kecuali saat tidur
kecuali saat nugas
kecuali waktu2 itu
otakku selalu mencerna banyak kejadian
seperti sebuah pathway yg sering kutulis di LP ku
hanya saja, pathway dalam otakku puanjang sekali, kadang tak berujung
dan itu berlangsung tiap aq gak ngapa2in
dan saat kutemukan kesimpulan, hatiku seringkali menentang kesimpulan itu
ku sedih
karna hatiku menentangnya, muncul pathway2 lain yg lebih panjang
sampai ku temukan sebuah kesimlulan yg pas dalam hatiku
tapi menemukan kesimpulan itu tak mudah
harus dengan fakta dan dasar teori yg kuat
macam bikin skripsi aja.
ku sedih
mengapa demikian?
aq menyimpulkan, ini semua terjadi karena tak ada telinga yg bisa mendengarkan mulutku berbicara ttg isi otakku.
aku butuh
sepasang telinga saja, tak ush banyak2, untuk mendengarkan semua kalimat dengan nada yg berbeda2 dari mulutku
aku juga butuh
hati yg sabar mendengarkan semua isi pikirku yg mbulet2 ini
mungkin jika ada, badanku tak sekurus ini, karena hasil metabolisme tubuhku lari ke otak semua, tak ada sisa untuk otot di tubuhku.
mungkin jika ada, aku bisa mengeluarkan air mata dan nangis sesenggukan didepan nya, sehingga semua isi otakku yg jadi beban dalam hati bisa tertuang lepas lewat air mata.
sejauh ini, selama ini, tangisanku hanya sebagai sarat, tanpa suara, kaarena ku bungkam mulutku saat nangis, tak mau ada org yg bertanya mengapa sedih..
karena kebanyakan mereka hanyaa bertanya, lalu hilang..
tapi tak apa.. .
ku sudah terbiasa..
tapi jika ada seseorang teman seperti itu, mungkin aq akn sangat bahagia
melebihi bahagiaku saat aq menyelesaikan skripsiku dalam sidang hasil..
tapi.. fajrin.. apa kau lupa?
kau sudah memutuskan dn memantapkan hati utk tidak terlalu dekat dengan org lain,.
tidak menggantungkan semua pada org lain..
karena kau pernah sakit hati karena seorg teman yg kau sangat percaya..
bukan sekali, tapi berkali2..
karena saat kau sakit hati, kerja otakmunberkali2 lebih berat dari biasanya..
dan muqn tiap belahan otak memiliki pathway2 yg rumit yg tak ada henti .
yg akan jadi beban berat..
tak apaa...
ini resiko fajrin.
resiko dari keputusanmu fajrin..
tak apa..
kau sudah beerusaha keras menahan semua tangis itu..
dan kau tak sendiri..
jurus utama saat beban penuh..
Alaa bi dzikrillahi tathma'innul Quluub (QS. Ar-Ra'd: 27)
semua kalimat diatas adalah bagaimana cara otakku berfikir.
dialog antra haati dn pikiran yg kadang, bahkan sering berlawanan.
tak apaa...
Allah di sisiku..
Allah senantiasa mem-pukpuk pundakku, merontokkan beban2 yg rajin nangkring di bahuku, macam ketombe saja...
Allah.. Allah.. Allahu Akbar..
No comments:
Post a Comment