Langsung aja baca ni cerita, yakk...
Dari Cinta Untuk Cinta Part 3
Dirumah, aku
disambut dengan suguhan Mie Ayam Solo kesukaan keluargaku. Ternyata Mas Joni
juga meraih nilai tertinggi dikelasnya. Sungguh Indah hari ini. Kamipun memakan
Mie Ayam itu dengan lahapnya. Setelah kenyang, seperti biasa, aku, mas Joni dan
mbak Dilma bersantai di Gazebo taman belakang yang cukup luas dan sejuk. Pohon
palem yang berdiri kokoh membelah awan menambah suasana yang damai. Disanalah
kami sering bercanda tawa. teman-temanku sering kuajak ketempat itu ketika
belajar kelompok. Tempat itu seperti surga bagi kami. Aku dan kedua saudaraku
becengkrama dengan riangnya, dan saling berbagi cerita. Ketika giliranku untuk
bercerita, aku bingung mau cerita apa, selain tentang rasa itu, ya nilai
raportku itu. Tapi kedua kakakku sudah tau itu. Setelah berpikir panjang, Aku
akan memanfaat momen ini untuk bercerita tentang rasa itu. Akhirnya aku
ceritakan panjang lebar dari A sampai Z, karena aku tau mereka pasti sudah
merasakannya. eh... mas Joni malah menertawaiku dan mengacak-acak rambutku.
Dirumah, aku jarang berkerudung. Hehe. Tapi, apakah anda tau bagaimana respon
mbak Dilma? Beliau memelukku, membelaku didepan mas Joni. Aahhhh... so sweat
banget kan? Aku tak tau kenapa mbak Dilma jadi seperti ini. Aku merasakan air
matanya menetes dipundakku. Mas Joni juga bingung apa yang terjadi. Tiba-tiba
mbak Dilma berkata dengan suara lirih, “Dek.. kamu sudah dewasa ya”. Gubrak!!
Aku dan mas Joni tertawa terpingkal-pingkal. “Ya iyalah, mbakk.. orang ni anak
udah bisa buang ingus sendiri. Hahaha”, kata mas Joni sembari mendorong
lenganku. Meskipun aku ingin tertawa, aku membela mbak Dilma. Karena aku tau
airmata mbakku itu tanda sayangnya padaku. “dek, kamu jangan menirukan masmu
ini, ya. Cakep-cakep kok o’on. hahaha” kata mbak Dilma.
Akupun tertawa geli melihat ekspresi mas Joni yang pipinya dicubit sama mbakku. Mbak Dilma lanjut bercerita,”Dek Rin, masa-masa inilah yang bisa menyesatkanmu atau mungkin bisa membuatmu sadar tentang kehidupan. Mbak juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan kok, bahkan sampai saat ini bayangan lelaki itu tak hilang dari pikiran mbak. Tapi kamu harus berpegang teguh dengan aturan Agama yang pasti akan menyelamatkan hidupmu. Dan ingat, suatu saat nanti kamu akan mengalami masa-masa yang sulit untuk memilih. Ini berlaku juga buat kamu Joni.”. wahhh aku baru tau wajah mbak Dilma ketika mengingat pujaan hatinya. Aku bangga dengan mbakku itu, dia adalah perempuan yang sederhana tapi berkharisma tinggi. Berpegang teguh pada agama islamnya. Ahhh... aku jadi ingin seperti mbak Dilma, bagaimana rasanya ya?? Pasti selalu disayang Allah. Sedangkan mas Joni hanya peringisan nggak jelas. Itulah saat-saat yang kutunggu-tunggu, berkumpul dengan saudara-saudaraku tercinta. Dan membiarkan Aba dan Umi saling berbagi kasih. Terkadang, saat kami asyik bersenda gurau, Umi membawakan camilan untuk kami. Abapun tak ingin kalah dan membawakan buku untuk kami. Aku bersyukur berada ditengah-tengah keluarga yang indah ini. =)
Akupun tertawa geli melihat ekspresi mas Joni yang pipinya dicubit sama mbakku. Mbak Dilma lanjut bercerita,”Dek Rin, masa-masa inilah yang bisa menyesatkanmu atau mungkin bisa membuatmu sadar tentang kehidupan. Mbak juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan kok, bahkan sampai saat ini bayangan lelaki itu tak hilang dari pikiran mbak. Tapi kamu harus berpegang teguh dengan aturan Agama yang pasti akan menyelamatkan hidupmu. Dan ingat, suatu saat nanti kamu akan mengalami masa-masa yang sulit untuk memilih. Ini berlaku juga buat kamu Joni.”. wahhh aku baru tau wajah mbak Dilma ketika mengingat pujaan hatinya. Aku bangga dengan mbakku itu, dia adalah perempuan yang sederhana tapi berkharisma tinggi. Berpegang teguh pada agama islamnya. Ahhh... aku jadi ingin seperti mbak Dilma, bagaimana rasanya ya?? Pasti selalu disayang Allah. Sedangkan mas Joni hanya peringisan nggak jelas. Itulah saat-saat yang kutunggu-tunggu, berkumpul dengan saudara-saudaraku tercinta. Dan membiarkan Aba dan Umi saling berbagi kasih. Terkadang, saat kami asyik bersenda gurau, Umi membawakan camilan untuk kami. Abapun tak ingin kalah dan membawakan buku untuk kami. Aku bersyukur berada ditengah-tengah keluarga yang indah ini. =)
Ketika liburan kenaikan kelas, Umi bercerita kepadaku bahwa Aku, Tini, Tiar dan teman-teman sekelas lainnya tidak sekelas lagi, hanya beberapa orang saja. Sedih sekali rasanya. Tapi ada waktu lagi, dimana kami bisa berkumpul bersama seperti saat kami masih duduk di satu kelas, Rekreasi Tahunan Sekolah. Dedi selaku ketua kelas memang berniat mendaftrakan kelas kami untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Dedi memang orang yang memiliki rasa kekeluargaan yang sangat tinggi, dan yang paling aku kagumi dari dia adalah sikap kepemimpinannya yang tegas, bijaksana dan berwibawa. Tapi aku tak terlalu akrab dengannya karena memang dia adalah pribadi yang serius, sedangkan aku orang yang heboh dan gila.
Wah wah... ternyata hari yang ditunggu-tunggu sudah menanti. sehari lagi kami berangkat ke sebuah kota yang penuh dengan tempat wisata. Jaraknya dari kota kami sekitar 95 Km. Sebelum datangnya hari esok, aku membuat daftar oleh-oleh yang diinginkan keluargaku. Mas Joni memintaku membeli Jam Tangan, Mbak Dilma titip kerudung, Umi titip Buku. Berbeda dengan Aba, aba hanya titip keselamatanku. Aku kagum kepada sosok Aba yang begitu perfect. Mmm... seertinya aku akan pulang dengan banyak barang nih...
|
From
: Tiar
Number
: 08155167****
Malem
Rini, gimana kabar nh?? Gimana liburannya??
Besok
kamu ikut rekreasi ngg? Ayo ikut, aku ikut juga lohh..
Udah
4 hari ita ngg ktemu nih, kangen lho. hehe
|
|
To
: Tiar
Number
: 08155167****
Eh,
ini Tiar? (Gak yakin).
Kabarku
baik, liburanku menyenangkan, pasti ikut dong.
Iih..
kangen? Aku nggak tuh.
|
Aku membalasnya dengan antusias.
Saking serunya saling mengirim pesan, aku ingin pindah dari ruang tengah ke
kamarku. “hayooo.. ngapain itu mau sendirian ke kamar. Sms-an lagi. Ada yang
gak beres, nih” goda Mas Joni. “Dek Rin, ati-ati lhoo, ya. Inget kata mbak..”
kata mbak Dilma seakan-akan mengerti maksudku berpindah. Umi dan Aba terlihat
kebingungan melihat ketiga buah hatinya berbicara seperti itu. Aku pun
mengangguk dan segera menuju kamar. Aku langsung merebahkan diri di kasur
empukku. Tak lama kemudian aku terlelap, dan meninggalkan pesan Tiar.
“Kring..kring..kriiiiing...” tepat jam 03.30, jam wekerku berbunyi dengan kerasnya dan membangunkanku dari mimpiku. Aku langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyiapkan segala peralatan untuk kubawa rekreasi bersama teman sekelasku. Umi dan mbak Dilma sudah berdiri di dapur. “Dek, jangan lupa sholat lhoo”, kata mbakku. “Oke, mbak.” Jawabku. Semua sudah selesai kusiapkan, tinggal berangkat saja. Aaahhh.... aku jadi tak sabar ingin bertemu dengan teman-teman sekelasku. Aku akan diantar Mas Joni. Sebelum berangkat, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku dan mbak Dilma, “Maasss... ayo cepet. Takut ditinggal bus nih!” panggilku, “iyaaa Rinn.. ihhh.. cerewet banget jadi orang” kata mas Joni.
Aku
dibonceng mas Joni dengan sepeda motornya yang tinggi. Aku kesulitan
menaikinya. Ditengah jalan, teman-teman mengirim pesan padaku. Tini, Tiar,
bahkan Dedi juga. Mereka menyuruhku agar cepat. Karena Busnya sudah siap
berangkat. “Mas Jooniii, aku ditinggal Bus nih. Huhu.. ni temen-temen pada sms,
ms.. ayo cepetan!”, “halahh.. gak mungkin ditinggal, Rin.. eh, nanti kasih tau
anaknya ya.. siapa namanya tuh, tiwar, tiwar, gitu??” Gurau mas Joni. “ah..
Tiar kali mas. Udah deh, cepetan!”. Akhirnya sampe juga. Waa.. bisnya udah
jalan, broo.. berpamitan pada mas Joni, eh.. malah dijitak kepalaku, awas ya.
Dedi muncul dari pintu dan berusaha menghentikan Busnya, “pak.. pak Sopir.
Berhenti sebentar pak. Ada yang ketinggalan.”. akhirnya aku naik ke Bus. Wahh..
ternyata kursinya sudah penuh. Tinggal satu kursi yang diduduki Dedi. Dengan
berat hati aku duduk disamping Dedi. Tak lama kemudian, Busnya jalan. Aku
melambaikan tangan ke mas Joni. Kami Berangkat....
Ditengah perjalanan, aku dan Dedi asik ngobrol. Kami bicara panjang lebar, seperti teman akrab saja. Padahal aku dan Dedi jarang ngobrol seperti ini, bahkan hampir tidak pernah. “Eh, Rina, gimana sih rasanya jadi juara kelas??” tanyanya. “mmm.. pastilah seneng banget dong.. bersyukur banget Allah SWT kasih kelebihan seperti ini”,”harus, dong..kalo ga bersyukur, entar rezkinya dicabut, lho!” vonisnya. “eh. Dedi, gitu ya kamu.. emang kamu yang nurunin rejeki?” kataku dengan nada canda. “iii.. ya nggak lah, Rin.. bisa aja kan?.. haha” kata Dedi sambil mendorong jidatku dengan telunjuknya sampai-sampai aku hampir jatuh dari kursi. Tapi kurasakan ada tangan yang menahanku agar tidak jatuh. Dan ternyata itu Tiar, duduk di samping belakang dari kursiku dan Dedi. Tiar ternyata duduk bersama Tini. “Eh, Dedi.. jangan sembarangan ngedorong anak orang, dong”, kata Tiar. “lhoo.. Tiar, kita kan Cuma bercanda”, timpal Dedi, “Ya... tapi nanti kalau anak orang jatuh trus luka gimana?” kata Tiar dengan nada agak sedikit kesal. “eh, kamu kok care banget ke Rina Sih??” Tiba-tiba Tini muncul. Aku yang merasa jadi obat nyamuk langsung menengahi mereka, “aaahh.. udah. Udah. Tiar, orang kita Cuma bercanda, kok. Kamu juga Dedi. Usil. Tini, ada apa denganmu?”. Lalu merekapun berhenti berbicara dan kembali ke kursi semula. Ku lihat wajah Tini yang agak gugup setelah aku bertanya, dan sepertinya Tini tidak bisa menjawab pertanyaanku. Diapun kembali bersanding dengan Tiar.
Aku sih agak sebal pada Tini, aku kan sudah cerita kalo aku tuh ada sedikit perasaan ke Tiar. ‘Jahat banget si Tini, tega banget dia menyakiti teman sendiri. Aku gak nyangka Tini kayak gitu. Sabar Rina.. Sabar...’ batinku, sambil melamun. “Dooorr” sentak Dedi, akupun terkejut dan tak sengaja telapak tanganku memukul hidung mancungnya, maklumlah gerak reflek. Jadilah Dedi merintih kesakitan. Akupun hanya bisa minta maaf, dan berlagak agak ‘sok care’ gitu. Dan berlanjutlah Bus menjadi ramai. “ciyee... Rina Ciyee... diapain tuh si Dedinya, ciyeee” ledek Romi si Raja iseng. Jadilah teman-teman didalam Bus ramai karena sorakan Romi diikuti teman-teman yang lain.
3 jam kemudian sampailah kami ditempat tujuan. Sebuah pantai yang berisi penuh dengan wahana seru di ujung kota yang udaranya amat sangat sejuk. Akupun menikmati momen berkumpul bersama seperti ini, yang mungkin tak akan ada lagi di hari depannya bersama mereka, karena kita sudah kelas IX yang harus mengintensifkan pelajaran sekolah dan kita tidak sekelas lagi. Lalu kita bersepakat untuk menjajal wahana Rumah Hantu Jepang. ‘Ya Allah.. kenapa harus wahana ini. Aku kan paling takut sama yang kayak gini’, batinku. Aku bersanding dengan Tini. Kami semua berteriak-teriak histeris di dalam wahana itu. Tapi ditengah jalan aku merasa kakiku tersandung-sandung dan menyulitkanku untuk berjalan, ternyata tali sepatuku copot. Aku meminta Tini untuk menungguku memperbaiki Tali sepatuku. Tapi tahukah apa yang terjadi broo, aku ditinggal Tini. Aduhhh takut banget akunya. Sendirian lagi, aku berusaha mengejar rombongan teman-teman. Tapi cahaya disana sangat redup, jadi tak mudah bagiku untuk berlari. Akupun berjalan, tiba-tba ada boneka Vampir muncul didepanku. Secara spontan aku berteriak keras dan tidak bisa bergerak, menangis di tempat pula.
Aku melihat didalam redupnya cahaya ada seorang yang datang
menghampiriku. Dia memegang lengan bajuku dan menarikku. Aku tak dapat melihat
wajahnya dengan jelas. Tapi sepertinya aku kenal suara itu, seperti suara Tiar.
Kami berjalan pelan, tanpa pikir panjang aku mendekapkan mukaku dipunggung
laki-laki yang ku kira Tiar itu. Aku takuuuutt sekali. “halaahh.. Rin.. udah
deh, gak usah takut. Vampirnya lucu kalii”, katanya. Tak salah lagi pasti itu
suara Tiar. Aku tak menjawab dan tetap mendekapkan kepalaku. Dia meletakkan
lengannya ke bahuku dan akupun ada disampingnya saat itu. Aku tetap menutup
mataku dengan tangan. “Rinaa.... tuh liat Vampirnya lucuuu banget. Imut-imut kayak
kamu” ledeknya. “eehhhh... enak aja aku dibilang mirip vampir! Kamu kali, yang
adiknya vampir!” balasku. “lhaa...
berarti kamu sekarang jalan sama vampir dong”. “ahhhhh... Tiar, deh..
gak usah gitu kok. Males deh!” aku membuang muka dari Tiar, dan tiba-tiba
disampingku kebetulan ada Vampir juga. Aduuhhh... terpaksa aku balikkan muka
lagi dan memegang erat lengan Tiar yang ada di bahuku. ‘Ya Allah. Maafkan aku
berjalan berdua dengan seorang Lelaki’ batinku. Dan akhirnya aku keluar juga dari Rumah menyeramkan itu.
Ternyata teman-teman mencariku dan Tiar, lhooo. “Maaf ya teman-teman... hehe”
ucapku.
Setelah
dari Rumah Hantu Jepang, kami menjajal semua wahana yang ada di sana. Jet
Coaster, Bioskop 4D, naik Perahu, dan banyak hal lainnya. Tanpa terasa, hari
sudah menjelang Sore. Aku dan teman-teman dibebaskan untuk keliling. Aku
memutuskan untuk menikmati Sunset bersama Tini dipinggir pantai yang sangat
sejuk. Ditengah suasana yang indah itu, Tini berbicara sesuatu. Kurasa ia ingin
Curhat,
“Rina,kamu adalah teman
terbaikku selama dikelas VIII. Aku senang dan bangga sekali menjadi temanmu.
Tapi ada satu hal yang belum pernah kamu tau. Hati sakit. Saaakiiitt banget.
Memang ini salahku karena aku gak pernah cerita sama kamu. Dan aku rasa saat
inilah yang tepat agar kamu tau. Aku Rin, akuuu... Aku sayaaaanng banget sama
Tiar. Aku selalu memendam rasa ini. Hatiku selalu sakit ketika kamu bersama
Tiar. Memang dia bukan cinta pertamaku, tapi kamu harus tau bahwa Tiar adalah
orang yang merubah dunia gelapku menjadi terang. Dan aku memohon padamu, Rin.
Tolooong banget... jaga hatiku. Menjauhlah dari Tiar. Aku tak ingin melihatmu
berdua dengannya. Sebenarnya aku sangat membencimu, Rin. Kamu jahat banget.
Apakah kamu nggak tau apa isyarat tingkahku. Bodoh kamu, Rin. Dan tolong, jauhi
Tiar. Terimakasih untuk semua sakit yang kamu berikan padaku.”. Tini berkata
dengan meneteskan air matanya. Nada suaranya, tema pembicaraannya sangat
menusuk jantungku. Dia tak memberikan kesempatanku untuk berbicara sedikitpun.
Selepas ia berbicara panjang lebar, ia langsung pergi begitu saja.
Suasana
sunset yang harusnya menjadi momen indah, malah menjadi momen yang sangat
menyakitkan bagiku. Pertama kalinya aku dihujat seorang teman baik didepanku.
Bayangkan, broo.. bagaimana perasaan anda, jika anda menjadi saya. Akupun duduk
mematung di pantai itu, sendirian, menyaksikan sunset dengan perasaan yang
sangat hancur. Sejak saat itulah hidupku menjadi penuh kesedihan.
No comments:
Post a Comment