Tuesday, January 26, 2016

My Hijab is My Beauty

Assalamualaikum.. sudah lama sekali, ane ndk negpost di blog ini lagi. alhamdulillah pos kali ini ane mempersembahkan sebuah ungkapan hati seorang akhwat yang InsyaAllah tangguh.
langsung aja silahkan baca, ya.. maap kalo agak garing. yang penting ntar teman2 bisa ngerti  makna dr cerpen ini.. Selamat Membaca..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
My Hijab is My Beauty
            CANTIK, adalah sebuah kata yang didalamnya mengandung banyak makna dan selalu diinginkan wanita, Tapi cantik itu ~kata orang-orang sekarang, sih~ relatif, cantik dilihat dari mananya dulu, dari hati kah? Tingkah laku? pemikiran? Atau penampilannya? Aku juga ingin cantik, tapi sejauh manakah usahaku untuk menjadi cantik?
            Sebelumnya, izinkan daku memperkenalkan diri dulu ya pemirsaahh.. Aku Fajrian Dwi Anggraeni, Kalau dirumah dipanggil Reni, kalau di lingkungan sekolah or kampus, aku dipanggil Fajrin. Tapi dibalik itu, aku juga punya banyak julukan, nggak perlu ku sebutin satu-satu ya.. hihi.
            Aku mulai mengenal kerudung, ketika kelas 4 SD dimana saat itu juga Mbakku bernadzar kalau sudah SMP, mulai hari pertama sekolah ingin memakai kerudung, dan akupun mulai memakainya sampai sekarang, dengan ukuran yang bertahap yang InSyaaAllah semakin Syar’i beriringan dengan bertambahnya usiaku.
            Persepsiku mengenai Hijab mulai dari aku SD sampai awal SMP yaitu, hijab hanyalah sebatas penutup kepala. Sebagai kaum minoritas di sekolahku, aku merasa kurang PD dengan penampilanku yang berbeda dari kebanyakan siswa disekolahku ~yang kebanyakan tidak menggunakan kerudung~. Meskipun begitu, aku tidak ingin menutup diri dengan ketidak PDanku saat itu. Jadi hal yang bisa ku lakukan adalah menyesuaikan dengan tingkah laku. Aku menyesuaikan diri dengan teman-teman disekitarku.
Ketika aku duduk di Jenjang SMP dan SMA, Banyak orang ~yang belum kenal aku banget~ bilang kalau Fajrin itu kalem, lembut, pendiam, dan berbagai kata-kata yang membuat kepalaku membesar. Mereka hanya melihat dari sudut pandang fisikku saja ~mungkin~. Entah mengapa saat itu aku agak merasa kurang pas karena mereka hanya menilaiku dari segi fisik, yang hanya terlihat dari luar saja, karena aku juga mempunyai sisi yang tidak terlihat, yang mungkin tidak disukai orang lain.
            Disaat itulah masa pencarian jati diriku dimulai. Banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan kepada kedua orang tuaku yang tak jarang melarangku melakukan sesuatu yang menurutku asik dan menyenangkan. aku juga ingin mencoba hal-hal baru hasil dari rasa penasaranku yang mustahil aku lakukan. “bagaimana ya, rasanya melepas hijab dan bergaya seperti orang-orang tak berjilbab?” saat itu terlintas dalam pikiranku bahwa orang yang tidak berjilbab itu terlihat easy going, nggak kaku, dan menjalani kehidupan tanpa ada batasan-batasan yang terlalu mengekang.
Membandingkan diri dengan orang lain adalah suatu pemikiran yang panjang dan rumit, terutama membandingkan diriku dengan laki-laki, dan terselip rasa ‘dengki’ disana. Astaghfirullah hal‘adzim. “enak, ya jadi laki-laki. Mereka bebas melakukan hal yang mereka inginkan. Kebanyakan pemimpin itu laki-laki. Mereka kuat dan berani. Coba kalau aku, nggak boleh ini lah, nggak boleh itu lah, harus lembut, feminim, dan kalem.”  Dan banyak lagi pernyataan-pernyataan yang membuat aku menjadi seorang yang tidak berdaya dan tidak punya apa-apa di dunia ini.
Sedih ketika melihat teman mendapatkan kejuaraan lomba, “kenapa bukan aku?”. Menyesal ketika melakukan hal yang ~katanya~ nggak boleh dilakuin wanita, “coba kalau aku laki-laki, pasti bisa ini itu”. Minder ketika melihat teman-teman berbangga diri berkarya, “aku ini apa? Nggak mungkin bisa aku melakukan itu”.
Tapi aku berusaha nggak mau kalah sama  pikiranku, melalui mencoba memuaskan rasa penasaranku dengan melakukan hal-ha yang aku ingin lakukan. Bermusik? It’s okay, meskipun semua partnerku laki-laki, dan aku perempuan sendiri. Sempat berpikir, “apa kata orang? Aku berkerudung, dan perkumpulanku adalah para lelaki yang ~kata orang sekarang~ nge-PUNK”. Travelling? Aku juga melakukan hal asik ini. itung-itung sambil tadabbur alam untuk menambah rasa bersyukurku kepada sang Maha Pencipta. Dan salah satu hal lagi yang sangat membuatku bangkit dan mengerti, Pemimpin organisasi? Disini aku berpikir, apakah boleh seorang perempuan menjadi pemimpin sebuah organisasi? Tapi aku tak bisa menghindarinya, karena aku sudah terpilih dan tak mungkin aku mengundurkan diri setelah melalui proses yang nggak begitu mudah. So, aku jalani saja dan mengikuti alurnya.
Dari pengalaman-pengalaman yang telah kulalui, ternyata berlanjut sampai sekarang. Mungkin pengalamanku sudah menjadi pegangan hidup dan membentuk aku menjadi seperti ini, jadi aku tak bisa move on dari pengalamanku. Sampai sekarangpun aku tetap bermusik, tapi sekarang berbeda. Partnerku bukan anak laki-laki lagi, apa lagi Punk, tapi mbak-mbak kalem yang hobi bermusik juga kayak aku. Sama dengan bermusik, akupun melanjutkan kepemimpinanku dalam organisasi. Sebenarnya ingin istirahat dari kesibukan yang beginian, tapi tetap saja aku tak bisa menghindarinya. Tapi yang sedikit aku kurangi adalah hobi travellingku, ini kuganti dengan kesibukan merajut, membuat tas atau dompet lalu dijual, dan menulis cerita-cerita seperti sekarang ini.
Pernah suatu hari teman kampusku bertanya padaku, “Fajrin, kamu ini muslimah tapi kok nggak enak diam ya? Sukanya seliweran kesana kemari, ngurus ini itu. Yang paling aku heranin itu, kok bisa-bisanya mainin gitar dengan penampilanmu seperti ini? kerudung lebar?” aku diam sejenak, mencerna pertanyaan dari temanku ini. Tapi hanya ku jawab dengan santai, inilah aku.  Sekeras apapun aku memaksa diri untuk melakukan aktifitas yang lebih kalem dan melakukan hobiku, tetap saja aku tidak bisa menghindarinya.
Dengan segala kemampuanku yang berasal dari pengalaman, aku berusaha untuk nggak melupakan hijab yang tiap hari kukenakan, dan kewajiban-kewajiban seorang muslimah. Aku menemukan jati diriku,aku adalah seorang muslim yang harus berpegang teguh pada ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW, seorang muslimah yang harus berhijab.
 Hijab inilah yang sampai saat ini menjauhkanku dari segala bentuk kemaksiatan, yang menjagaku untuk tetap berfikir positif terhadap segala hal. Yang selalu mendekatkan aku pada kebaikan-kebaikan. Dan yang membuatku bertemu dengan ikhwah, kami bersama-sama menjalin Ukhuwah Fillah. Meskipun banyak ocehan-ocehan yang tak berkenan dihati yang sering muncul dari mulut-mulut mungil orang-orang yang tidak memahami diriku.
Aku ingin menunjukkan kepada dunia, paling tidak kepada orang-orang disekitarku dulu. Bahwa seorang yang berkerudung lebar itu tidak menakutkan, tidak kaku, tidak mengisolasi diri dari masyarakat, dan tentunya bukan TERORIS! Aku ingin menunjukkan kepada mereka yang selalu berfikir negatif terhadap muslimah, bahwa kami bisa menjadi seseorang yang disegani, kami bisa menjadi lebih baik dari mereka, kami bisa menjadi apapun yang kami inginkan dengan tetap memegang teguh ajaran Fiqh-fiqh dalam islam.
Seperti itulah aku menjalani hidup ini dengan hijabku. Dengan berbagai macam ujian kehidupan, Allah memberiku kebahagiaan untuk menguji syukurku, Allah memberi kesulitan untuk menguji sabarku. Aku jalani semua itu dengan hijabku, dan aku tidak merasa terbebani dengan hijab lebarku. Karena Hijab, hidupku indah karena hijab. Hidupku asik, karena hijab. Tapi yang harus diketahui juga, dibalik hijab itu ada Islam rahmatan lil’alamin yang menjadi peganganku. Dan karena itulah, aku yakin aku cantik meskipun tiap hari banyak keringat menempel di mukaku.

Kami cantik bukan karena make up, tapi kami cantik karena cahaya Ilahi menyinari kami. Hai Muslimah, don’t worry about your hijab. Just show your self to the world, that you’re beautiful and you can shining thins world with your hijab.

No comments:

Post a Comment