Friday, July 27, 2018

Dilema seorang dewasa awal

Assalamualaykum warohmatullahi wabarokatuh

shohibii yg dimuliakan Allah, kali ini sperti biasa aq ingin mencurahkan segala isi hati...

Jika dalam perhitungan matematika, 
->tahun ini usiaku 22th
->tahun depan usiaku 23th, sedangkan aq mau lanjut kuliah profesi Ners 1th, Usia ini, saat aq lulus kuliah dn ingun lanjit kerja
->sedangkan saat2 bekerja, aq tak tahu apakah bisa bertemu dengan mu (yg belum ku ketahui siapa) atau tidak.
->target nikah, sebelum usia 24 th. yg berarti itu 2th lagi. Ya Allah.. cepat sekali waktu berlalu

Dulu, ketika masih ada bapak, bapak selalu mewanti2 ku untuk mempersiapkn tahun depan. saat seperti aq masih kelas 2 SMA, bapak mengajakku diskusi utk lanjut kuliah dimana, reni ingin di bidang apa, dan bapak memberikanku tawaran2 utk kuliah di berbagai bidang. tapi pada akhirnya pilihanku tetap disini, Keperawatan. itu sebabnya pilihanku sangat mantap, karena dibantu diskusi dg bapak. bahkan saat aq mulai kuliahpun, bapak selalu menjadi teman diskusi ku.

Sekarang, tak ada yg mengajakku diskusi, memberiku semangat lebih dulu,. jadi aq harus menjemput semangat itu dari org2 terdekatku. bertanya terlebih dahulu, baru mulai diskusi.
tapi aku tetap yakin dan bersyukir atas doa2 ibuku <3. 

Jadi setelah kepergian bapak, Aq mulai harus bisa beradaptasi dg perbedaan peran ini, ndak boleh manja, harus mandiri, dan Alhamdulillah bisa berpikir lebih matang, merencanakan masa depan -sendiri-, tanpa diskusi hangat dengan bapak, meskipun ada ibuk dn mbak yg siap menerima keluhanku, aq tetap rindu diskusi dg bapak, menerima jawaban rasional dr bapak dengan diseling guyonan. RINDU :')

Hanya saja, saat-saat inilah aku butuh sosok bapak, dimana usiaku sudh masuk usia dewasa awal, dn mau ndak mau harus berpikir lebih jauh ttg jodoh, keuangan, dn masa depan lainnya, terlebih lagi tabungan amal untuk di akhirat nanti. lagi2 aq meras memikirkan semua ini -sendiri- .

okelah, aq ndak bisa terus berandai2, -jika bapak masih disini, pasti aq ndak akn segalau ini-,-jika ini, jika itu... pasti ginii,- dan leebiiih banyak "jika" lagii...
So, aq harus memikirkan. 
->Profesi udh di depan mata, jd ndak ush terlalu dipikirkn
->kerjaaa, selesai in profesi dulu, insyaAllah kerja ngikut rejeki..
->Jodoh, sebenernya di dalam hati, aq santai, dan yakiin pasti ada, karena Allah sudh menyiapkn yg terbaik, dn sudah ku ushkn di sepertiga malam. sedangkan dalam pikiran, aq masih takut, dengan diriku yg seperti ini, apakh iya aq bisa dpt jodoh yg lebih baik dr driku? aq takuut, krn keluarga juga sedang berlomba2 mencarikanku, sedangkn aku sungguh tak ingin ia tak sesuai dg keinginanku-soleh, dn tak hanya memikirkn dunia-. 

saat ini aq ingiiin sekali mengenal lebih jauh sosok pemuda yg aq idamkan. tp aq takut perkenalan itu mengarah ke maksiat. dan akupun masih belm tahu, siapa sosok yg q idamkan.. sedih..
karena jujur sejujur jujurnya, hatiku masih belum bisa menerima rasa yg berlebih dri laki2, dn aq bersyukur hal itu terjadi, sehingga aq bisa menghindari zinah (mata, hati, pikiran, dll).

Sejujurnya lagi, Ya Allah.. aq ingin sekali bertemu dg jodohku, shg aq tau apa dn bagaimana dia akn membimbingku, menerimaku naanti..

sudah.. itu saja utk saat ini.

karena sudah lumayang lega mengungkapkan semua ini, i say Thanks to my Blog..

Wassalamualaykum warohmatullah.. :)