Assalamualaikum.. sudah lama sekali, ane ndk negpost di blog ini lagi. alhamdulillah pos kali ini ane mempersembahkan sebuah ungkapan hati seorang akhwat yang InsyaAllah tangguh.
langsung aja silahkan baca, ya.. maap kalo agak garing. yang penting ntar teman2 bisa ngerti makna dr cerpen ini.. Selamat Membaca..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
My Hijab is My Beauty
CANTIK, adalah sebuah kata yang
didalamnya mengandung banyak makna dan selalu diinginkan wanita, Tapi cantik
itu ~kata orang-orang sekarang, sih~ relatif, cantik dilihat dari mananya dulu,
dari hati kah? Tingkah laku? pemikiran? Atau penampilannya? Aku juga ingin
cantik, tapi sejauh manakah usahaku untuk menjadi cantik?
Sebelumnya, izinkan daku
memperkenalkan diri dulu ya pemirsaahh.. Aku Fajrian Dwi Anggraeni, Kalau
dirumah dipanggil Reni, kalau di lingkungan sekolah or kampus, aku dipanggil
Fajrin. Tapi dibalik itu, aku juga punya banyak julukan, nggak perlu ku sebutin
satu-satu ya.. hihi.
Aku mulai mengenal kerudung, ketika
kelas 4 SD dimana saat itu juga Mbakku bernadzar kalau sudah SMP, mulai hari
pertama sekolah ingin memakai kerudung, dan akupun mulai memakainya sampai
sekarang, dengan ukuran yang bertahap yang InSyaaAllah semakin Syar’i
beriringan dengan bertambahnya usiaku.
Persepsiku mengenai Hijab mulai dari
aku SD sampai awal SMP yaitu, hijab hanyalah sebatas penutup kepala. Sebagai
kaum minoritas di sekolahku, aku merasa kurang PD dengan penampilanku yang
berbeda dari kebanyakan siswa disekolahku ~yang kebanyakan tidak menggunakan kerudung~.
Meskipun begitu, aku tidak ingin menutup diri dengan ketidak PDanku saat itu.
Jadi hal yang bisa ku lakukan adalah menyesuaikan dengan tingkah laku. Aku
menyesuaikan diri dengan teman-teman disekitarku.
Ketika
aku duduk di Jenjang SMP dan SMA, Banyak orang ~yang belum kenal aku banget~
bilang kalau Fajrin itu kalem, lembut, pendiam, dan berbagai kata-kata yang
membuat kepalaku membesar. Mereka hanya melihat dari sudut pandang fisikku saja
~mungkin~. Entah mengapa saat itu aku agak merasa kurang pas karena mereka
hanya menilaiku dari segi fisik, yang hanya terlihat dari luar saja, karena aku
juga mempunyai sisi yang tidak terlihat, yang mungkin tidak disukai orang lain.
Disaat itulah masa pencarian jati
diriku dimulai. Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada kedua orang
tuaku yang tak jarang melarangku melakukan sesuatu yang menurutku asik dan
menyenangkan. aku juga ingin mencoba hal-hal baru hasil dari rasa penasaranku
yang mustahil aku lakukan. “bagaimana ya, rasanya melepas hijab dan bergaya
seperti orang-orang tak berjilbab?” saat itu terlintas dalam pikiranku bahwa orang
yang tidak berjilbab itu terlihat easy going, nggak kaku, dan menjalani
kehidupan tanpa ada batasan-batasan yang terlalu mengekang.
Membandingkan
diri dengan orang lain adalah suatu pemikiran yang panjang dan rumit, terutama
membandingkan diriku dengan laki-laki, dan terselip rasa ‘dengki’ disana.
Astaghfirullah hal‘adzim. “enak, ya jadi laki-laki. Mereka bebas melakukan hal
yang mereka inginkan. Kebanyakan pemimpin itu laki-laki. Mereka kuat dan
berani. Coba kalau aku, nggak boleh ini lah, nggak boleh itu lah, harus lembut,
feminim, dan kalem.” Dan banyak lagi
pernyataan-pernyataan yang membuat aku menjadi seorang yang tidak berdaya dan
tidak punya apa-apa di dunia ini.
Sedih
ketika melihat teman mendapatkan kejuaraan lomba, “kenapa bukan aku?”. Menyesal
ketika melakukan hal yang ~katanya~ nggak boleh dilakuin wanita, “coba kalau
aku laki-laki, pasti bisa ini itu”. Minder ketika melihat teman-teman berbangga
diri berkarya, “aku ini apa? Nggak mungkin bisa aku melakukan itu”.
Tapi
aku berusaha nggak mau kalah sama pikiranku, melalui mencoba memuaskan rasa
penasaranku dengan melakukan hal-ha yang aku ingin lakukan. Bermusik? It’s
okay, meskipun semua partnerku laki-laki, dan aku perempuan sendiri. Sempat
berpikir, “apa kata orang? Aku berkerudung, dan perkumpulanku adalah para
lelaki yang ~kata orang sekarang~ nge-PUNK”. Travelling? Aku juga melakukan hal
asik ini. itung-itung sambil tadabbur alam untuk menambah rasa bersyukurku
kepada sang Maha Pencipta. Dan salah satu hal lagi yang sangat membuatku bangkit
dan mengerti, Pemimpin organisasi? Disini aku berpikir, apakah boleh seorang
perempuan menjadi pemimpin sebuah organisasi? Tapi aku tak bisa menghindarinya,
karena aku sudah terpilih dan tak mungkin aku mengundurkan diri setelah melalui
proses yang nggak begitu mudah. So, aku jalani saja dan mengikuti alurnya.
Dari
pengalaman-pengalaman yang telah kulalui, ternyata berlanjut sampai sekarang.
Mungkin pengalamanku sudah menjadi pegangan hidup dan membentuk aku menjadi
seperti ini, jadi aku tak bisa move on dari pengalamanku. Sampai sekarangpun
aku tetap bermusik, tapi sekarang berbeda. Partnerku bukan anak laki-laki lagi,
apa lagi Punk, tapi mbak-mbak kalem yang hobi bermusik juga kayak aku. Sama
dengan bermusik, akupun melanjutkan kepemimpinanku dalam organisasi. Sebenarnya
ingin istirahat dari kesibukan yang beginian, tapi tetap saja aku tak bisa
menghindarinya. Tapi yang sedikit aku kurangi adalah hobi travellingku, ini
kuganti dengan kesibukan merajut, membuat tas atau dompet lalu dijual, dan
menulis cerita-cerita seperti sekarang ini.
Pernah
suatu hari teman kampusku bertanya padaku, “Fajrin, kamu ini muslimah tapi kok
nggak enak diam ya? Sukanya seliweran kesana kemari, ngurus ini itu. Yang
paling aku heranin itu, kok bisa-bisanya mainin gitar dengan penampilanmu
seperti ini? kerudung lebar?” aku diam sejenak, mencerna pertanyaan dari
temanku ini. Tapi hanya ku jawab dengan santai, inilah aku. Sekeras apapun aku memaksa diri untuk melakukan
aktifitas yang lebih kalem dan melakukan hobiku, tetap saja aku tidak bisa
menghindarinya.
Dengan
segala kemampuanku yang berasal dari pengalaman, aku berusaha untuk nggak
melupakan hijab yang tiap hari kukenakan, dan kewajiban-kewajiban seorang
muslimah. Aku menemukan jati diriku,aku adalah seorang muslim yang harus
berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW, seorang muslimah yang
harus berhijab.
Hijab inilah yang sampai saat ini menjauhkanku
dari segala bentuk kemaksiatan, yang menjagaku untuk tetap berfikir positif
terhadap segala hal. Yang selalu mendekatkan aku pada kebaikan-kebaikan. Dan
yang membuatku bertemu dengan ikhwah, kami bersama-sama menjalin Ukhuwah
Fillah. Meskipun banyak ocehan-ocehan yang tak berkenan dihati yang sering
muncul dari mulut-mulut mungil orang-orang yang tidak memahami diriku.
Aku
ingin menunjukkan kepada dunia, paling tidak kepada orang-orang disekitarku
dulu. Bahwa seorang yang berkerudung lebar itu tidak menakutkan, tidak kaku,
tidak mengisolasi diri dari masyarakat, dan tentunya bukan TERORIS! Aku ingin
menunjukkan kepada mereka yang selalu berfikir negatif terhadap muslimah, bahwa
kami bisa menjadi seseorang yang disegani, kami bisa menjadi lebih baik dari
mereka, kami bisa menjadi apapun yang kami inginkan dengan tetap memegang teguh
ajaran Fiqh-fiqh dalam islam.
Seperti
itulah aku menjalani hidup ini dengan hijabku. Dengan berbagai macam ujian
kehidupan, Allah memberiku kebahagiaan untuk menguji syukurku, Allah memberi
kesulitan untuk menguji sabarku. Aku jalani semua itu dengan hijabku, dan aku tidak
merasa terbebani dengan hijab lebarku. Karena Hijab, hidupku indah karena
hijab. Hidupku asik, karena hijab. Tapi yang harus diketahui juga, dibalik
hijab itu ada Islam rahmatan lil’alamin yang menjadi peganganku. Dan karena
itulah, aku yakin aku cantik meskipun tiap hari banyak keringat menempel di
mukaku.
Kami
cantik bukan karena make up, tapi kami cantik karena cahaya Ilahi menyinari
kami. Hai Muslimah, don’t worry about your hijab. Just show your self to the
world, that you’re beautiful and you can shining thins world with your hijab.