Monday, October 14, 2013

Dari Cinta Untuk Cinta ~~ Part 1

Assalamualaikum.. kayaknya lumayan lama aku nggak ngepost. lagi nyari inspirasi nih. Ada cerbung, nih. ni kisah ke dua yang aku buat. aku disini masih pemula, so kalo ada kritik n saran buat aku, monggo dipersilahkan. matur nuwuunn... :)


Dari Cinta Untuk Cinta
Part 1



Hai.. Kenalin, namaku Rina. Aku dikelilingi orang-orang yang sangat sayang padaku, begitu juga aku yang sangat menyayangi mereka. Tapi aku belum tau pasti seseorang yang sangat aku sayangi sayang juga kepadaku. Aku tinggal disebuah desa dengan model yang cukup modern yang lengkap dengan fasilitasnya. Keluargaku sangat sayang juga kepadaku. Tapi aku paling ga suka kalau udah dibanding-bandingin sama kakak tertuaku, mbak Dilma. Aku anak terkhir dari 3 bersaudara. Kakak keduaku, mas Joni yang paliiing cakep. Mas Joni ini yang selalu menjadi teman curhatku ketika aku sedang merasa kasmaran. Dan mbak Dilma selalu memberiku nasihat yang sangat bermanfaat bagiku mengenai ilmu Falsafah dalam hidup. Aku sangat sayang mereka. Untuk menghilangkan beban di pundakku ini, Aku ingin berbagi cerita mengharukan plus Seru mengenai perjalanan hidupku yang penuh dengan misteri cinta dan berliku-liku. Simak baik-baik ya....

Awal aku mengenal cinta, disaat aku duduk di kelas VIII SMP. Karena pada saat itu pula aku tumbuh menjadi seorang remaja yang polos. Dengan penampilan khas dariku, berkerudung dan baju yang selalu kegedean, semua orang bisa mengenali diriku dengan mudah. Termasuk dia, yang selalu mengenaliku meskipun aku didalam mimpinya aku menjadi seorang cowboy. Hehe... Aku duduk dengan seorang anak yang selalu berhati-hati dengan penampilannya, ia tak mau terlihat jelek dimata orang. Dia adalah Tini yang juga menjadi teman dekat sekaligus teman curhatku saat itu. Aku selalu berbagi dengannya, tapi Tini tak selalu berbagi denganku. Tapi Tini tetap baik kok. Aku suka..

Di kelas VIII itu, aku aktif di berbagai kegiatan disekolah, meskipun badanku kurus seperti orang tak bertenaga, tapi percayalah aku orang yang sangat suka dengan kesibukan. Aku ikut serta dalam kegiatan PMR, OSIS, REMUSH, Pencak Silat, dan Musik. Banyak sekali kan?? Andai saja ini bisa masuk dalam rekor muri, aku pasti akan kaya... banyak uang... minta ini, minta itu, semua ada... waaahhh... (Maaf kebanyakan ngayal). Tapi semua kegiatan itu tidak mudah ku awali. Tubuh ini perlu adaptasi terhadap semua kegiatan itu yang cukup menguras tenaga. Pada awalnya aku hanya ingin menjajal satu persatu, santai dan nyaman sekali. Setelah semua kegiatan bertumpuk menjadi satu, habislah tubuh ini. Sering mimisan dan sangat lemah. Dia semakin peduli denganku.

Dia yang sering kusebut adalah Tiar. Seorang laki-laki yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Dia polos, tidak banyak bicara, dan perilakunya sopan. Awal aku mengenal Tiar, ketika aku kelas VIII. Karena dia tidak begitu populer dan suka menyendiri. Seminggu setelah aku duduk di kelas VIII, aku sedang menyapu dikelas. Di kursi paling belakang ada seorang murid yang sama sekali tidak kukenal, tapi aku tau nama yang membuat aku penasaran. Spontan akupun langsung bertanya “Anak yang namanya Tiar itu kamu?”. Deg. Hatikupun berguncang bagai diterjang badai di dalam sepinya lautan, aku langsung balik badan dan membatin ‘bodoo..bodoo banget siii. Ngapain tanya-tanya segala’. Dan terdengar suara yang lirih, “iya. Aku Tiar. Emangnya kenapa”. Dengan berusaha menunjukkan wajah yang tampak biasa aku menjawab anak itu, “emm.. enggak. Gak apa apa kok.” Akupun langsung melanjutkan kegiatan menyapuku, tapi suara itu terdengar lagi, “eh, kamu yang namanya Rina itu kan?”. Sontak aku terkaget, kenapa dia bisa tau namaku. Aku menjawab “iya” dan langsung cepat cepat meninggalkan dia, menyapu lantai dengan tergesa-gesa, sampai-sampai lantainya seperti tak tersapu, masih kotor. Hehe...
lalu aku bercerita pada Tini dengan gaya khasku, tak bisa diam seperti lalat. Tini tertawa puas melihat wajah ku yang terlihat malu, dan bertanya padaku “ah, masak kamu ndak pernah tau Tiar, siih? Dia kan ikut Musik.”,”ha? Benarkah? Sumprit aku ndak tau dia. Atau, aku pernah melihatnya tapi tak ku hiraukan? Haduh.. sudahlah.” Jawabku. Aku bergegas melanjutkan kegiatanku.

Dirumah aku bercerita kepada mas Joni yang duduk dikelas XI SMA. Masku hanya memperhatikan diriku tanpa ekspresi, sehingga menghilangkan ketampanan diwajahnya. Tak tahan melihat kejelekan wajah Mas Joni, langsung ku balas dengan wajah terjelekku. Eh.. mas Joni malah membuang mukanya dariku dan meletakkan telapak tangannya dengan hetakan yang keras tepat di mukaku. Tertancaplah jejak tangan mas Joni yang memerah di mukaku. Itulah kami, selalu akur dan tidak pernah bertengkar (ingat! Kebalikannya. =D). Sayangnya mbak Dilma lagi kuliah. Jadi tak bisa hadir ditengah-tengah kami. Jika ada, pasti rumah ini semakin ramai dan kamarku semakin berantakan.

Hari demi hari, aku dan Tiar pun semakin akrab seperti aku berteman akrab dengan temanku yang lainnya. Pernah suatu hari, 2 bulan sebelum kenaikan kelas, aku mendokumentasikan kegiatan teman-temanku dikelas. Waktu itu jam pelajaran sedang kosong. Ku shooting semua kegiatan mereka yang aneh-aneh dan lucu dan unik dan waw dengan hape jadulku. Aku berkeliling dari sudut kelas yang satu ke sudut kelas yang lainnya. Terlihat Tiar sedang asyik mainin hapenya, senyum-senyum sendiri. Kuhampiri dan ku-shooting dia, ketika itu wajah Tiar terlihat lucu sekali, spontan aku tertawa sekeras-kerasnya karena baru kali ini aku melihat wajah anehnya itu. Tapi kejadian yang sangat aku tidak suka, di merampas hapeku dan tak kusangka dia menghapus hasil shootingku yang berdurasi 16 menit 8 detik. Bayangkan bro, sudah capek-capek aku berdiri memegang hape selama 16 menit 8 detik, sampai-sampai tanganku lelah, seorang pendiam seperti Tiar bertingkah seperti orang yang tak punya tata krama dengan menghapus hasil karya orang lain. Langsung tanpa jeda, tekanan darahku naik drastis, Amarahku melunjak menjebolkan pagar kesabaran dalam diriku, kumaki-maki dia tanpa ampun. Dan apa jawabannya?? “oww, Sori, ya!” hanya begitu bro.

Sumpah seribu sumpah aku sebel banget dan tak terasa air mataku menetes deras seperti air terjun ketika hujan deras turun dari langit ke tujuh. Langsung aku berlari menuju toilet putri disekolahku. Saking sebelnya, aku berlari dan tak memperhatikan jalanan. Dan hal yang paling memalukanku, aku terjatuh karena tersandung batu. Semua mata tertuju padaku. Tapi apa yang kulakukan, aku menangis ditempat, menangis sekeras-kerasnya. oh, tidak. Jika diingat-ingat jadi malu sendiri. Hehe. Dan sejak kejadian itu, hubungan pertemanan kami putus tus tus. So, kuhiraukan saja dia. Tapi, si Tiar selalu saja menggangguku. Itulah kenapa aku jadi tak suka sama Tiar. Diam-diam menghanyutkan. Hiiii..

Tapi saudara-saudara, saat hubungan kami tak baik, dan tak menyapa satu sama lain, rasa yang aneh muncul dalam hatiku. Aku semakin tak tau apa yang kurasakan saat itu. Rasanya aku ingin nangis terus, tanpa sebab. Dan aku terus memikirkan perilaku Tiar padaku. Kok bisa, dia seperti itu. Tak habis pikir aku. Tega sekali dia. ‘Semoga kedepannya aku tak pernah bertemu dengan orang seperti dia’, Batinku. Disekolah aku mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja ditengah rasa anehku itu. Aku bercanda bersama teman-teman dikelas. Kami akrab sekali, seperti keluarga. Tingkahku kalau sudah ngumpul bareng temen-temen sekelas jadi seperti lalat, menclok kesana kemari. Saat itu aku merasa ada yang memperhatikanku. Ekor mataku melihat seseorang sedang memperhatikanku. Spontan langsung aku melihat kearah orang yang kurasa sedang memperhatikan diriku yang sedang tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman. Dan ternyata broo, itu adalah Tiar. Dan dugaanku tak salah, dia memperhatikan tingkahku sambil senyum-senyum gak jelas gitu. Iiiii... Illfeel banget.

Dirumah, aku berdiam diri didalam kamar, mencari jawaban dari peraasan yang sedang kurasa saat itu. Aku berfikir sekeras-kerasnya, sampai akhrinyaa... “doorr” ah, Mas Joni mengagetkanku dan membuyarkan pikiranku. “Dek Rin, ngelamun nih yee.. ngapain dek?” tanya Masku. “aah.. tau deh Mas, Mas Joni nyebelin iihhh. Hampir aja jantungku copot. Uuh” dengan manjanya kau menjawab pertayaan Mas Joni, dan wajah yang selalu tak kuhilangkan ketika Masku mengerjaiku. Bibir manyun, jidat dan alis berkerut, hidung menghadap ke bawah (lhaa, kalau menghadap ke atas gimana kalau hujan?). “Ciyeeh.. pake ngambek lagi. Kayak... kayak... kayak marmut. Hahaha” Mas Joni tertawa puas dihadapanku. Nah.. kebetulan ada Mas Joni, kali aja mas Joni ngerti aku. Batinku. “eh.. Mas Joni” panggilku dengan wajah yang agak serius. “ya” Masku langsung menghentikan tawanya. Tapi saat itu aku masih pikir-pikir dulu. Gimana kalau Mas Joni sampai tau? Mau ditaruh mana mukaku, broo. So, aku mengurungkan niatku untuk telling story ke Mas Joni, “ehhh... Mas, Ajari aku Matematika dong” Kualihkan niatku. Kebetulan Mas Joni ini jagonya Matematika, akhirnya aku dan Masku belajar matematika bersama-sama. Tapi, pikiranku sedang tidak ada di Matematika, pikiranku lagi keliling mencari jawaban tentang rasa itu ke Tiar.



Pagi-pagi sekali aku bangun untuk menyiapkan Gitar dan Harmonika untuk kegiatan musik nanti pulang sekolah. Sebenarnya aku malas sekali untuk masuk di kelas musik nanti, pasti ketemu Tiar. Tapi, berhubung sebulan lagi ada pertunjukan musik di sekolah, aku memaksakan diri untuk masuk nanti. Sampai disekolah, langsung aku menuju ruang Musik untuk menaruh alat-alat musikku. Anda tau saudara-saudara, ternyata ada Tiar di sana yang juga menaruh Alat musiknya.‘uuuuhhh.. kenapa musti ada Tiar, si’, batinku. Selalu kuawali dengan salam setiap masuk ruangan. Ada aku dan Tiar saja, Aku salam dan menunjukkan wajah BETEku. “Walaikumsalam. Eh ada Rini. Jadi, nanti kamu masuk kelas musik?”, Tanya Tiar. Aku tau dia bertanya begitu, karena aku jarang masuk kelas musik. Akupun menjawab dengan wajah yang judes, “Yaiyalaah”. Aku berniat untuk pergi meninggalkan ruang musik itu. Tepat dua langkah kakiku akan membawaku keluar ruang, Tiar memanggilku,“Rini”. Aku menoleh sebentar, dan langsung melanjutkan langkahku. Tapi Tiar memanggilku kemudian berkata dengan nada penuh tanya, “Rini. Sikap kamu kok gini banget sih? Kayak bukan kamu aja. Kalau aku ada salah aku minta maaf deh”. Tiba-tiba aku nangis, dan kuhentikan langkahku. Ketika aku berbalik badan, ternyata Tiar ada tepat di depanku. Sehingga terlihat jelas tetesan airmata kristalku,”aahh.. namaku Rina, bukan Rini!” ucapku. “kamu nangis?” tanya Tiar seolah tak menghiraukan apa yang aku katakan. “Rin, apa perbuatanku waktu itu membuatmu sakit hati?” Tiar yang tingginya lebih 12 cm dari tinggiku, membungkukkan badannya dan memdekatkan wajahnya ke wajahku. “Sorry, Rin. Aku emang Bego’ banget. Tapi coba kamu bayangkan deh. Dalam video itu, wajahku sangat jelek. Kamu aja ketawanya sampe keluar airmata gitu, apalagi tikus? Haha”, Tiar mencoba menenangkan hatiku. Dalam hati aku ingin tertawa, tapi aku kan habis nangis. Masak mau ketawa? Aduuhh. So, akupun hanya tersenyum kecil dan menundukkan kepalaku. Tiar semakin membungkuk, aku menjauh dari wajahnya, “Nahh.. gitu dong. Senyum dikit. Tambah manis, kan?”. “Apaan sih!”, timpalku. “So, kamu maafin aku nih?”.”emm.. maafin gak ya?” sambil kuusap air mataku. “aaa.. iya dong.. Harus dong..” Tiar menjawab dengan manjanya. “iihh,.. letoy deh. Iya iya, ku maafin. Tapi awas aja sampe nyebelin lagi!” ancamku. “wahh, urusan itu, mah.. tenang aja. Mm, ayo ke kelas bareng. Tapi, cuci muka dulu, gih. Masak pagi-pagi udah nangis. Malu-maluin. hehe”. “eehh.. Tiar mulai deh. Yaudah kamu tunggu didepan toilet ya”.”yoi bos!”. Aku berjalan menuju toilet untuk menghapus sisa airmata di wajahku. Aku berkaca di toilet. Sambil senyum-senyum sendiri. Dan kurasa aku tau perasaan aneh dalam hatiku, yaitu rasa sayang. Rasa sayang pada Tiar yang selama ini kucari-cari. Rasa yang belum pernah kuberikan kepada orang lain sebelumnya.


hehe, nih cerita masih awal, loh ya.. maka dari itu, jangan sampe ketinggalan untuk "Dari Cinta Untuk Cinta Part 2".... 

No comments:

Post a Comment