Sebenarnya aku lumayan lelah menjadi fajrin.
Sebenarnya aku bingung dengan diriku sendiri.
Hanya saja aku terlalu sering berdiri didepan teman2 sebagai si pembawa sial, aku merasa diriku sperti itu pada saat2 tertentu.
Saat2 itu, Aq berdiri dg perkataan maaf yg tiada henti, dan penjelasan yg mungkin bisa diterima sebagian teman2, mungkin juga tidak.
Selepas aku berdiri didepan mreka, lalu aku duduk dan terdiam, sampai merunduk. Ditengah tindakanku kadang aku meneteskan percikan air mata yang tak terlihat oleh mereka.
Lalu aku paksakan menghadap ke depan, dgn senyuman yang ku paksakan keluar dari sudut bibirku.
Disaat iu aku ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan kpd teman2.
Ingiiiiiiinnn sekali mreka tau apa yg terjadi dg jantungku yg berdegup kencang, dg otakku yg tak berhenti memutar memori suram dn berpikir keras, dg hatiku yg tak rela kalau aku diam sperti ini.
Tapi tubuhku merespon berbeda. Mulutmu hanya terdiam dan hanya bisa mengatakn "maaf" bila ada yg bertanya dn menghujat.
Mataku hanya bisa menatap sedih pada org yg tak mengerti diriku.
Dan hatiku hanya bisa menuruti apa yg tubuhku kerjakan.
"Sabar nggeh Fa, InsyaAllah mereka paham keadaanmu" itu yg nurani terdalam dihatiku katakan..
Aku manut saja.. Selalu sabar dan sabar..
Ndak papa, semua harus terjadi seperti ini..
Ndak papa.. Hanya bersabar sja sudh cukup memuaskan..