Akhirnya muncul juga cerbung Dari Cinta Untuk Cinta
Part 2. maaf lama ya reader, soalnya banyak banget inspirasi yang aku cari.
jangan lupa kritik n saran d kota komentnya ya... matur nuwun.. hapy reading..
:)
Dari Cinta Untuk Cinta Part 2
Sejak saat itu, Hubungan Aku dan Tiar kembali membaik, kamipun
akrab kembali seperti pertama kenal dulu. Aku menceritakan semua hal
menggembirakan ini kepada Tini, Ia juga sepertinya ikut senang. Tini juga
bercerita kepadaku, bahwa dia menyukai seseorang, dia bercerita penuh keraguan
padaku. Entah kenapa, nada-nada yang dikeluarkan ketika Tini bercerita, seolah
menyindir diriku. “Tin, kalau aku punya salah, aku minta maaf ya” ucapku seusai
dia bercerita. “oh, it’s oke”, ujarnya.
Sesampainya aku dirumah, eh ternyata mbak Dilma pulang. “Mbaakk...” tanpa
menaruh tas terlebih dahulu, aku segera meloncat ke arah mbak Dilma dan
memeluknya. “ihhh.. Rina, ganti baju dulu sana. Bau kecut, lho” kata Mbakku
yang cantik itu. “oke, mbak. Tapi, mas Joni belum pulang? ” tanyaku. Mbakku
menjawab dengan penuh keanggunan, “kayaknya sih belum, dek. Kenapa?”, “emm..
nggakpapa”, aku segera menuju ke kamar untuk menaruh semua barangku dan ganti
baju. Setelah semua barang tertata rapi, aku menuju kamar mbak Dilma yang
berwarna serba ungu dengan aroma bunga Lavender. Dalam kamar mbakku, aku merasa
berada ditengah-tengah taman bunga lavender, yang harumnya dapat memperlancar
peredaran darah. Jadi semangat deh. Aku merebahkan tubuhku diranjang empuk
mbakku. Sesaat pintu terbuka dengan sendirinya.”mbak.. mbak..” aku memanggil
mbak Dilma dengan nada ketakutan. Lututku lemas, tak dapat bergerak karena
ketakutan. Aku segera menyembunyikan kepalaku di balik bantal. Bulu kudukku
berdiri semua. Aku memanggil nama mbak Dilma semakin kencang, dan ada yang
menyentuh kakiku. Sontak aku teriak sekencang-kencangnya dan menendangi semua
yang ada di kakiku. “aw..aw.. Rina, kenceng banget nendangnya. Sakit tau!” kata
Mas Joni yang ternyata sengaja menakut-nakutiku. Aku memang orangnya penakut
sama yang gitu-gituan. Aku langsung beranjak dari ranjang, “aaaahhhh.. Mas
Joni... Umiii... mas Joni ini lho, miii!” aku mengadu kepada Umi sambil
memukuli punggung kekar mas Joni. Aku dan Mas Joni bertengkar habis-habisan dan
mebuat kamar mbak Dilma berntakan. Seketika itu mbak Dilma datang ke kamar dan
menjewer telingaku dan Mas Joni. Tugas baru, nih. Beres-beres kamar mbak Dilma
bareng mas Joni yang super nyebelin. Niatnya sih mau curhat sama mbak Dilma,
eh.. ujung-ujungnya malah jadi pembokat mendadak. Ini semua gara-gara mas Joni.
Usai itu, aku langsung membersihkan diri dan segera meluncur ke kamarku yang
penuh dengan warna Biru. Tak lama kemudian... aku terlelap.
Ternyata hari yang membuatku nervous datang juga. Hari dimana aku tampil di
Pertunjukan Musik Sekolah sebagai pengisi acara. Guru pembimbing memintaku
untuk tampil solo dengan Gitar dan Harmonikaku, “Rina keren. Dia berjilbab tapi
multitalent”, kata guru pembimbing musikku kepada guru yang lainnya. Aku jadi
tidak enak hati kepada teman-teman di kelas musik yang lain. Tapi, bagaimana
bisa aku menolaknya? Sedangkan Guru-guru yang lain semakin menyudutkanku untuk
tampil solo di panggung besar itu. Akhirnya kuterima saja dengan terpaksa.
Kurang satu penampilan lagi dari peserta, aku akan tampil. Dag dig dug serrr,
jantungku berdetak kencang. Karena baru kali ini aku tampil solo dipanggung
besar. Pasti akan diperhatikan banyak mata. “dan penampilan selanjutnya, akan
dibawakan oleh murid multitalent kita, Rina” sang pembawa acara memanggilku,
diiringi tepuk tangan meriah dari murid lainnya. Ah.. aku jadi malu. Aku mulai
naik panggung, dan sepertinya aku nervous. Aku mamulai penampilanku dengan
salam kepada para penonton yang tidak lain adalah teman-temanku sendiri.
Terlihat Tiar dan Tini berdiri bersama di depan sendiri. Aku tersenyum pada
mereka, dan mulai memetik gitar kecilku. Kunyanyikan lagu bertemakan
persahabatan. Kulihat sekelilingku, kutatapi mata teman-temanku, dan aku jadi
tidak nervous lagi. Bertambahlah semangatku. Terlihat Tini bersemangat untuk
membuatku tampil baik. Sedangkan Tiar, dia tersenyum kepadaku dengan mata
sayunya. Entah kenapa tatapan tiar yang seperti itu membuat hatiku senang tapi
juga cemas. Aku jadi bingung. Dan usailah penampilanku. Aku turun dari
panggung menuju belakang panggung, Tiar mendekatiku dan berkata dengan tatapan
yang sama, “Rina, kamu hebat”. Aku mengucapkan terimakasih dengan sikap sebiasa
mungkin agar ia tak tau betapa hatiku gembira melihat tatapan itu.Kini saatnya
Tiar menunjukkan aksinya diatas panggung sebagai Bassist plus Vokalis dalam
Bandnya. Sebelum dia bernyanyi, “lagu ini kupersembahkan kepada seseorang
tercinta”, katanya. Tini langsung teriak histeris seakan-akan kata dari Tiar
adalah untuknya. Aku sih sedikit illfeel sama Tini, karena
baru kali ini dia bertingkah seperti ini, didepan cowok pula. Langsung ku
senggol lengan Tini, “hush.. Tin, ingaat.. banyak orang niii..”. “Itu Tiar,
Rin.. Tiar.. Keren bangettt”, sahutnya. Langsung kutunjukkan ekspresi bingung
dengan salah satu alis naik, ‘iii.. ada apa sama ni anak?’ batinku. Sesaat aku
mendengar Tiar bernyanyi, aku terpaku, terdiam dan membisu. Rasanya hatiku
sejuk banget. Aku merasakan perubahan ekspresi wajahku, dari yang sebelumnya
bingung, menjadi senang. Mungkin karena Tiar melantunkan lagunya dengan lirih,
apalagi suaranya haluuuus banget, meskipun tehniknya masih minim. Tapi aku
suka, sukaaa banget. Tapi satu yang berbeda dari Tiar. Dia menatapku dengan
tatapan yang sama. Seharusnya dia menatap semua penonton. Aaahhh... kalau
begini akupun jadi bingung, muncullah rasa penasaranku.
Minggu
berganti minggu, hari berganti hari, dan menit bergati menit. Ujian kenaikan
kelaspun hampir berlalu, dan diakhir-akhir waktu bersama kelas VIII itu, aku
merasakan tatapan itu semakin sering ku lihat. Tatapan mata Tiar yang sangat
membuatku mempesona. Aku selalu menangkap tatapan itu. Dan saat itulah muncul
rasa yang berbeda yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berharap bukan
rasa yang aku duga, karena aku tau dari nasihat mbak Dilma, rasa itu akan
menyiksaku. Dan aku curhat ke orang yang paling aku percaya disekolah, Tini.
Jawabannya sangat singkat, membuatku banyak bertanya padanya.
Saat
yang ditunggu-tunggu pun kini datang, pengumuman hasil ujian kenaikan kelas.
Umi datang untuk mengambil raportku. ‘ya Allah.. semoga nilaiku memuaskan dan
tidak mengecewakan Umi dan Aba’, batinku. Sambil menunggu pengumuman hasil
ujian kenaikan kelas dan dikelas mana aku nanti, aku bermain-main keliling
sekolah bersama Tini dan teman-teman. Seperti biasa, aku dan teman-teman
bercanda tawa, untuk mengenang kebersamaan kami. Karena kami tak tau, apakah
kami bisa bersama lagi seperti ini, apakah kita bisa bersama dan bercanda tawa
ketika ujian Nasional mengejar pikiran kami. So, have fun aja.
Ditengah tawa kami, tiba tiba Dela, salah satu teman sekelasku, datang dengan
ekspresi wajah yang sangat gembira. “Guys, tau gak? Kita naik kelas semua!!
Daaannn.. aku dapat ranking 2, Guys!!! Aaaaaa....”, katanya sambil menghamburkan
kabar gembira pada kami. Kita langsung berpelukan satu sama lain. Tiba-tiba
Tini menyahut, “waaahhh senang sekali dapet ranking 2. Trus..trus.. yang dapet
rankng 1 dan 3 siapai?”. Kami semua penasaran, dan dijawabnya, “emmmm... yang
ranking 1.... Rinaa... terus, yang Ranking 3, Tiar..”. aku tak bisa berkata
apa-apa. Aku hanya bisa bersyukur dalam hati. “Rinaaa... kamu ranking
satuuu!!”,”iya.. hebat banget kamu, Rin..”,”waahh.. Rina.. selamat yaaa”, kata
teman-temanku saling bersahutan. Aku memeluk mereka erat-erat. Lalu aku
bertanya kepada mereka, “makasii teman-teman.... eh, kalian gak ingin tau nilai
raport kalian?”, ternyata pertanyaanku membuat mereka penasaran. Teman-teman
mengiyakan pertanyaanku dan segera berhamburan menuju kelas. Aku gembira melihat
kegembiraan mereka, akupun meneteskan airmata bahagia. Dan tak sadar, ternyata
teman-teman sudah jauh didepanku. Akupun segera menyusul mereka. Tapi
tiba-tiba, “Rinaa!!” terdengar suara yang tak asing lagi bagiku, suara Tiar.
Aku berhenti sejenak untuk menghapus air mataku, Tiarpun datang menghampiriku.
“whahaha... nangis dia!”, kata Tiar mengejekku. “biar wes.... yang penting aku
seneeeenggggg”, aku menunjukkan ekspresi wajah senang ku. “jhieehh, yang lagi
ranking satu.. selamat ya.”, Ucap Tiar. “iya, makasih.. o, ya. Kamu kan Ranking
3, selamat juga, Tiar!”. Kami berdua senang sekali mengenai hasil yang
memuaskan ini. Kamipun berjalan menuju kelas bersama-sama. Terlihat Umi berdiri
didepan kelas seperti sedang mencariku, aku langsung berlari menuju Umi,
“Umiiiii!!”, panggilku. Umi memelukku dengan senangnya. Aku dan Umi pulang
diantar Sopirnya Aba. Menurut cerita Umi, kelas kami meraih nilai rata-rata
tertinggi. Hatiku sangat senang, dan teman-teman juga pasti senang. Tiada
hentinya aku bersyukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah...
sori pendek banget crbung kali ini ya.. hehe
okeh, nanttikan cerbung Dari Cinta Untuk Cinta Part 3 yaa...
jangan bosen-bosen baca tulisanku, ya.. tenkiuu sanget. =)
okeh, nanttikan cerbung Dari Cinta Untuk Cinta Part 3 yaa...
jangan bosen-bosen baca tulisanku, ya.. tenkiuu sanget. =)
No comments:
Post a Comment