Tuesday, November 5, 2013

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Last Part

Hwuiihhh (Ngusap peluh), akhirnya sampai juga di last part. hehe.. nggak banyak cuap-cuap, langsung baca. Monggo, en Happy reading. :)

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Last Part
   “Dediiii... tungguin aku dong!! Tasku berat niihh.. mentang-mentang tasnya enteng, uuuhh ”
     keluhku.
   “Rin.. Rin.. kamu, sii.. mau aja disuruh bawa barang banyak! Ku tinggal ya.. dadahh”
     Dedi mengejekku dan melambaikan tangannya..
   “Deediiiiii... awas kamu, ya!!” kukejar dia dengan nafas tersengal
Aku dan Dedi pulang dari sekolah. Tas yang kubawa beraaat banget. Kenapa nggak? Semua buku di jadwal pelajaran hari ini gede-gede, banyak pula, dan nggak terasa kami udah hampir kuliah. Di jenjang SMA ini, aku satu sekolah dengan Dedi. Tapi tidak dengan Dela, Tiar, dan Tini. Aku semakin aktif dan cinta dengan dunia organisasi. Aku dan Dedi ikut serta dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah alias OSIS disekolah kami. Meskipun berbeda kelas, kami selalu bersama. Sama seperti masa SMP dulu. Dan Alhamdulillah, kami selalu mencapai nilai tertinggi dikelas.

                Tapi kami sudah lengser di Organisasi ini, karena kami harus fokus dengan yang namanya BELAJAR. Aku mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan dan melelahkan di SMA ini. Aku nggak mau ada yang ganggu belajarku, dan harus kubuat cara belajarku senyaman mungkin. Ya seperti inilah, belajar bersama Dedi membuatku nyaman. Semakin hari ia semakin jago aja, apalagi pelajaran IPA. Ia menguasai semua pelajaran itu.

                Jujur saja, aku sangat betah di sekolah ini. Teman-temanku, guru-guruku, kelas-kelas, pohon-pohon, dan semua yang ada disini membuatku merasa nyaman. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat sesempurna ini. Apalagi aku punya sahabat yang gokil, koplak, dan selalu ada buatku, Dedi. Di sinilah, di jenjang SMA ini aku sudah mulai mengetahui apa yang harus dan tidak aku lakukan. Dari masalah keluarga, sampai masalah cinta. Aku merasa sudah memulai masa dewasa. Masa dimana aku tidak lagi dibantu segalanya oleh orang tua, dan itulah yang konon orang-orang sebut ‘Kemandirian’.

                Ketika aku baru saja pulang dari sekolah, bunyi hape biruku menandakan ada pesan singkat yang masuk. Kulihat, ternyata nomor tak bernama. Pesan itu bertuliskan,“Sore, Rina. Apa kabar nih?”. Otomatis nggak ku hiraukan, nggak kenal gitu. apalagi dalam keadaan lelah seperti ini. Setelah membersihkan diri, aku segera beristirahat dikamarku.  Namun, belum genap setengah jam aku tidur, hapeku berbunyi lagi, dan aku terbangun karena kaget. Aku sengaja memasang nada SMS dengan volume tinggi. Eh, ternyata pesan itu dari nomor tak dikenal lagi. Pusing banget, bangun gara-gara kaget. Tak banyak pikir, aku langsung melepas baterai hapeku dan kembali tidur.

                Kumandang adzan Ashar membangunkanku dari tidur yang siang yang cukup singkat. Kupasang baterai hapeku, ternyata 13 SMS tak dikenal itu muncul dilayar awal hapeku, dengan isi pesan yang sama. Akupun jadi penasaran, kubalas dengan singkat, “siapa?”. Nggak sampai 5 menit, nomor tak dikenal itu membalas, “O iya lupa. Aku Tiar, Rin. Temen SMP-mu dulu. Masak lupa sih?”. Aku kaget banget bro! Udah 3 tahun aku nggak tau kabar tentang Tiar. Nggak ada komunikasi sama sekali, meskipun kita sudah berteman baik. Akupun menjawab dengan ramah dan penuh rasa persahabatan, “eehhh.. Tiar, toh. Maap ni baru balas. Aku baik banget kok. Kamu gimana?”,”Alhamdulillah aku baik juga, Rin. Eh, kangen sama Dedi sama Dela, nih.. yuk ketemuan bareng. Mumpung aku lagi free, Rin” Balasnya. Aku mengiyakan ajakan Tiar. Kamipun membuat janji dimana aku, Dedi, dan Dela bisa bertemu Tiar.

                Keesokan harinya aku memberitahu Dedi. Diapun menyetujuinya dan segera mengabari Dela, yang rumahnya tetap dekat dengan Dedi. Kebetulan akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengan Dela, kangen banget rasanya. So, kita berempat jadi ketemuan di bukit yang sempat aku jadikan tempat pelampiasan sakit hatiku ke Tiar, heehee. Waktunya 2 hari lagi, jam 4 sore sambil menikmati Sunset nantinya. Huuuwww... jika dibayangkan, kayaknya seru banget, bro. Tapi aku tak tau bagaimana kabar Tini. Sejak kejadian itu, hubungan kami sangat renggang.

                Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Aku dan Dedi pergi dulu karena Dela sedang sibuk dirumahnya. Dengan bersepada ontel bersama, kami sampai di bukit. Eh, ternyata disana udah ada Tiar. Ia membawa baaanyaaak banget makanan, wuihh.. santapan gue nih. Beberapa saat kemudian, Delapun menyusul kami. Dela ternyata bawa tikar yang cukup lebar. Jadilah kami berempat disini, duduk manis sambil makan en cerita-cerita gitu. Kayak piknik aja.

                Diperkirakan sunset akan turun 20 menit lagi. Selagi Dedi dan Dela berkemas-kemas, karena setelah sunset berlalu, kami langsung pulang. Tiar yang berdiri diujung bukit memanggilku. Dedi menyuruhku yang sedang membantu dela untuk pergi ke bukit menemui Tiar. Akupun menyusul Tiar. Hanya kami berdua diatas bukit. “Deg..deg...deg” jantungku berdetak keras. Mungkin karena aku sudah lama tidak berdua dengan Tiar. Tiba-tiba Tiar berkata kepadaku.
                “Rin, 5 tahun lalu aku mulai tau kamu” ucap Tiar
                “ha? Lebih setahun kali. Kita kan kenalnya kelas 2” jawabku dengan polosnya
                “nggak, Rin. Sejak kelas 1 aku udah tau kamu, lho. Kamu aja yang nggak tau aku!”
                “wahaha.. iyakah? Sori deh. Tapi sekarang kita uda saling kenal, kan..” jawabku
                “Yups. Sekarang kita udah dewasa, kan. Nggak kayak dulu. Aku juga aku ngerasa saat ini yang
                tepat buat aku jujur tentang hatiku, Rin”. Tiar mulai serius, pikiranku jadi aneh.
                “waduu... ada apa denganmu, yar? Kok suasananya berubah gini?” balasku dengan gurauan
                “Rinaaa.. serius, nih! Sebenarnya aku udah tau kalo kamu suka ke aku. Tapi harus kamu tau,
                rin, aku lebih dulu suka ka kamu” ucapnya dengan tatapan yang sudah lama tak kulihat.
                “Terus Tini waktu itu dikemanakan? Jahat banget sih kamu!” jawabku dengan nada marah
                “aku ingin akrab dengan Tini, karena dia temanmu. Akupun sudah menjelaskan pada Tini”
                “Ehm.” Aku terdiam gemetar sambil menatap detik-detik sunset, menduga apa yang akan
                  Tiar katakan setelah ini. Aku merasakan Tiar menatapku dengan tatapan itu.
                “jadi, Rin. Aku ingin kamu merasakan cinta pertamamu!” ucap tiar dengan semakin dekat
                “mm..mmaksudnya?” aku gugup, Tiar mengalihkan pandangannya pada keindahan sunset
                “aku tau segalanya tentang kamu. Salah satunya aku dihatimu, your first love. Aku berharap
                kamu mau jadi seseorang yang spesial untukku. Jadi pacarku, Rin”
Disaat tiar memintaku menjadi pacarnya, mataharipun terbenam dengan sinar bagai senyuman yang sangat indah, seolah memberikanku petunjuk apa yang harus kulakukan saat itu. Dan sejak awal, aku sudah tau ini akan terjadi. Dugaanku benar. So, aku tau apa yang harus aku katakan. Aku menjawab dengan tegas, “sori, yar. Tapi maaf banget. Perasaanku sama kamu itu udah dulu banget. Sekarang aku hanya nganggep kamu sebagai temanku. Teman yang memberiku pengalaman bagaimana rasanya sakit hati karena cinta. Dan sekarang aku nggak tertarik sama sekali yang namanya PACARAN, yar. ”,
                “oh, gitu ya. Jadi, aku telat dong? Apa kamu nggak mau memberikanku sedikit toleransi?
                aku tulus ke kamu, Rin. Udah lama aku nyimpen semua ini sendiri.” Bujuk Tiar
                “sekali lagi aku minta maaf, yar. Kita lebih baik jadi temen. Nggak ada kata sakit hati.
                nggak pacaran aja ngebuat sakit hati, apalagi pacaran? Ya nggak? Oke...” ku yakinkan Tiar.
                “oke. Aku ngerti, Rin. Tapi, apapun hubungan kita, aku sayang kamu” kata Tiar
Aku dan Tiar menikmati pemandangan Sunset berdua. Oh, iyaa... Dela sama Dedi kemana ya? Kok nggak ada dari tadi? Ternyata mereka duduk di kursi yang lumayan jauh dari tempat kami berdiri. Mereka memahami apa yang kami bicarakan. Jadi Dela dan Dedi menjauh agar tak ada kesan mengganggu diantara kami. Sunset kali ini sangat mengesankan. Dan memberiku pengalaman terbaru.

                Suara Masjid menandakan Adzan Maghrib segera berbunyi. Aku dan teman-teman pulang kerumah masing-masing. Pertemuan kali ini sangat berkesan, apalagi dilatar belakangi suasana Sunset diatas bukit yang saaaangaaat indah. berbagi pengalaman dan cerita-cerita seru. Aku sayang kalian semua, dan aku berharap hubunganku dengan Tini membaik.

                Akhirnya akupun menyadari, Cinta itu nggak harus memiliki. Apalagi dimasa ABG kayak gini. Pasti banyak buanget maksiat yang dilakukan. Lebih baik cinta ini dijaga sampai ada seseorang yang benar-benar mencintai didunia dan akhirat. Akupun begitu. Nasihat dan saran yang selalu diberikan oleh Mbak Dilma akan selalu kupegang. Juga contoh perilaku yang cool dan baik yang selalu diajarkan Mas Joni sehari-harinya. Sebenarnya masih terbesit rasa kagum dihati ini utuk Tiar. Bukannya tidak berani mengungkapkan. Tapi ini kulakukan untuk kebaikanku dan Tiar juga. Kami menjadi teman, sering berkomunikasi meskipun jarak memisahkan. Cinta ini akan tetap kusimpan. So, semua yang aku lakukan selama ini, dari yang namanya sakit hati sampai seneng kegirangan, itu adalah sebuah perwujudan rasa kasih sayang, Dari Cinta Untuk Cinta.

~~~~Berlanjut di dunia Nyata~~~~
Kawanku.. Cerita ini hanya fiktif belaka  dan hanya hiburan semata, tidak berdasarkan fakta. Mohon maaf dan mohon memaklumi apabila ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa.

~~~Terimakasih~~~


Hehee... untuk cerbung perdana yang ukhty Posting, pasti ceritanya ngawur en nggak nyambung plus bahasanya awut-awutan. maapin yaa...  Ukhty lagi pemula yang benar-benar pemula. dan terima kasiiihh banyak yang udah baca Cerbung Dari Cinta Untuk Cinta ini. heheee.... so, tungguin postingan selanjutnya, ya... matur nuwuuuunn banget.. Salam SEMANGAT ^_^

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 7

Langsung Posting sekaligus deh. Happy reading. :)

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 7
“Umii.. Umiii... aku dimana?” aku terbangun dan ternyata aku sudah dirumah sakit. Ternyata aku kekurangan darah. Bagaimana tidak, aku sering mengeluarkan darah dari hidungku dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku diberi transfusi darah, sebanyak 2 kantong darah bergolongan AB sudah masuk kedalam tubuhku. Dedi sudah menceritakan semua kejadian yang aku alami kepada keluargaku. Aku merasa malu. Hanya karena cinta, aku jadi seperti ini. Seminggu aku dirawat dirumah sakit, Dedi dan Dela yang rutin menemani dan menjagaku. Sehingga aku tidak kesepian. Aku sangat bersyukur memiliki mereka dalam hidupku. Tapi tak kudapati sama sekali Tiar dan Tini menjengukku. ‘bodoh, kamu Rin. Bodooohhh...’ batinku. Betapa bodohnya aku mengharap Tiar dan Tini datang menjengukku.

Aku sudah lumayan pulih, dan diperbolehkan masuk sekolah. Aku senang bukan main, karena dirumah sakit aku hanya bisa tidur. Teman-teman dikelas meyambutku dengan penuh kehangatan. Aku sangat senang saat itu, kehangatan teman-temanku seakan-akan membuatku lupa bahwa aku pulang dari Rumah Sakit. Tidak terkecuali Dela dan Dedi. Mereka sangat membuatku bahagia. Ditengah canda gurau kami, Tini muncul dari pintu dan menghampiriku dengan wajah yang cemberut, “Rin, kamu sakit apa sih? Sorry gak bisa jenguk. Yang penting kamu udah baikan. Aku pergi dulu” Tini pun segera pergi. Aneh sekali, datang-datang langsung nyerocos dan langsung pergi. Aku hanya terdiam mendengarkan Tini dengan penuh keheranan. Tapi, whatever deh.

 Seiring berlalunya Tini, Dedi juga pergi tanpa pamit ke aku dan Dela. “eh, Rin. Ngapain Dedi tuh?” tanya Dela, “ngak tau, Del. Kebelet, kali. haha” kataku gurau. Kamipun melanjutkan obrolan panjang kami mengenai rasanya dirawat dirumah sakit. Tiba-tiba teman-teman lainnya berlarian keluar kelas, kami juga tak ingin ketinggalan. “Dela, ada apa tuh? Liat yuk” ajakku, Delapun hanya mengangguk. Kami pergi melihat kegaduhan yang menghebohkan sekolah, Sepertinya lagi ada yang berkelahi. Dela bertanya pada teman-teman “Eh.. ini siapa yang lagi tengkar? Gak ada kerjaan banget deh!”, “gak tau, tuh. Katanya sih, Tiar sama Dedi gitu” kata teman Dela, “Apa??” Dela terkaget dan berusaha meraih pusat kejadian ditengah kerumunan siswa yang pada bau kecut. Aku tidak tahu apa maksud Dela sebegitu antusiasnya ingin berada di pusat kejadian, dan aku tak tahu kalau yang berkelahi adalah Tiar dan Dedi. Aku yang masih lemas ini juga ikut-ikutan menerobos kerumunan siswa itu. Dan ternyata aku melihat Tiar dan Dedi sudah babak belur, mereka dilerai oleh Dela. “apa ini Ded? Ada apa?” tanyaku khawatir didepan Tiar, “enggak, kok” Dedi langsung pergi dengan mata merahnya sambil menatap Tiar. Dela menyusul Dedi, aku mendekati Tiar yang tak kuat bediri setelah ditendang dan dipukuli Dedi. Aku juga menyusul Dela setelah tau disana ada Tini yang sangat care ke Tiar, “Rinaaa” Tiar memanggilku, tapi aku hanya menoleh dan langsung pergi.

Di UKS Dedi hanya terdiam membisu tidak menghiraukan Dela yang sedang membersihkan luka dan mengompres memar di mukanya. “Dedi, kamu tenangin diri aja dulu disini, meskipun aku nggak tau apa permasalahnnya, kayaknya aku dan Dela harus ninggalin kamu sendiri” aku menarik tangan Dela dan segera pergi meninggalkan Dedi sendiri didalam UKS. Aku mengajak Dela duduk di tepi lapangan Basket tanpa bisa berhenti ngomong,
  “Del, jujur aku marah banget ke Dedi, aku sangat tau Dedi nggak mungkin sebodoh ini ngelakuin
    semua ini. Aku nggak nyangka dia hanya bisa menyelesaikan masalah dengan pikiran sependek ini”
  “Rin” panggil Dela, aku belum bisa berhenti ngomong, “Rina!” Dela membentakku
  “Iya, Dela?” aku melihat Dela yang meneteskan air matanya “kamu nangis?” tanyaku
  “aku nggak tega lihat Dedi babak belur kayak gitu! Ayo kita ke Dedi!” pinta Dela
  “Nggak usah, Del. Biarin Dedi sendirian. Dia butuh renungan, kenapa dia bodoh banget!”
  “Rina!” lagi-lagi Dela membentakku. “kamu tau kenapa Dedi ngelakuin hal bodoh ini? Kamu tau
    Dedi rela hujan-hujanan padahal dia sangat benci hujan? Kamu tau Dedi nggak makan seharian
    hanya untuk nungguin kamu di Rumah Sakit? Apa kamu tau, Rin???” Dela menangis sesenggukan
  “Dela. Apa maksudmu?” tanyaku mencoba mencerna perkataan Dela yang barusaja ia katakan
  “Dia suka sama kamu. Dedi sayang kamu! Dia selalu curhat ke aku, dia selalu khawatirkan kamu ”
  “Tapi, bukannya kamu suka ke Dedi? Dedi kan sayang kamu, Del?” tanyaku lirih
  “iya! Tapi sebagai teman! Kita berteman mulai kelas VII dulu, kamu harus tau itu!” jawabnya sembari membersihkan air matanya. Dan kini gantian aku yang menangis. Aku merasa sangat bingung, “Apa yang harus kulakukan? Benar aku sayang Dedi, tapi hanya sebagai sahabat saja. Aku terlanjur sayang Tiar, Del. Tapi, Umi nggak bolehin aku pacaran. Aku bingung!” aku merengek pada Dela, dela membelai pundakku seolah-olah dia mentransfer energi positif untukku.

-toooeettt ttooeeett- Bel belajar usai telah berbunyi. Saatnya kami pulang. Seperti biasanya, aku pulang berjalan kaki dengan Dedi dan Dela. Tapi untuk kali ini Dela tidak pulang bersama kami, karena ia dijemput mamahnya. Akhirnya, aku pulang berdua dengan Dedi. Ditengah perjalanan, entah kenapa aku merasa sangat canggung, mungkin karena ucapan Dela padaku bahwa Dedi menyukaiku. Ingin sekali aku bertanya, tapi hati ini masih ragu dan belum siap menyakiti hati orang lain. Setelah lama kami berjalan tanpa ngobrol sepatah katapun, aku bertanya tentang keadaan Dedi.
  “emm.. Ded, gimana lukamu? Sakit?”
  “udah nggak terlalu sakit lagi, Rin”
  “owww. Trus, kenapa kamu bisa sampe tengkar sama Tiar?”
  “nggak papa, nyebelin banget Tiar”
  “ooww.. emangnya dia nyebelin kenapa?”
  “uda, dehhh... kamu tanya terus mulai tadi. Cerewet tau!” jawabnya ketus
Akupun terdiam dan melanjutkan berjalan.
  “eh, Rin. Aku boleh tanya nggak?” tanya Dedi
  “iya boleh. Mau tanya aja pake ijin”
  “emm... apa yang kamu suka dari Tiar?”
  “lhooo.. kenapa harus tanya Tiar, sih? Bukannya kamu habis tengkar? Jangan tanya Tiar deh”
  “ayo jawab aja. Cuma pingin tau aja”
  “kenapa sih, kamu tanya Tiar?” kataku sambil mempercepat langkahku.
  “Rin..” Dedi berada di belakangku dan memanggilku
  “apa? Mau tanya Tiar lagi? Sakit banget tau!” kataku sambil menoleh ke belakang
  “aku sayang kamu, Rin. Tidakkah kamu tau itu?” ucap Dedi
  “kamu? Wajar dong, kamu kan sahabat aku!” jawabku sok poos
  “nggak, Rin! Ini nggak ada hubungannya dengan persahabatan kita. Plis, ngertilah Rin!”
 Aku mendekati Dedi, dan aku jelaskan semua yang aku ketahui dan aku rasakan,
  “Ded. Aku tau itu. Tapi, pliss... jangan buat aku menjadi orang yang sangat bersalah untuk kedua
    kalinya. Kamu tau? Cukup sekali aku merasakan cinta, Ded. Cukup sekali aku terluka, cukup
    sekali aku kecewa dan kehilangan. Dan aku mau kita jadi sahabat aja! Karena sahabat itu lebih
    berharga dari apapun. Ngerti Ded? Lagipula, aku nggak mungkin pacaran” aku menegaskannya.
    lalu kamipun melanjutkan perjalanan pulang dengan tenang.

Sesampainya dirumah, “Riiinaaa.... apa kabarmu, dek?” ternyata Mbak Dilma pulang dan segera memelukku. “aaaa... Mbak Dil, kapan sampe rumah? Pulang kok nggak bilang-bilang, sih??”, “udah sekitar sejam yang lalu. Kemaren kamu di Rumah Sakit, Mbak nggak bisa jenguk kamu sayang. Mbak banyak tugas. Maaf yaa”, “Ahh... nggak papa kali, mbak. Ada mbak Dilma saat ini saja membuatku sangat gembira. Dan Mbak Dilma liat sendiri, kan? Aku sehat-sehat aja..” jawabku. Wahh hari ini penuh kejutan untukku. Sahabatku sendiri menyatakan perasaannya padaku, dan Mbak Dilma pulang setelah 1 bulan lamanya belajar alias kuliah. Lengkaplah hari ini.

Hari berganti hari, jam berganti jam, kami semakin sibuk balajar dan mencari sumber atau referensi lain untuk persiapan menghadapi Ujian-ujian yang menunggu kami dihari depannya. Aku dan Dedi sudah sepakat untuk melupakan saat dimana ia menyatakan perasaannya padaku, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar kami. Belajar bersama, refreshing bersama, bermain, makan, ngobrol, bergurau bersama tetap kami lakukan. Dan itu semua membuat persahabatan aku, Dedi dan Dela semakin kental. Juga semua membuat kami tidak sanggup berpisah setelah lulus SMP nanti.

Akupun kini mulai bertekad untuk melupakan Tiar. Tapi, setiap aku berusaha melupakannya, setiap kali juga wajah dengan tatapan khasnya itu  melayang dalam pikiranku. Juga aku sering bertemu dengannya ketika hendak ke Perpustakaan bersama teman-teman. Tapi ada yang aneh, Tiap aku bertemu dengannya, Tiar tak bersama Tini. Tanpa sadarai, Aku sering memperhatikan kesibukan Tiar dan Tini. ‘ah... whatever, lah’ batinku.


                “Assalamualaikum, Ri.. Rina” kudengar suara seseorang memanggilku saat aku sedang membaca buku di Perpus bersama Dedi dan Dela, ku balikkan badanku. Dan ternyata sumber suara itu adalah Tiar, “Walaikumsalam” aku dan teman-teman menjawab salamnya. “eh, Tiar! Ngapain kamu kesini?” Tanya Dedi dengan nada yang tinggi, “Hush.. udahlah Ded” sela Dela.
                “temen-temen, aku mau minta maaf” ucap Tiar,
                “ha? Minta maaf? Nggak salah denger?” Kata Dedi,
                “emmm... coba kita dengerin dia dulu” jawabku, “apa?” cetus aku bertanya,
                “Aku nggak tahan sama keadaan ini, Rin! Aku nggak mau punya musuh, Ded” ujarnya,
                “kenapa kamu nganggap kami musuhmu?” tanya Dela,
                “kamu nggak sadar? apa yang membuat kami bersikap seperti ini sama kamu?” sela Dedi,
                “iya... maka itu aku minta maaf, Dedi” jawab Tiar,
                “Tiar, ngapain kamu disini?” Tiba-tiba Tini berdiri di belakang Tiar,
                “Tini” aku kaget melihatnya dengan wajah yang tetap seperti penuh amarah,
                “eh... kayaknya lebih baik kita keluar aja deh, nggak enak bikin gaduh di Perpus” kata Dela,
aku dan teman-teman juga Tiar dan Tini pergi ke taman belakang perpus untuk mendengar penjelasan Tiar.
                “Tin, sudahlah. Aku udah tau maksud burukmu itu!” kata Tiar,
                “Maa... maksudmu?” jawab Tini terbata-bata,
                “kamu pasti tau, sekarang aku mau kamu minta maaf ke Rina!” utus Tiar,
                “Aku? Apa maksudmu Tiar? Apa yang kamu lakukan Tin?” tanyaku penasaran,
                “Nggak perlu! Kamu nggak perlu tau, Rin. Dan aku nggak perlu Minta maaf! Aku benci
                 kalian semua!” kata Tini yang langsung berlalu meninggalkan kami,
                “sekarang, apa maksudmu yar?” tanya Dela yang juga penasaran,
                “emm... aku yakin suatu saat nanti kalian bisa tau apa maksudku. Dan aku ingin kita
                berteman, tanpa ada kata permusuhan” jawab Tiar,
                “Tiar, kami nggak pernah menganggapmu musuh. Dan tanpa meminta maafpun, kami udah
                 maafin kamu, kok” jawabku
                “Hush, Rin.. kamu, ihhh” Dedi menyenggol lenganku, yang menandakan ia tak suka aku
                  berucap seperti itu,
                “benarkah? Dedi? Dela?” Tanya Tiar untuk meyakinkan,
                “emmmm... sebenarnya iya! Tapi...” ujar Dedi
                “aaaahhh.. Dedi....” kataku dan Dela kompak
Dan untuk hari-hari selanjutnya, tak ada perselisihan diantara kami. Hanya dengan Tini. Tatapannya tetap seperti penuh amarah padaku. Aku merasa bahagia. Semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.

To Be Continue...

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 6

Yuhuuuu.... Part 6 udah muncul. hehe.. llammaaa banget nggak posting. ternyata rencana tamatin nih cerita dibulan Oktober nggak keturutan, sebab pulsa modem habis. hehe... yaudah, nih.. baca yaa.. Happpy Reading :)

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 6
Pagi ini aku diajak mas Joni berlari-lari untuk olah raga di taman kompleks rumahku. Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan Dedi dan Romi yang sedang berolah raga juga, Dedi menyapaku “Haii, Rina. Tumben pagi-pagi olah raga disini kamu?”, “hai Dedi, Romi. Iya nih, biar nggak gemuk. By the way, kamu kok bisa ada disini, sih? Rumahmu kan di kompleks sebelah?” tanyaku, “mmm.. biar nggak bosen, Rin. hehe” jawab Dedi. “eehheemm” mas Joni berdehem, “”Eh.. ada Kak Joni. Apa kabar, nih?” kata Romi, “Baik, kok. Ehem. baik” mas Joni memberi isyarat Romi untuk berlalu duluan. “Eh, mas Jon. Mau kemana?” tanyaku yang tak ingin ditinggal Mas Joni, “dek, aku dan Romi ada kepentingan, nih. Kami duluan, ya. Pulangnya jangan siang-siang, lho” jawab Mas Joni sembari berlalu mendahului kami. Mas Joni dan Romi menghilang di perempatan 3 Blok dari rumahku. Aku dan Dedi berlari kecil dengan suasana yang canggung dan sangat hening. 

  “ehem” suara Dedi memecah keheningan,
  “apa?” jawabku, “eehhmmm. Kamu liburan kemana, Rin?”,
  “aku?? Dirumah aja. Nggak ada tempat yang ingin ku kunjung, Ded”,
  “lho.. kok bisa? Kenapa nggak refreshing aja? Kan sambil menenangkan hati. Ya, nggak?”
  “dipikir-pikir, iya sihh.. tapi kan kita udah refreshing bareng kelas. Lagi pula 5 hari lagi kita udah   
    masuk sekolah”, “ooww” jawabnya dengan singkat. Suasana menjadi hening kembali.

ketika kami berada didepan pintu taman kompleks, Dedi mengajakku untuk istirahat sejenak. Akupun mengiyakan ajakannya, kami duduk dikursi dekat dengan kolam ikan.
  “Eh, Rin. Aku boleh tanya, nggak?” Dedi memulai pembicaraan kami,
  “boleh, dong. Kenapa enggak? Tanya aja!” jawabku santai sambil memperhatikan pancuran air di
    tengah kolam yang terlihat segar,
  “maaf,Rin. Bukannya aku lancang. Eee... eee... emangnya kamu cinta banget ke Tiar?” tanya Dedi
    yang terlihat ada keraguan diwajahnya, “apa??” aku langsung mengalihkan perhatianku ke Dedi,
  “iyaa.. kamu, Rin. Kamu cinta sama Tiar, kan?” tanyanya untuk kedua kalinya,
  “buat apa kamu tanya-tanya itu? Emang ada urusannya sama kamu? Nggak, kan?” aku malah bertanya balik ke Dedi
  “yaa... maaf, Rin. Tapi kamu tadi ngebolehin aku tanya, sekarang aku minta kamu jawab jujur”,
aku terdiam sejenak sambil menatap tajam ke arah bola mata Dedi, aku melihat ada ketulusan di
matanya, sama seperti waktu dia bilang sayang kepadaku,
  “kamu mau aku menjawabnya?”, Dedi mengangguk, aku menjawab sembari menatap langit,
  “Cinta terbesarku hanya untuk Allah semata, yang kedua Nabi Muhammad SAW, lalu keluarga”,
  “lalu Tiar?”, Dedi bertanya lagi
  “emmhhh... Tiar. Dia hanya permata kecil yang sinarnya jatuh dihatiku. Lambat laun, sinar itu pasti
    pudar, dan hilang. Mungkin ini bisa disebut cinta pertama” jawabku,

percakapan kami berlangsung cukup lama, Dedi adalah satu-satunya teman laki-laki yang tau perasaanku ke Tiar. “eehhh.. aku jadi curhat, nih. Sorry, ya”, “nggak papa kali, Rin” sahut Dedi. Tak terasa jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 07.30. Aku dan Dedi segera pulang. Ia mampir kerumahku, karena Romi ada dirumah bersama Mas Joni.

Setelah sampai dirumah, “Ayo, Ded. Masuk dulu. Kali aja Romi ada di taman belakang” ajakku, “eemh. Iya deh”. Kami menuju taman belakang. Disana ada Mas Joni, Romi, dan Aba yang tertawa terpingkal-pingkal di pinggir kolam renang. Entah apa yang dibicarakan mereka, aku tak ingin mengganggu karena sepertinya mereka sedang asik. Aku menyuruh Dedi bergabung dengan mereka, Akupun membantu Umi didapur untuk menyiapkan wejangan kepada tamu kami. Setelah itu, aku membersihkan diri. Dan lagi-lagi aku teringat Tiar.

 Aku terdiam dan duduk didepan cermin. “Rinaa... Rin.. temenmu mau balik, tuh. Cepat turun, gih” panggil Mas Joni yang berdiri dipintu kamarku dan memperhatikanku bercermin. “oke, Mas” aku segera memasang kerudungku dan menuju teman-teman. “Rinaa.. kami pulang dulu, ya! Aku betah dirumahmu, Rin. hehe” Kata Romi cengingisan, “emm. iya, Rin. Boleh dong, kalo kami sering kesini” ujar Dedi. “ehh.. ehh.. ijin aja ke Abah” jawabku, “Abahmu udah ngijinin, kok”, sahut Romi. “aaa.. eemmm... ii. Iya, deh” jawabku dengan ragu. Karena aku jarang menerima tamu laki-laki, malah nggak pernah. Merekapun pulang kerumah masing-masing dengan berlari-lari kecil.

2 hari sebelum aku masuk sekolah, aku mendapatkan informasi dikelas mana aku akan belajar 1 tahun kedepan. Tapi kelas XII ini kami nggak akan setahun penuh. Ternyata aku sekelas dengan Dedi, Dela dan Fitri, teman sekelas yang lumayan akrab denganku.  Aku melihat Umi didapur sedang sibuk menata meja makan untuk makan siang, aku menghampiri beliau, “Assalamualaikum, Umi. Sibuk, nih” sapaku sambil mengambil semangkuk sup yang siap disajikan di meja makan. 
  “walaikumsalam, sini dek. Bantuin Umi”,
  “oke, Umii. Mi, Rina mau tanyak”,
  “iya?” jawab Umi yang sedang terfokus dengan buah jeruk dan semangka yang beliau tata
  “boleh nggak, kalau Rina.... Rinaa... Pa.. pa.. Pacaran?” tanyaku dengan ragu
  “Dek.. fokus belajar aja” jawab Umi dengan singkat
  “tapi Mi, teman-teman Rina pada pacaran, tuh. Masak Rina gak boleh?” bujukku dengan polosnya
  “Pacaran itu sangat merugikan, loh! Kalo belajar, nggak fokus karena mikirin pacar, terus nanti
    pasti bakalan sakit hati alias Broken Heart. Satu lagi, pacaran itu Dosa! Karena mendekati Zinah”
  “oowh.. tapi, Umi...”, “ssuuuttt... Umi udah kasih saran terbaik, lhoh yaa..” kata Umi dengan penuh wibawa. Akupun melanjutkan membantu Umi dengan mulut tertutup, tidak banyak bicara lagi. Aku mencerna apa yang dikatakan Umi padaku. Tersirat sedikit rasa sebal, sih. Tapi pasti Umi ebih berpengalaman dari aku. Akupun berusaha menjadikan ucapan Umi sebagai pegangan hidup.

Hari dimana aku harus memulai pelajaranpun sudah datang. Aku duduk dengan Dela. Dedi duduk dibelakangku. Liburan kenaikan kelas itu membuatku semakin dekat dengan Dedi. Aku, Dedi, dan Dela menjadi 3 serangkai yang sering bersama. Belajar bersama, ngobrol, makan ke kantin, sampai-sampai bepergianpun kami selalu bersama. Rumah kami tidak terlau jauh, hanya bersebelahan kompleks saja. Dela dan Dedi satu kompleks. Kalau berjalan dari rumahku kerumah Dela, hanya butuh waktu 10 menit. Aku sangat klop berteman dengan Dedi dan Dela. Aku curhatnya juga pada mereka. Mereka terbuka padaku, tidak seperti Tini yang menutup dirinya meskipun dia sangat baik padaku.

Aku tahu bahwa Tiar dan Tini memiliki hubungan yang khusus. Aku tidak terlalu menggubris mereka. Tapi satu kejadian yang membuatku sangat patah hati. Seminggu setelah kami masuk dari liburan, aku melihat dan mendengarkan Tiar dan Tini berpegangan tangan. “Tiar, I Love You” ucap Tini. Tiar menjawab “I Love You too”. Saat itu aku berada disamping mereka. Dan aku tahu bahwa Tiar sadar aku ada disamping mereka meskipun tidak terlalu dekat. Tiar mengucapkan kata itu sambil melihat kearahku, tapi tetap berpegangan tangan dengan Tini. Dan aku tak kuat melihat tatapan Tiar saat itu. Betapa bodohnya aku, aku hanya terdiam membisu melihat kemesrahan mereka. Lalu ada Dedi yang menepuk pundakku dari belakang. Aku membalikkan badanku, Dedi melihat mataku berkaca-kaca. Rasanya aku ingin berteriak, agar dunia tau bahwa hatiku sangat saaakiiiit. 

Aku menuju kekamar mandi dan meninggalkan Dedi disana. Seperti biasa, ketika aku berjalan menuju toilet, aku mimisan deras sekali. Aku tak kuat berjalan cepat, sehingga Dedi mampu menyusulku. Dan alhasil, ia melihat hidung dan tanganku penuh darah. “yaampun, Rin... kenapa lagi kamu?? Cepat bersihkan!” kata Dedi. Dedi menungguku sangat lama didepan pintu toilet. Akhirnya aku keluar juga. Ia melihat metaku sembab, dan masih ada sisa darah yang belum ku bersihkan. “Dedi, aku ingin menenangkan diri” ujarku, “iya. Ayo kita ke kelas dulu” jawabnya. Sesampainya di kelas, “Dedi, Dela. Aku hari ini ingin sendiri. Jadi kalian nggak usah dulu kerumahku” kataku. Mereka mengiyakan ucapanku dan hanya bisa melihat iba diriku.

Dirumah, sikapku berbeda sekali dengan biasanya. Aku datang dengan hanya mengucap salam dan langsung masuk kamar. Biasanya aku menyapa semua orang rumah. Umi melihatku dengan penuh tanda tanya. Aku segera membersihkan diri dan Sholat. Setelah itu, aku meminta ijin kepada Aba dan Umi untuk meminjam sepeda motor Aba yang lumayan tinggi bagiku. Aku segera menancap gas menuju bukit di ujung desa modern ini. Aku menyendiri disana. Menangis sekencang-kencangnya, menjerit, melampiaskan semua sakit hatiku. Aku sangat frustasi, melebihi saat aku dihujat oleh Tini, sahabatku sendiri. Aku cukup lama berdiam diri disana. Aku tidak membawa hape saat itu. Sehingga  keluarga dirumah khawatir tentang keadaanku dan keberadaanku. Mas Joni mencariku kemana-mana, dengan mengajak Dedi. Karena Dedilah yang sering menjadi teman keseharianku. Sudah hampir 4 jam aku duduk sendiri di bukit itu. Angin kencang dan hujan deras menghantam tubuh kurusku. Akhirnya Mas Joni dan Dedi menemukanku. Mas Joni memarahiku habis-habisan, aku terdiam dan kemudian aku menangis sekencang-kencangnya dipelukan Mas Joni. Lalu kami pulang dengan tubuh yang basah kuyub. Ternyata Dela juga menungguku dirumah. Sesampainya dirumah, aku melihat pintu rumahku bergerak-gerak. Juga semua yang kulihat terlihat berputar. Jebrukk! Aku pingsan.

To be Continue...