Thursday, October 17, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 2

Akhirnya muncul juga cerbung Dari Cinta Untuk Cinta Part 2. maaf lama ya reader, soalnya banyak banget inspirasi yang aku cari. jangan lupa kritik n saran d kota komentnya ya... matur nuwun.. hapy reading.. :)

Dari Cinta Untuk Cinta Part 2

                 Sejak saat itu, Hubungan Aku dan Tiar kembali membaik, kamipun akrab kembali seperti pertama kenal dulu. Aku menceritakan semua hal menggembirakan ini kepada Tini, Ia juga sepertinya ikut senang. Tini juga bercerita kepadaku, bahwa dia menyukai seseorang, dia bercerita penuh keraguan padaku. Entah kenapa, nada-nada yang dikeluarkan ketika Tini bercerita, seolah menyindir diriku. “Tin, kalau aku punya salah, aku minta maaf ya” ucapku seusai dia bercerita. “oh, it’s oke”, ujarnya.
                Sesampainya aku dirumah, eh ternyata mbak Dilma pulang. “Mbaakk...” tanpa menaruh tas terlebih dahulu, aku segera meloncat ke arah mbak Dilma dan memeluknya. “ihhh.. Rina, ganti baju dulu sana. Bau kecut, lho” kata Mbakku yang cantik itu. “oke, mbak. Tapi, mas Joni belum pulang? ” tanyaku. Mbakku menjawab dengan penuh keanggunan, “kayaknya sih belum, dek. Kenapa?”, “emm.. nggakpapa”, aku segera menuju ke kamar untuk menaruh semua barangku dan ganti baju. Setelah semua barang tertata rapi, aku menuju kamar mbak Dilma yang berwarna serba ungu dengan aroma bunga Lavender. Dalam kamar mbakku, aku merasa berada ditengah-tengah taman bunga lavender, yang harumnya dapat memperlancar peredaran darah. Jadi semangat deh. Aku merebahkan tubuhku diranjang empuk mbakku. Sesaat pintu terbuka dengan sendirinya.”mbak.. mbak..” aku memanggil mbak Dilma dengan nada ketakutan. Lututku lemas, tak dapat bergerak karena ketakutan. Aku segera menyembunyikan kepalaku di balik bantal. Bulu kudukku berdiri semua. Aku memanggil nama mbak Dilma semakin kencang, dan ada yang menyentuh kakiku. Sontak aku teriak sekencang-kencangnya dan menendangi semua yang ada di kakiku. “aw..aw.. Rina, kenceng banget nendangnya. Sakit tau!” kata Mas Joni yang ternyata sengaja menakut-nakutiku. Aku memang orangnya penakut sama yang gitu-gituan. Aku langsung beranjak dari ranjang, “aaaahhhh.. Mas Joni... Umiii... mas Joni ini lho, miii!” aku mengadu kepada Umi sambil memukuli punggung kekar mas Joni. Aku dan Mas Joni bertengkar habis-habisan dan mebuat kamar mbak Dilma berntakan. Seketika itu mbak Dilma datang ke kamar dan menjewer telingaku dan Mas Joni. Tugas baru, nih. Beres-beres kamar mbak Dilma bareng mas Joni yang super nyebelin. Niatnya sih mau curhat sama mbak Dilma, eh.. ujung-ujungnya malah jadi pembokat mendadak. Ini semua gara-gara mas Joni. Usai itu, aku langsung membersihkan diri dan segera meluncur ke kamarku yang penuh dengan warna Biru. Tak lama kemudian... aku terlelap.
                Ternyata hari yang membuatku nervous datang juga. Hari dimana aku tampil di Pertunjukan Musik Sekolah sebagai pengisi acara. Guru pembimbing memintaku untuk tampil solo dengan Gitar dan Harmonikaku, “Rina keren. Dia berjilbab tapi multitalent”, kata guru pembimbing musikku kepada guru yang lainnya. Aku jadi tidak enak hati kepada teman-teman di kelas musik yang lain. Tapi, bagaimana bisa aku menolaknya? Sedangkan Guru-guru yang lain semakin menyudutkanku untuk tampil solo di panggung besar itu. Akhirnya kuterima saja dengan terpaksa. Kurang satu penampilan lagi dari peserta, aku akan tampil. Dag dig dug serrr, jantungku berdetak kencang. Karena baru kali ini aku tampil solo dipanggung besar. Pasti akan diperhatikan banyak mata. “dan penampilan selanjutnya, akan dibawakan oleh murid multitalent kita, Rina” sang pembawa acara memanggilku, diiringi tepuk tangan meriah dari murid lainnya. Ah.. aku jadi malu. Aku mulai naik panggung, dan sepertinya aku nervous. Aku mamulai penampilanku dengan salam kepada para penonton yang tidak lain adalah teman-temanku sendiri. Terlihat Tiar dan Tini berdiri bersama di depan sendiri. Aku tersenyum pada mereka, dan mulai memetik gitar kecilku. Kunyanyikan lagu bertemakan persahabatan. Kulihat sekelilingku, kutatapi mata teman-temanku, dan aku jadi tidak nervous lagi. Bertambahlah semangatku. Terlihat Tini bersemangat untuk membuatku tampil baik. Sedangkan Tiar, dia tersenyum kepadaku dengan mata sayunya. Entah kenapa tatapan tiar yang seperti itu membuat hatiku senang tapi juga cemas. Aku jadi bingung.  Dan usailah penampilanku. Aku turun dari panggung menuju belakang panggung, Tiar mendekatiku dan berkata dengan tatapan yang sama, “Rina, kamu hebat”. Aku mengucapkan terimakasih dengan sikap sebiasa mungkin agar ia tak tau betapa hatiku gembira melihat tatapan itu.Kini saatnya Tiar menunjukkan aksinya diatas panggung sebagai Bassist plus Vokalis dalam Bandnya. Sebelum dia bernyanyi, “lagu ini kupersembahkan kepada seseorang tercinta”, katanya. Tini langsung teriak histeris seakan-akan kata dari Tiar adalah untuknya. Aku sih sedikit illfeel sama Tini, karena baru kali ini dia bertingkah seperti ini, didepan cowok pula. Langsung ku senggol lengan Tini, “hush.. Tin, ingaat.. banyak orang niii..”. “Itu Tiar, Rin.. Tiar.. Keren bangettt”, sahutnya. Langsung kutunjukkan ekspresi bingung dengan salah satu alis naik, ‘iii.. ada apa sama ni anak?’ batinku. Sesaat aku mendengar Tiar bernyanyi, aku terpaku, terdiam dan membisu. Rasanya hatiku sejuk banget. Aku merasakan perubahan ekspresi wajahku, dari yang sebelumnya bingung, menjadi senang. Mungkin karena Tiar melantunkan lagunya dengan lirih, apalagi suaranya haluuuus banget, meskipun tehniknya masih minim. Tapi aku suka, sukaaa banget. Tapi satu yang berbeda dari Tiar. Dia menatapku dengan tatapan yang sama. Seharusnya dia menatap semua penonton. Aaahhh... kalau begini akupun jadi bingung, muncullah rasa penasaranku.
                Minggu berganti minggu, hari berganti hari, dan menit bergati menit. Ujian kenaikan kelaspun hampir berlalu, dan diakhir-akhir waktu bersama kelas VIII itu, aku merasakan tatapan itu semakin sering ku lihat. Tatapan mata Tiar yang sangat membuatku mempesona. Aku selalu menangkap tatapan itu. Dan saat itulah muncul rasa yang berbeda yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berharap bukan rasa yang aku duga, karena aku tau dari nasihat mbak Dilma, rasa itu akan menyiksaku. Dan aku curhat ke orang yang paling aku percaya disekolah, Tini. Jawabannya sangat singkat, membuatku banyak bertanya padanya.
                Saat yang ditunggu-tunggu pun kini datang, pengumuman hasil ujian kenaikan kelas. Umi datang untuk mengambil raportku. ‘ya Allah.. semoga nilaiku memuaskan dan tidak mengecewakan Umi dan Aba’, batinku. Sambil menunggu pengumuman hasil ujian kenaikan kelas dan dikelas mana aku nanti, aku bermain-main keliling sekolah bersama Tini dan teman-teman. Seperti biasa, aku dan teman-teman bercanda tawa, untuk mengenang kebersamaan kami. Karena kami tak tau, apakah kami bisa bersama lagi seperti ini, apakah kita bisa bersama dan bercanda tawa ketika ujian Nasional mengejar pikiran kami. So, have fun aja. Ditengah tawa kami, tiba tiba Dela, salah satu teman sekelasku, datang dengan ekspresi wajah yang sangat gembira. “Guys, tau gak? Kita naik kelas semua!! Daaannn.. aku dapat ranking 2, Guys!!! Aaaaaa....”, katanya sambil menghamburkan kabar gembira pada kami. Kita langsung berpelukan satu sama lain. Tiba-tiba Tini menyahut, “waaahhh senang sekali dapet ranking 2. Trus..trus.. yang dapet rankng 1 dan 3 siapai?”. Kami semua penasaran, dan dijawabnya, “emmmm... yang ranking 1.... Rinaa... terus, yang Ranking 3, Tiar..”. aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa bersyukur dalam hati. “Rinaaa... kamu ranking satuuu!!”,”iya.. hebat banget kamu, Rin..”,”waahh.. Rina.. selamat yaaa”, kata teman-temanku saling bersahutan. Aku memeluk mereka erat-erat. Lalu aku bertanya kepada mereka, “makasii teman-teman.... eh, kalian gak ingin tau nilai raport kalian?”, ternyata pertanyaanku membuat mereka penasaran. Teman-teman mengiyakan pertanyaanku dan segera berhamburan menuju kelas. Aku gembira melihat kegembiraan mereka, akupun meneteskan airmata bahagia. Dan tak sadar, ternyata teman-teman sudah jauh didepanku. Akupun segera menyusul mereka. Tapi tiba-tiba, “Rinaa!!” terdengar suara yang tak asing lagi bagiku, suara Tiar. Aku berhenti sejenak untuk menghapus air mataku, Tiarpun datang menghampiriku. “whahaha... nangis dia!”, kata Tiar mengejekku. “biar wes.... yang penting aku seneeeenggggg”, aku menunjukkan ekspresi wajah senang ku. “jhieehh, yang lagi ranking satu.. selamat ya.”, Ucap Tiar. “iya, makasih.. o, ya. Kamu kan Ranking 3, selamat juga, Tiar!”. Kami berdua senang sekali mengenai hasil yang memuaskan ini. Kamipun berjalan menuju kelas bersama-sama. Terlihat Umi berdiri didepan kelas seperti sedang mencariku, aku langsung berlari menuju Umi, “Umiiiii!!”, panggilku. Umi memelukku dengan senangnya. Aku dan Umi pulang diantar Sopirnya Aba. Menurut cerita Umi, kelas kami meraih nilai rata-rata tertinggi. Hatiku sangat senang, dan teman-teman juga pasti senang. Tiada hentinya aku bersyukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah...





sori pendek banget crbung kali ini ya.. hehe
okeh, nanttikan cerbung Dari Cinta Untuk Cinta Part 3 yaa...
jangan bosen-bosen baca tulisanku, ya.. tenkiuu sanget. =)

No comments:

Post a Comment