Saat ini.. saat dimana orang-orang seumuranku sudah banyak yang berpikir tentang kelengkapan ibadah kepada Nya, kehalalan cinta. Namun tak sedikit juga di usia ini orang yang berpikir tentang kematangan dunia, berlomba-lomba memperbanyak harta dan dikenal agar dunia.
Aku sendiri berada diambang keduanya. Kematangan dunia, tentu saja aku menginginkannya, dengan salah satu tujuan agar bisa lebih khusyuk beribadah kepada Yang Maha Pencipta, dengan sedekah kepada saudara seiman dan juga siapapun yang membutuhkan, sedekah dari hasil jerih payahku sendiri. Dari kematangan dunia juga, harapanku aku bisa memberikan keinginan besar bapak dan ibuk untuk bisa mengisi masa tua mereka dengan mengasuh anak-anak sekolah, kuliah, ataupun kerja disebuah rumah kos, itu salah satu keinginan ibu ku. Tapi
itu sebatas materi. Semua itu sebatas harapan-harapan dunia, yang dimana aku
Cuma hidup 1,5 jam didalamnya. Hanya istirahat sejenak dari perjalanan
panjangku menuju alam yang benar-benar nyata nantinya, Alam Akhirat.
Jujur,
aku takut, cemas, khawatir. Bagaimana nasibku di akhirat nanti. Bagaimana nasib
kedua orang tuaku, kedua saudara kandungku, nasib sahabat-sahabatku, dan nasib
umat muslim nantinya. Akankah aku bisa berkumpul kembali di Surga Allah dengan
mereka yang menyayangiku dan aku sayangi? Sedih jika pertanyaan yang menjadi
cita-citaku itu jika dibandingkan dengan usahaku yang sangat minim ini untuk
menempuh syarat-syarat menjadi penghuni surga nanti. Dengan tekad yang kurang
bulat, jiwa yang masih ogah-ogahan, usaha yang jauh dari kata maksimal karena
sering bahkan selalu bermalas-malasan.
Ya
Allah… Ya Allah.. Ya Allah..
Aku
selalu meminta kepadaMu, bantu aku agar aku tak jauh dari Mu. Bagaimana ini?
bagaimana??
Dalam
segala hal, kejadian, dan dalam segala keadaan, aku tak ingin melupakan Mu
walaupun Sekejap mata, aku tak ingin jauh dari Mu walaupun sejengkal tangan,
dan aku sama sekali tak berharap utnuk pergi dari Mu walau selangkah. Ya Allah…
inilah keinginan hamba Mu yang hina ini, hamba yang penuuuh dengan dosa ini,
hamba yang tiada bandingannya dengan Mu walaupun dibanding dengan sebutir debu
yang Kau ciptakan. Ya Allah… hamba mohon dengan segenap hati, jangan biarkan
hamba jauh, jangan biarkan hamba malas, jangan biarkan hamba tergoda dan
terlena dengan indahnya kilauan dunia didepan mata, sedangkan surgaMu jauh
lebih berkilau, sangat sangat berkilau sampai aku tak sanggup membayangkan
betapa bahagianya hamba jika hamba berada disana meskipun hanya dipinggir pintu
surgaMu saja.
Dan
aku tak pernah bisa membayangkan betapa panasnya api neraka yang dengan sekejap
mata dapat mendidihkan otak nabi Muhammad SAW sedangkan yang terkena api hanya
jari jempol kaki Beliau saja. Ya Allah…. Audzubillahimindzaalik.. Ya Allah Ya
Rabbi Ya Ilahi… jauhkanlah hamba, bapak ibu hamba, kedua saudara hamba,
sahabat-sahabat hamba, dan seluruh umat muslim dari Neraka Mu, bahkan dari Bau
siksa Neraka, Ya Rabb…
Astaghfirullah
Hal ‘adziim..
Memikirkan
itu semua, dan aku yang tak pernah bisa berhenti memikirkan itu semua, aku jadi
malu untuk sudah berpikir tentang kehalalan cinta, penyempurna agama. Entah
mengapa aku menjadi malu, malu yang tak bisa terelakkan. Dengan diri yang masih
jaaauuuh dari kata sempurna, jauh dari kebaikan-kebaikan yang mereka pikir
tentangku selama ini. bukan berarti dengan diriku ~yang berjilbab panjang, yang
mungkin pendiam sesaat, yang mungkin berbicara seadanya atau bahkan tak bisa
mengutarakan pendapat, yang hanya mampu menjawab “iyaa, ooh, he’em” jika diajak
bicara~, adalah seorang yang memiliki kebaikan lebih dari kekurangan. Salah
besaaarr.
| sebuah malu yang tak berujung |
Aku.. seorang manusia yang tak tau apa-apa, bahkan tak tau malu untuk
berkata atau berpikir aku lebih baik dari orang lain, aku adalah manusia yang
hampir setiap perkataan dan tindakan penuh dengan salah dan dosa, yang sulit
untuk menghindari dari manyakiti hati orang lain, yang masih belum genap dan
belum lengkap mengerti tentang agama. Namun yang hanya kutau adalah jika hati
nuraniku yang berkata aku salah dan ketika aku benar.
Jadi
aku harap, antum semua tidak berpikir aku orang yang lebih baik dari antum.
Bukan. Kita sama, sama belajar, sama-sama mencari jalan, sama-sama mencari cara
mengejar impian. Yang berbeda hanya satu, impian dan cita-cita kita,
masing-masing impian kita berbeda, itu saja.
Kembali
lagi tentang penyempurna agama, Menikah.
Melihat
dari segi manapun, dari sisi apapun, bahkan bidang apapun, menikah itu indah.
Aku, dengan usia 20tahunan, sudah mudah tergiur dengan iming-iming menikah. Kenapa
begitu? Karena aku ingin ada seseorang yang megingatkanku lebih sering untuk
selalu mendekat kepada-Nya, ingin memiliki seseorang yang benar-benar dipilih
oleh-Nya untuk menjadi pendamping dunia dan akhiratku, dan ayah yang baik,
mapan, cerdas, dan tentunya sholeh untuk anak-anakku kelak. Aku ingin
melahirkan anak-anak yang sholeh-sholehah, yang berdiri di garis depan untuk
membela Agama suci Ini, dan mempertahankan bahkan megembangkan hakikat islam di
Negara ini, anak dari seorang lelaki sholeh.
Tapiii…
Kembali
lagi, apakah aku sudah masuk kualifikasi untuk bisa mendapatkan pendamping yang
sempurna seperti itu? karena aku selalu ingat janji Allah kepada kami, umat
muslim, umat Rasulullah Muhammad SAW, disalah satu penggalan ayat Kitab suci
Al-Quran, QS. An-Nur ayat 26, bahwa “…laki-laki yang baik adalah untuk wanita
yang baik…” begitu juga sebaliknya. Sebab itulah mengapa alasan aku malu untuk
meminta pendamping yang sempurna. Sungguh aku malu di hadapan Allah, dan aku
malu dengan diriku sendiri.. aku malu… astaghfirullah hal’adziim…
Ditengah-tengah
harapan dalam doa untuk bisa memiliki pendamping hidup pilihan Allah yang
sempurna, aku berusaha untuk menjadi seorang wanita yang pantas untuk
dipasangakan dengan seorang yang sempurna seperti harapanku. Tapiiii… lagi lagi
aku malu, karena usahaku yang tak seberapa ini disaksikan oleh Allah SWT,
usahaku yang tidak sebanding dengan harapanku.. Ya Allah…. Ampunilah hambaMu
yang tak tau diri ini… Ya Allah…
Usahaku,
yang hanya bisa pasrah dengan ketentuan Allah, dan menjaga diri dari segala
kemaksiatan, hanya sebatas itu usahaku.. Aku.. M A L U…
Entah
bagaimanapun aku memikirkan tentang menikah, semua pikiran-pikiran dan
pertanyaan-pertanyaan terjawab kembali berujung pada diriku sendiri, pada
usahaku sendiri…
Tapi,
Ya Allah… tiada salaah hamba berdo’a meminta kepadaMU, sosok yang benar-benar
Engkau pilihkan untuk hambaMu yang Hina ini, untuk bisa melengkapi dan
menyempurnakan separuh Agama ini.. Ya Allah.. kabulkanlaah sepenggal doa
hambaMu ini…
Jangan
biarkan hamba terpengaruh dan terlena dengan cepatnya detak jantung yang
terpicu karena orang-orang yang belum halal untuk hamba Ya Allah.. kabulkanlah
Ya Allah.. Kabulkanlah…
Aamiin
Allahumma Aamiin…
No comments:
Post a Comment