Langsung Posting sekaligus deh. Happy reading. :)
Dari Cinta untuk Cinta ~~ Part 7
“Umii.. Umiii...
aku dimana?” aku terbangun dan ternyata aku sudah dirumah sakit. Ternyata aku
kekurangan darah. Bagaimana tidak, aku sering mengeluarkan darah dari hidungku
dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku diberi transfusi darah, sebanyak 2 kantong
darah bergolongan AB sudah masuk kedalam tubuhku. Dedi sudah menceritakan semua
kejadian yang aku alami kepada keluargaku. Aku merasa malu. Hanya karena cinta,
aku jadi seperti ini. Seminggu aku dirawat dirumah sakit, Dedi dan Dela yang
rutin menemani dan menjagaku. Sehingga aku tidak kesepian. Aku sangat bersyukur
memiliki mereka dalam hidupku. Tapi tak kudapati sama sekali Tiar dan Tini
menjengukku. ‘bodoh, kamu Rin. Bodooohhh...’ batinku. Betapa bodohnya aku
mengharap Tiar dan Tini datang menjengukku.
Aku sudah
lumayan pulih, dan diperbolehkan masuk sekolah. Aku senang bukan main, karena
dirumah sakit aku hanya bisa tidur. Teman-teman dikelas meyambutku dengan penuh
kehangatan. Aku sangat senang saat itu, kehangatan teman-temanku seakan-akan
membuatku lupa bahwa aku pulang dari Rumah Sakit. Tidak terkecuali Dela dan
Dedi. Mereka sangat membuatku bahagia. Ditengah canda gurau kami, Tini muncul
dari pintu dan menghampiriku dengan wajah yang cemberut, “Rin, kamu sakit apa
sih? Sorry gak bisa jenguk. Yang penting kamu udah baikan. Aku pergi dulu” Tini
pun segera pergi. Aneh sekali, datang-datang langsung nyerocos dan langsung
pergi. Aku hanya terdiam mendengarkan Tini dengan penuh keheranan. Tapi, whatever deh.
Seiring berlalunya Tini,
Dedi juga pergi tanpa pamit ke aku dan Dela. “eh, Rin. Ngapain Dedi tuh?” tanya
Dela, “ngak tau, Del. Kebelet, kali. haha” kataku gurau. Kamipun melanjutkan
obrolan panjang kami mengenai rasanya dirawat dirumah sakit. Tiba-tiba
teman-teman lainnya berlarian keluar kelas, kami juga tak ingin ketinggalan.
“Dela, ada apa tuh? Liat yuk” ajakku, Delapun hanya mengangguk. Kami pergi
melihat kegaduhan yang menghebohkan sekolah, Sepertinya lagi ada yang
berkelahi. Dela bertanya pada teman-teman “Eh.. ini siapa yang lagi tengkar?
Gak ada kerjaan banget deh!”, “gak tau, tuh. Katanya sih, Tiar sama Dedi gitu”
kata teman Dela, “Apa??” Dela terkaget dan berusaha meraih pusat kejadian
ditengah kerumunan siswa yang pada bau kecut. Aku tidak tahu apa maksud Dela
sebegitu antusiasnya ingin berada di pusat kejadian, dan aku tak tahu kalau
yang berkelahi adalah Tiar dan Dedi. Aku yang masih lemas ini juga ikut-ikutan
menerobos kerumunan siswa itu. Dan ternyata aku melihat Tiar dan Dedi sudah
babak belur, mereka dilerai oleh Dela. “apa ini Ded? Ada apa?” tanyaku khawatir
didepan Tiar, “enggak, kok” Dedi langsung pergi dengan mata merahnya sambil
menatap Tiar. Dela menyusul Dedi, aku mendekati Tiar yang tak kuat bediri
setelah ditendang dan dipukuli Dedi. Aku juga menyusul Dela setelah tau disana
ada Tini yang sangat care ke Tiar, “Rinaaa” Tiar memanggilku, tapi aku hanya
menoleh dan langsung pergi.
Di UKS Dedi
hanya terdiam membisu tidak menghiraukan Dela yang sedang membersihkan luka dan
mengompres memar di mukanya. “Dedi, kamu tenangin diri aja dulu disini,
meskipun aku nggak tau apa permasalahnnya, kayaknya aku dan Dela harus
ninggalin kamu sendiri” aku menarik tangan Dela dan segera pergi meninggalkan
Dedi sendiri didalam UKS. Aku mengajak Dela duduk di tepi lapangan Basket tanpa
bisa berhenti ngomong,
“Del, jujur aku marah banget ke Dedi, aku sangat tau Dedi nggak mungkin sebodoh ini ngelakuin
semua ini. Aku nggak nyangka dia hanya bisa menyelesaikan masalah dengan pikiran sependek ini”
“Rin” panggil Dela, aku belum bisa berhenti ngomong, “Rina!” Dela membentakku
“Iya, Dela?” aku melihat Dela yang meneteskan air matanya “kamu nangis?” tanyaku
“aku nggak tega lihat Dedi babak belur kayak gitu! Ayo kita ke Dedi!” pinta Dela
“Nggak usah, Del. Biarin Dedi sendirian. Dia butuh renungan, kenapa dia bodoh banget!”
“Rina!” lagi-lagi Dela membentakku. “kamu tau kenapa Dedi ngelakuin hal bodoh ini? Kamu tau
Dedi rela hujan-hujanan padahal dia sangat benci hujan? Kamu tau Dedi nggak makan seharian
hanya untuk nungguin kamu di Rumah Sakit? Apa kamu tau, Rin???” Dela menangis sesenggukan
“Dela. Apa maksudmu?” tanyaku mencoba mencerna perkataan Dela yang barusaja ia katakan
“Dia suka sama kamu. Dedi sayang kamu! Dia selalu curhat ke aku, dia selalu khawatirkan kamu ”
“Tapi, bukannya kamu suka ke Dedi? Dedi kan sayang kamu, Del?” tanyaku lirih
“iya! Tapi sebagai teman! Kita berteman mulai kelas VII dulu, kamu harus tau itu!” jawabnya sembari membersihkan air matanya. Dan kini gantian aku yang menangis. Aku merasa sangat bingung, “Apa yang harus kulakukan? Benar aku sayang Dedi, tapi hanya sebagai sahabat saja. Aku terlanjur sayang Tiar, Del. Tapi, Umi nggak bolehin aku pacaran. Aku bingung!” aku merengek pada Dela, dela membelai pundakku seolah-olah dia mentransfer energi positif untukku.
“Del, jujur aku marah banget ke Dedi, aku sangat tau Dedi nggak mungkin sebodoh ini ngelakuin
semua ini. Aku nggak nyangka dia hanya bisa menyelesaikan masalah dengan pikiran sependek ini”
“Rin” panggil Dela, aku belum bisa berhenti ngomong, “Rina!” Dela membentakku
“Iya, Dela?” aku melihat Dela yang meneteskan air matanya “kamu nangis?” tanyaku
“aku nggak tega lihat Dedi babak belur kayak gitu! Ayo kita ke Dedi!” pinta Dela
“Nggak usah, Del. Biarin Dedi sendirian. Dia butuh renungan, kenapa dia bodoh banget!”
“Rina!” lagi-lagi Dela membentakku. “kamu tau kenapa Dedi ngelakuin hal bodoh ini? Kamu tau
Dedi rela hujan-hujanan padahal dia sangat benci hujan? Kamu tau Dedi nggak makan seharian
hanya untuk nungguin kamu di Rumah Sakit? Apa kamu tau, Rin???” Dela menangis sesenggukan
“Dela. Apa maksudmu?” tanyaku mencoba mencerna perkataan Dela yang barusaja ia katakan
“Dia suka sama kamu. Dedi sayang kamu! Dia selalu curhat ke aku, dia selalu khawatirkan kamu ”
“Tapi, bukannya kamu suka ke Dedi? Dedi kan sayang kamu, Del?” tanyaku lirih
“iya! Tapi sebagai teman! Kita berteman mulai kelas VII dulu, kamu harus tau itu!” jawabnya sembari membersihkan air matanya. Dan kini gantian aku yang menangis. Aku merasa sangat bingung, “Apa yang harus kulakukan? Benar aku sayang Dedi, tapi hanya sebagai sahabat saja. Aku terlanjur sayang Tiar, Del. Tapi, Umi nggak bolehin aku pacaran. Aku bingung!” aku merengek pada Dela, dela membelai pundakku seolah-olah dia mentransfer energi positif untukku.
-toooeettt
ttooeeett- Bel belajar usai telah berbunyi. Saatnya kami pulang. Seperti
biasanya, aku pulang berjalan kaki dengan Dedi dan Dela. Tapi untuk kali ini
Dela tidak pulang bersama kami, karena ia dijemput mamahnya. Akhirnya, aku
pulang berdua dengan Dedi. Ditengah perjalanan, entah kenapa aku merasa sangat
canggung, mungkin karena ucapan Dela padaku bahwa Dedi menyukaiku. Ingin sekali
aku bertanya, tapi hati ini masih ragu dan belum siap menyakiti hati orang
lain. Setelah lama kami berjalan tanpa ngobrol sepatah katapun, aku bertanya
tentang keadaan Dedi.
“emm.. Ded, gimana lukamu? Sakit?”
“udah nggak terlalu sakit lagi, Rin”
“owww. Trus, kenapa kamu bisa sampe tengkar sama Tiar?”
“nggak papa, nyebelin banget Tiar”
“ooww.. emangnya dia nyebelin kenapa?”
“uda, dehhh... kamu tanya terus mulai tadi. Cerewet tau!” jawabnya ketus
Akupun terdiam dan melanjutkan berjalan.
“eh, Rin. Aku boleh tanya nggak?” tanya Dedi
“iya boleh. Mau tanya aja pake ijin”
“emm... apa yang kamu suka dari Tiar?”
“lhooo.. kenapa harus tanya Tiar, sih? Bukannya kamu habis tengkar? Jangan tanya Tiar deh”
“ayo jawab aja. Cuma pingin tau aja”
“kenapa sih, kamu tanya Tiar?” kataku sambil mempercepat langkahku.
“Rin..” Dedi berada di belakangku dan memanggilku
“apa? Mau tanya Tiar lagi? Sakit banget tau!” kataku sambil menoleh ke belakang
“aku sayang kamu, Rin. Tidakkah kamu tau itu?” ucap Dedi
“kamu? Wajar dong, kamu kan sahabat aku!” jawabku sok poos
“nggak, Rin! Ini nggak ada hubungannya dengan persahabatan kita. Plis, ngertilah Rin!”
Aku mendekati Dedi, dan aku jelaskan semua yang aku ketahui dan aku rasakan,
“Ded. Aku tau itu. Tapi, pliss... jangan buat aku menjadi orang yang sangat bersalah untuk kedua
kalinya. Kamu tau? Cukup sekali aku merasakan cinta, Ded. Cukup sekali aku terluka, cukup
sekali aku kecewa dan kehilangan. Dan aku mau kita jadi sahabat aja! Karena sahabat itu lebih
berharga dari apapun. Ngerti Ded? Lagipula, aku nggak mungkin pacaran” aku menegaskannya.
lalu kamipun melanjutkan perjalanan pulang dengan tenang.
“emm.. Ded, gimana lukamu? Sakit?”
“udah nggak terlalu sakit lagi, Rin”
“owww. Trus, kenapa kamu bisa sampe tengkar sama Tiar?”
“nggak papa, nyebelin banget Tiar”
“ooww.. emangnya dia nyebelin kenapa?”
“uda, dehhh... kamu tanya terus mulai tadi. Cerewet tau!” jawabnya ketus
Akupun terdiam dan melanjutkan berjalan.
“eh, Rin. Aku boleh tanya nggak?” tanya Dedi
“iya boleh. Mau tanya aja pake ijin”
“emm... apa yang kamu suka dari Tiar?”
“lhooo.. kenapa harus tanya Tiar, sih? Bukannya kamu habis tengkar? Jangan tanya Tiar deh”
“ayo jawab aja. Cuma pingin tau aja”
“kenapa sih, kamu tanya Tiar?” kataku sambil mempercepat langkahku.
“Rin..” Dedi berada di belakangku dan memanggilku
“apa? Mau tanya Tiar lagi? Sakit banget tau!” kataku sambil menoleh ke belakang
“aku sayang kamu, Rin. Tidakkah kamu tau itu?” ucap Dedi
“kamu? Wajar dong, kamu kan sahabat aku!” jawabku sok poos
“nggak, Rin! Ini nggak ada hubungannya dengan persahabatan kita. Plis, ngertilah Rin!”
Aku mendekati Dedi, dan aku jelaskan semua yang aku ketahui dan aku rasakan,
“Ded. Aku tau itu. Tapi, pliss... jangan buat aku menjadi orang yang sangat bersalah untuk kedua
kalinya. Kamu tau? Cukup sekali aku merasakan cinta, Ded. Cukup sekali aku terluka, cukup
sekali aku kecewa dan kehilangan. Dan aku mau kita jadi sahabat aja! Karena sahabat itu lebih
berharga dari apapun. Ngerti Ded? Lagipula, aku nggak mungkin pacaran” aku menegaskannya.
lalu kamipun melanjutkan perjalanan pulang dengan tenang.
Sesampainya
dirumah, “Riiinaaa.... apa kabarmu, dek?” ternyata Mbak Dilma pulang dan segera
memelukku. “aaaa... Mbak Dil, kapan sampe rumah? Pulang kok nggak
bilang-bilang, sih??”, “udah sekitar sejam yang lalu. Kemaren kamu di Rumah
Sakit, Mbak nggak bisa jenguk kamu sayang. Mbak banyak tugas. Maaf yaa”,
“Ahh... nggak papa kali, mbak. Ada mbak Dilma saat ini saja membuatku sangat
gembira. Dan Mbak Dilma liat sendiri, kan? Aku sehat-sehat aja..” jawabku. Wahh
hari ini penuh kejutan untukku. Sahabatku sendiri menyatakan perasaannya
padaku, dan Mbak Dilma pulang setelah 1 bulan lamanya belajar alias kuliah.
Lengkaplah hari ini.
Hari berganti
hari, jam berganti jam, kami semakin sibuk balajar dan mencari sumber atau
referensi lain untuk persiapan menghadapi Ujian-ujian yang menunggu kami dihari
depannya. Aku dan Dedi sudah sepakat untuk melupakan saat dimana ia menyatakan
perasaannya padaku, sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar kami. Belajar
bersama, refreshing bersama, bermain, makan, ngobrol, bergurau bersama tetap
kami lakukan. Dan itu semua membuat persahabatan aku, Dedi dan Dela semakin
kental. Juga semua membuat kami tidak sanggup berpisah setelah lulus SMP nanti.
Akupun kini
mulai bertekad untuk melupakan Tiar. Tapi, setiap aku berusaha melupakannya,
setiap kali juga wajah dengan tatapan khasnya itu melayang dalam pikiranku. Juga aku sering
bertemu dengannya ketika hendak ke Perpustakaan bersama teman-teman. Tapi ada
yang aneh, Tiap aku bertemu dengannya, Tiar tak bersama Tini. Tanpa sadarai,
Aku sering memperhatikan kesibukan Tiar dan Tini. ‘ah... whatever, lah’
batinku.
“Assalamualaikum,
Ri.. Rina” kudengar suara seseorang memanggilku saat aku sedang membaca buku di
Perpus bersama Dedi dan Dela, ku balikkan badanku. Dan ternyata sumber suara
itu adalah Tiar, “Walaikumsalam” aku dan teman-teman menjawab salamnya. “eh,
Tiar! Ngapain kamu kesini?” Tanya Dedi dengan nada yang tinggi, “Hush.. udahlah
Ded” sela Dela.
“temen-temen, aku mau minta maaf” ucap Tiar,
“ha? Minta maaf? Nggak salah denger?” Kata Dedi,
“emmm... coba kita dengerin dia dulu” jawabku, “apa?” cetus aku bertanya,
“Aku nggak tahan sama keadaan ini, Rin! Aku nggak mau punya musuh, Ded” ujarnya,
“kenapa kamu nganggap kami musuhmu?” tanya Dela,
“kamu nggak sadar? apa yang membuat kami bersikap seperti ini sama kamu?” sela Dedi,
“iya... maka itu aku minta maaf, Dedi” jawab Tiar,
“Tiar, ngapain kamu disini?” Tiba-tiba Tini berdiri di belakang Tiar,
“Tini” aku kaget melihatnya dengan wajah yang tetap seperti penuh amarah,
“eh... kayaknya lebih baik kita keluar aja deh, nggak enak bikin gaduh di Perpus” kata Dela,
aku dan teman-teman juga Tiar dan Tini pergi ke taman belakang perpus untuk mendengar penjelasan Tiar.
“Tin, sudahlah. Aku udah tau maksud burukmu itu!” kata Tiar,
“Maa... maksudmu?” jawab Tini terbata-bata,
“kamu pasti tau, sekarang aku mau kamu minta maaf ke Rina!” utus Tiar,
“Aku? Apa maksudmu Tiar? Apa yang kamu lakukan Tin?” tanyaku penasaran,
“Nggak perlu! Kamu nggak perlu tau, Rin. Dan aku nggak perlu Minta maaf! Aku benci
kalian semua!” kata Tini yang langsung berlalu meninggalkan kami,
“sekarang, apa maksudmu yar?” tanya Dela yang juga penasaran,
“emm... aku yakin suatu saat nanti kalian bisa tau apa maksudku. Dan aku ingin kita
berteman, tanpa ada kata permusuhan” jawab Tiar,
“Tiar, kami nggak pernah menganggapmu musuh. Dan tanpa meminta maafpun, kami udah
maafin kamu, kok” jawabku
“Hush, Rin.. kamu, ihhh” Dedi menyenggol lenganku, yang menandakan ia tak suka aku
berucap seperti itu,
“benarkah? Dedi? Dela?” Tanya Tiar untuk meyakinkan,
“emmmm... sebenarnya iya! Tapi...” ujar Dedi
“aaaahhh.. Dedi....” kataku dan Dela kompak
Dan untuk hari-hari selanjutnya, tak ada perselisihan diantara kami. Hanya dengan Tini. Tatapannya tetap seperti penuh amarah padaku. Aku merasa bahagia. Semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
“temen-temen, aku mau minta maaf” ucap Tiar,
“ha? Minta maaf? Nggak salah denger?” Kata Dedi,
“emmm... coba kita dengerin dia dulu” jawabku, “apa?” cetus aku bertanya,
“Aku nggak tahan sama keadaan ini, Rin! Aku nggak mau punya musuh, Ded” ujarnya,
“kenapa kamu nganggap kami musuhmu?” tanya Dela,
“kamu nggak sadar? apa yang membuat kami bersikap seperti ini sama kamu?” sela Dedi,
“iya... maka itu aku minta maaf, Dedi” jawab Tiar,
“Tiar, ngapain kamu disini?” Tiba-tiba Tini berdiri di belakang Tiar,
“Tini” aku kaget melihatnya dengan wajah yang tetap seperti penuh amarah,
“eh... kayaknya lebih baik kita keluar aja deh, nggak enak bikin gaduh di Perpus” kata Dela,
aku dan teman-teman juga Tiar dan Tini pergi ke taman belakang perpus untuk mendengar penjelasan Tiar.
“Tin, sudahlah. Aku udah tau maksud burukmu itu!” kata Tiar,
“Maa... maksudmu?” jawab Tini terbata-bata,
“kamu pasti tau, sekarang aku mau kamu minta maaf ke Rina!” utus Tiar,
“Aku? Apa maksudmu Tiar? Apa yang kamu lakukan Tin?” tanyaku penasaran,
“Nggak perlu! Kamu nggak perlu tau, Rin. Dan aku nggak perlu Minta maaf! Aku benci
kalian semua!” kata Tini yang langsung berlalu meninggalkan kami,
“sekarang, apa maksudmu yar?” tanya Dela yang juga penasaran,
“emm... aku yakin suatu saat nanti kalian bisa tau apa maksudku. Dan aku ingin kita
berteman, tanpa ada kata permusuhan” jawab Tiar,
“Tiar, kami nggak pernah menganggapmu musuh. Dan tanpa meminta maafpun, kami udah
maafin kamu, kok” jawabku
“Hush, Rin.. kamu, ihhh” Dedi menyenggol lenganku, yang menandakan ia tak suka aku
berucap seperti itu,
“benarkah? Dedi? Dela?” Tanya Tiar untuk meyakinkan,
“emmmm... sebenarnya iya! Tapi...” ujar Dedi
“aaaahhh.. Dedi....” kataku dan Dela kompak
Dan untuk hari-hari selanjutnya, tak ada perselisihan diantara kami. Hanya dengan Tini. Tatapannya tetap seperti penuh amarah padaku. Aku merasa bahagia. Semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment