangun selama ini.

Sudahlah sob.. Sabar. Kalo jodoh ya kagak kemanaaa. Iya nggak?  Hohoo.

Ya udah.. Sekian buat curcol kali ini.
Sukran katsiro guys,
Wassalamualaikum

Tuesday, January 26, 2016

My Hijab is My Beauty

Assalamualaikum.. sudah lama sekali, ane ndk negpost di blog ini lagi. alhamdulillah pos kali ini ane mempersembahkan sebuah ungkapan hati seorang akhwat yang InsyaAllah tangguh.
langsung aja silahkan baca, ya.. maap kalo agak garing. yang penting ntar teman2 bisa ngerti  makna dr cerpen ini.. Selamat Membaca..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
My Hijab is My Beauty
            CANTIK, adalah sebuah kata yang didalamnya mengandung banyak makna dan selalu diinginkan wanita, Tapi cantik itu ~kata orang-orang sekarang, sih~ relatif, cantik dilihat dari mananya dulu, dari hati kah? Tingkah laku? pemikiran? Atau penampilannya? Aku juga ingin cantik, tapi sejauh manakah usahaku untuk menjadi cantik?
            Sebelumnya, izinkan daku memperkenalkan diri dulu ya pemirsaahh.. Aku Fajrian Dwi Anggraeni, Kalau dirumah dipanggil Reni, kalau di lingkungan sekolah or kampus, aku dipanggil Fajrin. Tapi dibalik itu, aku juga punya banyak julukan, nggak perlu ku sebutin satu-satu ya.. hihi.
            Aku mulai mengenal kerudung, ketika kelas 4 SD dimana saat itu juga Mbakku bernadzar kalau sudah SMP, mulai hari pertama sekolah ingin memakai kerudung, dan akupun mulai memakainya sampai sekarang, dengan ukuran yang bertahap yang InSyaaAllah semakin Syar’i beriringan dengan bertambahnya usiaku.
            Persepsiku mengenai Hijab mulai dari aku SD sampai awal SMP yaitu, hijab hanyalah sebatas penutup kepala. Sebagai kaum minoritas di sekolahku, aku merasa kurang PD dengan penampilanku yang berbeda dari kebanyakan siswa disekolahku ~yang kebanyakan tidak menggunakan kerudung~. Meskipun begitu, aku tidak ingin menutup diri dengan ketidak PDanku saat itu. Jadi hal yang bisa ku lakukan adalah menyesuaikan dengan tingkah laku. Aku menyesuaikan diri dengan teman-teman disekitarku.
Ketika aku duduk di Jenjang SMP dan SMA, Banyak orang ~yang belum kenal aku banget~ bilang kalau Fajrin itu kalem, lembut, pendiam, dan berbagai kata-kata yang membuat kepalaku membesar. Mereka hanya melihat dari sudut pandang fisikku saja ~mungkin~. Entah mengapa saat itu aku agak merasa kurang pas karena mereka hanya menilaiku dari segi fisik, yang hanya terlihat dari luar saja, karena aku juga mempunyai sisi yang tidak terlihat, yang mungkin tidak disukai orang lain.
            Disaat itulah masa pencarian jati diriku dimulai. Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada kedua orang tuaku yang tak jarang melarangku melakukan sesuatu yang menurutku asik dan menyenangkan. aku juga ingin mencoba hal-hal baru hasil dari rasa penasaranku yang mustahil aku lakukan. “bagaimana ya, rasanya melepas hijab dan bergaya seperti orang-orang tak berjilbab?” saat itu terlintas dalam pikiranku bahwa orang yang tidak berjilbab itu terlihat easy going, nggak kaku, dan menjalani kehidupan tanpa ada batasan-batasan yang terlalu mengekang.
Membandingkan diri dengan orang lain adalah suatu pemikiran yang panjang dan rumit, terutama membandingkan diriku dengan laki-laki, dan terselip rasa ‘dengki’ disana. Astaghfirullah hal‘adzim. “enak, ya jadi laki-laki. Mereka bebas melakukan hal yang mereka inginkan. Kebanyakan pemimpin itu laki-laki. Mereka kuat dan berani. Coba kalau aku, nggak boleh ini lah, nggak boleh itu lah, harus lembut, feminim, dan kalem.”  Dan banyak lagi pernyataan-pernyataan yang membuat aku menjadi seorang yang tidak berdaya dan tidak punya apa-apa di dunia ini.
Sedih ketika melihat teman mendapatkan kejuaraan lomba, “kenapa bukan aku?”. Menyesal ketika melakukan hal yang ~katanya~ nggak boleh dilakuin wanita, “coba kalau aku laki-laki, pasti bisa ini itu”. Minder ketika melihat teman-teman berbangga diri berkarya, “aku ini apa? Nggak mungkin bisa aku melakukan itu”.
Tapi aku berusaha nggak mau kalah sama  pikiranku, melalui mencoba memuaskan rasa penasaranku dengan melakukan hal-ha yang aku ingin lakukan. Bermusik? It’s okay, meskipun semua partnerku laki-laki, dan aku perempuan sendiri. Sempat berpikir, “apa kata orang? Aku berkerudung, dan perkumpulanku adalah para lelaki yang ~kata orang sekarang~ nge-PUNK”. Travelling? Aku juga melakukan hal asik ini. itung-itung sambil tadabbur alam untuk menambah rasa bersyukurku kepada sang Maha Pencipta. Dan salah satu hal lagi yang sangat membuatku bangkit dan mengerti, Pemimpin organisasi? Disini aku berpikir, apakah boleh seorang perempuan menjadi pemimpin sebuah organisasi? Tapi aku tak bisa menghindarinya, karena aku sudah terpilih dan tak mungkin aku mengundurkan diri setelah melalui proses yang nggak begitu mudah. So, aku jalani saja dan mengikuti alurnya.
Dari pengalaman-pengalaman yang telah kulalui, ternyata berlanjut sampai sekarang. Mungkin pengalamanku sudah menjadi pegangan hidup dan membentuk aku menjadi seperti ini, jadi aku tak bisa move on dari pengalamanku. Sampai sekarangpun aku tetap bermusik, tapi sekarang berbeda. Partnerku bukan anak laki-laki lagi, apa lagi Punk, tapi mbak-mbak kalem yang hobi bermusik juga kayak aku. Sama dengan bermusik, akupun melanjutkan kepemimpinanku dalam organisasi. Sebenarnya ingin istirahat dari kesibukan yang beginian, tapi tetap saja aku tak bisa menghindarinya. Tapi yang sedikit aku kurangi adalah hobi travellingku, ini kuganti dengan kesibukan merajut, membuat tas atau dompet lalu dijual, dan menulis cerita-cerita seperti sekarang ini.
Pernah suatu hari teman kampusku bertanya padaku, “Fajrin, kamu ini muslimah tapi kok nggak enak diam ya? Sukanya seliweran kesana kemari, ngurus ini itu. Yang paling aku heranin itu, kok bisa-bisanya mainin gitar dengan penampilanmu seperti ini? kerudung lebar?” aku diam sejenak, mencerna pertanyaan dari temanku ini. Tapi hanya ku jawab dengan santai, inilah aku.  Sekeras apapun aku memaksa diri untuk melakukan aktifitas yang lebih kalem dan melakukan hobiku, tetap saja aku tidak bisa menghindarinya.
Dengan segala kemampuanku yang berasal dari pengalaman, aku berusaha untuk nggak melupakan hijab yang tiap hari kukenakan, dan kewajiban-kewajiban seorang muslimah. Aku menemukan jati diriku,aku adalah seorang muslim yang harus berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW, seorang muslimah yang harus berhijab.
 Hijab inilah yang sampai saat ini menjauhkanku dari segala bentuk kemaksiatan, yang menjagaku untuk tetap berfikir positif terhadap segala hal. Yang selalu mendekatkan aku pada kebaikan-kebaikan. Dan yang membuatku bertemu dengan ikhwah, kami bersama-sama menjalin Ukhuwah Fillah. Meskipun banyak ocehan-ocehan yang tak berkenan dihati yang sering muncul dari mulut-mulut mungil orang-orang yang tidak memahami diriku.
Aku ingin menunjukkan kepada dunia, paling tidak kepada orang-orang disekitarku dulu. Bahwa seorang yang berkerudung lebar itu tidak menakutkan, tidak kaku, tidak mengisolasi diri dari masyarakat, dan tentunya bukan TERORIS! Aku ingin menunjukkan kepada mereka yang selalu berfikir negatif terhadap muslimah, bahwa kami bisa menjadi seseorang yang disegani, kami bisa menjadi lebih baik dari mereka, kami bisa menjadi apapun yang kami inginkan dengan tetap memegang teguh ajaran Fiqh-fiqh dalam islam.
Seperti itulah aku menjalani hidup ini dengan hijabku. Dengan berbagai macam ujian kehidupan, Allah memberiku kebahagiaan untuk menguji syukurku, Allah memberi kesulitan untuk menguji sabarku. Aku jalani semua itu dengan hijabku, dan aku tidak merasa terbebani dengan hijab lebarku. Karena Hijab, hidupku indah karena hijab. Hidupku asik, karena hijab. Tapi yang harus diketahui juga, dibalik hijab itu ada Islam rahmatan lil’alamin yang menjadi peganganku. Dan karena itulah, aku yakin aku cantik meskipun tiap hari banyak keringat menempel di mukaku.

Kami cantik bukan karena make up, tapi kami cantik karena cahaya Ilahi menyinari kami. Hai Muslimah, don’t worry about your hijab. Just show your self to the world, that you’re beautiful and you can shining thins world with your hijab.