Saturday, September 28, 2013

"Sampai Kapanpun", Happy reading.

Sampai Kapanpun
            “Arin.. bangun sayang, udah pagi lho. Ntar telat lagi.”
“uuooohh… iya bunda!” Jawab Arin sembari menguap dan mengucek kedua matanya yang penuh kotoran dengan tangan kecilnya. Idihhh…
Karinda Fajanggara alias Arin adalah seorang bocah manis dan lucu yang baru duduk di kelas 1 SD. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Setelah ia siap untuk berangkat sekolah, barulah Ayah mengantar Arin dan kakaknya berangkat sekolah.
            “Bunda, berangkat. Assalamualaikum” adik berkakak itu berpamitan pada bunda.
Arin tinggal di desa yang sangat indah, penuh dengan bunga dan kupu-kupu, apalagi disana ada taman bunga, uhh… pasti indah. Kupu-kupu dan bungan Anggrek jadi sesuatu yang ia senangi. Bersama keluarga tercinta, Arin tinggal di desa indah itu.
Ayah adalah seorang yang berbadan kekar dan tampan, sangat dermawan dan bijaksana. Beliau bekerja sebagai notulis disebuah perusahaan di kota dekat desa. Bunda adalah sosok wanita yang anggun dan penuh wibawa. Fian, seorang kakak yang penuh kasih sayang. Arin biasa memanggilnya ‘Aka’, maklum, sudah kebiasaan dari kecil. Keluarga ini sangat harmonis, selalu ceria, dan juga penuh kebersamaan. Waw… amazing.
Sesampainya disekolah…
“Aka, ini sekolah Arin?”
“bukan, ini sekolah Aka juga, enak aja sekolahmu.” Goda Fian, Ayah hanya tersenyum bangga  melihat keakraban kedua putra putrinya.
“ayah, kami berangkat ya.” Kebahagiaan terlihat pada senyum adik berkakak, ketika mencium tangan sang ayah. Ayahpun segera menginjak gas mobil dan meluncur ke kantor tempat ayah bekerja.
Arin diantar sang kakak yang sudah kelas 5 SD menuju ruang kelas barunya. Dengan mata berkaca-kaca, ia melihat ruang kelas yang indah, penuh warna. Sepertinya, ia akan betah diruangan ini. Ia melihat beberapa anak baru yang nanti akan menjadi temannya, merengek minta ditemenin mamahnya. Ada juga yang udah nangis ditinggal ibunya. Ada pula yang duduk manis di bangku pilihan masing-masing, seakan-akan siap untuk menerima pelajaran dari guru baru mereka.
“Adek, Aka masuk kelas dulu ya? Awas, lhoh. Jangan nakal” ucap Fian sembari meninggalkan adiknya. Arin hanya menggangguk.
Perlahan, Arin melangkahkan kakinya menuju bangku yang sepertinya belum ada penghuninya, yang hendak ia duduki. Setelah ia duduk, terdengar bunyi ‘kreekk… kreretek..’. pantas saja tidak ada yang hendak duduk dibangku itu, jelas-jelas sudah reyot. Hahaha. Ia pindah duduk ke bangku depan papan tulis, ‘Nyaman juga’, batin Arin. Ia sudah dalam posisi yang pas, tinggallah ia mencari teman sambil melirik,menoleh kesana kemari melihat ekspresi raut wajah gembira siswa yang tenang didalam kelas. Sedangkan diluar kelas terdengar suara tangis dan rengek teman-teman barunya yang tak ingin ditinggal orang tuanya.
Tiba-tiba, ditengah pencarian teman baru, terlihat sosok gadis cilik yang sangat cantik jelita, dengan senyumannya yang menambah pesona dalam diri sicantik itu, menghampiri Arin sembari berucap,
            “Haii.. kamu duduk disini? Aku juga dari tadi duduk disini, Cuma kebelet tadi. Hehehe.”
            “Iya.. aku kira ndak ada yang duduk disini, kita duduk berdua, ya?”
            “Oke” jawab sigadis cantik. Ternyata dia anak yang koplak , lho.
            “O,ya. Namamu siapa? Aku Arin, nama panjangku Aaaarriiiiinnn. Hehe”
“Wahh.. ternyata kamu koplak juga, ya. Tambah seru,nih. Aku Syaifa Libera, tapi mamahku panggil aku Aik. Kita bisa jadi duo koplak, nih??”
Mereka berbincang-bincang dengan akrabnya, seakan akan mereka sudah kenal jauh-jauh hari.  diselingi gelak tawa, karena kekoplakan mereka berdua.
Sampai rumah, Arin bercerita panjang lebar tentang awal dari pertemuannya dengan Aik, dengan wajah gembira. Suasana rumah bagai dihuni oleh beribu orang, ramai sekali. Padahal Cuma 5 orang. Ya… begitulah keluarga Arin jika dikumpulkan dalam satu ruangan, apalagi saat Arin yang masih lugu itu bercerita dengan polosnya, seisi rumah terasa ramai karena tertawa bersama. Arin selalu menceritakan apa yang telah ia alami kepada keluarganya, sehingga tiada kata sibuk bagi salah satu keluarga itu untuk berkumpul setiap harinya. Sungguh indah keluarga itu.
Makin hari, Pertemanan Arin dan Aik makin kental saja.
Suatu hari, Arin mengusili Aik dengan memanggil temannya itu dengan nama ‘Ibeh’, nama itu berasal dari kata ‘Syaifa lIBEra’. Aikpun tak mau kalah, ia memanggil Arin dengan nama ‘Ara’ dari kata ‘Karinda FajanggARA’. Lucu sekali (tapi, gak juga seh). Saking seringnya mereka saling memanggil nama yang ngelantur itu, mereka jadi tak nyaman jika panggil nama asli. Jadi, nama ngelantur yang mereka ciptakan itu menjadi nama panggilan sehari-hari. Mereka terkenal koplak dikelasnya, bila ada waktu senggang, mereka pasti melucu. Sehingga, seisi ruangan kelas jadi tertawa, suasanapun ramai. Hahaha  =D.
Ditengah keramaian kelas terjadi, ibu guru datang memecahkan keramaian itu. Tiba waktunya pelajaran menulis dimulai. Bu guru meminta semua murid di ruangan itu menulis huruf A, entah huruf capital (A) ataupun huruf biasa (a).
            “Ibeh, ini tulisanku, bagus kan? Ini huruf ‘A’.”
            “Bukan, ra. Iniloh yang betul, ‘α’.” mereka saling menunjukkan tulisan masing-masing
            “lhah, itukan huruf ‘o’, Cuma ada buntutnya. Kayak kecebong ajah. Haha” ledek Arin
“Nggak. Punyaku itu huruf ‘a’, punyamu itu huruf ‘H’, yang reyot kayak bangku pertamamu dulu.” Balas Ibeh tak mau kalah.
“bukan, punyaku yang betul”
“enggak, punyaku”
Perang mulut terjadi pada duo koplak di ruangan itu. Mereka saling mempertahankan kebenaran tulisan masing-masing. Walah… walah.. jelas-jelas kedua huruf itu, huruf ‘a’. sungguh sungguh aneh bin lucu. Ibu guru jadi gerah melihat dua muridnya berdebat tentang sesuatu yang tak perlu didebatkan lagi, akhirnya ibu guru memisahkan tempat duduk mereka, agar tak ada perang mulut lagi. Tapi, yang namanya anak-anak, sejauh apapun selisih jarak diantara mereka, tetap saja mereka berkomunikasi. Meskipun tak perang mulut, mereka saling lirik-melirik satu sama lain.
Tapi, mana ada sih, orang yang mau dipisahkan sama sahabatnya sendiri. Ya.. meskipun mereka belum tahu apa itu sahabat, kita bisa anggap mereka sahabat. Betul, nggak?..  akhirnya, keesokan harinya, Arin dan Ibeh yang biasa dipanggil duo koplak oleh teman-temannya, kembali menempati duduk masing-masing seperti semula. Keakraban mereka pun kembali seperti semula. Seakan-akan tak pernah terjadi perdebatan hebat diantara Arin dan Ibeh.
Sungguh, duo koplak adalah pasangan yang cocok. Sifat mereka unik, berbeda pula, sehingga Mereka dapat saling melengkapi satu sama lain. Andai saja ada sahabat seperti duo koplak di dunia ini, terasa indah dunia. Apalagi duo koplak adalah kita. Jika setiap orang bisa saling melengkapi, tak pernah ada perselisihan yang memakan waktu lama, sungguh, tak bisa dibayangkan, betapa damai dan tentram dunia ini (wahh… menghayal).

Setelah Satu Tahun…
Ujian kenaikan kelas pertama bagi duo koplak dan teman-teman yang lainnya sudah terlaksana. Meskipun Arin tidak masuk ranking 10 besar, nilainya sudah lumayan bagi siswa pemula. Berbeda dengan Arin, Ibeh mendapat ranking 6. Ibeh lumayan pintar, lho. Kalau ada pelajaran yang tidak Arin ketahui, ia tak malu-malu meminta penjelasan kepada temannya, Ibeh.
Tapi, ditengah keakraban dan kebersamaan mereka, ada satu hal yang tidak dapat mereka hindari, dan sulit  pula mereka terima dalam hati. Ibeh harus pulang ke kampung halamannya, nun jauh di kota sebrang sana. Dikarenakan masa kontrak kerja ayahnya telah berakhir, sehingga harus kembali bekerja didaerah semula. Merka berdua terpaksa berpisah. Padahal baru satu tahun merka bersama, merka juga belum mengerti apa itu sahabat. Mereka hanya tahu hubungan mereka hanyalah sebagai teman baik. Sebelum Ibeh benar-benar akan pergi, ia sempat berkata pada Arin,
            “Ara, aku pulang dulu, ya.. opahku pasti kangen sama aku.”
            “oke.. Baik-baik disana,ya”
Tanpa sadar, air mata mengalir menghujani perpisahan merka berdua. Keluarlah satu ucapan terakhir dari Ibeh, sembari memeluk erat tubuh mungil Arin.
            “Ara, gak usah khawatir. Suatu saat aku pasti datang menemuimu. Aku janji”
Ara tak dapat berkata-kata karena isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia hanya bias mengangguk pelan dan memberikan senyum terakhir untuk Ibeh. Pertemuan mereka berakhir saat ayah Ibeh datang menjemputnya dengan kendaraan Mobil. Ara menangis tersengal-sengal ditengah teriknya matahari, yang tertutup awan mendung  dihalaman sekolah, daun pun jatuh berguguran. Alam menjadi saksi bisu dan seakan-akan turut merasakan kesedihannya. Fian menyaksikan kesedihan Adik tercintanya. Ia mendatangi Arin yang tengah berdiri mematung melihat kepulangan sang teman sambil menangis.
            “Adek, ayuk pulang. Udah siang. Bunda nyariin, lho.” Ajak Fian, sembari menghibur adiknya.
Adik berkakak itupun pulang ke rumah idaman mereka, dijemput oleh sang ayah. Terlihat bunda sedang duduk santai dihalaman rumah yang rindang. Bunda kaget, putrinya pulang dengan mata sembab.
            “Kakak, adiknya diusilin, ya?” ucap Bunda menyalahkan Fian
            “Enggak, Bunda. Arin ditinggal sama temannya. Teman baiknya, bun.”
Arin hanya mengangguk pelan. Keluarga itu kembali berkumpul dan mendengarkan cerita sikecil. Ayah, Bunda, dan Fian baru kali ini mendengar cerita sedih Arin. Mereka jadi tak tega melihatnya.
Dikelas 2, Arin belajar disekolah tanpa teman seperti Ibeh. Tapi, Arin punya banyak teman disana. Iapun sering bercanda gurau dengan teman-teman. Duo koplak yang dulu kompak merubah suasana kelas yang semula hening menjadi ramai, kini tak ada lagi, tinggal Arin semata, bukan duo koplak lagi.
Arin tak merasa kesepian ditinggal Ibeh. Ia ditemani janji Ibeh yang akan menemuinya suatu saat nanti, entah kapan itu terjadi. Ia terus menunggu sang teman segera menemuinya. Ia menunggu suara yang memanggilnya ‘Ara’, dengan nada yang khas pula. Dengan adanya kebersamaan dikelas itu, Arin tidak sendirian.
Kini Arin sudah kelas tiga SD, Fian kelas 1 SMP. Meskipun adik berkakak itu tak satu sekolah lagi, bukan masalah bagi Arin. Karena disekitar Arin ada banyak teman yang bersamanya, meskipun tak sesempurna Ibeh.
Arin sangat bahagia bersama teman-temannya. Banyak hal yang mereka lalui bersama. Bermain, bercanda gurau, dihukum guru, mereka selalu bersama. Sampai-sampai, tes pelajaranpun mereka selalu bekerja sama. Hehe, maklum, lah.. anak kecil.
Dua tahun Arin  bermain tanpa Ibeh. Ia tetap menunggu Ibeh datang menemuinya. Menunggu sosok yang sangat ia nanti-nanti. Arin sungguh sosok orang yang setia. Menunggu sampai kapanpun. Sifat Arin ini patut kita banggakan.  Betul, tidak??

Suatu hari, ia bermain bersama teman-temannya. Tiba tiba, seorang teman memanggilnya,
            “Arinn…. Ada yang nyari, tuh. Di Lobbi depan. Cepat, gih”
            “Ha?? Siapa, ya? Temen-temen, aku berhenti dulu, ya?? Dadah”
Arin segera meluncur ke Lobbi depan, mencari seorang yang mencarinya dengan keringat yang membasahi bajunya. Ia berputar-putar, membolak-balikkan badan tak ada orang asing yang ada di Lobbi sekolah. Sekali lagi ia membalikkan badan, dan siapa yang terlihat Arin? Seorang gadis cantik yang kemudian berkata dengan mata yang berkaca-kaca, “Ara..”. Arin tak percaya itu Ibeh, teman yang dinantinya slama ini. Spontan, mereka saling berpelukan, melepas suatu kerinduan yang slama ini menyelimuti hati mereka.
            “Ara.. aku datang, aku datang untuk mu, menemuimu, Ara!” bisik Ibeh
            “Iya, Beh.. aku tau kamu akan datang untuk menemuiku.”
Ibeh datang bersama sang Ayah, karena sekolahnya libur selama 3 hari. Ayah Ibeh dan Ibeh datang untuk menjenguk Nenek Ibeh yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumah Arin. Akhirnya, mereka menyempatkan diri untuk menemui Arin.
Ayah Ibeh meminta Izin kepada sekolah untuk membiarkan Arin pulang lebih awal dari teman-teman yang lain, karena Ibeh hanya 1 hari disini, selagi Ibeh dan Arin bermain bersama, Ayah Ibeh pulang kerumah neneknya. Ibeh dan Arin bermain di taman bunga desa, saling berbagi cerita, rahasia, dan pengalaman mereka ketika mereka tak saling bersama dulu.
Nampaknya, didesa sebrang sana, Ibeh banyak belajar tentang persahabatan. Ia juga baru menyadari hubungan mereka bukan hanya teman baik, melainkan sahabat.
            “Ara, kamu tau nggak? Kita itu sahabat, lhoh.”
            “O,ya? Apaan itu, beh?”
“sahabat itu, teman baik yang selalu bersama dalam suka dan duka, saling berbagi dan melengkapi tidak menghiraukan kekurangan dan kelebihan,menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, kelebihan sebagai hal yang sangat luar biasa.”
“Berarti,… kamu sahabatku, dong?”
“iyalah, kan aku udah bilang tadi.. kamu tetep aja,ya.. hehe!”
Perbincangan mereka berlangsung seru, sesekali diselingi gelak tawa. Mereka juga menyempatkan untuk foto bersama, sebagai kenang-kenangan. Hari itu, menjadi hari yang paling indah bagi mereka.
Saking asyiknya bersama, tak terasa hari mulai senja. Ayah Ibeh menjemput putrinya dan mengantarkan Arin pulang kerumahnya. Dengan terpaksa, Arin harus merelakan Ibeh pergi ke dua kalinya, pulang ke kota sebrang. Tanpa ada sepatah katapun, Ibeh pulang.  lambaian tangan dan setetes airmata kini mewarnai perpisahan mereka berdua.
Arin sangat senang hari ini, karna ia bertemu dengan Ibeh. Ia bercerita kepada Ayah, Bunda, dan Fian. Keluarga merasa senang melihat putri kecil mereka senang. Ia tak merasakan kesedihan dihari itu. Ia segera meluncur kekamar tidurnya, siap untuk bermimpi indah. Sambil melihat beberapa foto Arin dan Ibeh ketika di taman. Akhirnya, Arin terlelap dengan foto-foto bercecer di kamarnya.
Keesokan harinya, Arin bangun dengan wajah ceria, ia melihat kamarnya bercecer foto Arin dan Ibeh. Tiba-tiba, wajahnya berubah murung. Ia khawatir, jika ia tak bertemu Ibeh lagi nantinya, karena ketika Ibeh pergi, Ibeh tak mengatakan sepatah katapun padanya.
Makin hari, Arin makin merasakan kesepian tanpa Ibeh, tanpa janji Ibeh yang dulu menemaninya. Kini, Arin jadi sering menyendiri di kamar, melihat foto mereka, sering pergi ke taman bunga untuk mengingat kembali kenangan terakhir mereka. Tapi ia tidak menunjukkan kesedihannya pada orang disekitarnya.
Dari tahun ke tahun, Begitulah kehidupan hambar Arin tanpa sahabatnya. Hanya Fian yang mengerti hatinya, meskipun Arin tak menunjukkan kesedihannya. Fian juga selalu menjadi teman dikesendirian Arin.
5 tahun kemudian….
Nampaknya selain Fian, Ayah dan Bunda Arin mengetahui hatinya. Satu bulan lagi, Arin harus masuk sekolah yang tingkatnya lebih tinggi lagi, SMP. Agar kegiatan belajar Arin tidak terganggu oleh hati dan pikirannya yang rindu akan Sahabatnya, Ayah dan Bunda sepakat mengandalkan psikiater untuk memfokuskan hati dan pikiran Arin pada pelajaran.
Beberapa hari kemudian, seorang berkerudung mendatangi Arin yang sedang termenung di tempat Favoritnya, taman bunga didesa. Ternyata seorang yang Nampak elegan itu adalah Psikiater, ia duduk disamping Arin dan berkata,
            “Assalamualaikum, dengan Adik Arin?”
            “Walaikumsalam, ya!”  jawaban Arin terlihat angkuh.
            “emm.. udah kenal mbak, belum? (Arin hanya menggeleng) mbak teman curhat Arin sekarang.”
            Arin kaget, “Ha? Oh, yang dipanggil Ayah sama Bunda Arin, itu? Ya ya ya!”
Awalnya, sikap Arin terhadap psikiater muda itu sangat angkuh. Tapi, saking seringnya Arin ditemani psikiater diwaktu kosongnya, Arin mulai bisa berinteraksi dengan baik, bahkan sekarang menjadi teman akrab. Meskipun psikiater muda itu tak datang setiap hari, tetap ada komunikasi diantara mereka melalui jejaring social dan pesan singkat. Jadi, Arin dan Mbak psikiater bisa saling terhubung satu sama lain. Jika gejolak rindu Arin pada Ibeh mulai terasa, tak segan-segan Arin menghubungi psikiater itu untuk menghiburnya dengan nasihat-nasihat yang sangat penting bagi kehidupan Arin kedepannya.
Sekitar 2 bulan berlalu,
Ia mulai membalut auratnya dengan Khimar, ingin semakin dekat dengan Allah SWT. Kegiatan belajarnya disekolah barunya mulai membaik. Ia juga mengikuti beberapa ekstrakurikuler keagamaan. Bahkan, Arin bisa menghibur teman-temannya dengan sifat koplaknya. Ia memiliki banyak teman disekolah yang menyayanginya dan ia sayangi. Tapi, ia masih menutup hatinya untuk bersahabat dengan orang lain. Masih tersisa kisahnya bersama Ibeh yang membuatnya tak bisa melupakan Ibeh.
Sekarang, Arin bisa tertawa didepan teman-teman SMPnya yang sudah 2 tahun bersama. Ia sudah menginjak kelas 8, ia juga memiliki banyak teman disana. Bersama teman-teman, arin bisa menjalani hidupnya dengan normal. Tapi tak ada kakak yang selalu bersedia mendengar cerita Arin, Fian sekarang sudah kelas XII SMA. Ia sibuk belajar untuk persiapan beberapa Try Out dan UNAS. Tapi, bukan masalah buat Arin, karena ia mempunyai buku diary yang berisi kisah hidupnya tanpa ibeh. Ia berjanji jika bertemu Ibeh, ia akan menyerahkan buku diarynya pada Ibeh. Tapi, dalam hati Arin mustahil bisa bertemu dengan Ibeh. Meskipun ia telah mencarinya melalui banyak media (Facebook, Info dari teman-teman, dll), tak ada hasil yang diinginkan Arin.
Akhirnya Arin mempunyai ide lagi, mungkin inilah satu-satunya cara untuk bertemu dengan Ibeh. Arin meminta temannya untuk mengantarnya ke rumah Om Ibeh yang menjadi tempat singgah Ibeh dulu letaknya berada tak terlalu jauh dari rumah Arin.  Sesaat, ia dan temannya telah sampai dirumah yang dituju. Tapi, sungguh miris sekali, salah satu tetangganya memberitahukan bahwa keluarga itu telah berpindah tempat, 3 hari yang lalu. Tanpa meninggalkan apapun, nomor  telpon, alamat rumah yang baru, dan semacamnya. Kini, rumah itu menjadi kosong. Ia meminta Izin kepada tetangga agar diperbolehkan masuk ke rumah kosong itu. Suasana Rumah itu tak berubah sama sekali, tetap seperti dulu ketika ia bermain bersama Ibeh dirumah itu. Ia duduk terpaku di tengah ruangan itu, mengingat kenangannya bersama Ibeh. Ia melihat disudut rumah, terdapat segulung karpet yang kemudian ia dekati. Ia menemukan selembar foto yang sudah usang, gambarnya tak tampak jelas. Setelah ia mengamati foto usang itu, ternyata foto itu adalah foto duo koplak ketika berada ditaman bunga saat pertemuan terakhir. Tercucurlah air mata Arin yang sudah tak kuat ia bendung. Arin pulang sambil membawa foto usang itu sebagai kenangan terakhir. Ia sungguh sangat menyesal, kenapa 3 hari lalu ia tak datang kesini untuk mencari informasi, padahal terpikir jelas bahwa ia ingin kesini. Mungkin ini memang scenario Allah yang ditujukan untuk Arin, yang tega memisahkan Arin dan Ibeh.
Setelah sampai dirumah, Ayah dan Bunda menyambutnya. Mereka melihat mata Arin yang sembab, dan membiarkan Arin Sholat. Disela-sela sujudnya, tertetes air mata lambang kerinduan Arin kepada sahabatnya, Ibeh. Dalam setiap doanya, ia berharap agar Allah mempertemukan Arin dan Ibeh kembali. Semua takdir hanya ditangan Allah SWT, Arin hanya bisa mengikuti Skenario Allah dengan Ikhlas dan tulus.
Tiga tahun sudah Arin belajar di jenjang SMP, dengan hasil yang sangat memuaskan. Kini saatnya ia menginjak ke jenjang yang lebih tinggi lagi, jenjang SMA.  Di jenjang inilah Arin dapat meningkatkan kualitas belajarnya, dan dapat mengatur emosi, karena ia sudah dewasa dan mampu memilah maupun memilih hal yang baik. Angan-angannya tentang Ibeh, menjadi semangat hidupnya untuk terus maju.  Tetapi, karena sibuknya kegiatan sekolah dan rumah, ia tak ingat lagi bagaimana wajah Ibeh, sulit sekali untuk dibanyangkan. Nama asli Ibehpun ia telah lupa. Hanya Ibeh dan kenangan indah mereka yang selalu ia ingat.
Suatu hari, ia meminta izin kepada orang tuanya untuk mencari informasi tentang Ibeh di kota seberang, karena ia merasa sudah mampu menjaga diri. Tentu saja ayah dan bunda tidak mengizinkan. Siapa coba, yang melepas putrinya sendirian didunia luar yang belum ia kenal, jauh pula. Andai Fian bisa menemani Arin, kemungkinan besar ayah dan bunda mengizinkan, tapi Fian masih menempuh masa kuliahnya. Jadi, Arin hanya bisa pasrah.
Sempat terbesit suatu pikiran dihati Arin. Sudah bertahun-tahun ia menunggu Ibeh, ingin memeluknya. Sebab, mungkin saja Ibeh ada di dekatnya. Tapi apa boleh buat jika Arin sudah lupa wajah Ibeh, sehingga ia tak mengenalinya. Arin sudah lelah. Tiap hari pikiran tentang Ibeh selalu datang dan berputar-putar dipikirannya. Ia menyerah dan tak mau memikirkannya lagi. Sejak itu, ia sering bertanya-tanya  dalam hatinya, “untuk apa aku slalu dan selalu mikiran dia? Dia belum tentu mikirin aku. Untuk apa aku nangis demi dia? Dia juga belum tentu nangis buat aku. Untuk apa aku stress cari info tentang dia? Dia ga mungkin nyari aku. Untuk apa..?? untuk apa..?? untuk apa??” ia berkeputusan, Air mata yang keluar deras saat itu adalah air mata terakhir untuk Ibeh. pikiran Arin ini sangat bertentangan dengan hati terdalamnya. Sehingga sering terjadi perdebatan  batin yang membuat Arin sering stress.
Sejak keputusan itu datang menghantui pikiran Arin, ia sering mengeluh sakit kepala tak ketulungan. Meskipun bagaimanapun keadaannya, ia harus tetap terlihat ceria didepan teman-teman yang menyayanginya. Tapi, ia tetap tak bisa menyembunyikan wajah pucatnya dibalik senyumannya. Lama kelamaan, sakit itu menjalar ke bagian pernapasan Arin. Menarik satu nafaspun rasanya sakit di bagian dada. Mirisnya, Ia tak ingin Ayah, Bunda dan Fian tau keadaannya. Sehingga, sering sekali ia mengeluarkan darah segar dari hidungnya.
Pernah suatu hari, ketika ia mengikuti pelatihan yang mengharuskan Para peserta bermalam disekolah. Ia harus menghadapi tes mental, berdiri didepan panitia pelatihan yang tak lain adalah kakak kelasnya sendiri. Beberapa sentakan yang dilontarkan panitia pada Arin, Ia menjadi bulan-bulanan kemarahan panitia untuk pelatihan. Pada saat itu, sakit itu kambuh, yang melebihi sakit dihari-hari biasanya. Mengalirlah darah segar dari hidungnya, tapi ia tetap bertahan dalam posisi itu dengan menyembunyikan hidungnya dibalik tangan Arin. Saking derasnya aliran darah itu, sampai-sampai keluar dari sela-sela tangan Arin. Panitia menghentikan sentakan-sentakan kasar itu. Tiba-tiba Arin tak sadarkan diri. Panitia mengangkutnya ke ruang UKS, dengan darah yang membasahi lantai ubin. Sebenarnya, ia tak ingin pelatihan ini berakhir sia-sia untuknya. Tapi, apa daya jika sudah begini.
Sudah 2 jam Arin terbaring di ranjang UKS, untung saja darah itu tak mengalir lagi. Ayah dan Bunda segera menyusul putrinya yang lemah seperti ini. Mereka kaget melihat putrinya terbaring lemah dengan sisa darah. Karena, selama ini Arin tak pernah sama sekali pingsan, apalagi sampai mimisan. Arin tak kunjung siuman, takut terjadi yang tidak diinginkan, Ayah dan Bunda membawanya ke Rumah Sakit terdekat, yang dokternya menjadi dokter pribadi keluarga Arin sebelum Arin lahir.
Dokter  terkaget melihat kondisi Arin yang seperti ini. Setelah ia melakukan beberapa pemeriksaan, dokter berkata tak ada gangguan apapun yang ada pada Kepala Arin. Ia hanya mengalami tekanan batin. Tetapi, Ada keganjalan pada paru-paru Arin. Tak lama kemudian, ia terbangun dari pingsannya. Ayah, Bunda dan Arin kembali kerumah. Mereka sengaja tak mengabarkan berita ini pada Fian, khawatir akan mengganggu kuliahnya.
Untuk mengantisipasi tekanan batin yang sedang dialami Arin, Ayah dan Bunda sengaja memanggil Psikiater yang pernah menangani Arin dulu. Memang, kini Arin sudah dewasa. Tapi sangat sulit bagi Arin melupakan masa kecilnya itu, yang membuatnya bersikap kekanak-anakan, seolah olah tak bisa menjadi dewasa.
Mbak Psikiater itu menenangkan fikiran Arin yang sudah diselimuti keraguan atas Ibeh. Ternyata, nasihat psikiater itu diterima secara positif oleh Arin. Ya… meskipun ia masih saja bertingkah layaknya anak kecil ketika mengingat Ibeh. Psikiater muda itu juga memberikan motivasi dan keyakinan bahwa Arin harus bisa bangkit, jangan mudah hanyut dalam suatu masalah. Toh yang rugi juga diri sendiri. Ia belum bisa mengubah pandangan tentang Ibeh yang terlanjur menguasai hati dan pikiran Arin. Tapi, lambat laun ia pasti akan kembali seperti semula. Menjadi Arin yang selalu sehat, ceria, menjadi penghibur teman-temannya. Mereka merindukan sosok Arin yang seperti dulu.
Tiga tahun sudah, Arin belajar di SMA, kini saatnya ia harus melangkah menuju hidup yang lebih mandiri, dan harus lebih berpikir secara luas. Ia kuliah di kota yang jauh dari rumah, jauh dari Ayah, Bunda dan Fian. Ia memilih Jurusan Matematika, karena ia sangat gemar dibidang itu, dan berbagai piala ia dapat ketika mengikuti Olimpiade. Ia tinggal disuatu Asrama putri. Disanalah ia baru menempuh hidupnya tanpa Ayah dan Bunda dan juga Fian yang selalu membimbing dan mendampinginya. Kini Fian bekerja disuatu perusahaan besar. Ia juga akan mewarisi yayasan Ayahnya.
Hasil belajar Arin selama 12 tahun sungguh tidak sia-sia. Orang tuanya sangat bangga karena kedua anaknya tidak mengecewakan mereka. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang mengingatkannya dengan Ibeh, ia mengira bahwa itu Ibeh, ternyata bukan. Wahh.. Arin salah orang tuh. Kini, gadis itu menjadi teman balajarnya dikampus, di Asrama pula.
Ketika Arin menjalani OSPEK dikampusnya, rasa sakit didadanya datang kembali dan membuat kegiatannya tidak maksimal. Untuk bernapas, sungguh berat rasanya. Seperti yang dialaminya ketika pelatihan di SMA, darah segar mengalir deras dari hidungnya, seakan-akan tak mau berhenti. Tubuhnya kaku, dan tak dapat digerakkan. Terjatuhlah Arin di tengah teman-temannya yang sedang menjalani OSPEK, Arin pingsan. Segera Orang tua Arin mengetahui dari pihak kampus, segera pula mereka datang jauh dari rumahnya dan membawa putrinya yang tak sehat itu ke RSU ternama dikota itu.
Ayah menemui dokter dan meminta keterangan hasil pemeriksaan, ternyata Arin terserang penyakit Radang Paru-paru. Rupanya inilah yang selama ini menyebabkan Arin sulit bernapas dan mimisan. Tanpa diketahui, penyakit itu menyerang hampir seluruh paru-paru Arin dibagian Kanan. Jika tidak segera diantisipasi, sel kanker bisa tumbuh dalam paru-parunya.
Radang itu membuat dada Arin sakit bukan main. Pernapasan Arin harus dibantu dengan alat medis. Ia sudah tak kuat menahan sakit itu, disertai sesekali sakit pada kepalanya yang turut menambah derita Arin.
Hingga suatu hari, ia harus mengalami kehidupan antara hidup dan mati, yaitu masa kritisnya. Ia tertidur dengan lelap, tanpa membuka mata sedetik pun. Keluarga menjadi sedih dan gelisah. Fian juga menemani Adik tersayangnya dan izin pada tempat kuliahnya.
Arin bermimpi dalam tidur panjangnya. Ia berada disebuah tempat yang indahnya luar biasa, bunga-bunga yang bermekaran, langit yang cerah melebihi cerahnya sinar mata Arin. Kemudian Arin dipersilahkan masuk disebuah mobil Limousine mewah berlapis perak. Ternyata ia dibawa ke sebuah istana indah, melebihi indahnya ista/na di film-film kerajaan. Didalamnya, ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang ternyata namanya adalah Aik, tapi ia tak mengenal siapa itu Aik. Mereka tinggal bersama didalam istana indah itu.
Istana mewah itu berisi barang-barang mewah dan indah, itu semua adalah barang yang selama ini diinginkannya. Disertai para pembantu dan pengawal yang semuanya berwajah cerah, berpakaian putih bersih, menutup semua Aurat mereka. Mereka juga sangat ramah dan baik hati pada Arin dan Aik.
Arin dan Aik selalu bermain bersama didalamnya, berbagi cerita bersama seolah-olah mereka tak dewasa. Mereka sangat bahagia hidup ditempat mewah itu. Arin tak merasakan rasa sakit pada dadanya, nyeri dihidungnya karena sering mimisan, sakit kepala. Pokoknya, ia sangat betah tinggal ditempat itu, ia tak mau kembali didunia yang penuh rasa sakit itu.
Suatu hari dalam mimpi Arin, ditengah masa kritisnya, terdapat banyak sekali mobil Limousine mewah yang dulu membawa Arin ke istana itu. Berjajar dengan rapi. Yang ingin menjemput dan mengajak pulang Arin dan Aik ke keluarganya. Arin tiba-tiba merasakan rindu pada keluarganya, tapi ia juga tak ingin meninggalkan dunia penuh keindahan itu, layaknya surga. Dengan dan tanpa pikir panjang, Arin menolak kembali kepada keluarga. Kedua mobilpun bergantian pergi meninggalkan istana. Tapi, ketika mobil terakhir akan pergi, Arin menahannya. Ternyata ia berubah pikiran. Ia sangat rindu kepada keluarga dan teman-temannya didunia yang menyakitkan itu. Sedangkan Aik masih ingin lebih lama tinggal disurga itu.
Dalam perjalanan pulang, Arin mendengar suara isak tangis dan itupun tidak satu. Ia mendengar suara lirih Bunda. Ia membuka mata dari tidur panjangnya, dan kembali pada dunia dimana ia tinggal bersama orang-orang yang menyayanginya. Arin bisa dikatakan berhasil melewati masa kritisnya itu selama 10 hari penuh. Ia membuka mata sembari tersenyum dibalik Oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya, seakan-akan tak merasakan sakit dalam hidupnya. Senyum dan tatapan Arin sangat teduh.  Segeralah seluruh orang-orang yang menyayanginya mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Tangis bahagiapun meramaikan ruangan Rumah Sakit itu.
Arin menatap sekeliling ruang dimana ia telah melewati masa kritisnya, dan mimpi indah yang panjang itu. Ia merasakan rindu yang mendalam pada Ibeh. Ia takut, ia tak bisa bersua lagi dengan sohib ciliknya. Ia ingin bersama Ibeh saat ini. Ia merasa bahwa hidupnya tak lama lagi dengan paru-paru yang telah ditumbuhi sel kanker. Diatas ranjangnya, ia meneteskan air mata dibantu beberapa alat medis yang melekat di tubuhnya, yang membuat Arin sulit untuk bergerak. Tubuhnya kini kurus. Sangat kurus.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang mengetuk pintu di kamar rawat Arin. Ternyata seorang dibalik pintu itu adalah laki-laki setengah baya. Ia masuk seraya bertanya,
            “ Apakah betul ini keluarga Arin?”
            “ ia benar” spontan Fian menjawab penuh curiga
            “ Apakah kamu Arin, Nak?” Tanya bapak itu sambil mendekati Arin
            “ ia benar” lagi-lagi Fian menjawab untuk mewakilkan Adiknya yang masih terbujur lemas
Lelaki setengah baya itu langsung menangis terisak. Arin dan keluarga merasa bingung pada lelaki itu. Tiba-tiba saja Bapak itu ingin menceritakan sesuatu di dalam ruangan itu.
Ternyata tanpa terduga, lelaki setengah baya itu adalah Ayah Aik. Aik yang ternyata Ibeh. “Aik, kecelakaan lalu lintas 2 minggu yang lalu. Dan sekarang ia mengalami koma, di Rumah sakit dekat sini” ujarnya. Sebelumnya, Aik juga mendaftar dikampus yang sama dengan Arin. Tapi ia tak ingin kuliah dikampus itu. Dan ternyata, kota dimana Arin kuliah adalah kota kelahiran Ibeh. Ayah Ibeh mngetahui Arin dari buku Diary Ibeh, dan kemudian beliau mencari Arin tanpa lelah. Dan Alhamdulillah setelah 7 hari mencari, akhirnya bertemu juga.
Setelah mendengar semua cerita dari Ayah Ibeh, Arin menangis diatas ranjangnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa, dengan tubuh yang lemas, masih sulit untuk berbicara. Ayah Ibeh meninggalkan nomor telpon untuk dihubungi.
Setelah beberapa hari di Rumah Sakit, Arin merasa lebih sehat, tapi Dokter belum memperkenankan Arin pulang kerumah. Padahal Arin ingin sekali menjenguk Ibeh dengan keadaan sehat. Terpaksa, dengan keadaan yang belum sehat betul, ia meminta izin kepada Ayah dan Bunda untuk menjenguk Ibeh di Rumah Sakit lain. Ayah dan Bunda mengizinkan, tapi ia harus memakai kursi roda dan ditemani Fian.
Arin pergi menjenguk Ibeh dengan kursi roda, infus yang masih menusuk ditangannya dan tubuh yang masih lemah lunglai. Fian mendorong kursi roda Arin tanpa lelah sambil diselingi gurauan. Tepat sampai dimana Ibeh berbaring dengan Alat medis yang lengkap dan balutan perban di kaki, tangan, dan kepala akibat kecelakaan. Arin terduduk kaku di kursi rodanya, menahan air mata rindu dan sesal. Ternyata benar sekali, wajah ini yang menemani Arin di Istana indah itu. Ia ingin memeluk sohibnya. ia tak menduga sebelumnya akan bertemu dengan Ibeh dengan keadaan seperti ini. Tapi apa daya, ia hanya bisa melihat Ibeh dengan luka-luka disekujur tubuhnya.
Setelah Arin melihat Ibeh di Rumah Sakit itu, ia berpikir untuk tinggal seruangan dengan Ibeh. Ia meminta pada keluarganya. Ayah sih iya-iya aja, tapi Bunda adalah seorang yang penuh pertimbangan. Tak henti-hentinya ia merengek pada Bunda. Ia sangat rindu pada Ibeh. Akhirnya, tak tega melihat sang putri yang merengek dengan keadaan lemas, Bunda mengiyakan permintaan Arin.
Kini Arin seruangan dengan Ibeh di Rumah Sakit yang Ibeh tempati. Dua keluarga berkumpul diruangan itu, seperti menjadi satu keluarga. Tiap Arin akan tidur, ia berdoa ia berdoa dapat membuka matanya lagi untuk dapat melihat Ibeh tersenyum, tertawa bersamanya. Saat Ibeh tidur, Arin menatapnya dengan penuh harap, ia dapat saling becengkrama dengan Ibeh dengan keadaan sehat. Dalam hati ia selalu bertanya, ‘Ibeh, kamu ngapian di Istana itu ya?’
Sudah 3 minggu Ibeh tak kunjung bangun dari komanya, namun Arin akan tetap menunggu Ibeh sadar kembali. Malam itu, Ibeh bangun dari komanya. Saat itu Arin dan semua Keluarga sedang tertidur. Ibeh tak dapat mengucapkan satu katapun, karena sekuruh tubuhnya telah kaku. Sehingga, Ibeh kesepian pada malam pertama ia membuka mata. Arin terjaga setelah 2 jam Ibeh sendirian kesepian. Arin melihat mata Ibeh berkedip. Tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya, ia bangun dari ranjangnya dan berusaha berjalan mendekati Ibeh. Ia terkejut, Ibeh benar-benar membuka mata, “Ibeehh” Suara Arin membangunkan semua keluarga yang berjaga pada malam itu. Arin menangis terharu dan senang karena ia dapat saling memandang dengan Ibeh yang selama 12 tahun tak berjumpa. Tapi, Ibeh belum pulih betul. Ia harus melatih tubuhnya untuk bergerak, untuk berbicara.
Ibeh berkata pada Arin,
            “ka..ka.. kamu siapa?”
            “Aku… Aku… Ara. Ingat aku kan? Karinda Fajanggara” ujarnya sembari menangis
            “kamu.. aku kangenn…”
“aku juga sangat merindukanmu, Ibeh. Aku masih menyimpan foto kecil kita dulu.” Arin menunjukkan beberapa foto usangnya dangan Ibeh.
Mereka saling berpelukan. Melepaskan beribu-ribu rasa rindu.
Kini Arin sudah bisa berjalan kembali, ia pun diperkenankan pulang ke rumah oleh dokter. Tapi, rasa sakit akibat kanker di paru-paru Arin masih saja menemani hari-harinya.  Ibeh  masih duduk di kursi roda dengan beberapa balutan perban disekujur tubuhnya. Arin mengajak sohibnya untuk bernapas lega di ruang terbuka, Taman Rumah Sakit. Seperti dulu, mereka selalu bercerita tentang hal apa saja yang menarik.
Setelah sehari penuh mereka bermain-main ditaman, Ibeh merasa lelah dan ingin berbaring untuk istirahat dikamar inapnya.
            “Ara, aku mau tidur dulu, ya. Cuapek poll.. hehe. Emmm.. simpan baik-baik diaryku ini, ya” Ibeh               memberikan Diarynya pada Arin.
            “ha? Untuk apa, beh?”
“ya… pokoknya simpen aja, dehh. O,ya. Udah ngantuk banget, nih. Aku tidur dulu, ya.. Wass…salam..mualaikum.”
Ibeh mengucapkan salam dengan terpatah-patah, dan menutup matanya. Ia tertidur dengan senyumannya yang amat manis kepada Arin. Beberapa saat kemudian, Arin merasakan suhu yang sangat dingin pada tubuh sohibnya. ia berkata dengan polosnya kepada Ayah Ibeh, “Om, badan Ibeh dingin sekali.” Dengan segera Ayah Ibeh mendekati putrinya, kemudian memanggil dokter. Arin hanya terduduk kaku di samping Ibeh. Kemudian dokter datang, memeriksa Ibeh. Tak ditemukan Detak jantung dan denyut nadi. “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun” kata dokter setelah memriksa seluruh tubuh Ibeh.
            “Apa? Dokter, bilang sama Arin apa maksudnya?” paksa Arin sembari menahan tangisnya
            “Aik sudah tiada, nak.”
Tanpa berkata-kata, Arin menangis seolah tak mempercayai bahwa sahabatnya telah meninggalkannya lagi, untuk selamanya. Ia memeluk tubuh dingin Sahabat yang sangat ia cintai dan sayangi. Ayah Arin dan Ayah Ibeh berusaha memisahkan keduanya dengan isak tangis pula. Arin terduduk lemas dengan isak tangisnya yang tiada henti.
Ibeh segera disholatkan dan dikebumikan dipemakaman keluarganya. Arin tetap saja menangis tiada henti ketika mengiring Sohibnya untuk yang terakhir kalinya. Sampai para peziarah pulang, Ibeh tetap terduduk di samping makam Ibeh. Keluarga menunggunya dipos penjaga makam. Alam turut berduka atas perginya Ibeh. Arin duduk dengan sisa tangisannya, diatapi awan mendung yang siap meluncurkan Air dari langit. Suara gemerintik air hujan terdengar dari kejauhan. Fian segera mengajak Adik tercintanya untuk pulang kerumah. Hari itu, adalah hari perpisahan dan pertemuan terakhir Arin dengan Ibeh.
Kini, Arin bisa kuliah lagi tanpa beban dalam pikiran. Senyum Ibeh sebelum meninggalkan dunia, menjadi semangatnya untuk tetap hidup dan mencapai cita-citanya sebagai guru Matematika. Meskipun Kanker itu tetap bersarang diparu-parunya, semangatnya tak ingin ia sia-siakan.

Sampai kapanpun
                        Sobat,
                        Jika aku dapat memutar waktu
                        Akan kuhabiskan waktuku
                        Untuk bersamammu
                        Takkan kusia-siakan waktuku
                        Sobat,
                        Aku akan menyusulmu
                        Tunggu aku di akhirat sana
                        Berbahagialah disana
                        Dengan penyakit ini
                        Aku akan menyusulmu
                        Dengan semangat darimu
                        Akan kucapai cita-citaku
                        Terimakasih Sobat
                        Kau buat bahagia hidup ini
                        Kau gores kenangan kita
                        Pada hati kecil ini
                        Dengan bayanganmu
                        Ku tahu kau pasti tahu
                        Betapa diriku mencintaimu
                        Betapa diriku menyayangimu
                        Karena Allah
                        Dengan sepenuh hati ini

                        Keindahanmu,
                        Keteguhanmu,
                        Kelembutanmu,
                        Dan segalanya tentang dirimu
                        Akan kusimpan dalam hatiku
                        Ya Allah, Tuhan maha Esa lagi Maha Kuasa
                        Pertemukanlah kami kembali
                        Kebahagiaan kami
                        Kebersamaan kami
                        Satukan kami kembali
                        Di alam yang sama nanti
                       
                        Sobat,
                        Waktu begitu liar untuk diburu
                        Waktu begitu gesit untuk dicari
                        Waktu begitu pintar bersembunyi
                        Waktu begitu cepat berlalu
                        Namun,
                        Takkan pupus harapanku
                        Takkan terhapus cintaku
                        Takkan berlalu kenangan kita
                        Oleh waktu
                        Aku akan selalu mengenangmu
                        Mengingatmu
                        Menyayangimu
                        Mencintaimu
                        Sampai kapanpun



Puisi tersebut ditulis Arin di buku Diarynya. Kemudian ia kirim puisi itu ke Fakultas Karya dan Sastra Indonesia di Kampusnya. Ternyata, puisi itu diterima dengan baik disana. Kini, puisi itu sangat fenomenal di kalangan Kampus.

~ T A M A T ~

2 comments:

  1. Replies
    1. Hehee... makasi, ukhty. tapi masi jauh dr kesempurnaan.

      Salam SEMANGAT ^_^

      Delete