Monday, November 21, 2016

Sepenggal ceritaku, keinginanku untuk separuh agamaku

Saat ini.. saat dimana orang-orang seumuranku sudah banyak yang berpikir tentang kelengkapan ibadah kepada Nya, kehalalan cinta. Namun tak sedikit juga di usia ini orang yang berpikir tentang kematangan dunia, berlomba-lomba memperbanyak harta dan dikenal agar dunia.

Aku sendiri berada diambang keduanya. Kematangan dunia, tentu saja aku menginginkannya, dengan salah satu tujuan agar bisa lebih khusyuk beribadah kepada Yang Maha Pencipta, dengan sedekah kepada saudara seiman dan juga siapapun yang membutuhkan, sedekah dari hasil jerih payahku sendiri. Dari kematangan dunia juga, harapanku aku bisa memberikan keinginan besar bapak dan ibuk untuk bisa mengisi masa tua mereka dengan mengasuh anak-anak sekolah, kuliah, ataupun kerja disebuah rumah kos, itu salah satu keinginan ibu ku. Tapi itu sebatas materi. Semua itu sebatas harapan-harapan dunia, yang dimana aku Cuma hidup 1,5 jam didalamnya. Hanya istirahat sejenak dari perjalanan panjangku menuju alam yang benar-benar nyata nantinya, Alam Akhirat.

Jujur, aku takut, cemas, khawatir. Bagaimana nasibku di akhirat nanti. Bagaimana nasib kedua orang tuaku, kedua saudara kandungku, nasib sahabat-sahabatku, dan nasib umat muslim nantinya. Akankah aku bisa berkumpul kembali di Surga Allah dengan mereka yang menyayangiku dan aku sayangi? Sedih jika pertanyaan yang menjadi cita-citaku itu jika dibandingkan dengan usahaku yang sangat minim ini untuk menempuh syarat-syarat menjadi penghuni surga nanti. Dengan tekad yang kurang bulat, jiwa yang masih ogah-ogahan, usaha yang jauh dari kata maksimal karena sering bahkan selalu bermalas-malasan.
Ya Allah… Ya Allah.. Ya Allah..
Aku selalu meminta kepadaMu, bantu aku agar aku tak jauh dari Mu. Bagaimana ini? bagaimana??
Dalam segala hal, kejadian, dan dalam segala keadaan, aku tak ingin melupakan Mu walaupun Sekejap mata, aku tak ingin jauh dari Mu walaupun sejengkal tangan, dan aku sama sekali tak berharap utnuk pergi dari Mu walau selangkah. Ya Allah… inilah keinginan hamba Mu yang hina ini, hamba yang penuuuh dengan dosa ini, hamba yang tiada bandingannya dengan Mu walaupun dibanding dengan sebutir debu yang Kau ciptakan. Ya Allah… hamba mohon dengan segenap hati, jangan biarkan hamba jauh, jangan biarkan hamba malas, jangan biarkan hamba tergoda dan terlena dengan indahnya kilauan dunia didepan mata, sedangkan surgaMu jauh lebih berkilau, sangat sangat berkilau sampai aku tak sanggup membayangkan betapa bahagianya hamba jika hamba berada disana meskipun hanya dipinggir pintu surgaMu saja.

Dan aku tak pernah bisa membayangkan betapa panasnya api neraka yang dengan sekejap mata dapat mendidihkan otak nabi Muhammad SAW sedangkan yang terkena api hanya jari jempol kaki Beliau saja. Ya Allah…. Audzubillahimindzaalik.. Ya Allah Ya Rabbi Ya Ilahi… jauhkanlah hamba, bapak ibu hamba, kedua saudara hamba, sahabat-sahabat hamba, dan seluruh umat muslim dari Neraka Mu, bahkan dari Bau siksa Neraka, Ya Rabb…
Astaghfirullah Hal ‘adziim..

Memikirkan itu semua, dan aku yang tak pernah bisa berhenti memikirkan itu semua, aku jadi malu untuk sudah berpikir tentang kehalalan cinta, penyempurna agama. Entah mengapa aku menjadi malu, malu yang tak bisa terelakkan. Dengan diri yang masih jaaauuuh dari kata sempurna, jauh dari kebaikan-kebaikan yang mereka pikir tentangku selama ini. bukan berarti dengan diriku ~yang berjilbab panjang, yang mungkin pendiam sesaat, yang mungkin berbicara seadanya atau bahkan tak bisa mengutarakan pendapat, yang hanya mampu menjawab “iyaa, ooh, he’em” jika diajak bicara~, adalah seorang yang memiliki kebaikan lebih dari kekurangan. Salah besaaarr. 

Hasil gambar untuk aku malu
sebuah malu yang tak berujung
Aku.. seorang manusia yang tak tau apa-apa, bahkan tak tau malu untuk berkata atau berpikir aku lebih baik dari orang lain, aku adalah manusia yang hampir setiap perkataan dan tindakan penuh dengan salah dan dosa, yang sulit untuk menghindari dari manyakiti hati orang lain, yang masih belum genap dan belum lengkap mengerti tentang agama. Namun yang hanya kutau adalah jika hati nuraniku yang berkata aku salah dan ketika aku benar.
Jadi aku harap, antum semua tidak berpikir aku orang yang lebih baik dari antum. Bukan. Kita sama, sama belajar, sama-sama mencari jalan, sama-sama mencari cara mengejar impian. Yang berbeda hanya satu, impian dan cita-cita kita, masing-masing impian kita berbeda, itu saja.
Kembali lagi tentang penyempurna agama, Menikah.
Melihat dari segi manapun, dari sisi apapun, bahkan bidang apapun, menikah itu indah. Aku, dengan usia 20tahunan, sudah mudah tergiur dengan iming-iming menikah. Kenapa begitu? Karena aku ingin ada seseorang yang megingatkanku lebih sering untuk selalu mendekat kepada-Nya, ingin memiliki seseorang yang benar-benar dipilih oleh-Nya untuk menjadi pendamping dunia dan akhiratku, dan ayah yang baik, mapan, cerdas, dan tentunya sholeh untuk anak-anakku kelak. Aku ingin melahirkan anak-anak yang sholeh-sholehah, yang berdiri di garis depan untuk membela Agama suci Ini, dan mempertahankan bahkan megembangkan hakikat islam di Negara ini, anak dari seorang lelaki sholeh.
Tapiii…
Kembali lagi, apakah aku sudah masuk kualifikasi untuk bisa mendapatkan pendamping yang sempurna seperti itu? karena aku selalu ingat janji Allah kepada kami, umat muslim, umat Rasulullah Muhammad SAW, disalah satu penggalan ayat Kitab suci Al-Quran, QS. An-Nur ayat 26, bahwa “…laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik…” begitu juga sebaliknya. Sebab itulah mengapa alasan aku malu untuk meminta pendamping yang sempurna. Sungguh aku malu di hadapan Allah, dan aku malu dengan diriku sendiri.. aku malu… astaghfirullah hal’adziim…
Ditengah-tengah harapan dalam doa untuk bisa memiliki pendamping hidup pilihan Allah yang sempurna, aku berusaha untuk menjadi seorang wanita yang pantas untuk dipasangakan dengan seorang yang sempurna seperti harapanku. Tapiiii… lagi lagi aku malu, karena usahaku yang tak seberapa ini disaksikan oleh Allah SWT, usahaku yang tidak sebanding dengan harapanku.. Ya Allah…. Ampunilah hambaMu yang tak tau diri ini… Ya Allah…
Usahaku, yang hanya bisa pasrah dengan ketentuan Allah, dan menjaga diri dari segala kemaksiatan, hanya sebatas itu usahaku.. Aku.. M A L U…

Entah bagaimanapun aku memikirkan tentang menikah, semua pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan terjawab kembali berujung pada diriku sendiri, pada usahaku sendiri…
Tapi, Ya Allah… tiada salaah hamba berdo’a meminta kepadaMU, sosok yang benar-benar Engkau pilihkan untuk hambaMu yang Hina ini, untuk bisa melengkapi dan menyempurnakan separuh Agama ini.. Ya Allah.. kabulkanlaah sepenggal doa hambaMu ini…
Jangan biarkan hamba terpengaruh dan terlena dengan cepatnya detak jantung yang terpicu karena orang-orang yang belum halal untuk hamba Ya Allah.. kabulkanlah Ya Allah.. Kabulkanlah…

Aamiin Allahumma Aamiin…

No comments:

Post a Comment