Waa... sekarang
lagi musim hujan, ya.. dalam suasana gini, aku lagi demen-demennya nulis-nulis.
Hehe.. #Ehh, malah curcol. Yaudah, nih aku kasih satu lanjutan dari cinta untuk cinta part 5. Wuuuhh...
ternyata udah part 5 yak.. hehee... sebenernya pinginnya baca-baca, si..
berhubung nggak ada yang mau dibaca, kecuali numpang nimbrung di blog-blog
sebelah, mending nulis deh. Dan semoga dengan adanya cerbung yang kali ini aku
akuin singkat banget, readers bisa tenang di musim hujan yang angnnya lumayan
kenceng ini. Oke. Singkat kata, Happy Reading, guys. =)
Dari Cinta Untuk Cinta Part 5
Sesampainya di
wisma, kau dan teman-teman membersihkan diri dan segera menuju ke resto untuk
breakfast. Disana sudah ada Tini dan Tiar yang duduk berdampingan, aku
menghiraukan mereka. Tapi apakah mereka tau aku sakit, hatiku sakit. Bukan
karena Tini sudah bersama Tiar, tapi karena seorang teman baik alias sahabat,
aku sakiiiiiitttt. Aku berusaha tersenyum dan menunjukkan kegembiraanku seperti
biasa kepada teman-teman, kami mulai makan. Aku merasa diperhatikan oleh Tiar,
kenapa begitu? Karena Tiar selalu didalam pikiranku. Dan ternyata memang benar
Tiar sedang memperhatikanku makan. Aku teruskan makan pagi itu tanpa
menghiraukan Tiar.
Pagi ini kami
haru pulang ke rumah masing-masing. Aku packing semua barangku dan titipan Mas Joni
dan Mbak Dilma, jangan sampai ada yang ketinggalan. Beres.. semua siap dibawa
pulang. Aku keluarkan koperku dan ku etakkan berjajar dengan koper teman-teman
lainnya untuk dibawa ke Bus. “ayoo teman-teman, kita berfoto bersama-sama. Yang
sudah packing, cepat keluar. Kami tunggu di pantai” Dedi memberi pengumuman
pada kami. Aku dan teman-teman lainnya siap meluncur ke pantai, “Teman-teman...
tungguin aku” kata Intan yang belum selesai dengan barangnya. “oke.. cepat ya”
sahutku, “yuup. Udah selesai. Yuk berangkat” kata Intan.
Kamipun bergegas menuju pantai dan berfoto-foto sebagai kenang-kenangan. Aku berdiri dan berpose, disampingku ada Dedi dan Fika. Biasanya aku dan Tini selalu berfoto bersanding, sekarang dia jauh. Jauuuhhhh sekali. Seperti tak pernah kenal saja. Setelah itu kami harus langsung menuju Bus, ‘jangan sampai aku duduk dengan Dedi lagi. plisss’ batinku, tapi aku melihat Tini berjalan sendiri dan kupanggil dia “Tini”, Tini menoleh kearahku dan langkah kakinya semakin cepat.
Dia seperti menghindariku, aku menarik tangannya dan berkata “Tini. Apa kamu mau terus begini? Aku gak akan ngerebut Tiar dari kamu, Tin! Aku nggak boleh dan nggak mau pacaran! Aku mau kita kayak dulu lagi! Aku nggak kuat sama keadaan ini. Plisss.. jangan buat aku ngerasa bersalah kayak gini!” aku berbicara panjang lebar dan tanpa kusadari aku meneteskan air mata. “Aku udah nggak butuh kamu!” kata Tini dengan sikap dan ekspresi yang judes, diapun langsung pergi meninggalkanku. Aku sadar saat itu hanya sendiri, teman-teman sudah berada di Bus. Aku sempatkan pergi ke toilet untuk mengahapus air mataku. Kata terakhir yang diucap Tini sangat menghancurkanku ‘aku tak butuh kamu? Apa itu? Haa?’ batinku. Akupun segera berlari menuju Bus.
Kamipun bergegas menuju pantai dan berfoto-foto sebagai kenang-kenangan. Aku berdiri dan berpose, disampingku ada Dedi dan Fika. Biasanya aku dan Tini selalu berfoto bersanding, sekarang dia jauh. Jauuuhhhh sekali. Seperti tak pernah kenal saja. Setelah itu kami harus langsung menuju Bus, ‘jangan sampai aku duduk dengan Dedi lagi. plisss’ batinku, tapi aku melihat Tini berjalan sendiri dan kupanggil dia “Tini”, Tini menoleh kearahku dan langkah kakinya semakin cepat.
Dia seperti menghindariku, aku menarik tangannya dan berkata “Tini. Apa kamu mau terus begini? Aku gak akan ngerebut Tiar dari kamu, Tin! Aku nggak boleh dan nggak mau pacaran! Aku mau kita kayak dulu lagi! Aku nggak kuat sama keadaan ini. Plisss.. jangan buat aku ngerasa bersalah kayak gini!” aku berbicara panjang lebar dan tanpa kusadari aku meneteskan air mata. “Aku udah nggak butuh kamu!” kata Tini dengan sikap dan ekspresi yang judes, diapun langsung pergi meninggalkanku. Aku sadar saat itu hanya sendiri, teman-teman sudah berada di Bus. Aku sempatkan pergi ke toilet untuk mengahapus air mataku. Kata terakhir yang diucap Tini sangat menghancurkanku ‘aku tak butuh kamu? Apa itu? Haa?’ batinku. Akupun segera berlari menuju Bus.
Sial, aku harus
duduk dengan Dedi lagi ditempat yang sama. Ga ada lagi tempat kosong, terpaksa
aku harus duduk disamping Dedi. Tapi aku ingin duduk didekat jendela, “Ded.
Kamu pindah dong.. aku disitu, kamu disini” kataku sambil menunjuk ke tempat
duduk Dedi. “nggak deh. Sama aja Rani” ujarnya, “tapi aku mau disitu”aku
merengek. “Iya, oke” katanya. Perjalanan panjangpun kami tempuh. Aku hanya
terdiam menghadap jendela menatap indahnya pemandangan diluar sana. Tiba-tiba
aku meneteskan air mata, seluruh pikiran menumpuk disaat itu. Plek, kepala Dedi
mendarat di pundakku. ‘iihhh.. nih anak nyusahin aja’ batinku, tapi aku nggak
tega ngebangunin Dedi yang sudah terlelap, aku tau dia pasti lelah. ku biarkan
dia bersandar dipundakku. Tak lama kemudian, akupun tertidur juga.
“Rin.. Rina.
Bangun dong.. Rin” aku mendengar bisikan Dedi yang membangunkanku,
‘Astaghfirullah, aku mimisan’ batinku. “ehh.. jangan bersandar. Tegakkan badanmu” kata Dedi yang
pasti tau menangani mimisan. “heem” ujarku. Dedi menyodorkan tisu ke hidungku
tapi aku tak mau, “biar aku saja”. Aku mengusap darah yang sudah mengalir di
daguku, kututup hidungku untuk mencegah darah keluar lebih banyak. Dedi
memperhatikanku dengan khawatir. Setelah kututup hidungku, aku berkata pada
Dedi “udah Ded. Nggak papa kok. Nggak perlu khawatir, aku udah terbiasa kayak
gini. Makasih ya udah bangunin aku”, Dedi mengangguk. Sepertinya teman-teman
lain terganggu dengan obrolan kami berdua, Mega yang duduk didepanku berbalik
badan “heiii.. jangan ram... Astaga Rina! Kamu mimisan?” Mega yang berniat
menegur kami langsung kaget melihat hidungku ditutup Tisu. “ssstt. Jangan rame”
kataku dengan telunjuk didepan bibir. Saat itu suasana Bus menjadi ramai. Guru
pendamping menghampiriku untuk menanyakan keadaanku. Aku melihat Tini sedang
mengkhawatirkanku, aku tau dia masih sayang kepadaku dan mengkhawatirkan
keadaanku. Tapi.... sudahlah.
Waahh...
ternyata kurang beberapa kilometer lagi sampai di kota asal, aku menghubingi
mas Joni untuk segera menjemputku. “Rin, aku mau ngomong sesuatu ke kamu”
Tiba-tiba Dedi berkata, “iya.. ngomong aja” kataku sambil mengutak-atik hapeku.
“kamu sebaiknya periksa kesehatan, deh. Aku khawatir. Udah 2 kali aku melihat
kamu mimisan. Ya?” kata Dedi yang ternyata melihatku mimisan di toilet, “emm..
udah.. aku baik-baik aja. Emang dari kecil aku sering mimisan, kok. Waa... udah
sampai, nih. Aku turun dulu, ya” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. “Rin,
dengerin aku sekali lagi. Aku ss...ss..ssayang kamu” kata Dedi dengan tatapan
tulusnya. “eemmm... oke. Oke. Aku tau. Kita kan teman, ya nggak? Harus saling
menyayangi, dong. Udah yaa.. ayuk turun. Tuh mas Joni udah nunggu” aku berlagak
sok polos. “ya benar.. kita teman” kata Dedi dengan nada yang agak lirih,
“Ciyeee... ciyee... si Dedi sama si Rina, chuy, chiyeee” tiba-tiba Romi muncul
dari balik kursi dan mengagetan kami. “aahhh.. Romi kebiasaan deh!” kataku
sebal. Kamipun pulang kerumah masing-masing. Aku melihat Dedi dan melambaikan
tangannya, juga Tiar disamping Dedi dengan tatapan yang selalu membuatku
terpesona.
Akhirnya sampai
juga aku dirumah, tepat pukul 15.15. Ternyata Mbak Dilma sudah kembali ke
kampusnya, sedih sii, tapi sudahlah. Toh mbak Dilma pasti pulang.
“Assalamualaikum... Umi.. Aba... kangen nih” kataku sambil cipika cipiki pada
Umi dan Aba, “aku dekkk” kata mas Joni yang juga minta dicium olehku, “iya
siniii” akupun mencium pipi kak Joni yang berminyak itu. Setelah memberikan
semua pesanan dan oleh-oleh kepada keluarga, aku ijin pergi ke kamar untuk
membersihkan diri dan istirahat. ‘Haahh.. leganya sudah sampek rumah. Lebih
baik disini, rumah kita sendiri’ batinku ketika masuk kamarku yang serba biru
itu membuat hatiku damai. Setelah aku mandi dan sholat Ashar, aku langsung
merebahkan diri dan terlelap. Aku terbangun ba’da Maghrib, dan langsung
melaksanakan Sholat. Aku terus memikirkan apa yang telah terjadi ketika
refreshing bersama teman-teman kelas VIII itu.
Liburanku kini
menjadi sangat membosakan, karena aku tidak ada rencana untuk refreshing. Malas
banget rasanya. Tiap pagi aku bersih-bersih kamar, nyetrika baju, dan berolah
raga kecil di taman belakang. Mengitari kolam renang. Setelah itu sarapan,
menikmati pagi di Gazebo. Siangnya liat TV, tidur, membaca. Malamnya menikmati
suasana malam dan melihat bintang yang bertaburan di Gazebo taman belakang.
Begitulah kegiatanku sehari-hari selama liburan 2 minggu lamanya. Hapeku juga
sangat sepi, tidak ada yang menghubungi.
Di hari
liburanku yang cukup lama ini, aku tak bisa berhenti memikirkan Tiar. Di
fikiranku selalu ada Tiar, Tiar, Tiar dan Tiar. Semakin aku berusaha untuk
melupakannya, semakin muncul bayangan wajah dengan tatapan khasnya. Namun, Di
siang bolong ketika aku bersantai di Gazebo bersama mas Joni, Tiar mengirim
pesan padaku, Tiar : Assalamualaikum, Rina. Apa kabar?
Aku : Walaikumsalam, baik.
Tiar : Liburan kemana nih?
Aku : Di rumah
Tiar : oooh... oke deh. Semoga liburanmu menyenangkan, =)
lalu aku tak membalas pesannya, sebenarnya aku tak ingin bersikap dingin seperti ini kepada Tiar. Karena aku sangat menyayangi lelaki itu. Setiap hari Tiar mengirim pesan padaku, tapi aku tak membalasnya. Aku menjadi sangat kesepian dirumah, tapi untung deh ada mas Joni yang setia menemani hariku. Liburanku jadi nggak sepi sepi amat, deh.. Thanks, Mas Joni.
Aku : Walaikumsalam, baik.
Tiar : Liburan kemana nih?
Aku : Di rumah
Tiar : oooh... oke deh. Semoga liburanmu menyenangkan, =)
lalu aku tak membalas pesannya, sebenarnya aku tak ingin bersikap dingin seperti ini kepada Tiar. Karena aku sangat menyayangi lelaki itu. Setiap hari Tiar mengirim pesan padaku, tapi aku tak membalasnya. Aku menjadi sangat kesepian dirumah, tapi untung deh ada mas Joni yang setia menemani hariku. Liburanku jadi nggak sepi sepi amat, deh.. Thanks, Mas Joni.
To Be
Continue....
Kayaknya cerita
ini nggak kelar-kelar, deh. Tapi jangan bosen, ya. Hehe.. pinginnya, sih bulan
ini mau ngelarin cerpen ini. En, makasi udah mau ngebaca cerpen tulisanku. =)
No comments:
Post a Comment