Tuesday, November 5, 2013

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Last Part

Hwuiihhh (Ngusap peluh), akhirnya sampai juga di last part. hehe.. nggak banyak cuap-cuap, langsung baca. Monggo, en Happy reading. :)

Dari Cinta untuk Cinta ~~ Last Part
   “Dediiii... tungguin aku dong!! Tasku berat niihh.. mentang-mentang tasnya enteng, uuuhh ”
     keluhku.
   “Rin.. Rin.. kamu, sii.. mau aja disuruh bawa barang banyak! Ku tinggal ya.. dadahh”
     Dedi mengejekku dan melambaikan tangannya..
   “Deediiiiii... awas kamu, ya!!” kukejar dia dengan nafas tersengal
Aku dan Dedi pulang dari sekolah. Tas yang kubawa beraaat banget. Kenapa nggak? Semua buku di jadwal pelajaran hari ini gede-gede, banyak pula, dan nggak terasa kami udah hampir kuliah. Di jenjang SMA ini, aku satu sekolah dengan Dedi. Tapi tidak dengan Dela, Tiar, dan Tini. Aku semakin aktif dan cinta dengan dunia organisasi. Aku dan Dedi ikut serta dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah alias OSIS disekolah kami. Meskipun berbeda kelas, kami selalu bersama. Sama seperti masa SMP dulu. Dan Alhamdulillah, kami selalu mencapai nilai tertinggi dikelas.

                Tapi kami sudah lengser di Organisasi ini, karena kami harus fokus dengan yang namanya BELAJAR. Aku mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan dan melelahkan di SMA ini. Aku nggak mau ada yang ganggu belajarku, dan harus kubuat cara belajarku senyaman mungkin. Ya seperti inilah, belajar bersama Dedi membuatku nyaman. Semakin hari ia semakin jago aja, apalagi pelajaran IPA. Ia menguasai semua pelajaran itu.

                Jujur saja, aku sangat betah di sekolah ini. Teman-temanku, guru-guruku, kelas-kelas, pohon-pohon, dan semua yang ada disini membuatku merasa nyaman. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat sesempurna ini. Apalagi aku punya sahabat yang gokil, koplak, dan selalu ada buatku, Dedi. Di sinilah, di jenjang SMA ini aku sudah mulai mengetahui apa yang harus dan tidak aku lakukan. Dari masalah keluarga, sampai masalah cinta. Aku merasa sudah memulai masa dewasa. Masa dimana aku tidak lagi dibantu segalanya oleh orang tua, dan itulah yang konon orang-orang sebut ‘Kemandirian’.

                Ketika aku baru saja pulang dari sekolah, bunyi hape biruku menandakan ada pesan singkat yang masuk. Kulihat, ternyata nomor tak bernama. Pesan itu bertuliskan,“Sore, Rina. Apa kabar nih?”. Otomatis nggak ku hiraukan, nggak kenal gitu. apalagi dalam keadaan lelah seperti ini. Setelah membersihkan diri, aku segera beristirahat dikamarku.  Namun, belum genap setengah jam aku tidur, hapeku berbunyi lagi, dan aku terbangun karena kaget. Aku sengaja memasang nada SMS dengan volume tinggi. Eh, ternyata pesan itu dari nomor tak dikenal lagi. Pusing banget, bangun gara-gara kaget. Tak banyak pikir, aku langsung melepas baterai hapeku dan kembali tidur.

                Kumandang adzan Ashar membangunkanku dari tidur yang siang yang cukup singkat. Kupasang baterai hapeku, ternyata 13 SMS tak dikenal itu muncul dilayar awal hapeku, dengan isi pesan yang sama. Akupun jadi penasaran, kubalas dengan singkat, “siapa?”. Nggak sampai 5 menit, nomor tak dikenal itu membalas, “O iya lupa. Aku Tiar, Rin. Temen SMP-mu dulu. Masak lupa sih?”. Aku kaget banget bro! Udah 3 tahun aku nggak tau kabar tentang Tiar. Nggak ada komunikasi sama sekali, meskipun kita sudah berteman baik. Akupun menjawab dengan ramah dan penuh rasa persahabatan, “eehhh.. Tiar, toh. Maap ni baru balas. Aku baik banget kok. Kamu gimana?”,”Alhamdulillah aku baik juga, Rin. Eh, kangen sama Dedi sama Dela, nih.. yuk ketemuan bareng. Mumpung aku lagi free, Rin” Balasnya. Aku mengiyakan ajakan Tiar. Kamipun membuat janji dimana aku, Dedi, dan Dela bisa bertemu Tiar.

                Keesokan harinya aku memberitahu Dedi. Diapun menyetujuinya dan segera mengabari Dela, yang rumahnya tetap dekat dengan Dedi. Kebetulan akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengan Dela, kangen banget rasanya. So, kita berempat jadi ketemuan di bukit yang sempat aku jadikan tempat pelampiasan sakit hatiku ke Tiar, heehee. Waktunya 2 hari lagi, jam 4 sore sambil menikmati Sunset nantinya. Huuuwww... jika dibayangkan, kayaknya seru banget, bro. Tapi aku tak tau bagaimana kabar Tini. Sejak kejadian itu, hubungan kami sangat renggang.

                Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Aku dan Dedi pergi dulu karena Dela sedang sibuk dirumahnya. Dengan bersepada ontel bersama, kami sampai di bukit. Eh, ternyata disana udah ada Tiar. Ia membawa baaanyaaak banget makanan, wuihh.. santapan gue nih. Beberapa saat kemudian, Delapun menyusul kami. Dela ternyata bawa tikar yang cukup lebar. Jadilah kami berempat disini, duduk manis sambil makan en cerita-cerita gitu. Kayak piknik aja.

                Diperkirakan sunset akan turun 20 menit lagi. Selagi Dedi dan Dela berkemas-kemas, karena setelah sunset berlalu, kami langsung pulang. Tiar yang berdiri diujung bukit memanggilku. Dedi menyuruhku yang sedang membantu dela untuk pergi ke bukit menemui Tiar. Akupun menyusul Tiar. Hanya kami berdua diatas bukit. “Deg..deg...deg” jantungku berdetak keras. Mungkin karena aku sudah lama tidak berdua dengan Tiar. Tiba-tiba Tiar berkata kepadaku.
                “Rin, 5 tahun lalu aku mulai tau kamu” ucap Tiar
                “ha? Lebih setahun kali. Kita kan kenalnya kelas 2” jawabku dengan polosnya
                “nggak, Rin. Sejak kelas 1 aku udah tau kamu, lho. Kamu aja yang nggak tau aku!”
                “wahaha.. iyakah? Sori deh. Tapi sekarang kita uda saling kenal, kan..” jawabku
                “Yups. Sekarang kita udah dewasa, kan. Nggak kayak dulu. Aku juga aku ngerasa saat ini yang
                tepat buat aku jujur tentang hatiku, Rin”. Tiar mulai serius, pikiranku jadi aneh.
                “waduu... ada apa denganmu, yar? Kok suasananya berubah gini?” balasku dengan gurauan
                “Rinaaa.. serius, nih! Sebenarnya aku udah tau kalo kamu suka ke aku. Tapi harus kamu tau,
                rin, aku lebih dulu suka ka kamu” ucapnya dengan tatapan yang sudah lama tak kulihat.
                “Terus Tini waktu itu dikemanakan? Jahat banget sih kamu!” jawabku dengan nada marah
                “aku ingin akrab dengan Tini, karena dia temanmu. Akupun sudah menjelaskan pada Tini”
                “Ehm.” Aku terdiam gemetar sambil menatap detik-detik sunset, menduga apa yang akan
                  Tiar katakan setelah ini. Aku merasakan Tiar menatapku dengan tatapan itu.
                “jadi, Rin. Aku ingin kamu merasakan cinta pertamamu!” ucap tiar dengan semakin dekat
                “mm..mmaksudnya?” aku gugup, Tiar mengalihkan pandangannya pada keindahan sunset
                “aku tau segalanya tentang kamu. Salah satunya aku dihatimu, your first love. Aku berharap
                kamu mau jadi seseorang yang spesial untukku. Jadi pacarku, Rin”
Disaat tiar memintaku menjadi pacarnya, mataharipun terbenam dengan sinar bagai senyuman yang sangat indah, seolah memberikanku petunjuk apa yang harus kulakukan saat itu. Dan sejak awal, aku sudah tau ini akan terjadi. Dugaanku benar. So, aku tau apa yang harus aku katakan. Aku menjawab dengan tegas, “sori, yar. Tapi maaf banget. Perasaanku sama kamu itu udah dulu banget. Sekarang aku hanya nganggep kamu sebagai temanku. Teman yang memberiku pengalaman bagaimana rasanya sakit hati karena cinta. Dan sekarang aku nggak tertarik sama sekali yang namanya PACARAN, yar. ”,
                “oh, gitu ya. Jadi, aku telat dong? Apa kamu nggak mau memberikanku sedikit toleransi?
                aku tulus ke kamu, Rin. Udah lama aku nyimpen semua ini sendiri.” Bujuk Tiar
                “sekali lagi aku minta maaf, yar. Kita lebih baik jadi temen. Nggak ada kata sakit hati.
                nggak pacaran aja ngebuat sakit hati, apalagi pacaran? Ya nggak? Oke...” ku yakinkan Tiar.
                “oke. Aku ngerti, Rin. Tapi, apapun hubungan kita, aku sayang kamu” kata Tiar
Aku dan Tiar menikmati pemandangan Sunset berdua. Oh, iyaa... Dela sama Dedi kemana ya? Kok nggak ada dari tadi? Ternyata mereka duduk di kursi yang lumayan jauh dari tempat kami berdiri. Mereka memahami apa yang kami bicarakan. Jadi Dela dan Dedi menjauh agar tak ada kesan mengganggu diantara kami. Sunset kali ini sangat mengesankan. Dan memberiku pengalaman terbaru.

                Suara Masjid menandakan Adzan Maghrib segera berbunyi. Aku dan teman-teman pulang kerumah masing-masing. Pertemuan kali ini sangat berkesan, apalagi dilatar belakangi suasana Sunset diatas bukit yang saaaangaaat indah. berbagi pengalaman dan cerita-cerita seru. Aku sayang kalian semua, dan aku berharap hubunganku dengan Tini membaik.

                Akhirnya akupun menyadari, Cinta itu nggak harus memiliki. Apalagi dimasa ABG kayak gini. Pasti banyak buanget maksiat yang dilakukan. Lebih baik cinta ini dijaga sampai ada seseorang yang benar-benar mencintai didunia dan akhirat. Akupun begitu. Nasihat dan saran yang selalu diberikan oleh Mbak Dilma akan selalu kupegang. Juga contoh perilaku yang cool dan baik yang selalu diajarkan Mas Joni sehari-harinya. Sebenarnya masih terbesit rasa kagum dihati ini utuk Tiar. Bukannya tidak berani mengungkapkan. Tapi ini kulakukan untuk kebaikanku dan Tiar juga. Kami menjadi teman, sering berkomunikasi meskipun jarak memisahkan. Cinta ini akan tetap kusimpan. So, semua yang aku lakukan selama ini, dari yang namanya sakit hati sampai seneng kegirangan, itu adalah sebuah perwujudan rasa kasih sayang, Dari Cinta Untuk Cinta.

~~~~Berlanjut di dunia Nyata~~~~
Kawanku.. Cerita ini hanya fiktif belaka  dan hanya hiburan semata, tidak berdasarkan fakta. Mohon maaf dan mohon memaklumi apabila ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa.

~~~Terimakasih~~~


Hehee... untuk cerbung perdana yang ukhty Posting, pasti ceritanya ngawur en nggak nyambung plus bahasanya awut-awutan. maapin yaa...  Ukhty lagi pemula yang benar-benar pemula. dan terima kasiiihh banyak yang udah baca Cerbung Dari Cinta Untuk Cinta ini. heheee.... so, tungguin postingan selanjutnya, ya... matur nuwuuuunn banget.. Salam SEMANGAT ^_^

No comments:

Post a Comment